
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang akhirnya Nasya dan Ana tiba di kota. Ana sangat senang saat turun dari kapal sudah dijemput oleh ayah dan ibunya.
Hal pertama yang Ana lakukan saat menginjakkan kakinya di pelabuhan adalah bersujud syukur di atas tanah. Dia kemudian memeluk ayah dan ibunya secara bersamaan.
Tangis haru pecah di sana. Sekitar satu Minggu lalu ayah dan ibunya melarung bunga karena gadis itu sudah dinyatakan mati. Namun, hari ini keajaiban itu datang di hadapan semua.
Berkat Nasya Ana bisa ditemukan dan mereka bisa kumpul bersama.
"Lain kali jangan pernah pergi liburan tanpa izin dari ibu, An." Bu Mia mengusap air mata putrinya.
"Menurutlah pada Ibumu Ana. Dia hampir mati karena putri semata wayangnya yang hilang," ucap Arman, Ayah dari Ana.
"Maafkan Ana, Yah, Bu! Jika akhirnya akan seperti ini pasti aku tidak akan pergi liburan," ujar Ana.
Kedua orang tua Ana kemudian mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Nasya. Andai tidak ada bantuan selebgram itu entah apa jadinya Ana saat ini, pikir mereka.
Setelah cukup dengan acara haru biru itu, Ana dibawa kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah. Mobil yang dikendarai ayah Ana melaju dengan kecepatan normal.
__ADS_1
"Yah, apa tidak sebaiknya kita bawa Ana ke rumah sakit dulu?" tanya Bu Mia pada sang suami.
"Untuk apa, Bu?"
Ana yang ada di samping ibunya menoleh heran. Tapi si ibu asik bicara dengan si suami tanpa memedulikan anaknya yang menatap dengan muka penasaran.
"Ibu takut terjadi sesuatu. Ini hanya untuk jaga-jaga saja. Alangkah baiknya kita periksa," ujar Bu Mia.
Mendengar itu Ana mendengkus kesal. "Sebenarnya apa yang sedang kalian pikirkan? Apa yang kalian takutkan di saat putri kalian sudah baik-baik saja?"
"Diam kamu Ana. Ini masalah orang dewasa."
Ana tidak bisa percaya begitu saja terhadap Ayah atau ibunya.
"Hmmm. Jelaskan saja biar dia paham. Kalau Ibu mau memeriksakan Ana dalam hal itu, artinya Ibu sudah paham kalau anakmu itu sudah dewasa."
Sang Ibu lalu menoleh pada Ana. Dia menangkap wajah Ana. Lalu menatap mata polos itu dengan aura mengintimidasi.
__ADS_1
"Katakan pada ibu, apa saja yang kamu lakukan bersama tarzan itu selama satu bulan lebih. Apa kalian ciuman, pacaran, atau jangan-jangan sudah sampai bercocok tanam. Katakan semua itu pada ibu, Ana."
"Uhukk!" Ana tersedak ludahnya sendiri. "Ibu ini apa-apaan si. Dari mana ibu tahu kalau aku dirawat oleh tarzan itu? Nasya yang bilang?"
"Nasya memang bilang. Tapi kronologi jelasnya ibu sudah baca di artikel yang viral itu. Seorang gadis terdampar dan diselamatkan oleh penghuni hutan. Mereka menjalani hari-hari romantis dan saling peduli satu sama lain. Memang kamu tidak tahu kalau berita itu viral?"
"Viral?" Kontan Ana membulatkan matanya lebar-lebar. Bagaimana ini?
Ana gemetar takut. Ia takut ibu tiri Naki yang jahat itu akan mencelakai Naki jika sampai tahu kalau Naki masih hidup.
Duh, kenapa Nasya tidak bilang si kalau dia mau memviralkan berita ini. Dulu memang Ana ingin sekali Naki viral dan bertemu dengan keluarganya. Tapi kalau bertemu keluarga membuat nyawa Naki jadi terancam kembali, lebih baik Naki tak pernah bertemu dengan keluarganya sama sekali.
Plak!
Satu tabokan mendarat di bahu Ana.
"Jangan melamun, cepat jawab pertanyaan ibu!"
__ADS_1
***