
....... Happy reading ......
Saat itu Kirana tlah pindah ke LA (Los angeles)dan kini umur kandunganyannya tlah memasuki umur lima Minggu.
Namun sayang Kirana harus mendapatkan buah hati mereka dengan cara yang cukup menyakitkan hingga membuat Kirana tertekan dan trauma.
"Tidak.....Jangan ......ampun mas ......Tidak....."Teriak Kirana terbangun.
"Kirana ada apa?"Tanya Olivia kaget,ia terbangun karena teriakan Kirana.
Kirana yang masih linglung pun menghempaskan tangah Olivia.
"Jangan sentuh aku....Tolong jangan sakiti aku lagi....Maafkan aku ku mohon"Racau Kirana dengan tatapan kosong dan raut wajah yang ketakutan.
"Kirana hey sadar ini aku Olivia"Ucap Olivia mulai panik akan respon Kirana.
"Jangan....jangan sakiti aku lagi hiks....hiks...hiks...ampun"Ucap Kirana meringkuk ketakutan.
"Dion......"Teriak Olivia memanggil Dion yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Kirana.
Tak mendapat respon Olivia yang tengah panik langsung menghambur ke kamar Dion sambil mengetuk kamar Dion dengan tak sabar.
Tok ....Tok ....Tokk......
"Dion bangun"Teriak Olivia.
Tok...... tok.....tok ...
"Woy Dion Lo mati apa tidur"Teriak Olivia mulai tak sabar.
Ceklek.
"Ck ada apa....mengapa kau..."Belum sempat Dion menyelesaikan ucapannya sudah terlebih dahulu di potong oleh Olivia.
"Kirana.....Kirana kambuh"Ucap Olivia panik.
Kirana sering bermimpi buruk setelah ia keluar dari rumah sakit dan itu membuat Dion dan Olivia khawatir hingga memutuskan untuk menyusul dan menetap di LA guna menemani Kirana.
Mendengar Kirana berteriak teriak Dion langsung berlari memasuki kamar Kirana.
"Hey Kirana dengar aku....Ayo sadar"Ucap Dion berusaha tenang walau aslinya ia tengah panik.
Karena setiap kali Kirana kambuh ia akan menyakiti dirinya sendiri atau orang lain.
"Tidak jangan siksa aku lagi.....lepaskan aku"Teriak Kirana ketakutan.
Kirana berusaha memegang apa saja untuk memukul Dion agar cengkraman tangan Dion terlepas.
"Kirana jangan seperti ini,ingat kamu sedang hamil"Teriak Dion tak kalah kencang.
"Tidak jangan sentuh aku.....ampun....akh....sakit"Teriak Kirana sambil memegang kepalanya.Tatapannya pun terlihat nampak ketakutan.
"Dion bagaimana ini?Kirana tak bisa sering sering mengonsumsi obat penenang"Ucap Olivia bingung juga sedih.
Sahabatnya yang dia kenal begitu kuat dan selalu ceria kini nampak rapuh dan kesakitan.
"Aku juga tidak tau harus bagaimana"Jawab Dion bingung.
Lalu berusaha mendekat lagi,namun dia kalah cepat datlri Kirana yang telah memegang bantal.
Bantal,selimut bahkan lampu tidurpun Kirana lemparkan ke arah Dion dan Olivia sebagai sikap pertahanan Kirana yang tengah di Landa ketakutan berat.
"Ini tidak bisa terus di diamkan Olivia.Ambil suntikan aku akan berusaha menahannya"Putus Dion setelah melihat Kirana seperti orang kesetanan.
__ADS_1
"Kau yakin?"Tanya Olivia yang matanya tlah berkaca kaca melihat sahabatnya begitu memperihatinkan.
"Tak ada cara lain,kita tidak bisa menunggunya tenang dengan sendirinya.Besok kita akan bawa Kirana untuk mulai terapi"Ucap Dion yakin.
"Baiklah tunggu sebentar"
Tak berselang lama Olivia tlah kembali dengan membawa sebuah suntikan penenang.Dion berusaha mendekat tanpa Kirana sadari,dan yah berhasil.Dion langsung memeluk Kirana dari belakang.
Kirana berusaha memberontak,ia menangis dan menjerit,namun tak di hiraukan oleh Dion.
"Via cepat"Bentak Dion panik karena kekuatan Kirana bertambah dua kali lipat saat ia tengah kambuh seperti ini.
Dan dengan tangan bergetar Olivia berusaha menyuntikkan obat itu ke lengan Kirana.
Percobaan pertama gagal karena Kirana yang terus bergerak.
Percobaan kedua malah hampir mengenai lengah Dion sendiri.
Namun Via terus berusaha untuk tenang walaupun dengan menahan tangis dan mengigit bibirnya.
Dengan perjuangan yang cukup menguras emosi dan tenaga akhirnya obat penenang itu bisa di suntikkan.
Perlahan Kirana mulai tenang dan tertidur.
"Hiks ....hiks....hiks ....Maafkan aku Nana"Ucap Olivia merasa bersalah melihat keadaan Kirana.
Sedangkan Dion sendiri tengah mengepalkan tangannya menahan emosi yang kapan saja bisa meledak.
