Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Balas Dendam


__ADS_3

"Ana, duduklah, kenapa kamu baru datang langsung marah-marah?" Bu Mia menyuruh putrinya untuk duduk. Dia memberi kode mata supaya Ana bisa bersikap lebih sopan, tapi kenyataannya anak itu malah semakin jadi.


"Siapa yang tidak marah? Aku sedang mencium gelagat mata duitan di mata kalian. Kalian pasti berniat menjualku sama Om itu, 'kan?"


"Ana, ini bukan balas dendam biasa. Ini adalah balas dendam elit, dan sudah waktunya kamu bangkit," kata si Ayah berusaha membujuk. Makin meradanglah seorang Ana diperlakukan seperti itu. Matanya mendelik tajam. Dia seperti ingin memakan ayah dan ibunya saat ini juga.


Sementara Adam memutuskan untuk diam dan memberi waktu untuk dua keluarga itu berdiskusi.


"Mana ada seorang pelakor yang dipandang elit, Yah? Sudah gila memang keluargaku ini."


"Tapi pelakor yang dimaksud Nak Adam ini adalah pelakor berkelas Ana. Bukan cuma uang yang akan kamu dapatkan, tapi harga dirimu yang sempat tercecer juga bisa kamu punguti lagi. Itu sama saja kamu sedang berjuang merebut hakmu."


"Hmmm. Uang memang membutakan segalanya. Ayah dan Ibu benar-benar tega sama aku."


Gadis itu pun melipat tangannya di depan dada. Dalam hati Ana marah sekali pada Adam yang nekat mendatangi rumahnya dan merayu dua manusia matre alias kedua orang tua Ana.


"Begini saja, bagaimana jika DP aku tambah menjadi 2 Milyar. Untuk Ana satu Milyar, dan satu lagi untuk orang tua Ana."


"Uhuk ... Uhuk." Ayah dan Ibu terbatuk-batuk ketika mendengar nominal itu disebut.

__ADS_1


"Ya ampun, Yah. Kalau DP nya saja sudah 2 Milyar, kira-kira misal rencana itu sukses Ana dapat apa?"


Sontak Ana membeliak. Ia benar-benar ingin pura-pura menjadi Malinkundang yang lupa orang tuanya siapa. Ayah dan Ibunya ini sangat menyebalkan, pikirnya.


Adam tersenyum lalu menjawab. "Mungkin Ana akan mendapatkan harta warisan Naki yang melimpah. Dia akan menikah, dan tentunya tidak jadi perawan tua gunjingan tetangga."


"Heh, bujang lapuk! Ngapa jadi ngatain aku perawan tua yang jadi gunjingan tetangga. Memangnya situ tidak punya tetangga yang ngomongin apa?" kesalnya.


Adam menggeleng. "Kami tinggal di perumahan elit dan sederet komplek merupakan milik keluarga kami semua. Jadi kami hampir tidak mempunyai tetangga," ucap Adam. Dia pun menegakkan duduknya lagi. Kali ini ekspresi Adam tampak serius sekali.


"Penawaran yang saya berikan tidak akan datang dua kali. Jadi saya harap kalian bertiga pikirkan hal ini matang-matang," ucap Adam.


Kebimbangan melanda hati Ana sejenak. Di sisi lain ia tidak mau jadi pelakor, tapi di sisi lain ia juga mulai tergiur dengan uang dua milyar yang ditawarkan Adam.


"Ehemm!" Gadis itu berdeham angkuh. "Jika aku menerima, apa yang harus aku lakukan?"


Mendengar Ana bicara seperti itu pipi Adam tertarik sempurna. Dia tersenyum dan merasa bangga.


"Gampang, pertama kamu harus pura-pura jadi pacarku. Masuklah ke keluargaku dengan cara seperti itu agar kamu tidak direspon jelek."

__ADS_1


"Terus ngapain lagi?" Ana menatap penasaran. Dia mulai sedikit tertarik dengan rencana Adam yang cukup menarik.


"Buatlah Naki cemburu karena melihat betapa mesranya kita. Setelah itu, kau bisa mulai masuk perlahan di kehidupan rumah tangga Naki. Aku yakin jika kau yang melakukannya, kau akan berhasil," ucap Adam.


"Kalau tidak berhasil?" Ana mengajukan kemungkinan buruk.


"Aku akan berusaha membantumu sampai berhasil. Kau tidak perlu khawatir. Pokoknya kau tinggal ikuti saja permainanku."


"Ok, jadi intinya kita pura-pura pacaran. Gitu, 'kan?"


Adam mengangguk. Ia mengambil segelas teh hangat lalu meminumnya pelan-pelan.


"Bagaimana kalau dalam proses pacaran kita saling jatuh cinta seperti yang ada di novel orang. Apa rencana itu akan terus berjalan?"


"Uhuk!"


Kata jatuh cinta itu terlalu menusuk di telinga Adam. Dia tersedak air teh yang baru saja diminum.


"Itu tidak mungkin!" ucap Adam yakin.

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungki! Kecuali Anda Hoomo!" celetuk Ana.


__ADS_2