Perjuangan Seorang Istri

Perjuangan Seorang Istri
107


__ADS_3

 


....... Happy reading .........


 


Tok..... Tok...... Tok.....


"Mas itu pasti Ken atau Zia"Ucap Kirana kaget.


"Ya udah kamu ke kamar mandi dulu,aku akan membereskan kekacauan ini"Jawab Putra panik.


"Kekacauan ini juga kamu yang buat mas,lain kali jangan minta pagi pagi seperti ini"Gerutu Kirana kesal sambil berjalan dengan lilitan selimut di tubuhnya.


Gedubrak......


"Auuuuhhhh"


"Sayang kamu kenapa?"Tanya Putra langsung menghampiri Kirana yang sedang terduduk meringis..


"Kakiku lemes"Jawab Kirana mengerucutkan bibirnya kesal.


Putra terkekeh melihat raut wajah Kirana yang sedang kesal.


"Ya sudah aku gendong aja ya"Ucap Putra sambil memposisikan dirinya untuk menggendong Kirana ala bridal style.


"Lain kali kalau kamu bikin aku kayak gini lagi kamu harus puasa seminggu"Ancaman Kirana.


"Waduh jangan dong sayang,aku nggak akan tahan itu"


"Kalau begitu jangan buat aku kayak gini lagi.Udah sana pergi"


Tok...... Tok...... Tok.......


"Ayah bunda cepet buka....."Teriak Zia kesal karena dari tadi ia mengetuk pintu kamar Kirana namun tak kunjung ada jawaban.


"Jangan jangan bunda di apa apain sama ayah,lebih baik kakak minta orang buat dobrak pintu ini"Ucap Zia kesal.


"Idemu bagus juga Zia,ya sudah aku turun sebentar"Jawab Ken.


Ceklek......


Pintu terbuka memperlihatkan Putra yang hanya memakai celana pendek tanpa memakai atasan.


"A.......ayah porno.....pakai baju sana"Teriak Zia kaget sekaligus malu,ia langsung menutup wajahnya.Karena pada dasarnya Kirana selalu mengajarkan pada anak-anak nya untuk menutup aurat nya.


Ken langsung masuk kamar tanpa persetujuan dari Putra.


"Bunda mana?"Tanya Ken to the poin.

__ADS_1


"Bunda mandi"Ucap Putra setelah selesai memakai baju.


"Zia lain kali jangan teriak teriak ya,telinga ayah bisa tuli"Keluh Zia.


"Habis ayah ngeselin,kamar bunda kenapa kayak kapal pecah?perasaan kamar bunda yang ada di LA nggak pernah kayak gini deh"Guman Zia yang tentu saja masih di dengar oleh Ken dan Putra.


"Ah itu ayah mencari handphone ayah,tapi ayah tak menemukannya"


"Dasar rusuh.Zia ayo kita keluar saja,kamar ini baunya nggak enak,mungkin sebaiknya bunda pindah ke kamar mu atau aku saja."


Ken tau benar ibunya tak suka tempat yang berantakan seperti ini,dan lihat ayahnya sendirilah yang mengacaukan kamar mereka.


Beberapa saat kemudian Kirana tlah selesai membersihkan diri.Kamar juga sudah di bersihkan oleh pelayan begitu Ken dan Zia keluar tadi.


"Sepertinya acara ke Dufan akan di pending dulu"Guman Kirana.


"Kenapa harus di pending?"Tanya Putra heran.


"Kau membuatku tak bisa berjalan,lalu bagaimana kita akan pergi?Bersiaplah mendapatkan introgasi dari Putramu itu"Ucap Kirana sambil bercermin.


Ceklek


"Bunda baik baik saja?"Tanya Ken menghampiri Kirana yang baru saja ingin memakai kerudung nya.


"Bunda sehat sayang,bunda baik baik saja kok.Ada apa?Kenapa wajahmu terlihat seperti khawatir seperti itu?"


"Lalu leher bunda kenapa merah merah seperti itu??"Tanya Ken menyelidik.Ia bahkan sudah naik ke pangkuan Kirana untuk melihat lebih dekat lagi.


"Sebanyak apa serangganya?"Tanya Ken melirik tajam ke arah Putra.


Putra yang menyadari lirikan mata Ken langsung pura pura tak mendengar.Ia memilih berlalu ke kamar mandi.


"Bunda tidak tau,semalam lampunya mati"Ucap Kirana bohong.


"Bunda bukan wanita yang pandai berbohong"Ucap Ken kesal dan langsung turun dari pangkuan Kirana.


