
Banyak hal yang telah Mira lalui demi lulus paket C nya. Terkadang ada saja yang iri dengan keberuntungan Mira yang diperoleh dari majikannya, seperti di sekolahkan ke paket C, ikut kursus komputer juga, baju yang layak, semua nya.
"Eh lihat itu Mira kan, liat aja sekarang gayanya kayak anak gedongan aja!"
"Iya tuh, sekarang juga sombong banget,"
"Waktu aku potong rumput, dia lewat, gak nyapa tuh, padahal dulu-dulu sering nyapa duluan."
"Iya sebel banget sama dia, mana mas Riko baik banget sama dia lagi."
"Iya bener."
Itulah percakapan mbak-mbak kompleks yang sering didengar Mira, bukannya Mira tak mau menyapa, terkadang Mira mau menyapa mereka suka sinis saja bawaannya. Jika Mira tak sengaja melewati mbak-mbak kompleks dia hanya tersenyum. Pernah sekali dia menyapa mbak-mbak kompleks,
"Lagi nyapu mbak?" tanya Mira saat pulang dari toko.
"Iyalah gak liat!" jawab ketus mbak itu.
Maka dari itu Mira sering menghindari mbak-mbak yang terlihat tidak suka padanya. Meskipun banyak mbak-mbak yang gak suka pada Mira, tak sedikit pula mbak-mbak yang sangat mendukung Mira.
"Mira, sekarang sukses ya?"
"Bagi resep nya dong, biar disayang sama bos?" kata mbak-mbak itu memohon.
"Haduh mbak, aku gak tahu, aku sih biasa aja,"
"Yang penting jujur, menuruti perintah meskipun aku gak suka, tetep aku turuti jika perintah itu tak merugikan aku."
"Oalah gitu ya Mir, kalu bos mu mau mbak-mbak lagi kasih tau aku ya Mir!"
"Aku rela keluar dari bos ku ini, bos ku galak!"
"Hahaha, iya mbak iya, sip."
Begitulah percakapan Mira jika dia bertemu dengan mbak-mbak yang mendukungnya.
Mira sekarang sudah bekerja sebagai anggota Devisi di kantor pak Angga, jika dia bekerja pada siang hari malam hari nya dia mengajar les untuk Izza.
Bu Eny dan Pak Angga juga senang sekali dengan kemajuan Mira, bahkan Mira juga sering sekali di ajak ke pesta acara perusahaan, tentu saja untuk meningkatkan kepercayaan diri Mira. Mak Idah juga gak kalah seneng nya, bahkan gaji pertama Mira, mak Idah dibelikan 2 pasang daster untuknya, dia bahkan berharap agar Mira menjadi menantunya. Tapi Mira hanya tersenyum saja jika mak Idah sudah membicarakan tentang Rama putranya yang tak kunjung menikah. Sedangkan Riko sekarang sudah menjadi Direktur di kantor anak cabang perusahaan kakaknya di Jakarta dan tentu saja dia sekarang tinggal disana.
Pagi ini Mira sudah membuat nasi goreng untuk sarapan dan juga sandwich untuk bu Eny, sebelum mereka joging di taman kompleks.
"Mbak, nanti sore ikut Ibu ke butik ya!"
"Baik bu."
"Izza nanti ikut ya Ma?"
"Tentu saja sayang."
---
Di butik. Seorang karyawan menyambut mereka datang, kemudian bu Eny langsung meminta karyawan tersebut mengantarnya ke pemilik butik tersebut. Sedangkan Mira dan Izza memilih-milik baju dibutik itu, sesekali Mira menempelkan di tubuhnya dan berkaca.
"Cantik Kak." kata Izza melihat Mira berputar-putar di depan cermin itu.
"Iya Dek gaunnya cantik ya?" jawab Mira dengan senyum mengembang. Izza sekarang di panggil Dek olek Mira atas permintaan Izza sendiri, karena Mira sudah dianggap Kakak oleh Izza.
"Kakak yang cantik, coba pake ini juga kak?" kata Izza menyodorkan gaun berwarna merah maroon itu.
"Aduh dek, kaka gak berani nyoba ini!"
"Kenapa kak?"
"Gak pa pa kok,"
"Coba yang itu aja ya dek, tolong ambilkan!" kata Mira seraya menunjuk baju gaun bermotif bunga dengan warna dominan pink.
"Ini kak?" Izza mengambilkan gaun yang dimaksud Mira.
"Iya itu,"
"Bagus ya dek?" Mira menempelkan gaun itu dan bercermin.
"Bagus kak, ayo beli!"
"Iya deh kakak beli yang ini aja."
Bu Eny dan pemilik butik menuruni tangga,
"Itu siapa jeng, yang kamu ajak?"
"Oh itu anak saudara jauh ku jeng, cantikkan anak nya?"
"Iya cantik jeng."
"Mira, gimana sudah ketemu gaun yang pas?"
"Oh sudah bu, Mira ambil yang ini!"
__ADS_1
"Pilihan yang tepat!" puji pemilik butik itu.
"Makasih tante."
"Tante Milana, panggil tante Ana saja!" kata pemilik butik itu.
"Mira tante!" Mira menjabat tangan tante Ana.
"Mbak, tolong bungkus gaun yang di bawa gadis ini dengan gaun yang tadi ya?" perintah tante Ana kepada salah satu karyawannya.
"Iya bu." jawab karyawan itu.
Mira menyerahkan gaunnya.
"Oh ya mbak tolong ambilkan kotak sepatu warna pink di lemari atas ya mbak!"
"Iya bu!"
Karyawan itu naik ke lantai atas mengambil sesuatu yang di maksud tante Ana.
"Kamu cantik sekali pake gaun itu, ayo sekalian dicoba!" puji tante Ana lagi.
