Perjuangan Seorang Istri

Perjuangan Seorang Istri
88


__ADS_3

...... Happy reading .......


"Ayah tak ingin memeluk ku? hiks...hiks...."Tanya Zia di tengah Isak tangisnya.


Putra yang masih terkejutpun hanya bisa diam tak bergerak.


"Zia masuklah.bundamu pasti mencari kalian berdua"Ucap Dion lembut sambil memegang lengan zia.


"Tidak mau,lihat ayah Zia tak mau memeluk Zia karena papa memukulinya hiks....hiks....hiks..."Ucap Zia marah.


Tanpa mereka ketahui sejak tadi Kirana melihat semua kejadian di luar lewat jendela kamarnya.


Dengan derai air mata di ikuti Olivia di belakangnya,Kirana berjalan menghampiri Dion.


"Kak biarkan mereka bertemu dengan ayah mereka"Ucap Kirana memegang bahu Dion.


"Tapi Kirana....."


"Mereka berhak bertemu"Potong Kirana cepat.


"Jadi benar dia adalah ayahnya Zia?Ayah kandung Zia bunda?"Tanya Zia masih dengan derai air matanya.


Kirana mengangguk sambil menghapus air mata Zia.


"Princess bunda jangan menangis lagi.Lihat di sana ayah mu matanya juga sudah berkaca-kaca melihat Zia menangis.Jangan buat ayah dan bunda ikut menangis melihat Zia menangis"


Sedangkan Putra sendiri tak menyangka bahwa gadis kecil yang ia kira adalah anak dari Kirana dan Dion adalah anaknya,anak kandungnya.Dengan mata berkaca-kaca Putra merentangkan tangannya untuk menyambut Zia.


Rasa sakit yang ia rasakan akibat pukulan Dion pun menguap entah kenapa.


Dengan masih sesenggukan Zia berjalan dengan pelan ke arah Putra.Dan saat jarak mereka sudah dekat,Zia langsung menubruk tubuh kurus Putra.Zia memeluk Putra dengan sangat erat.


"Zia merindukan ayah,mengapa baru sekarang ayah kemari?apa itu sebabnya papa Dion memukul Ayah?Karena ayah tak pernah menjenguk kami?Bunda bilang ayah sangat sibuk....apa sesibuk itukah hingga tak memiliki waktu untuk kami?"Tanya Zia beruntun di akhiri Isak tangisnya.


Putra terkekeh di tengah derai air matanya lalu melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Maafkan ayah sayang,maafkan ayah.Ayah janji ayah tak akan pernah meninggalkan atau membiarkan kalian jauh dari pandangan ayah lagi"ucap Putra sambil membelai dan menciumi seluruh wajah Zia.


Sementara itu Kirana menghampiri Ken yang masih terpaku di depan pintu bersama Saka.


"Sayang bunda tau kau juga merindukan ayah kan?hampiri dan peluk dia !"Ucap Kirana berlutut dan membelai pipi caby Ken.


"Tidak mau"Jawab Ken datar.


"Kenapa sayang?"Tanya Kirana heran.


"Karena dialah yang membuat bunda tadi siang pingsan.Dia yang membuat bunda jadi seperti ini.Jangan tutupi apapun di depan Ken bunda.Karena Ken tau saat ini bunda tengah menahan ketakutan bunda.Ken tidak tau apa yang terjadi di masa lalu antara bunda dan dia,tapi Ken tak akan bisa memaafkan siapapun orang yang berani menyakiti bunda"Terang Ken sambil menatap tajam ke arah Putra yang juga sedang menatapnya.


Putra mendengar semua ucapan Ken karena jarak di antara mereka tidak begitu terlalu jauh.


Ia sangat senang ternyata Kirana bukan hanya melahirkan satu anak,dia memiliki anak kembar.Namun Putra cukup sedih karena satu anaknya tak mau menerimanya.


Putra tau kalau kesalahannya sangat sulit untuk di maafkan,namun ia tak akan berputus asa.Dia akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan maaf dari semua orang terutama Kirana.


Sedangkan Kirana sendiri cukup kaget mendengar pernyataan Ken yang menolak kehadiran Putra.Kirana tau Ken sangat peka terhadapnya dan Zia.Tanpa di beri taupun Ken akan tau apa yang sedang ibu dan adiknya rasakan.


