Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Waktu Yang Cepat


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, nyatanya doa buruk tak selamanya menghasilkan hal-hal yang buruk juga. Alih-alih melihat Nasya gagal menikah karena resepsinya tertimpa angin topan, sekarang Ana malah menyaksikan betapa megahnya pernikahan Nasya dan Naki di televisi.


Tampak seluruh teman-teman sekolah Nasya diundang, tapi hanya Ana seorang yang tidak diizinkan datang. Padahal dulu Ana adalah teman sebangkunya.


"Kenapa akhirannya jadi begini, Bu? Katanya orang baik selalu disayang Tuhan, kok kenyataannya enggak! Sengsara sengsara terus aja hidup aku."


"Sudahlah, Ana. Itu artinya dia bukan jodoh kamu." Dari atas karpet sang ayah menyahut. Mereka semua sedang menonton televisi bersama menyaksikan sebuah acara infotainment yang menayangkan pernikahan Nasya. Katanya perempuan itu akan fakum dari dunia hiburan setelah menikah nanti.


Ana dan Ibu duduk di sofa, sementara ayah tiduran di karpet sambil memeluk guling boba.


"Tapi kalau engga direbut si Nanas busuk itu harusnya dia jodoh aku, Yah! Memangnya Ayah sama Ibu nggak pengin apa punya menantu kaya?"


"Ya pengin, tapi engga harus cowok hutan itu! Orang dia udah buang kamu kok dibela." Kali ini Ibu yang menjawab. Ayah terkekeh kecil melihat Ana manyun ke arah ibunya.


"Lagian nyari jodoh itu mudah, An. Nggak usah- bingung-bungung. Tinggal kamu buka inst*gram, katanya orang ketiga di tanda pesawat itu jodoh kita," kelakar Sang Ayah.


"Ayaaaaah! Nggak gitu konsepnya. Tidak usah kebanyakan nontonin info hoak," sungutnya.


"Ya kali aja bener jodoh kamu orang ketiga di tanda pesawat, coba buka!" perintah si Ayah masih sambil ketawa-tawa.


Entah beloon atau apa, anehnya Ana penasaran dan menuruti kemauan sang ayah. Dia pun membuka instagram dan melihat orang ke tiga di tanda pesawat.


"Ya Aleeeek!" Gadis itu menepuk jidatnya gemas.


"Siapa Ana?" Ibu melongok ke arah layar. Beberapa saat kemudian beliau tertawa saat melihat calon jodoh Ana adalah Pak RT yang berstatus duda.


"Cocok itu kamu sama pak RT. Dia belum punya anak, nanti warisannya buat kamu semua," timpal Ibu.

__ADS_1


"Au, akh! Aku males sama Ibu!" Ana semakin mencebik kesal.


Terus terang dia memang belum lama mengenal Naki, tapi menjalani hari-hari tanpa anak itu rasanya berat sekali. Apalagi saat melihat orang yang bersama Naki adalah sabahat Ana sendiri. Manusia lain di luar sana juga akan panas jika bernasib buruk seperti gadis itu.


*


Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Sudah tiga tahun kejadian itu berlalu. Sejak saat itu Ana mati-matian berusaha melupakan Naki.


Ternyata cukup sulit move on dari lelaki itu. Namun, pada akhirnya Ana tidak pernah ingin tahu lagi soal kabar Naki atau pun Nasya.


Semenjak nikah Nasya juga sudah tidak aktif lagi di sosial media. Ia pun tak pernah membagikan momen rumah tangganya bersama Naki. Jadi tak ada orang yang mengetahui bagaimana kehidupan para orang kaya tersebut.


Beruntunglah, hal itu bisa membuat Ana cepat-cepat melupakan soal Naki.


Oh ya! Usia Ana sekarang sudah menginjak umur 28 tahun. Sebuah umur yang cukup matang untuk seorang gadis. Sayang sampai detik ini Ana belum menemukan jodoh yang tepat.


Kadang dia jalan-jalan bersama temannya. Pernah hendak ke luar negeri, tapi ia urungkan takut pesawatnya nyasar ke dunia isekai. Ana benar-benar trauma jika harus bepergian jauh. Jadi mentok-mentok dia hanya pergi ke pusat jajanan kota untuk membeli makanan enak. Hanya itu tempat dan tuan Ana di kala bosan.


Di rumah sakit tempat kerjanya, Ana mendorong sebuah troli dengan sedikit tergesa-gesa. Jam kerjanya sudah habis, dan ia ada sedikit janji dengan salah satu pria yang ia dapatkan di aplikasi pencari jodoh baru-baru ini.


Bugh!


Prang ... Prang ... Prang!


Tiba-tiba trolli yang dipegang Ana menabrak seseorang. Barang-barang yang ada di trolli itu pun berhampuran tak menentu.


"Maaf ... Maaf, maafkan saya Pak!"

__ADS_1


Lelaki bertubuh tinggi itu mendongak. Jangan harap pria itu adalah Naki. Kalian terlalu banyak nonton adegan di sinetron.


"Maaf Pak, tadi saya sedikit melamun." Ana langsung memunguti barang-barangnya yang berceceran.


Pria itu pun tak segan membantu Ana memunguti satu- persatu barang-barangnya. Lalu ikut memasukannya ke dalam troli.


"Sekali lagi maafkan saya, Pak! Tadi saya terlalu buru-buru, jadi saya tidak melihat Anda berjalan dari arah lain."


"Tidak masalah. Ini hanya kecelakaan biasa." Lelaki itu tersenyum. Dalam diam ia memperhatikan name tag Ana yang terpasang di dada sebelah kiri.


"Diana?" tanya lelaki itu pada Ana. "Apa kau perempuan bernama Diana yang suka dipanggil Ana?"


Mendengar itu, alis Ana saling tertaut. "Iya, kok bapak bisa tahu?"


Ana pun memandang heran sosok laki-laki yang usianya kira-kira 40 tahunan lebih itu.


"Iya, aku memang sedang mencarimu." Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya. Masih dengan senyum hangat yang belum mau lepas juga.


"Perkenalkan, namaku Adam."


"Adam?" Dua alis gadis itu saling tertaut.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Saya rasa saya tidak kenal dengan Anda," ucap Ana tanpa membalas uluran tangan Adam sama sekali.


"Karena belum kenal, itu sebabnya aku sengaja memperkenalkan diri. Apa kau mau membuat tanganku mati kebas karena tidak dijabat?"


"Oh, maaf!" Ana pun langsung menyambut uluran tangan itu. Meski agak sungkan ia ingat kalau dirinya yang pertama salah menabrak lelaki itu.

__ADS_1


"Ada perlu apa, Pak Adam? Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?"


__ADS_2