
11 bulan kemudian. Rumah majikannya juga sudah pindah ke rumah dan garasi yang lebih besar, masih di kompleks yang sama.
Mira sudah bisa menyesuaikan tempat tinggalnya itu, sudah bisa mengerti sifat para majikannya. Mira yang dulu pendiam dan suka gugup-an, sekarang sudah biasa menata hati, merubah sifatnya, dan tenang dalam menghadapi masalah. Masalah apa lagi kalau bukan dengan Riko.
"Mbak, kamu mau gak sekolah lagi?" tanya bu Eny setelah menikmati makan malamnya.
"Ma'af... apa bu?" tanya Mira seakan tak percaya dengan ucapan majikannya itu.
"Kalau nanya itu dijawab, bukan malah nanya lagi!" ucap Riko tanpa melihat Mira, dia tengah asyik dengan gawai ditangannya.
Mira mengacuhkan perkataan Riko.
"Ma'af, Mungkin Mira salah denger bu?"
"Mbak gak salah kok, mbak mau gak?"
"Mau bu, tapi...?"
Seakan melihat kegelisahan Mira Bu Eny berkata lagi,
"Kemarin malam, bapak musyawarah,"
"Dan ada pemberitahuan bagi ingin sekolah, di kompleks sini sudah ada yayasan PKBM nya!"
"PKBM bu?"
"Pusat Layanan Belajar Masyarakat, Bisa diartikan juga kejar paket, Mbak pasti pernah denger kan?"
"Kejar paket C ya bu?"
"Iya mbak, mbak mau kan? masalah biaya biar Ibu aja yang ngatur!"
"Mau aja Mir, anak mak juga Ibu yang nyekolahin, mumpung kamu masih remaja!" Mak Idah ikut nimbrung.
"Udah mau aja, tinggal ngikut aja susah!" ucap Riko seraya berdiri.
"Jangan kelamaan mikirnya, kesempatan gak datang 2x!" ucap Riko kemudian meninggalkan obrolan itu.
"Iya kata Riko benar, mau ya Mir!" bujuk bu Eny.
Keluarga Gunawan memang sangat baik, tidak ada garis antara pembantu dan majikan, selagi pembantu juga tau sendiri batasan-batasannya.
"Sebenernya Mira mau bu, tapi," Mira ragu melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa Mir?" tanya mak Idah.
"Gak boleh sama Bapak mu?"
Mira tak percaya mak Idah bisa menangkap kegelisahannya. Bu Eny melihat ke arah mak Idah heran.
"Loh kenapa gak boleh mak?"
"Mungkin bapak ibunya Mira takut, kalau Mira gak boleh sering ketemu sama keluarga nya bu."
"Bener Mir?"
Mira hanya mengangguk.
"Ya gak gitu juga Mir, gimana pun mereka kan keluarga mu, masa Ibu setega itu."
"Mira akan coba bicara sama Ibu bapak bu."
"Ya coba pelan-pelan kamu bicaranya, semoga aja kamu boleh sekolah lagi,"
"Demi masa depan mu."
"Iya bu, makasih."
mata Mira berbinar-binar, tak bisa menyembunyikan rasa suka cita nya.
"Rencana kamu pulang kapan?"
"Belum tau bu, mungkin hari sabtu."
"Oh ya sudah, kalu gitu ibu mau keatas dulu."
"Iya Bu." kata Mira dan mak Idah bersamaan.
---
Obrolan Pagi hari setelah menikmati sarapan, dikarenakan hari ini tanggal merah. Jadi bisa ngobrol lama.
"Kak kenapa harus Riko yang kunjungan kerja di Kota B itu?"
"Lah kamu mau Kakak yang kesana, trus gimana nanti, kerjaan disini siapa yang ngehandle?"
"Maksud Riko, Pak Aldi kan bisa!"
"Kakak masih belum percaya sama pak Aldi, tahun lalu saat kunjungan di kota X, dia malah bikin masalah,"
"Apa lagi ini di kota kelahirannya? kamu lupa masalah yang dibuat nya?"
