
..... Happy reading .....
"Kirana maaf membuatmu jadi marah pada Ken.Lebih baik kamu kembali saja, Ken jauh lebih membutuhkanmu dari pada aku"Ucap Putra sedikit tak rela.
"O.....Jadi nggak suka aku di sini?Ya sudah aku pergi,tapi jangan harap aku mau menjengukmu lagi"Ucap Kirana kesal karena merasa tak di hargai.
"Bukan... bukan begitu maksudku"Ucap Putra panik dan ia berusaha untuk menggapai Kirana.
"Au......"Rintih Putra saat merasakan tulang rusuknya nyeri.
"Hati hati"Ucap Kirana kembali duduk di kursinya.
"Aku hanya tak ingin melihat Ken semakin benci padaku karena kamu lebih mementingkan aku dari pada dia"Ucap Putra.
"Anggap saja ini caraku untuk membalas Budi padamu karena tlah menyelamatkan aku"
"Yawapun akan ku berikan kalau itu bisa menebus semua kesalahanku padamu Kirana"Ucap Putra yakin.
"Jangan berlebihan"
Tok....Tok....Tok...
"Maaf nona ini makan malamnya"Ucap seorang perawat begitu sampai di samping Kirana.
"Terima kasih sus."
"Biarkan malam ini aku mengurusmu,anggap saja ini tanda terima kasih ku.Tapi tolong jangan sentuh aku"Ucap Kirana sambil mengambil sesendok nasi beserta lauknya untuk di suapkan ke mulut Putra.
"Aku yang membuatmu seperti ini,jadi bisakah aku juga yang mengobati mu?"Ucap Putra di sela sela makannya.
"Jangan bicara saat sedang makan"Ucap Kirana tegas.Lalu Putra tak mengoceh lagi hingga makanan yang di suapkan Kirana habis tak tersisa.
Selama makan Putra selalu tersenyum sambil terus menatap Kirana penuh dengan kerinduan juga mendamba.
"Ku fikir waktu seperti ini akan hanya dalam mimpi.Kalau aku bisa mendapatkan waktu seperti ini terus lebih baik aku sakit selamanya"Guman Putra yang tentunya masih di dengar Kirana dengan jelas.
"Itu mulut minta di pukul atau di buat nyium lantai?"Tanya Kirana gerah.Sejak Kirana memiliki sebuah cafe,tak jarang Kirana bertemu dengan orang orang yang suka berbicara manis padanya hanya untuk mencuri hati Kirana.
Namun sayang semua mundur secara perlahan karena sifat Kirana yang tegas dan ketus saat menemui mereka.Dan jangan lupa ada Dion yang selalu menjaga Kirana dengan berpura-pura menjadi suami Kirana.
Baginya ucapan Putra juga hanya bualan semata.
"nyium kamu boleh nggak?"Tanya Putra terkekeh.
Dan Kirana hanya memutar matanya malas.
"Jadi apa boleh aku ikut membantumu untuk sembuh Na?"Tanya Putra kembali ke poin awal perbincangan mereka saat makan tadi.
"Sejak kapan kamu jadi psikiater?"
"Sejak kamu mengizinkanku untuk membantumu"
"Kirana aku janji setelah kamu sembuh aku akan pergi bila kamu belum juga bisa untuk menerimaku.Aku akan segera mengurus surat cerai kita bila kamu tak menginginkan ku lagi."Ucap Putra serius.
__ADS_1
Mendengar itu semua Kirana menjadi bimbang apakah dia harus menerima permintaan Putra atau tidak.
Suasana kamar itu menjadi hening sejak ucapan Putra yang terakhir.
"Tidurlah,besok kita bicarakan ini lagi"Ucap Kirana setelah sekian lama terdiam.
Kirana langsung menekan tombol pengatur posisi ranjang agar Putra bisa lebih nyaman untuk tidur.
Setelah itu Kirana langsung pergi menuju sofa yang tak jauh dari tempat tidur Putra.Ia mulai berbaring dengan mata terpejam,namun fikirannya masih memikirkan ucapan Putra.
Berbeda dengan Kirana yang bingung mengambil keputusan.Putra malah asyik memandangi punggung Kirana yang sedang tertidur di sofa.
Putra tersenyum"Untuk sekarang kita tidur di tempat yang berbeda,tapi cepat atau lambat aku akan bisa memelukmu dalam setiap malam kita nanti."Batin Putra.
๐๐๐
Keesokan harinya,Kirana bangun terlebih dahulu sebelum Putra.Tak lupa Kirana juga menunaikan shalat subuh.
Tepat pukul enam Putra terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Ah tidurku kali ini jauh lebih nyenyak,tidak seperti sebelum sebelumnya"Batin Putra ingin merenggangkan tubuhnya.
Namun berakhir dengan suara desisan menahan sakit.Rupanya Putra lupa dengan kondisi tubuhnya yang sekarang.
"Kamu baik baik saja?"Tanya Kirana khawatir.
"Terima kasih telah mengkhawatirkan ku"Ucap Putra tersenyum.
"Terserah"Ucap Kirana malas menanggapi ucapan Putra.
"Aku ingin ke kamar mandi"Ucap Putra sedikit malu.
"Sebentar aku ambilkan kursi roda dulu."
