Perjuangan Seorang Istri

Perjuangan Seorang Istri
94


__ADS_3

....... Happy reading .......


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?"Tanya Dion sesaat setelah Saka menidurkan Kirana.


"Aku tak tau awal mulanya,hanya tiba-tiba Zia menghubungi ku dan mengatakan bahwa Kirana terus saja menangis dan berteriak...Mendengar itu aku langsung bergegas pulang tanpa memberi tahu mu terlebih dahulu.Saat sampai yang ku lihat Ken sudah pingsan tak jauh dari kirana.sedangkan Kirana duduk meringkuk sambil meracau dan menangis."


"Aku berusaha menenangkannya namun Kirana justru terus memberontak dan berlari dariku keluar rumah.dia seperti ketakutan dan sedang mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.Aku harus melihat keadaan anak anak dulu"Ucap Saka bangun dari duduknya.


"Bangsat trauma Kirana memang kambuh kembali.Kejadiannya hampir sama persis dengan beberapa tahun yang lalu saat Kirana masih mengandung anak anak.Pasti ini karena kehadiran baj******n itu lagi.Aku tak akan membiarkan ba*******n itu menemui Kirana lagi.Kirana sudah berjuang sangat keras untuk bisa sembuh dari traumanya,tapi kehadiran ba*******n itu menghancurkan semua usaha Kirana.Tidak.....tidak lagi"Guman Dion geram.


Dion langsung menghubungi psikiater yang pernah merawat Kirana.Dan apa yang ia dengar ini? ternyata diam-diam Kirana sudah berobat tanpa sepengetahuan mereka.


"Itu artinya Kirana sudah seperti ini selama beberapa hari terakhir.Tapi dia bisa menutupinya, tapi kenapa?"Batin Dion bingung.


Keesokan harinya Kirana bangun dengan tubuh yang terasa remuk di mana mana.


Dan saat ia akan menginjakkan kaki di lantai,telapak kakinya terasa perih.


"Ah ada apa dengan telapak kakiku?Tubuh dan kepalaku juga sakit"Guman Kirana memegang kepalanya.


Tok....tok....tok...


"Kirana apa kau sudah bangun?"Tanya Saka dari luar.


"iya aku sudah bangun kak"


Ceklek...


"Bagaimana keadaanmu?"Tanya Saka saat sampai di samping Kirana.


"Aku baik baik saja,hanya tubuhku terasa sangat lelah dan pusing"Ucap Kirana Pelang.


"kalau begitu cepat bersihkan dirimu,kita akan segera menemui Dion setelah sarapan"Ucap Saka lalu berlalu pergi.


Beberapa saat kemudian Kirana tlah selesai membersihkan diri.Walau dengan jalan tertatih Kirana terus menuruni tangga.


"Selamat pagi"Sapa Kirana saat sampai di meja makan.


"Pagi bunda,bunda sudah sehat?"Tanya Zia.


"Bunda baik baik saja kok"

__ADS_1


Lalu pandangan mata Kirana beralih ke arah Ken.Kirana mengerutkan keningnya heran.


"Aku sudah selesai sarapan,uncle ku tunggu di teras"Ucap Ken berlalu.


"Kakak"Panggil kirana.


"Kak Ken sakit?kok pakai topi dan masker?"Tanya Kirana menghampiri Ken.


Saat Kirana ingin menyentuh topi Ken refleks Ken langsung mundur.


"Hey ada apa denganmu sayang?Mengapa menghindari bunda?apa bunda punya salah sama kakak?Bunda minta maaf kalau bunda ada salah.Tapi jangan menghindari bunda kayak gini"Ucap Kirana sambil berlutut menyamakan tingginya dengan Ken.


"Bunda tidak punya salah apapun sama Ken,hanya saja Ken tidak mau menyakiti bunda lebih dalam lagi"Ucap Ken meremas bajunya lalu berjalan pergi.


Kirana semakin bingung mendengar jawaban dari Ken.


"Zia apa kamu tau apa yang terjadi dengan kakak?"


"Zia nggak tau Bun,semalam Zia terbangun saat bunda berteriak,lalu Zia ke kamar bunda.Terus Zia liat kakak sudah menangis dan bunda meringkuk di dekat jendela sambil menangis dan meracau meminta kita pergi.Kak Ken minta Zia untuk menghubungi uncle,namun saat kembali yang Zia lihat kakak sudah tertidur di lantai,eemmm mungkin kakak pingsan"Terang Zia.


"Ya Allah"Ucap Kirana terkejut.


"Jangan jangan Ken melihatku saat traumaku kambuh"Batin Kirana kaget.


Setelah selesai sarapan Kirana langsung membersihkan meja makan dan menyusul Saka dan Zia ke mobil.