Kalau sudah begini Ken akan mogok bicara dan makan.Dan itu membuat Kirana panik.


"Sayang tunggu bunda belum selesai bicara denganmu.Kamu bisa tanya ayahmu mengapa leher bunda seperti ini."Ucap Kirana memelas...


"Apa ayah menyakiti bunda lagi?"


"Tidak,ayah tidak akan berani menyakiti bunda lagi karena ada kamu yang menjaga bunda.tapi sebaiknya interogasi ayahmu saja dulu"Ucap Kirana memprofokasi Ken.


"Bunda di mana ayah?"Tanya Zia yang kini di belakangnya ada Ica pelayan khusus untuk Zia.


"Ayah di sini sayang"Ucap Putra tiba tiba dari ruang ganti.


"Ayah kapan kita akan pergi ke Dufan?ini sudah sangat siang"keluh Zia.

__ADS_1


"Bagaimana kalau besok, hari ini kita tidak bisa pergi sayang,bunda sedang kurang enak badan"Terang Putra.


"Tapi ayah sudah janji"Ucap Zia mulai murung.


"Zia apa kau sudah berkeliling mansion ini?Aku tadi lihat taman belakang ada banyak mainan.Kau harus melihatnya"Saut Ken.


"Sungguh???Mbak Ica ayo antar aku,kak Ken tidak ikut?"Tanya Zia kembali berbinar.


"Nanti aku menyusul.Aku ingin berbicara sebentar dengan ayah"Jawab Ken melirik Putra.


"Baiklah,jangan lama-lama,aku tak mau bermain sendirian"


"Kalau begitu aku semua pelayan rumah ini untuk bermain dengan mu"


"Apa itu boleh yah?"


"Tentu sayang"


Setelah kepergian Zia,Ken langsung mengajak Putra mengobrol di kamar Ken.


"Jadi apa yang terjadi semalam ayah?"Tanya Ken menyelidik.Ken tak akan main main kalau sudah menyangkut ibu dan adiknya.


"Ken bisakah kamu bersikap layaknya anak kecil pada umumnya?terkadang sikapmu ini membuat ayah ketakutan"Ucap Putra ketar ketir.


"Aku yang harus menjaga bunda dan Zia,ada saatnya aku akan kembali ke sifat anak anak pada umumnya.Dan jangan lupa IQ ku di atas rata-rata anak pada umumnya"Jawab Ken datar.


"Dan aku tau benar siapa yang mewariskan sikap ini padaku"


"Huffffff jadi apa yang ingin kamu ketahui Ken?Tanya Putra mengalah.


"Apa yang telah ayah lakukan pada bunda semalam?mengapa banyak bercak merah di leher bunda,dan lagi,,,bunda kemarin baik baik saja.Mengapa sekarang tiba-tiba bunda jadi kurang sehat?"Tanya Ken kritis.


"Apa kamu menginginkan adik lagi Ken?mungkin adik laki-laki"


"apa maksud ayah?"Tanya Ken tak mengerti.


"bercak merah di leher,lalu tiba-tiba bunda kurang enak badan.Anggap saja itu proses untuk bunda mendapatkan bayi lagi, mendapatkan adik untukmu."Terang Putra lembut.


Ken mengerutkan keningnya bingung"Aku tidak tau bagaimana proses membuat bayi atau adik,tapi kalau itu menyakiti bunda lebih baik tidak usah.Sudah cukup suara Zia meramaikan rumah ini."


"Itu tidak menyakiti Kirana Ken,aku bisa pastikan itu.Bundamu hanya kelelahan.Kamu tenang saja,lain kali aku pastikan bundamu akan baik baik saja."Ucap Putra meyakinkan Ken.


"Berapa lama proses itu yah?"Tanya Len penuh ingin tau.


"Itu....ayah tidak tau,ayah dan bunda hanya bisa berusaha,jadi atau tidaknya itu urusan Allah."Ucap Putra.


"Aku masih tidak mengerti,tapi selama itu tidak menyakiti bunda terserah kalian.Aku pusing dengan urusan orang dewasa"Ucap Ken berlalu keluar kamar.


Putra langsung bernafas lega saat Ken akhirnya tak mengintrogasi nya lagi.

__ADS_1


"Anak siapa sih dia?Sangat menyusahkan"Guman Putra.


Setelah berkata begitu ia langsung sadar."Bodoh dia anak ku,benihku"Batin Putra memukul kepalanya sendiri.


__ADS_2