Perjuangan Seorang Istri

Perjuangan Seorang Istri
108


__ADS_3

 


........... Happy reading .........


 


Setahun sudah Kirana hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


Dan kebahagiaan Kirana beserta Putra kini akan bertambah lagi,karena anggota keluarga mereka akan bertambah lagi.


Ya Kirana kini sedang hamil sembilan bulan, dan tinggi menghitung hari Kirana akan melahirkan anak ke tiganya.


Selama kehamilan Kirana sama sekali tak memiliki masalah apapun yang biasa di alami oleh ibu hamil pada umumnya.


Justru masalah itu di alami oleh Putra sendiri.


Setiap pagi ada saja drama mual yang di rasakan Putra.


"Sayang apa dulu saat kamu hamil si kembar seperti ini?"Tanya Putra lemas setelah menguras habis isi perutnya.


"Tidak terlalu sih"Jawab Kirana mengingat-ingat masa saat hamil si kembar.


"Aku mual hanya tri semester pertama saja,setelah itu hanya ngidam sesuatu yang mudah di dapat"Terang Kirana.


"Lalu mengapa hingga umur sembilan bulan aku masih saja mual mual seperti ini?? Tenggorokan dan perutku sangat perih."Keluh Putra di pangkuan Kirana.


Kini Putra sedang tiduran dengan kepala di taruh di atas paha Kirana.


"Mungkin itu hukuman untuk ayah karena dulu ayah sudah membuat bunda susah dan bersedih"Saut Ken tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Kau sangat menyebalkan sekali Ken,tak bisakah tak datang tiba-tiba"Keluh Putra manja.


"Ck sekarang siapa yang anak anak dan siapa yang orang dewasa."Ucap Ken kesal.


"Pergi ke kantor sana,cari uang yang banyak untuk kami"Usir Ken sambil merangkak naik ke kasur tempat ibunya bersantai.


"Kemana Zia?Kalian tidak sekolah hari ini?"Tanya Putra bingung.


"Lihat bunda,sepertinya bunda harus mencari ayah baru untukku,pria di depanku ini sudah terlalu tua,hingga ia sering melupakan sesuatu yang penting."Kata Ken dengan nada bercanda.


"Hari ini sekolah di liburkan karena ada acara perlombaan antar sekolah."Lanjut Ken lagi.


"Dasar bocah tengik,akan ku kirim ke papamu kalau kau mengataiku tua lagi"Jawab Putra kesal dan langsung buru-buru pergi ke ruang ganti guna mengganti pakaiannya yang tlah basah terkena air tadi.


"Hih tak sadar diri"Guman Ken sinis..

__ADS_1


"Ken.....Mengapa kamu selalu saja suka sekali mengajak ayah mu bertengkar?"Tanya Kirana membelai rambut lembut Ken.


"Entah aku suka saja melihat wajah ayah yang sedang kesal.Itu keseruan tersendiri,lagi pula setiap di kantor wajah ayah berubah bak iblis siap memangsa seseorang.Sesekali mengerjainya tak apakan Bun.Anggap saja itu bukti kalau aku menyayanginya"Jawab Ken panjang lebar sambil nyengir."


"Jangan terlalu keseringan,nanti malah jadi kebiasaan.Kamu terkesan tidak punya sopan santun sama ayahmu"Nasehat Kirana pada Ken.


"Hemm baiklah baiklah aku akan menguranginya.bagaimana kabar adikku ini?apa kalian nakal di dalam perut bunda?dengar jangan nakal nakal di dalam sana,atau nanti saat kalian keluar kakak tak akan mau menjadi teman kalian"Ancam Ken dengan nada candaan.


"Hus mereka masih ada di dalam kamu sudah ancam ancam,jangan jangan nanti kalau mereka di luar kamu juga yang suka godain mereka."


Ken hanya nyengir mendengar penuturan Kirana.


"Ken bunda mau kasih tau sesuatu,bunda pengen Ken selalu ingat pesan bunda ini ya !"


"Pesan apa Bun?"Tanya Ken penasaran.


"Ken harus jadi anak yang tangguh dan Soleh,selalu ingat solat dan mengaji.Ajari adik adik untuk selalu berbuat baik pada semua orang.Dan jangan biarkan mereka termasuk diri Ken sendiri untuk jauh dari Allah"


"Kan ada bunda yang selalu mengingatkan Ken untuk melakukan itu semua"


"Iya,tapi kan Ken sudah besar.Sudah mau punya adik dua,bunda nggak selamanya bisa mengingatkan Ken?ada saatnya nanti bunda harus pergi meninggalkan Ken dan adik adik.Nah di saat itulah kewajiban Ken untuk membimbing mereka selalu di jalan Allah"


"Maksud bunda pergi?Bunda mau pergi ke mana?ke manapun bunda pergi Ken akan ikut bunda"Ucap Ken langsung memeluk Kirana.