Tapi Ken akan menghadapi semuanya dengan tenang.Tidak seperti sekarang ini,nadanya yang sarat akan emosi membuat Kirana khawatir.


Putra perlahan berjalan menghampiri ibu dan anak itu,namun sebelum Putra angkat bicara Ken tlah mendahuluinya.


"Satu yang ku sesalkan,bila kehadiranmu kembali hanya membuat bundaku merasakan sakit lagi lebih baik kau tak datang.Aku sama sekali tak keberatan.Mulai sekarang sepertinya aku akan membenci wajah ini,wajahku ini wajah yang menyerupai orang yang tlah menyakiti bunda.Pasti selama ini setiap kali bunda melihatku,bunda akan merasa ketakutan dan sakit.Tapi.....bunda tak memperlihatkannya karena aku putra bunda."Ucap Ken di akhiri kepalanya yang menunduk sedih.


"Mengapa nama tengahku harus sama dengannya bunda?"Tanya Ken pada Kirana sambil menahan tangis.


Sedangkan Kirana sendiri sudah tak mampu menjawab pertanyaan Ken karena hatinya benar-benar tercekat mendengar semua penuturan Ken.Hatinya hancur seperti yang Ken rasakan sekarang ini.Hingga membuat Kirana tak mampu berbicara lagi.Hanya tangislah yang mengutarakan semuanya.


Kirana ingat dulu,setiap kali Kirana melihat Ken dia akan menjerit ketakutan lalu mengurung diri.Ken terpaksa harus minum susu formula karena Kirana tak mampu melihat wajah Ken yang sangat mirip dengan Putra.


Kirana hampir deptresi saat itu, karena hatinya ingin memeluk anak laki-laki nya,namun saat melihat wajahnya maka akan terbayang wajah Putra yang selalu menyakiti dan menyiksanya dulu.


Setelah berjuang cukup keras akhirnya saat umur Ken menginjak dua tahun Kirana mampu memeluk Ken tanpa rasa ketakutan lagi.

__ADS_1


Putra ingin bicara namun Ken sudah lebih dulu masuk rumah.


"A...apa yang sebenarnya terjadi bunda?"Tanya Zia bingung.


"Kirana menghapus air matanya lalu menengok Zia sambil berusaha tersenyum.


"Princess nya bunda,bunda bisa minta tolong sama Zia?"


"Minta tolong apa?"


"Ajak kakak tidur di kamar bunda.Malam ini kita akan tidur bertiga."


"Apa ayah juga akan tidur bersama kita?"


"Hufff untuk saat ini ayah belum bisa sayang,kamu lihatkan tadi?Kak Ken sedang marah.Bunda nggak mau nanti kakakmu yang tangguh itu akan membanting ayah"


"Bunda benar,kak Ken jarang marah.Tapi kalau sudah marah dia bisa mematahkan tulang orang.Baiklah aku akan mengajak kak Ken tidur di kamar bunda."


"Ayah kita bertemu besok lagi ya.Sepeetinya ayah harus berjuang untuk meluluhkan hati kakak."Ucap Zia langsung pergi menuju kamarnya yang di tempati oleh Ken juga.


"Kau bebas menemui mereka,tapi jangan sekali-kali kau mencoba menemuiku"Ucap Kirana dingin dan juga langsung pergi.


"Sayang lebih baik kamu juga istirahat"Ucap Dion memeluk bahu Olivia yang sejak tadi diam saja.Namun tampak jelas dari tatapannya kalo ia sedang sangat ingin memukul Putra.


"Kamu harus lebih berjuang lagi"Ucap Saka menepuk bahu Putra.


"Tunggu"Cegah Putra saat Saka akan masuk rumah.


"Ceritakan padaku apa saja yang tlah Kirana lalui saat tak bersamaku"Ucap Putra serius.


"Kau tak akan mampu mendengarnya"


"aku memaksa"


Saka tak langsung menjawab permintaan Putra.Namun setelah memikirkannya lebih jauh lagi akhirnya Saka mengiyakan permintaan Putra.

__ADS_1


Mereka pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah Kirana...


__ADS_2