"Riko gak lupa kak, karena pak Aldi juga Riko harus kesana memperbaiki keadaan, udah disini ngerjain tugas dia lagi."
"Nah itu tau, mau kayak gitu lagi?"
"Ya gak lah, kak."
"Kota B bukannya kota mbak Mira ya Pa?"
__ADS_1
"Lupa Ma, tanya sama mbak Mira aja!" kata pak Angga seraya menikmati teh hangat nya.
"Mbak... mbak Mira?"
"Iya bu, ada apa?"
Mira di dapur setengah berlari setelah mendengar dirinya dipanggil.
"Nama kota mu apa mbak?"
"Kota B bu."
"Nah kan Mama gak salah inget Pa?"
Pak Angga cuma mengangguk-angguk saja.
"Riko kamu kesana hari apa?"
"Besok kak, kenapa?"
"Mbak kamu ikut Riko aja ya?"
"Apa?" tanya Riko dan Mira bersamaan, sedangkan pak Angga bersikap biasa saja, dia sudah bisa menebak rencana istrinya itu.
"Maksud kakak apa? kenapa mbak Mira harus ikut sama Riko?"
"Iya bu, kenapa mbak ikut mas Riko, Mbak kan bisa naik bis bu."
"Mbak Mira kan juga mau pulang, malah baik kalau mas Riko ikut mbak,"
"Kan dia bisa ikut ngomong sama Ibu Bapak mbak terkait sekolah itu."
Tak ada salahnya ngikuti rencana ibu, tapi gimana dengan mas Riko, Mira yakin mas Riko gak nyaman sama Mira. Mira.
"Riko boleh ya?"
"Iya deh boleh, tapi Riko ngajak Rama ya Kak?"
Kali ini Riko memandang Kakaknya minta persetujuan.
"Hufff, iya boleh."
"Thank's kak, mbak besok berangkat pagi."
"Iya mas."
" Oh ya mbak, ini syarat-syarat pendaftarannya." kata bu Eny seraya memberikan selembar kertas putih.
"Iya bu."
----
Mira bolak balik dari kamar ke dapur, dilihatnya tak ada majikan yang usil itu, Mira kembali ke kamar lagi.
Hadeh kapan berangkatnya ini, katanya jam 8, ini sudah jam 8 lebih. Mau nanya ntar mas Riko marah, gak nanya dibilang gak ngingetin, hadeh, serba salah. Mira.
Ting... tong... ting... tong...
Mira bergegas membuka pintu rumah dan membuka pagar. Terlihat pemuda tampan dengan kemeja putih bergaris, meskipun dia memakai helm masih terlihat ketampanannya. Masih diatas sepeda motor, dia membuka kaca helm nya saja.
"Assalamu'alaikum mbak."
."Waalaikumsalam mas, ma'af mas nyari siapa?"
"Riko nya ada mbak?"
"Oh mas Riko ada mas, silahkan masuk!"
"Mbak bisa minta tolong?"
"Iya, apa mas?" kata Mira heran karena pemuda itu masih menaiki sepedahnya.
"Bisa buka pagar nya lebih lebar, mau masukin nih motor!"
"Oh iya bisa mas, sebentar!"
Gredek... gredek... gredek...
Ndrerrrr... ndrerrr... srittt....
"Makasih mbak!"
"Eh iya mas, mari masuk!"
Pemuda itu membuka helmnya, tiba-tiba ada sekilas cahaya dari surga menyinari wajah pemuda itu, bunga surga bermekaran menutupi wajahnya. Mira masih melamun menatap wajah pemuda itu.
"Lama amat bro, darimana?" tanya Riko membuyarkan lamunan Mira. Riko yang menyadari hal itu tak menyianyiakan kesempatan.
"Cie... mbak Mira... naksir nih ye?"
"Apaan sih mas Riko." jawab Mira malu,
dia segera masuk kedalam rumah karena pipinya sudah semerah tomat.