"Terima kasih tante!"
Mira beranjak mengganti baju nya di ruang ganti butik itu.
"Ini bu kotaknya!" karyawan itu menyerahkan pada tante Ana.
"Terima kasih mbak."
Mira telah memakai gaun itu, membuat bu Eny dan tante Ayu terpana.
"Cantik kamu Mir!" puji bu Eny.
"Makasih bu!" jawab Mira tersipu malu.
"Nah coba kamu pake heels ini sayang!" perintah tante Ayu seraya memberikan kotak sepatu berisi heels itu.
"Heels tante?"
"Iya itu heels tante, masih bagus,"
"Dulu kaki tante terkilir, jadi heels itu gak tante pake, takut rusak."
Mira mencoba heels itu dan ternyata pas.
"Nah kan pas, tante punya firasat baik,"
"Tante bisa aja."
"Sekarang kamu jadi peramal jeng? hahaha."
"Gak ada yang percaya, dulu aku ketemu sama suami aku, juga pake heels itu tau gakjeng."
"Iya ya percaya aku, hehehe."
"Tante foto ya sayang, mau buat story di IG tante! IG kamu apa biar tante follow!"
"Mira gak punya IG tante, ada nya WA saja!"
"Tumben banget remaja sekarang kok cuma WA aja!"
"Anu jeng Mira itu kuper, coba gak aku desak bikin WA, gak bakalan punya dia."
"Hehehe,"
"Mira gak terlalu suka sosmed Te, kalau pengen liat kadang nonton youtube aja atau buka google."
"Oh, yaudah ntar tante minta WA kamu ya?"
"Iya tante."
Setelah sesi foto selesai, mereka pamit pulang, tak lupa mereka mampir di toko untuk membeli kado.
-----
Di rumah. Mira telah selesai berdandan, dia terlihat cantik dengan gaun barunya, sepatu heels wedges itu pun serasi sekali, rambut mira yang bergelombang berwarna hitam lekat terlihat indah dengan jepit rambut berbentuk pita pemberian Izza. Mira beranjak dari kamar menuju sofa, saat dia berjalan ponselnya berbunyi. Segera dia mengambil ponsel dari tas nya. Terlihat dari layar ponsel itu dengan nama Bu Eny, segera dia menerima panggilan itu.
"Hallo, Assalamu'alaikum bu."
"Waalaikumsalam mbak, ini ibu,"
"Ma'af ibu tadi buru-buru, jadi gak sempat kasih tau mbak!"
"Eh iya bu, ada apa?"
"Ibu sekarang ada di rumah sakit, Azka masuk rumah sakit."
"Azka kenapa bu?" tanya Mira khawatir.
__ADS_1
"Keserempet mobil mbak, Ibu tadi di depan jadi ibu dan bapak yang bawa ke rumah sakit! Tolong nanti mbak aja yang ke pesta ya, nanti biar di jemput Rama!"
"Oh iya, baik bu, ma'af tadi mbak gak denger kalau ada kecelakaan, bagaimana sekarang keadaan Azka bu?"
"Sekarang dia sedang di operasi mbak."i
"Bismillah bu, semoga Azka selamat, ma'af cuma bisa bantu doa."
"Gak pa pa mbak makasih doanya, jangan lupa bawa kadonya, ada di kamar ibu dan sampaikan ma'af pada bu Ajeng ya ibu gak bisa hadir!"
"Iya bu, nanti Mira sampaikan."
"Ya sudah mbak, Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam bu."
Ponsel dimatikan. Bergegas Mira ke kamar mak Idah, untuk menanyakan perihal kecelakaan yang dialami Azka, bagaimana mungkin dia sampai gak denger kecelakaan itu.
"Mak... mak Idah."
"Iya Mir ada apa?"
"Mak tau gak Azka kecelakaan?"
"Oh ya tau Mir?"
"Mak Idah lupa gak kasih tau Mira?"
"Tadi Mak nyari kamu, tapi kamu lagi mandi trus sholat, jadi mak lupa ma'af ya?"
"Untung tadi Ibu sama bapak di depan jadi langsung di bawa ke rumah sakit, tapi mak belum tau keadaannya."
"Kata Ibu sekarang Azka dioperasi mak."
"Semoga selamat ya Mir."
"Aamiin mak."
Terdengar suara klakson mobil, rupanya Rama sudah sampai. Mira dan mak Idah menemui Rama.
"Sudah siap Mir?"
"Bentar mas, Mira ambil kadonya dulu."
Mira berlari ke lantai atas untuk mengambil kado di kamar bu Eny.
"Nak, ibu pesen jaga Mira ya?"
"Iya bu, Rama jaga Mira kok."
"Kamu sudah makan nak?"
"Nanti Rama makan di pesta saja bu, lagian sudah pukul setengah 9, sudah mau mulai acaranya."
"Oh ya sudah hati-hati ya!"
"Iya bu."
Mira telah membawa kadonya, dan segera berpamitan sama mak Idah.
"Assalamu'alaikum mak!"
"Waalaikumsalam, hati-hati ya."
"Iya mak, mak juga hati-hati, jangan lupa di gembok pagarnya mak."
"Iya."
Rama melambaikan tangan pada ibunya, dan menjalankan mobil.
----
Di jalan. Suasana canggung menyelimuti mobil itu. Rama menyalakan radio untuk mencairkan suasana.
Kau begitu sempurna...
Dimata ku kau begitu indah...
Segera Rama mengganti chanel radio itu,
"Eh ma'af Mir, gak sengaja."
"Ah gak pa pa mas." jawab Mira gugup, sekilas dia mengingat kejadian 1 tahun yang lalu, di sa'at Riko akan berpamitan ke Jakarta.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Terima kasih sudah mampir di novel ku, mohon bimbingannya.