
Di tempat lain tepatnya di sebuah ruangan Putra tengah di tangani oleh beberapa dokter.
Ternyata pukulan dan tendangan Saka yang menggila benar benar membuat Putra terkapar.beberapa tulang rusuknya patah,tulang hidungnya juga patah dan rahangnya bergeser.
Wajahnya penuh dengan luka lebam membuat ia sulit di kenali...
Setelah di obati oleh dokter akhinya Putra di pindahkan ke ruang rawat.Di sana ia tak ada yang menemani dan mengurusnya.Hanya ada manager yang membawanya ke rumah sakit.
"Aku harus kembali ke apartemen,lalu bagaimana dengan pak Putra?"Batin maneger bingung.
"Apa aku tanya saja pak Saka ya?"Gumannya lagi.
"Mungkin lebih baik seperti itu"Batin sang maneger langsung menghubungi Saka.
"*Hallo tuan"
".........."
"Pak Putra sudah saya bawa ke rumah sakit dan sudah di tangani,kini ia ada di ruang rawat.Saya harus kembali bekerja,tapi saya bingung apakah saya harus meninggalkan nya atau tetap menunggunya hingga sadar"
".........."
"Baik Tuan terima kasih*"Lalu Sang maneger menutup telfonnya.Dan berlalu pergi.
Di rumah sakit yang berbeda setelah menerima telfon dari bawahannya Saka menimang niman siapa yang harus ia hubungi untuk mengurus Putra.
"Bagaimana bisa aku berteman dengan laki-laki sepertimu Putra?Sungguh aku benar-benar sangat kecewa denganmu! Bagaimana bisa kau jadi berubah seperti hewan buas Putra"Guman Saka memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Enggak mungkin gua ngubungin om Bagas buat nyamperin itu orang.Lebih baik gua hubungi Kelvin aja,biar dia yang ngurus itu orang"Batin Saka sambil mengotak Atik smartphonenya.
"Ok satu masalah selesai.Sekarang bagaimana dengan Kirana?Siapa yang harus aku suruh untuk menjaganya?Dua jam lagi aku harus ke bandara untuk terbang ke LA"Batin Saka bingung.
Lalu ia bangun dari duduknya menuju ke kamar rawat Kirana.
"Kamu harus kuat Na,aku tau kamu wanita yang tangguh...Aku mau setelah kamu sembuh kamu harus pindah dari negara ini.Maafkan aku,tapi aku tak mau ambil resiko lagi.Nyawa keponakanku kini menjadi taruhannya bila kau masih tetap tinggal disini."Ucap Saka sambil membelai rambut Kirana.
"Aku akan menghubungi Kelvin,dia pasti punya no handphonenya Olivia"Batin Saka.
Lalu setelah itu Saka kembali keluar dari kamar inap Kirana.Ia akan menjelaskan semuanya pada Olivia.Untuk saat ini hanya dia yang bisa di percaya.
Beberapa puluh menit kemudian Olivia dan Dion nampak berlari dari kejauhan.
"Apa yang terjadi?Bagaimana bisa Kirana masuk rumah sakit?"Tanya Olivia beruntun saat sampai di samping Saka.
"Putra menyakitinya"Ucap Saka singkat..
Lalu bergulir lah cerita dari mulut saka.Olivia begitu syok mendengar cerita dari Saka.Hanya karena cemburu buta Putra tega menyakiti Kirana hingga sedemikian rupa.
"Dan gua nggak tau ini berita buruk atau berita baik...Kirana sedang hamil"Ucap Saka setelah diam beberapa saat.
"Gua nggak bisa menemani Kirana lebih lama lagi karena ada urusan yang harus segera gua tangani.Itu sebabnya gua manggil lu"Ucap Saka memegang bahu Olivia.
"Dimana bajingan itu"Tanya Olivia dengan tatapan tajam namun air mata mengalir di kedua pipinya.
"Gua udah ngurus tu orang,lu nggak usah khawatir.Yang terpenting sekarang ini adalah Kirana.Lu harus kuat di depan Kirana,gua khawatir dia mengalami trauma.Tapi itu hanya perkiraan gua aja.Semoga itu nggak akan terjadi"Terang Saka.
__ADS_1
"Gua harus ketemu sama om Bagas untuk membacakan langkah selanjutnya.Sekalian gua mau nengokin Tante Irene."
"Memang kenapa dengan Tante Irene?"Tanya Olivia.
"Tante Irene pingsan setelah mengetahui apa yang tlah terjadi pada Kirana.Sepertinya beliau terlalu syok hingga pingsan.Ya sudah tinggui Kirana.Jangan biarkan dia sendiri walau hanya sedetik,gua pergi.Untuk masalah admistrasi gua udah bayar semua."Ucap Saka beralih pergi meninggalkan Dion dan Olivia.
"Ceklek"terdengar pintu ruang inap Kirana terbuka.
"Kirana...hiks ....hiks....hiks....Suami macam apa yang tlah menikahimu?"Tanya Olivia menangis saat melihat Kirana masih belum sadarkan diri.
"Aku akan melaporkannya pada polisi"Ucap Dion dingin sambil menatap Kirana dengan mata nanar.
"Sayang andai kamu mau melihatku,andai aku datang lebih cepat darinya.Mungkin kamu nggak akan merasakan semua ini"Batin Dion menangis sambil menggenggam erat tangan Kirana yang terbebas dari selang infus.
Dion berusaha kuat agar tak menangis melihat keadaan Kirana yang kacau.Pipi lebam dan bibir robek karena pelecehan yang dia terima di kampus.Belum lagi perlakuan kasar Putra hingga membuat Kirana seperti ini.
Berbeda dengan Olivia yang sudah menangis sesenggukan.Sahabat yang selalu ia jaga dan sayangi kini sedang terbujur tak sadarkan diri di depan matanya.
Hatinya sakit hati,ia mengutuk dan menyumpah serapah atas perbuatan Putra kepada Kirana.
"Akan ku pastikan anak Kirana akan membenci ayah kandungnya hiks....hiks...hiks..."Giman Olivia di tengah Isak tangisnya.
Mendengar ucapan Olivia Dion mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.
lalu memutari ranjang Kirana guna menghampiri Olivia.
Ia memegang bahu Olivia dan berkata"Jangan lakukan itu,Kirana pasti tidak akan suka.Yang aku tau Kirana bukanlah tipe pendendam.Aku yakin kau jauh lebih mengenal Kirana bukan"
__ADS_1
"Ta....tapi ini sudah keterlaluan Dion hiks....hiks...hiks....Wanita sebaik Kirana di perlakukan sekasar ini....hiks....hiks...aku tak terima itu....aku tak terima"
"Sudahlah tenangkan dirimu.Di sini bukan hanya kamu yang merasa tersakiti melihat keadaan Kirana.Aku, Saka dan aku yakin mertua Kirana pun merasakan sakit yang sama,jadi tenangkan dirimu.Kau harus kuat saat Kirana sadar nanti.Karena hanya kau yang bisa jadi pegangan Kirana saat dia sadar nanti"Terang Dion mengingatkan sekaligus menguatkan.