"Siapa dia?"
"Mbak Mira, hiburan gue dirumah! hahaha."
"Loe lama amat, udah mau tidur aja gue kelamaan nunggu."
__ADS_1
"Ini tadi gue mampir dulu diapotik, beliin Ibu vitamin."
"Oh, ayo masuk, bantu gue nyiapin dokumen!"
"Siap."
"Gue keatas dulu ya mau mandi, nanti masuk aja!"
"Siap, gue mau ketemu Ibu dulu!"
"Bu... ibu... Rama dateng nih." pemuda itu celingak celinguk mencari ibunya.
"Eh mas.. nyari siapa? kamar mas Riko diatas!" tanya Mira kelagapan karena pemuda itu ada di depan kamarnya.
"Eh ma'af mbak nyari ibu saya."
"Ibu mas?"
"Mak Idah mbak, ibu saya."
"Mak Idah, Ibu mas?" tanya Mira tak percaya.
Mak Idah kenapa bisa punya anak seganteng ini yah, aw aw aw. Mira.
"Iya mbak, dimana ya Ibu saya?"
"Lagi mandi mas mak Idah, mas mau saya bikinin minum?"
"Boleh mbak, nanti tolong anter ke kamar Riko aja ya!"
"Oh iya mas."
Mira cepat-cepat ke dapur membuatkan minum dan menyiapkan sepiring buah. mak Idah juga sudah selesai mandi,
"Mak, dicari sama anak mak tadi!"
"Rama dah sampe Mir?"" Mak Idah terlihat senang dikunjungi anak bungsunya itu,
"Dimana dia?" tanya mak Idah tak sabar.
"Di kamar mas Riko mak."
" Ya udah mak ganti baju dulu!"
Mira mengantar nampan dengan perasaan deg.. deg.. degan... seperti cinta pada pandangan pertama.
Tok.. tok.. tok... Mira langsung masuk setelah mengetuk pintu karena memang pintunya terbuka.
"Ini mas!"
Mira meletakkan minuman dan piring itu.
"Eh makasih mbak, lagi fokus sama ini jadi gak liat mbak."
"Ga pa pa mas, oh iya mak Idah udah selesai mandi mas!"
"Iya mbak nanti aku turun setelah nyelesaiin ini!" kata Rama menunjuk laptopnya.
"Permisi mas!"
"Iya mbak."
Rama masih fokus dengan laptopnya, sementara Mira tak beranjak keluar dari kamar itu. Melihat Mira melamun Riko pun kembali beraksi,
"Mbak, ilernya netes tuh! hahaha."
tawa Riko membahana menguar di kakarnya, mungkin terdengar sampai lantai bawah.
"Mas Riko apaan sih!" kata Mira malu, setelah mengusap bibirnya.
Rama hanya menggeleng-geleng saja melihat Riko mengerjai Mira.
"Lagian mbak sih, melamun, hehehe."
"Mas Riko..."
"Apa, udah cepet siap-siap katanya mau ikut."
"Iya."
Mira meninggalkan kamar Riko dengan perasaan malu. Sedangkan Riko menikmati pemandangan itu, baru kali ini dia melihat Mira dengan pipinya semerah tomat.
"Dia mau ikut?" tanya Rama seraya mengambil gelas berisi sirup rasa leci itu.
"Iya bro, mau pulang, ntar bantuin gue ya ngoming sama ibu bapak nya?"
"Ngomong apa? loe mau nglamar dia? hahaha."
"Ngawur aja, dia mau disekolahin sama kakak ipar!" ucap Riko seraya mengambil buah apel.
"Siap, lie pake baju dulu gi, gue mau ketemu dulu sama ibu!" kata Rama setelah menghabiskan minumannya.
"Siap kan mobilnya sekalian, kuncinya ada di dekat telepon!"
"Ok."
Bersambung.
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama Author. Mohon kritik dan sarannya. Ma'af jika ada tanda baca ataupun typo. Mohon bimbingannya.
__ADS_1