
Ana mengaduh kesakitan. Ia tidak menyangka Nasya seberani itu sampai menarik tangannya dengan kasar.
"Siapa yang bersikap seperti Tuan, rumah? Memangnya salah kalo aku mau"
"Cih! Masih belum ngaku juga rupanya!" Nasya memalingkan wajahnya jijik. Lalu kembali menatap perempuan itu dengan tatapan tajam.
"Jangan kebanyakan ngayal tinggi-tinggi makannya. Kamu pikir dengan mendekati Adam bisa membuat kamu jadi nyonya di rumah ini! Adam itu cuma anak tiri. Dia bahkan tidak punya hak apa-apa atas kekayaan Kakek Buranaphan!"
Mendengar itu Ana tersenyum. Kemudian garis bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai. Namun bibir Ana tak mengatakan apa-apa.
"Ngapain kamu senyum-senyum?" pungkas Nasya tidak terima.
"Aku cuma seneng aja, liat seorang sahabar yang sekarang udah jadi baangsat."
"Apa kamu bilang?"
Ana kembali senyum. Dia menoleh pada si pelayan yang masih berdiri kebingungan.
"Tolong taruh makanannya di meja sekarang. Sebentar lagi aku ke sana," ucapnya tanpa mengindahkan Nasya sama sekali.
Nasya merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia mendorong tubuh Ana hingga terjatuh ke lantai. Suara cukup keras dan paha Ana terasa nyeri sekali.
"Awkk! Sialan." Gadis itu memekik tidak terima. Kali ini kesabaran Ana sudah habis tak tersisa. Dia bangun dan bersiap melayangkan sebuah tamparan pada mantan sahabatnya itu.
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan Ana mendarat keras di pipi Nasya. Perempuan itu menatap dengan mimik wajah terkejut. "Kamu pikir kamu siapa di rumah ini? Kamu itu cuma Nyonya matre yang menghalalkan berbagai cara supaya bisa merangkak di kaki orang kaya. Cara yang kamu gunakan untuk mendapatkan Naki kotor, jadi usahakan jangan coba-coba menggangguku, atau aku akan membuat perhitungan atas semua yang pernah kamu lakukan dulu. Paham?"
Setelah mengatakan itu, Ana pergi meninggalkan Nasya begitu saja. Napasnya dibuat naik turun tak karuan.
"Huh, baru hari pertama aja udah gini. Apalagi hari-hari selanjutnya." Ana pun duduk di meja makan. Dia menarik nampan berisi makanan yang ada di atas meja.
Dia cukup terkejut melihat makanan mewah itu. Tapi sebisa mungkin Ana bersikap seperti gadis sosialita supaya tidak dianggap kampungan.
Ana yang biasanya selalu memakan steak dengan tangan, kini mulai menggunakan pisau untuk memotong daging itu sedikit demi sedikit.
Si pelayan yang tadi mengantarkan makanan juga masih berdiri di belakang. Dia pernah melihat adegan ini. Di mana majikan makan dan si pelayan stand by di belakang supaya kita tidak perlu teriak-teriak jika membutuhkan sesuatu.
"Ehemm!"
Suara dehaman yang tidak asing itu membuat Ana menoleh.
"Buatkan aku kopi," ucap Naki. Tak menyangka dia mendatangi Ana. Dan lebih aneh lagi ia ikut bergabung duduk tepat di depan gadis itu.
Mendapati Naki duduk di depannya, Ana mulai salah tingkah. Beberapa kali pisau yang ia pegang terbentur piring. Ana jadi malu karena cara makannya terlihat seperti orang kampung.
Naki tiba-tiba menarik piring yang ada di depan Ana. Entah apa maksudnya, yang jelas Ana dibuat membola seketika saat tangan besar itu mulai mencuil potongan daging yang ada di piring Ana menjadi beberapa suwir.
__ADS_1
Naki kemudian menyodorkan piring itu ke hadapan Ana kembali.
"Apa yang kamu lakukan?" Ana nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi.
Saat mereka tinggal di hutan dulu Naki memang sering melakukan itu untuk Ana. Tapi itu dulu. Sekarang Naki sudah beristri. Tak seharusnya Naki melakukan hal seperti itu di saat statusnya adalah suami orang.
"Aku cuma tidak suka mendengar suara piring di meja makan. Engga usah kegeeran," ucap Naki dengan suara datar. Wajahnya pun tak kalah datar dengan suara bariton tersebut.
Tak mau kalah, Ana pun segera menyingkirkan piring tersebut dengan mimik wajah yang sengaja dibuat jijik.
"Ini bukan hutan. Siapa pula yang mau makan steak yang sudah disentuh oleh tangan orang lain," balas Ana dengan nada menyindir.
Naki mendongakkan kepala saat Ana tiba-tiba berdiri sambil bersungut-sungut. "Menjijikkan. Bikin gak nafsu makan aja."
Perempuan itu pergi meninggalkan Naki begitu saja. Sambil mengatur napasnya dia segera menutup pintu kamar rapat-rapat.
"Apa yang Naki lakukan? Apa dia sedang mengajakku bernostalgia ke masa lalu?" Ana langsung memegangi jantung yang berdebar sejak tadi. Nyaris ia berpikir apa yang Naki lakukan tadi adalah bentuk perhatian pria itu. Tapi Ana sadar siapa dirinya.
Dari mukanya yang pas-pasan, tidak mungkin juga Naki langsung jatuh cinta untuk kedua kalinya. Mungkin benar yang dikatakan Naki kalau dia tidak suka dengan suara piring, pikirnya.
Secara saat di hutan dulu mereka selalu menggunakan daun untuk menikmati sepotong daging.
Tapi tidak seharusnya sekarang dia begitu, 'kan?
__ADS_1
***