Dion merapikan pakaian dan posisi tidur Kirana agar ia bisa lebih nyenyak dan nyaman lagi saat ia tengah tertidur.
Matanya menatap Kirana nanar melihat penampilan Kirana yang berantakan.Perlahan ia merapikan rambut Kirana dengan hati hati.
"Aku akan selalu menjagamu.Itu janjiku"batin Dion.
Keesokan harinya seperti rencana Kirana di bawa ke psikolog untuk terapi.Beberapa bulan tlah berlalu,Kirana menjalani harinya dengan tenang walaupun sesekali dia akan kambuh.Namun tak separah awal awal dulu.
Hingga akhirnya Kirana melahirkan ke dua anaknya.
"Via di mana kedua bayiku?"Tanya Kirana begitu dia sadar.
"Tunggu sebentar lagi,nanti pasti perawat akan mengantarkan mereka berdua.
"Iya kamu yang sabar"Saut Saka.
Di saat Saka dan Dion tengah mengobrol tiba tiba masuk dua orang perawat sambil mendorong tempat tidur khusus bayi.
"Maaf nyonya ini bayinya silahkan di susui"Ucap salah seorang perawat.
"Sus kasih yang perempuan dulu saja"Ucap Olivia sedikit cemas.
Dion dan Saka saling berpandangan.
"Mengapa Olivia bersikap seperti itu?"Bisik Saka.
Dion yang terlebih dahulu melihat kedua bayi Kirana pun mengerti akan sikap Olivia.
"Anak laki-laki Kirana sangat mirip dengan laki-laki itu."Balas Dion berbisik.
"Astaga jadi Kirana belum melihat wajah kedua bayinya?"Tanya Saka terkejut.
"Heum"Jawab Dion dengan anggukan.
"Olivia takut kalau saat Kirana melihat wajah bayi laki-laki nya ia akan kambuh lagi"Terang Dion.
__ADS_1
"Kau benar."jawab Saka.
Sesaat kemudian Kirana tlah selesai menyusui bayi perempuannya.
Namun saat ia ingin meminta Olivia untuk mengambilkan bayi laki-laki nya Dion tiba tiba Dion memanggil Kirana.
"Na siapa nama bayi bayi itu?"
"ah ya aku lupa memberi nama mereka.emmm kalo nggak salah kakaknya laki laki kan.dia akan aku kasih nama Kenzia putra Kirana"
"Kamu nggak salah kasih nama Putra di tengah namanya?"Tanya Saka heran.
"Aku hanya ingin mengukuhkan bahwa dia adalah putraku putra Kirana,hanya putra kirana."Jawab Kirana yakin
"Kamu yakin nantinya tak akan ada masalah dengan nama itu?"Tanya saka masih tak yakin.
"Hidup kalau nggak ada masalah namanya bukan hidup kak.Aku hanya berusaha untuk menerima semua kejadian dalam hidupku sebagai pelajaran dari perjalanan hidupku"
"Lalu yang perempuan"Tanya Olivia.
"Zia putri kirana"Jawab Kirana tersenyum.
"Jadi mana Putra tampanku?Dia belum mendapatkan jatah ASI-nya"Ucap Kirana bersemangat.
"Hey kalian para laki-laki menyingkirkan,biarkan aku menyusui bayiku dengan tenang.Via mana bayiku?"pinta Kirana.
Dan dengan berat hati Olivia mengambilkan bayi laki-laki Kirana.Namun saat Kirana baru mau menerima bayi itu Kirana langsung terbelalak kaget saat melihat wajah bayi itu...
"Na"Panggil Olivia pelan.
Kirana langsung menoleh ke arah Olivia.
"A....apa dia benar bayiku?"Tanya Kirana takut.
"Dia bayimu Nana,dia Kenzi"Ucap Olivia pelan.
Kirana kembali melihat wajah Ken yang begitu mirip dengan Putra.
Kirana ingin menolak bayi itu,namun hatinya mencegah.
"Kirana itu bayimu dengannya,wajar kalau wajahnya mirip dengannya.Jangan sakiti dia karena wajahnya mirip dengan ayahnya"Batin Kirana bergulat.
Dengan tangan bergetar Kirana menerima bayi Ken.Iya mencoba menyusui Ken.Namun saat Ken akan mulai menyusu Kirana mulai menangis ketakutan.keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi keningnya.matanya terpejam erat sambil memalingkan wajahnya agar tak melihat wajah Ken.
Olivia yang melihat gelagat Kirana yang berubah langsung mengambil bayi Ken sebelum sempat Ken menyusu.
Tubuh Kirana bergetar hebat.Ia mulai menangis sambil memukul kepalanya dengan tangannya.
"Pergi jangan hantui aku,biarkan aku hidup tenang dengan bayi bayiku"Racau Kirana.
"Dion Saka" Panggil via panik.
"Ada apa?"Tanya Saka terkejut.
"Nana"Panggil Dion kaget.
Kirana tengah meringkuk di tempat tidurnya sambil memegang erat kepalanya.
"Pergi jangan ganggu aku...."Teriak Kirana..
"Cepat panggi dokter"Ucap Dion khawatir.
Dan pada akhirnya Kirana harus di suntik obat penenang untuk menenangkannya.
__ADS_1