
***
"Sial, kenapa tadi aku melakukan itu?"
Masih di meja makan, Naki mendadak misuh-misuh sendiri karena ulahnya. Ia benar-benar marah atas semua yang terjadi di meja makan tadi.
Seorang pelayan datang memberikan kopi yang diminta Naki, tapi lelaki itu malah pergi menuju taman belakang meninggalkan segelas kopi yang sudah melambai-lambai.
Perasaan Naki tiba-tiba saja menjadi kacau karena kehadiran Ana. Saat melihat perempuan itu kesusahan dengan makanannya, Naki refleks mengambil piring Ana, melakukan hal yang biasa ia lakukan saat mereka tinggal di hutan dulu. Perasaan Naki yang seperti itu tidak bisa dicegah. Padahal Naki jelas tahu dunia manusia sangat berbeda dengan hutan. Tapi kenapa ia masih nekat melakukan itu?
"Arghh!" Naki menggeram lagi. Ia sungguh tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Tubuhnya seolah tidak bisa diajak kompromi.
"Ingat Naki, sekarang kamu sudah punya Nasya yang jauh lebih cantik dari Ana. Kamu juga sudah punya anak yang lucu, apa yang kamu pikirkan lagi? Perempuan seperti Ana jelas tidak sepadan jika dibandingkan dengan Nasya yang elegan," gumam Naki mencoba bermonolog dengan diri sendiri.
Dia berusaha kuat melupakan kejadian tadi. Namun, wajah Ana yang galak semakin berputar-putar di kepalanya. Bahkan Naki ingin sekali melihat bibirnya yang manyun itu.
***
Makan malam segera tiba, Adam menghubungi Ana dan mengatakan ia akan masuk ke kamarnya sebentar lagi. Ana pun sudah siap untuk dijemput. Perutnya sudah sangat lapar karena tadi belum sempat makan tapi sudah terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ceklek.
Suara kamar terbuka saat diketuk. Tubuh Adam terlihat bergetar seperti orang yang sedang menahan tawa.
"Ada apa?" tanya Ana seraya mendekat. Dia makin bingung saat melihat pria dingin itu tiba-tiba cekikikan seperti orang kerasukan.
"Kenapa," tanya Ana lagi. Adam baru bisa menegakkan wajah setelah beberapa saat melepaskan tawa yang sejak tadi ia tahan.
"Naki, aku tidak tahan melihat ekspresi anak itu saat melihat aku masuk ke kamar ini. Sepertinya dia juga baru tahu kalau kamu tidur di kamar sebelahnya."
"Terus apanya yang lucu? Memang seperti apa ekspresi Naki sampai membuat Om ketawa seperti orang gila begitu."
__ADS_1
Adam pun memutar kembali memorinya. Tepat saat ia hendak masuk ke kamar, Naki keluar dari kamarnya sambil menggendong Vanilla. Itu adalah nama anak Naki dan Nasys.
Pria itu melirik sinis pada Adam. "Mau apa kamu ke sini?"
"Aku mau membangunkan Ana. Mau mengajak dia makan malam sekalian memperkenalkan dia pada Kakek."
Sontak Naki mengernyit. "Dia tinggal di kamar sebelah?"
Adam mengangguk tanpa jawaban. Ck. Ia nyaris tak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Naki yang cukup kaget.
"Tapi sepertinya aku juga akan pindah kamar di sini. Aku takut istrimu yang galak itu berbuat macam-macam pada Ana," ucap Adam dengan tidak tahu dirinya.
"Istriku tidak sejahat itu. Lagi pula kalian juga belum menikah, bukan? Kakek pasti tidak akan setuju kalau mengetahui kalian akan tidur di kamar yang sama."
Sebelah alis Adam meninggi satu. "Jika itu demi kebaikan dan kenyamanan calon istriku, tentu saja Kakek harus setuju. Aku tahu kamu dan istrimu sangat membenci Ana. Dia sudah cerita semuanya padaku. Padahal dia tidak punya salah apa-apa dengan kalian," ucap Adam sengaja dibuat agak marah. Dia kemudian menarik handle pintu, tapi Naki tiba-tiba menarik lengannya supaya tidak masuk terlebih dahulu.
Kenapa harus dia?"
"Maksudnya bagaimana?" Adam menaikkan sebelah bahunya.
"Dari sekian banyak wanita yang ada di Jakarta. Kenapa harus Ana yang kamu nikahi. Apa kamu sengaja ingin membuatku?"
"Membuatmu apa, cemburu?" Adam memotong cepat ucapan Naki.
Kata-kata Adam membuat Naki tak bisa melanjutkan bicaranya lagi.
"Aku dan Ana bertemu satu sama lain secara kebetulan. Kita pun saling jatuh cinta selepas pertemuan itu. Dan aku pikir, masa lalu bukan hal yang penting. Aku menerima Ana apa adanya meski dia pernah dekat dengan kamu," ucap Adam yakin.
"Tapi kenyamananku dan istriku terganggu sejak ada dia," ujar Naki tak mau kalah.
"Kalian tenang saja. Aku dan Ana hanya sementara tinggal di sini. Setelah menikah nanti aku akan tinggal di tempat lain. Aku juga tidak mau rumah tanggaku terganggu oleh kalian berdua," balas Adam.
__ADS_1
Lelaki itu masuk meninggalkan Naki yang wajahnya sudah merah padam.
***
Memangnya dia terlihat seperti orang cemburu?" Ana sedikit mengernyit saat mendengar cerita Adam barusan. Rasanya ia masih tidak percaya kalau Naki masih seposesif itu pada barang yang bukan miliknya.
"Aku tidak bisa bilang kalau ini cemburu. Tapi sepertinya Naki masih merasa memiliki kamu. Jadi saat melihat orang lain ada yang memiliki, dia merasa tidak terima."
"Lah kok, begitu?" Ana ternganga tak percaya.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya. Dampak dari cinta pertama itu sulit dilupakan. Bagaimanapun juga kamu adalah cinta pertama baginya." Adam kemudian memegang dua bahu Ana. Dia memutar tubuh itu seperti gerakan dansa.
"Penampilanmu malam ini sangat bagus. Sepertinya baju-baju yang disiapkan oleh orangku cocok untukmu."
"Tentu saja cocok, Om. Biasanya aku pakai baju yang dibeli di pasar malam, sekarang aku pakai baju rancangan desainer yang bandrolnya saja 25 juta ke atas. Kalo masih belum cocok kebangetan," sungut Ana.
Adam hanya tersenyum tanpa menjawab ocehan anak itu.
"Nanti malam aku akan tidur di sini. Tapi kamu tenang saja. Aku ada kasur kecil di ruang ganti baju, aku akan tidur di sana tanpa mengganggumu."
"Terserah Om aja. Ngomong-ngomong kapan makannya, aku sudah lapar sekali."
"Sekarang"
"Ya sudah, tunggu apalagi?" Ana bersiap keluar dari kamar. Adam yang masih berdiri tiba-tiba mendekat. Ia genggam tangan gadis itu hingga si pemilik tubuh merasakan getar-getar kecanggungan.
"Kenapa gandengan tangan? Kayak orang buta aja."
"Aku mau kenalin kamu sama Kakek. Jadi biar lebih mendrama aja." Satu mata Adam berkedip genit. Ana langsung melengos diperlakukan seperti itu.
"Jangan bikin anak gadis orang salah tingkah. Om mau jadiin aku pelakor, apa istri?"
__ADS_1
Lagi-lagi Adam tak menjawab. Dia menarik tangan Ana dan mereka keluar secara bersamaan.