
...... Happy reading ........
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Kirana sadar dari pingsannya.
Keadaannya masih linglung saat Kirana di bawa pulang oleh Dion.
Sedangkan Ken tak pernah menjauh dari bundanya sejak Kirana pingsan tadi.
"Apa sebenarnya yang terjadi sayang?"Tanya Olivia khawatir.
"Kirana pingsan.Aku curiga Kirana bertemu dengan bajingan itu"Ucap Dion saat berada di kamarnya.
Kirana sendiri sekarang berada di kamar bersama dengan Zia dan Ken juga Saka.
"Maksudmu Putra?"Tanya Olivia kaget.
"Hem ya begitulah.Masalahnya setelah Kirana sadar ia berteriak histeris dan ketakutan.Seperti dulu saat ia hampir deptresi."Terang Dion.
"Astaga ??!! La ..lalu kita harus bagaimana?Apa Ken juga sudah bertemu dengan nya?"
Tanya Olivia panik.
"Aku tidak tau,kamu tenangkan dirimu sayang.Jangan seperti ini,ingat kandunganmu tinggal menunggu minggu saja.Jangan sampai ini mempengaruhi mu"Ucap Dion sambil membelai perut Olivia penuh sayang.
"Hey dia bergerak.Kamu merindukan papa sayang??"Tanya Dion duduk berhadapan dengan perut Olivia.
"Aku tidak merindukanmu papa,aku hanya senang kau belai"Jawab Olivia meniru suara anak kecil di akhiri kekehan.
"uncle bunda baik baik saja kan?"Tanya Zia penuh nada khawatir.
"Bunda kalian akan baik baik saja.Dia hanya sedang sangat kelelahan,itu sebabnya Kirana sampai pingsan."Terang Saka sambil membelai rambut Zia sayang.
Sesampainya di rumah Dion langsung meminta Kirana untuk makan dan minum obat.Dan sekarang Kirana tengah tertidur di kasurnya di temani Ken yang selalu setia memeluk Kirana.
"Uncle yakin?"Tanya Zia tak yakin dengan penjelasan Saka.
"Tenanglah,Kirana adalah perempuan yang paling kuat yang pernah uncle temui.Dia akan baik baik saja"
"Sekarang lebih baik kamu juga menemani bunda tidur.Jangan biarkan bunda kalian sendiri.Uncle ada di kamar lalu di antara kalian butuh sesuatu"Lanjut Saka.
"Baiklah"Jawab Zia menurut.Ia lalu berjalan dan menaiki kasur ibunya dengan perlahan dan berbaring di sisi kiri tubuh kirana.
Setelah melihat Saka keluar ia bertanya pada Ken"Kakak apa bunda memiliki penyakit yang parah?"Ucap Zia pelan.
"Aku tak tau,yang aku dengar saat bunda di periksa dokter tadi katanya bunda pernah mengalami trauma cukup parah.Bunda tidak bisa mengalami tekanan lebih lagi atau akan berakibat fatal.Aku sendiri tidak mengerti,tapi yang pasti kita harus menjaga bunda tetap bahagia dan tidak sendirian"Ucap Ken serius.
"Hemmm untuk membuat bunda tetap bahagia itu hal mudah untukku.Kakak tenang saja"Ucap Zia sambil memeluk Kirana lebih erat lagi lalu memejamkan matanya berharap bisa ikut menyusul Kirana ke alam mimpi.
__ADS_1
"Aku khawatir laki laki yang bersama bunda saat bunda pingsan lagi adalah penyebab bunda jadi seperti ini"Batin Ken gelisah.
Di tempat lain yang tak jauh dari rumah Kirana Putra tengah menunggu dengan perasaan yang serba salah dan tak tenang.
Banyak pertanyaan pertanyaan yang berkelebatan di kepalanya hingga membuat nya pusing sendiri.
"Bagaimana keadaan Kirana sekarang?" Terakhir ia melihat Kirana saat di papah Dion keluar dari cafe dan saat memasuki rumah.
"Apa hubungan antara Dion dan juga Kirana?Mengapa anak laki-laki dan perempuan itu menyebut Dion papa?"Dan banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang berseliweran di kepala Putra.