Sesaat kemudian Kirana kembali dengan bersama perawat laki-laki.
"Tolong bantu dia untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.Saya harus turun ke bawah sebentar"Ucap Kirana pada perawat itu.
"Baik nona."perawat itu langsung membantu Putra bangun.
"Eh Kirana bukankah kamu yang akan membantu ku?"Tanya Putra bingung.Karena ia berharap Kirana mau membopongnya ke kursi roda.Nyatanya malah tidak.
"Aku lapar"Ucap Kirana singkat dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Saat Kirana sudah kembali ke ruangan Putra,ternyata Putra sudah selesai memakan sarapannya.
"Sudah selesai sarapannya?"Tanya Putra saat Kirana sampai di sampingnya.
"Hemmm,aku membawa buah dan beberapa cemilan,kau mau?"
"Boleh kalau kamu tidak keberatan untuk mengupaskannya"
Kirana langsung mengupas kan buah apek yang iya bawa.Untung saja kedua tangan Putra tidak ikut patah juga,hingga Kirana tak perlu harus menyuapi Putra terus menerus.
__ADS_1
Setelah itu Kirana lebih memilih menyibukkan dirinya dengan membaca novel online di handphone nya.
"Na bagaimana dengan permintaanku semalam?"Tanya Putra setelah lama hening.
"Sembuhkan dirimu dulu baru membantuku"Ucap Kirana tanpa menoleh dari handphone nya.
"Sungguh?Kamu mengizinkanku untuk membantu mu?"Tanya Putra berbinar.
"Aku tak perlu mengulanginya lagi kan?! "
"Tidak,aku mendengarnya dengan jelas, terima kasih karena tlah memberikan ku kesempatan.Bolehkah aku juga mendekati Ken?"
"Lakukanlah bila kau mampu"Jawab Kirana masih acuh.
"Ya Allah sikap istriku ini memang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.Tapi tak apa aku akan tetap mengejarmu sayang"Batin Putra tersenyum sendiri layaknya orang bo**h.
Sebenarnya Kirana sudah tau sejak tadi Putra terus melihatnya dengan tatapan memuja dan senyum bo***nya.
Kirana mulai risih dan langsung menatap Putra,ia menaikkan sebelah alisnya"๐คจApa kau tak memiliki pekerjaan lain selain melihatku dengan ekspresi wajah bo****mu itu?"
"Memang apa yang bisa di lakukan oleh orang sakit sepertiku?"Tanya Putra polos.
"Ke dua tanganmu baik baik saja kan?"Tanya Kirana.
Lalu Putra melihat kedua tangannya"Baik baik saja.Aku bisa menggerakkan keduanya tanpa kesakitan.
"Kalau begitu gunakan tanganmu itu untuk mengerjakan sesuatu"
"Emmmmmm"Wajah Putra malah tambah berseri mendengar ucapan Kirana.
"Bolehkan tangan ini menggenggam tangan mu?"Tanya Putra memohon.
"Tidak !!! Tanganku terlalu sibuk hanya untuk bersentuhan denganmu"Jawab Kirana bengis.
Di sisi lain Olivia tengah kesal karena mengetahui Kirana malam tadi tak pulang.
"Bagaimana bisa kalian berdua membiarkan Kirana berada di sampingnya semalam hah? Kalian tak berfikir nanti kalau Kirana kambuh lagi bagaimana?"Ucap Olivia marah marah.
"Hey jangan lupa kau juga yang membuat nya jadi seperti ini.Kirana hanya menebus kesalahanku"Ucap Saka tak mau kalah.
"Dia pantas mendapatkan itu,untuk hanya patah kaki dan rusuk.Kalau saat itu kau tak menarikku sudah ku pastikan dia sekarang berada di neraka."Balas Olivia sengit.
"Olivia jaga bicaramu, kalau Ken dan Zia mendengar bagaimana?Jangan bicara seperti orang yang tak beragama"Saut Dion bijak.
"Cih....Jangan membelanya,dia memang pantas mendapatkan itu"Jawab Olivia kesal.
"Siapa kamu berani mengadili kesalahan seseorang?Olivia ingat semua yang kamu lakukan itu salah.Jaga perilaku dan ucapanmu,kau seorang ibu.Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?"Nasehat Dion.
"Iya maaf aku salah,tapi apa kamu sudah memaafkan nya?Kau sendiri tau bagaimana perjuangan Kirana untuk melupakan masa lalunya hingga bisa berdiri sendiri seperti sekarang?!"
"Sayang aku hanya manusia biasa,pasti ada rasa kesal dan tidak ikhlas melihat Kirana kembali dekat dengan nya,tapi coba fikirkan.Ken dan Zia butuh ayah kandung mereka.Dan mungkin dengan adanya Putra Kirana bisa benar-benar sembuh,Karena Putralah akar masalahnya Kirana."Terang Dion lembut.
"Tapi aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya"Ucap Olivia merengut.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan melihatnya,selesai"Jawab Dion terkekeh sambil memeluk dan menciumi pipi Olivia.
"Ck.....sepertinya aku harus segera pergi,dari pada aku harus melihat pemandangan yang membuat mataku sakit."Keluh Saka langsung pergi menghampiri kamar Ken dan juga Zia guna memanggil mereka untuk sarapan.