
....... Happy reading .....
Beberapa jam kemudian Kirana akhirnya bangun dari pingsannya...
Saat pertama kali Kirana membuka matanya,ruangan bernuansa putihlah yang tertangkap oleh Indra penglihatannya.
"Aku di mana?"Batin Kirana bingung.
"Rumah sakit?"Batin Kirana saat hidungnya mencium bau obat obatan.
"Nona anda sudah sadar,sebentar saya panggilkan dokter terlebih dahulu"Ucap seorang perawat mengalihkan pandangan Kirana.
"Aku kenapa? mengapa aku ada di sini?"Guman Kirana memijat keningnya.
"Kepala ku sakit sekali"Keluh Kirana.
"Apa yang anda rasakan nona?"Tanya seorang dokter mengagetkan Kirana.
"Pusing dok,maaf sebenarnya apa yang terjadi dok?Mengapa saya ada berada di sini?"
"Yang saya dengar tadi anda keluar dari rumah sakit ini sambil berlari.Mungkin anda tidak menengok ke kanan-kiri terlebih dahulu hingga sebuah truk kontainer hampir menabrak anda.Tapi untunglah ada seorang laki-laki yang menyelamatkan Anda.Stukurlah anda hanya terluka kecil.
Kirana berusaha keras mengingat apa yang terjadi sebelum ia berada di sini.
"Yah aku ingat tadi bukankah aku menjenguk mas Putra?Lalu......... Traumaku kambuh"Batin Kirana kaget.
"Si...siapa yang menyelamatkanku dok?Bagaimana kondisinya sekarang?"Tanya Kirana panik.
"Sayangnya bukan saya yang merawatnya nona,jadi saya tidak tau kondisinya.Tapu saya akan meminta perawat untuk mencari tahu kondisi laki laki itu.Setelah itu baru akan mengabari anda"Terang sang dokter ramah.
"Kalau saya hanya luka kecil berarti saya tak perlu rawat inap kan dok?"
"βΊοΈTidak perlu nona,Nona hanya perlu menghabiskan infus ini lalu anda bisa langsung pulang.Saya akan meresepkan obat salep untuk di oleskan ke luka luka anda.Itu bisa mempercepat kesembuhannya.Asal jangan terlalu sering terkena air."Terang dokter itu lagi.
Dan setelah beberapa jam berlalu akhirnya Kirana di perbolehkan pulang.
"Maaf sus apa anda tau di mana laki laki yang tlah menyelamatkan saya di rawat."Tanya Kirana pada seorang perawat yang merawatnya tadi..
"Ach ya saya lupa, Kalau tidak salah pasien berada di ruang VIP lantai tiga kamar ke tiga sebelah kanan dari lift nona."Terang si perawat.
"Terima kasih sus..."Lalu Kirana langsung berjalan menuju sebuah lift yang tak jauh darinya.
Dengan langkah ragu ragu Kirana mulai menghampiri kamar yang di katakan oleh perawat tadi...
"Semoga bukan dia ..."Batin Kirana berharap.
Pelan pelan Kirana menggenggam gagang pintu...
__ADS_1
Ceklek....
"Assalamualaikum...."Ucap Kirana melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu..
Ranjang yang berhadapan langsung pada pintu memudahkan dokter atau pengunjung melihat siapa yang sedang tidur di atasnya.
Dan begitu kagetnya Kirana lihat sekarang.Seseorang yang sudah menyakitinya begitu dalam,kini tengah terbaring lemah di ranjang itu tanpa sadarkan diri.Orang itu yang menyelamatkan Kirana dari sebuah kecelakaan.
Mungkin kalau dia tak mengejar Kirana saat itu dia tak perlu seperti ini.Tapi kalau dia tak mengejarnya maka mungkin sekarang Kirana bukan berdiri di sini namun terbaring di ruang mayat.
Yah laki-laki yang sedang berbaring di ranjang itu adalah Putra,orang yang selama ini selalu menakuti Kirana dengan masa lalu yang menyakitkan sekaligus menakutkan.
Perlahan Kirana menghampiri Putra,kini ia tidak berdiri jauh dari posisi Putra seperti sebelum sebelumnya.Kirana duduk tepat di samping brangkar Putra terbaring.
"Kenapa kamu lakukan itu mas...Aku yakin sekarang bukan hanya kakimu retak namun juga patah."
"Seharusnya kamu tidak melakukan ini....hiks....hiks...hiks..."Kirana menangis merasa bersalah pada Putra.