Hingga malam tiba Putra belum juga beranjak dari tempatnya.Ia begitu menghawatirkan kondisi Kirana,ingin menemuinya takut semakin memperparah kondisi Kirana.Tapi bila ia tidak melihat kondisi Kirana maka ia tak akan bisa tenang.Putra benar benar merasa dilema.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang.Hingga malam tiba tak ada pergerakan dari dalam rumah itu.Bagaimana kondisi Kirana sekarang aku sama sekali tak tau"Guman Putra gelisah.
"Kepalaku benar benar akan meledak bila tetap diam disini"Ucap Putra langsung keluar dari mobilnya.
Ting.....Tong.....
Ting......Tong....
"Biar aku saja yang membuka pintu"Ucap Dion langsung menyelesaikan makannya dan beranjak dari duduknya saat mendengar bel rumahnya berbunyi.
Ceklek...
"Kau"Ucap Dion kaget.
bugh.....
Sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Putra.
Dengan emosi Dion kembali melayangkan pukulan ke perut Putra hingga membuat putra terduduk sambil memegang perutnya yang terasa perih melilit akibat pukulan Dion yang sangat keras.
"Pergi dari sini dan jangan pernah tampakkan mukamu lagi di depan Kirana kalau kau masih ingin hidup"Ancam Dion penuh emosi.
"Cih..."Putra meludahkan darah segar dari mulutnya yang sudah robek akibat pukulan Dion.
"Kau bisa membunuhku setelah aku bisa mendapatkan maaf dari Kirana"Balas Putra sambil berusaha untuk kembali berdiri.
"kau"Ucap Dion dengan penuh emosi langsung melayangkan pukulan ke pipi kiri Putra.Namun Putra sama sekali tak berniat melawan Dion.
Baginya rasa sakit akibat pukulan Dion sama sekali tak berarti apa apa di bandingkan rasa sakit yang tlah ia berikan kepada Kirana.
"Papa"Teriak Zia tiba tiba.
Dan di sana sudah ada Ken dan juga Saka.Sedangkan Kirana sudah langsung di bawa ke kamar oleh Olivia saat mendengar keributan dari depan.
"Apa yang papa lakukan?Mengapa papa memukuli orang seperti itu?"Tanya Zia menghampiri Dion.
__ADS_1
"Saka bawa masuk Ken dan Zia"Perintah Dion tanpa menoleh.
Zia akan menyentuh lengan Putra namun bentakan Dion mengagetkannya.
"Saka cepat bawa anak anak masuk rumah"Teriak Dion lagi sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan.
Melihat tingkah Dion Zia mengerutkan keningnya.Tak pernah seumur hidupnya ia melihat Dion begitu murka seperti saat ini.
Lalu Zia kembali menoleh ke arah Putra.Zia mengerutkan keningnya saat melihat wajah Putra yang mulai nampak lebam.
"Seperti tidak asing"Batin Zia berfikir keras.
"Zia ayo masuk"Ucap Saka memegang lengannya.
Zia menoleh pada Saka lalu Ken dan berakhir pada Putra.
Dan Zia langsung membulatkan matanya saat sadar bahwa wajah Ken sama persis dengan wajah Putra.
Dengan sedikit ragu ragu ia melihat Putra lagi dan menelisik ke samaan di antara putra dan Ken.
"Mereka benar benar mirip"Batin Zia.
"Jangan jangan itu.."Batin Zia kaget.
Zia langsung membalikkan tubuhnya saat sampai di ambang pintu.
"Ayah"Panggil Zia dengan suara bergetar..
Semua orang di sana begitu terkejut mendengar ucapan Zia.
"Zia"Panggil Ken.
"Di ...dia ayah Putra kakak,dia ayah kandung kita"Ucap Zia berkaca kaca.
"Dari mana kau yakin......"
"Wajah kalian mirip"Potong Zia tlah menangis.
Lalu Zia kembali menghampiri Dion yang masih terpaku akan kekagetannya.
"Papa mengapa memukul ayah Zia?Kalo ayah Zia tidak mau bertemu dengan Zia bagaimana?"Hiks....hiks....hiks..."Ucap Zia memegang ujung baju Dion.
"Zia rindu ayah"Ucap Zia sambil menghampiri Putra yang masih terduduk tak bergerak.
Dia benar-benar kaget,gadis kecil yang memanggil Dion papa sekarang malah memanggilnya ayah.
"Apa sebenarnya yang terjadi di sini"Batin Putra bingung
__ADS_1