"Ken tau kan,rejeki,jodoh,maut itu hanya Allah yang tau.Entah nanti,besok,Minggu depan atau tahun depan di antara kita pasti akan ada yang di panggil sama Allah duluan."


"Setttt nggak boleh ngomong gitu...Semua orang tua pasti mengharapkan itu semua sayang,tapi bunda mau belajar untuk ikhlas mulai sekarang.Jangan terlalu ketergantungan sama bunda ataupun ayah.Selama kamu bisa melakukan sesuatu itu sendiri,maka lakukan sendiri.Mengerti ?!!!"


Ken hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata.


"Sayang aku berangkat bekerja dulu,jaga diri di rumah ya."Ucap Putra mencium dahi Kirana sayang.


"Ken,jaga bunda dan adikmu"Ucap Putra beralih pada Ken.


"Tunggu...Kau menangis?"Tanya Putra saat melihat ada jejak air mata di pipi Ken.


"Aku memarahinya karena mengusili dan mengajakmu bertengkar terus.Sebagai seorang anak dia harus tau batasan kapan saat bercanda dan kapan harus bersikap sopan pada orang tua"Terang Kirana dengan nada terdengar kesal.


"Sayang jangan terlalu keras sama Ken,dia masih kecil.Jangan menuntutnya menjadi dewasa lebih awal.Lagi pula ku fikir itu cara Ken mengungkapkan rasa sayangnya padaku,bukan begitu jagoan??"Tanya Putra di akhir kalimat nya sambil mengacak rambut Ken sayang.


"Hah baiklah...Lakukan apapun yang kalian senangi.Aku benar benar tak mengerti jalan fikiran kalian para lelaki"Ucap Kirana seolah mengalah.


Putra terkekeh melihat raut wajah Kirana yang nampak kurang senang."Baiklah aku pergi dulu, assalamualaikum...."


"Maafkan bunda sayang"Ucap Kirana memeluk Ken.

__ADS_1


"Aku tau Bun."


"Bunda ingin memakan buah di taman,kau mau menemani bunda?"


"Tentu ayo..."


"Di mana Zia?kenapa sejak pagi Zia tak terlihat?"Tanya Kirana tengok kanan kiri.


"Mungkin dia sedang di taman belakang Bun,kemarin ayah membelikan sepasang kucing untuk Zia"Terang Ken.


"Kalau begitu bunda juga ingin melihatnya."


"Bik tolong kupas dan bawa buah buahan ke taman belakang ya,aku ingin memakannya di sana"Ucap Kirana pada seorang pelayan saat berpapasan dengan nya.


Malam harinya seperti biasa keluarga Atmaja akan makan malam bersama dengan di selingi celotehan Zia yang selalu membuat semua orang tertawa.


Namun bedanya malam ini Putra tak ikut makan malam karena ada metting penting dengan klien dari luar negeri yang tak bisa di tunda.


"Bunda tumben ayah jam segini belum pulang"Tanya Zia setelah selesai makan.


"Ayah ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal sayang"Terang Kirana.


"Dan kita juga punya banyak PR yang harus kita selesaikan Zia,ayo ke kamar"Ajak Ken.


"Aku mau di ajari bunda"Jawab Zia.


"Kamu nggak lihat perut bunda sudah sangat besar?Kata dokter ada dua bayi di sana,Bunda pasti akan cepat lelah"


"Tapikan Zia ingin di temani bunda kak,sudah lama Zia tak di temani belajar"Ucap Kirana cemberut.


"Emmm bagaimana kalau kakek saja yang menemani kalian belajar?!"


"Mang kakek bisa??"Tanya Zia meragukan.


"Heeh begini begini kakek sering juara satu loh"Jawab pak Bagas bangga.


"Sungguh??? kalau begitu ayo kek kita ke kamar Zia,ajari Zia agar Zia bisa jadi juara satu seperti kak Ken.Kak Ken belajar saja sendiri"Ucap Zia senang sambil menarik tangan pak Bagas.


"Bun,mumpung ayah belum pulang Ken ingin tidur di kamar bersama bunda,kita tidur di kamar bunda saja.Nanti saat ayah pulang Ken akan pindah"Ucap Ken.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumahmu kak?"


"Bisa di kerjakan di kamar bunda kan,ayo lah Bun,boleh ya"Pinta Ken dengan mata berbinar.


"Hem baiklah ayo"Ucap Kirana.

__ADS_1


"Bunda ke kamar dulu,Kak ambil buku PRnya"


Dan Ken langsung mengangguk..


__ADS_2