Saat Kirana akan masuk mobil ternyata Ken sudah terlebih dulu duduk di samping Saka.


Kirana semakin sedih melihatnya.


"Pasti Ken takut melihatku saat sedang kambuh"Batin Kirana mencengkram tali tasnya.


Sesampainya di rumah sakit Zia dan Ken langsung menemui Olivia.


"Mama adik bayinya mana?"Tanya Zia pada Olivia begitu sampai di samping nya.


"Sebentar lagi pasti perawat akan membawanya ke mari.Kalian pasti sangat ingin melihat mereka ya?"Tanya Olivia.


"Ya bagaimana wajahnya?Apa dia laki-laki atau perempuan?"Tanya Zia semangat.


"Dia laki-laki tampan seperti kak Ken"Ucap Olivia memandang Ken yang diam saja di samping Zia.

__ADS_1


"Ya....Zia jadi nggak punya teman bermain istana boneka dong sama adik bayi"Ucap Zia kecewa.Pasalnya Zia sangat berharap bahwa bayi yang di kandung Olivia adalah bayi perempuan.Agar kelak ia bisa mengajaknya bermain masak masakan atau boneka bonekaan.


"Eh kakak kenapa memakai topi dan masker?"Tanya Olivia heran.


"Sedang ingin berpenampilan seperti ini saja ma"Jawab Ken singkat.


Olivia mengerutkan keningnya heran.


"Bagaimana kabarmu Via"Tanya Kirana setelah lama terdiam.


"Aku baik sangat baik,hanya mungkin akan menunda memiliki bayi lagi.Saat melahirkan rasanya itu sangat menyakitkan kau tau?!Oh ya Allah rasanya tubuhku akan terbelah menjadi dua.Aku sedikit takut untuk melahirkan lagi.Tapi bagaimana dengan mu dulu ya?Kamu mengandung dua bayi sekaligus.Dan harus berjuang melahirkan mereka sendiri.Aku benar benar nggak bisa bayangi itu"Cerita Olivia panjang lebar.


"Anak anak kalian disini dulu ya sambil menemani mama,papa akan berbincang terlebih dahulu sama bunda dan uncle"Ucap Dion tiba tiba.


"Iya pa"Jawab Zia.


Lalu Kirana mengikuti Dion keluar dari ruangannya Olivia.


"Ada apa kak?"Tanya Kirana pada Dion.


"Sejak kapan traumamu kambuh lagi Kirana?"Tanya Dion datar.


"Trauma apa?Aku baik baik saja.Tidak ada trauma"Jawab Kirana bohong.


"Jangan pernah menutupi apapun dariku Kirana.Kau fikir aku dan Olivia menyusulmu kesini beberapa tahun yang lalu untuk apa?Untuk menjaga dan menemanimu.Bukan untuk mendengar kebohonganku kau tau.Aku tau apa yang terjadi padamu semalam.Jadi bisa kau jelaskan?"Tanya Dion kesal karena Kiran Masih berusaha menutupi kesakitan ya.


"Itu....."


"Sejak ayah anak anak datang"Jawab Kirana menunduk.


"Tapi saat aku merasakan itu aku langsung konsultasi pada psikiater yang dulu juga pernah merawatku.Selama ini aku masih bisa menahannya kak.Ku fikir dengan berjalannya waktu itu akan sembuh,aku tidak tau kalau mungkin malah semakin parah"Ucap Kirana murung.


"Semalam yang ada di rumah hanya kamu sama anak-anak.Mungkin saat traumamu kambuh Ken melihat.Dia ketakutan hingga dia pingsan.Atau mungkin dia merasa bersalah karena wajahnya mirip dengan ayahnya."Ucap Saka tiba-tiba.


"Jadi itu sebabnya Ken menutupi wajahnya dengan memakai topi dan masker??!!"Fikir Kirana luruh ke lantai.


"A...apa aku sudah menyakiti anak anakku?"Ucap Kirana membungkam mulutnya.


"Yang ku lihat Ken dan Zia tak terluka sedikitpun Kirana"Ucap Saka mendudukkan tubuhnya Kirana ke bangku yang tersedia di sana.


"Aku harus bicara dengan Ken"Ucap Kirana bangun.

__ADS_1


"Jangan sekarang lebih baik kamu temui psikiater mu dulu.aku sudah membuat janji dengannya.Kirana lain kali jangan tutupi apapun lagi padaku.Aku ada disini untuk melindungi mu juga.Aku,Olivia dan juga Saka menyayangimu.Jangan buat kami khawatir dengan sikapmu yang sok kuat itu"Ucap Dion memeluk Kirana.


"Maaf"Jawab Kirana dalam pelukan Dion.


__ADS_2