"Terima kasih, terima kasih karena telah menyelamatkan ku.Terima kasih karena telah mengorbankan nyawa mu untuk ku....Maafkan aku....hiks.....hiks..."Ucap Kirana terus sambil menangis.
Kirana sama sekali tak berani memegang tangan Putra lagi,ia takut traumanya akan kambuh lagi saat memegang tangan Putra seperti beberapa jam yang lalu.
"Kirana"Panggil Putra serak.Ia baru saja sadar saat mendengar suara seorang wanita yang di cintai ya tengah menangis.
"Jangan menangis"Ucap Putra lagi mencoba menyentuh tangan Kirana yang tak jauh dari tangannya.
"A.....aku tak mau Traumaku kambuh lagi dan akhirnya akan menyakitimu lagi."Terang Kirana menunduk.
"A...aku akan memanggil dokter."Ucap Kirana langsung pergi saat Putra ingin berbicara lagi.
"Bagaimana kondisi nya dok?"Tanya Kirana saat setelah dokter selesai memeriksa Putra.
"Kondisi pasien sudah stabil... Tapi setelah tadi di ronsen ternyata betis pasien yang awalnya hanya retak kini malah menjadi patah karena terlalu banyak tekanan atau karena di paksakan berjalan tanpa alat bantu."Terang sang dokter.
"Tulang rusuknya juga ikut patah jadi tolong di jaga benar benar saat bergerak."Terang dokter.
"Baik dok terima kasih atas penjelasannya"Jawab Kirana.
Kirana mengantarkan sang dokter keluar ruangan.
Saat kembali Kirana kaget melihat Putra yang berusaha bangun.
Kirana langsung buru buru menghampiri Putra.
"Bukankah tadi dokter sudah mengatakan bahwa kau tak boleh bergerak secara sembarangan?"Ucap Kirana langsung memencet tombol untuk membuat ranjang bagian kepala lebih tinggi.
"Kau butuh sesuatu?"Tanya Kirana.
__ADS_1
"Air"Jawab Putra singkat.
Setelah Putra minum Kirana langsung mengembalikan gelas pada nakas.
"Kamu belum sempat makan.Tadi aku sudah minta perawat untuk mengambilkan makanan"Terang Kirana duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang Kirana.
Tring.......
Terdengar suara ponsel Kirana berbunyi.
π±"Hallo assalamualaikum"
π±"Bunda mengapa belum pulang?"Tanya Ken di seberang sana dengan khawatir.
π±"Maaf sayang sepertinya bunda malam ini tidak bisa pulang.Bunda harus menemani ayahmu dulu malam ini"
π±"Papa Dion kan ada di rumah Bun"Ucap Ken.
π±"Maksudnya ayah Putra sayang"
π±"Bukankah di sana banyak perawat dan juga dokter Bun?Jangan menyusahkan diri sendiri hanya untuk orang tak berguna sepertinya"Ucap Ken kesal.
π±"Kenzia jaga ucapanmu !!Bunda sama sekali tidak pernah mengajarimu untuk bicara tidak sopan pada orang tua."Ucap Kirana Marah.
Kirana benar benar kaget mendengar semua ucapan Ken yang sangat kasar itu.
π±"Bunda kecewa sama kamu Kenzia"Ucap Kirana lirih.
"Hiks...hiks ..hiks bunda Ken minta maaf,Ken salah...Ken tak akan mengulanginya lagi"Ucap Ken takut.Ken hanya takut Kirana kembali pada Putra,Ken tak mau nantinya perhatian Kirana pada nya dan Zia akan terbagi.
Karena Ken melihat bagaimana Olivia yang galak pun bisa sangat mencintai Dion dan sedikit taralihkan kasih sayangnya.
π±"Hufff kita bicara lagi besok ok....Sekarang kakak istirahat,besok kakak sekolah.Dimana Zia?Apa dia sudah tidur?"
π±"Zia tidur bersama mama Oliv dan juga dedek bayi"Jawab Ken masih dengan Isak tangisnya.
π±"Kakak sudah jangan menangis lagi.Jagoan bunda kalau cengeng bagaimana akan menjaga bunda dan Zia?"Ucap Kirana kembali lembut.
Sedangkan Putra yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar yang baik antara anak dan ibu itu.
π±"Bunda Ken susul bunda di rumah sakit yaπ₯Ί"
π±"Kakak istirahat saja besok setelah sekolah kakak bisa ke sini bersama Zia.Oya minta uncle Saka untuk mengantar jemput kalian ya"
"Iya Bun"Jawab Ken murung.
"Baiklah good night boy,jangan lupa berdoa sebelum tidur.Assalamualakum"Ucap Kirana mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1