Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 51


__ADS_3

"Wah kamu cantik sekali Mir?" puji Bu Eny saat melihat Mira memakai kebaya berwarna kuning, bagian atas dengan detail belahan di bagian depan serta bebatuan di sekitar bagian leher membuat Mira terlihat lebih segar dan juga glamor.


"Makasih Bu!" Mira tersipu malu.


"Panggil Kakak dong!"


"Bagaimana pun sekarang kamu adik ku!"


"Bagaimana pas apa kegedean?" tanya Tante Milana, sang pemilik butik.


"Bagian ini Tante, kekecilan!" ucap Mira dengan menunjuk dada nya.


"Gak kekecilan itu!"


"Itu pas menurut Tante!"


"Iya Mira ini pas!"


"Kamu kan nanti pakai hijab!"


"Kamu bisa menutupinya nanti!" sambung Bu Eny.


Bu Eny melihat Tante Ana dengan memberi kode, Tante Ana pun mengerti.


"Na tolong ambilkan paper bag wadna biru di meja dong.


Sang pemilik nama pun mengambil paper bag yang di maksud oleh bos nya itu,


"Ini Bu!"


Tante Milana menerima nya dan pegawai tadi kembali ke pekerjaannya.


"Ini say!" Tante Milana memberikan paper bag itu ke Mira.


"Ini apa Te?" Mira menerimanya seraya menengok isinya.


"Itu baju untuk Ibu dan Bapak mu!"


"Bukan apa-apa! Kakak hanya ingin memakai kebaya yang sama dengan Ibu mu!"


"Jika kamu couplean Riko, kakak juga ingi couplean sama keluarga mu!" ucap Bu Eny menjelaskan.


Mira sebenarnya keberatan untuk menerima baju itu, karena menurut Mira, Bu Eny terlalu memanjakannya.


"Tolong di terima ya!" bujuk Bu Eny saat melihat wajah Mira yang enggan menerima.


"Iya Bu!"


"Terima kasih untuk semuanya." Mira memeluk Bu Eny.


"Hmmm..."


"Ibu lagi!" protes Bu Eny.


"Belum terbiasa Kak!"


"Makanya sekarang di biasakan ya!"


"Iya... BbKak!"


"Oh ya!"


"Karena Tante gak ikut ke rumah mu Mir!"


"Tante ingin kasih sesuatu!"


"Sebentar ya!" kali ini Tante Ana mengambil sendiri yang di maksud, dia naik ke lantai atas untuk mengambil nya.


Tante Ana turun dengan membawa sebuah kotak berwarna merah jambu yang berukuran sedang.


"Kenapa gak ikut Na?" tanya Bu Eny dengan memegang salah satu pundak temannya itu.


"Nanti temenku siapa ke sana? mata Bu Eny berkaca, dia teringat kepada mendiang suaminya.


"Ma'af say!"


"Kami sekeluarga akan pergi ke Bogor!"


"Ipar saya mau menikah!" Tante Milana menjelaskan.


"Sebagai gantinya di acara menikah nya Mira dan Riko nanti, bukan hanya saya dan suami yang akan ikut bersamamu!"


"Tapi kami sekeluarga!"


"Jadi jangan sedih lagi! kami bersama mu!" Hibur Tante Ana.


"Janji ya Na!"


"Kamu tahu kan aku seperti apa?"


"Iya tahu!"


"Jauh hari sebelum Mira dan Riko menikah akan aku lingkari kalender di rumah!"

__ADS_1


"Kalau perlu, setiap ujung rumah ku akan aku tulis tanggal pernikahan mereka!"


"Hahaha..." Tante Milana tertawa di barengi oleh Bu Eny, sedangkan Mira tersenyum malu.


"Oh iya ini untuk mu!" Tante Milana memberikan kotak tadi.


"Ini apalagi Tante?"


"Boleh Mira buka disini?"


"Iya boleh!"


Mira membuka kotak itu dan terkejut melihat isinya. Nampak sebuah handbag kecil berwarna coklat susu, terlihat serasi dengan kebaya Mira yang berwarna kuning.


"Ini cantik sekali Tante!"


"Memang cantik, tapi tak secantik kamu!" puji Tante Milana.


"Hanya terima kasih yang bisa saya uncapkan Tante!"


"Sekali lagi terima kasih!"


"Sini dong!"


"Peluk Tante!" Tante Ana membentangkan tangannya.


Dengan senang hati Mira pun mendatanginya dan memeluk Tante Ana.


"Tante mau memberi nasehat ke kalian!"


"Tapi berhubung Riko gak ada disini!"


"Kamu saja yang Tante beri nasehat!"


"Iya Tante apa nasehatnya!" Mira meleoas pelukannya.


"Setelah kalian Tunangan nanti!"


"Akan banyak sekali godaan yang akan datang, misal saja orang yang dulu pernah singgah di hati kalian akan datang!"


"Ada saja keraguan untuk membatalkan pertunangan!"


"Intinya pertebal iman kalian, jangan terpengaruh oleh orang lain!"


"Jika ada masalah antara kalian! segera selesaikan dengan baik, jangan sampai memendam ataupun mengabaikannya!"


"Dan satu lagi, kamu akan mulai mengenal lebih dalam tentang pasangan mu!"


"Iya Tante!"


"Tolong doakan yang terbaik untuk kami!"


"Semoga kami bisa bersama samlai ke jenjang pernikahan!"


"Tentu dong!"


"Sebelum kamu memintanya!"


"Tante sudah mendoakan yang terbaik untuk kalian!"


"Dan Tante ucapkan selamat untuk kalian!"


"Terima kasih Tante!"


"Terima kasih!" Mira memeluk kembali Tante Ana. Bu Eny tersenyum melihatnya.


-----


Di Rumah.


Mira membawa 1 koper besar tas sebuah Tas berukuran sedang. Serelah membereskannya dia membawa tas dan kopernya ke ruang tamu, tempat dimana seluruh penghuni rumah itu berkumpul. Bu Eny, Mak Idah, Tante Santi serta Tante Ani tetangga depan rumah, ikut pula Bu RT yang tadi malam di datangi oleh Riko. Melihat Mira membawa barang dengan susah payah, Riko menhampirinya.


"Mau kemana Neng?" godanya.


"Mau nanem padi Bang!"


"Kok bawaannya banyak banget?" Riko terkekeh atas jawaban Mira.


"Ya kan isi dalem koper itu sapi Bang!"


"Untuk membajak sawah nanti!"


"Oh!"


"Kalau hati Neng sudah ada yang bajak belum?"


"Sudah dong!"


"Keren mana sama Abang!"


"Tenang saja!"


"Masih keren Abang kok!"

__ADS_1


"Hehehe!" Mira tertawa kecil.


"Kalau gitu Abang tikung ya?"


"Gak ah Bang!"


"Aku orang nya setia kok!"


"Selain keren Abang juga bisa nanem padi loh!"


"Oh ya?"


"Iya lah!"


"Ok! nanti Neng mau lihat kalau begitu!"


"Boleh!"


Mira memukul punggung Riko dengan manja, dia membayangkan kalau Riko beneran nanem padi di Desa nanti.


"Haduh mesra sekali kalian ya!" ucap Bu RT saat melihat Riko menggandeng Mira.


"Ah Bu RT kayak gak pernah muda saja!" ucap Bu Ani menimpali.


"Sudah tua Jeng, jadi lupa!"


"Hahaha!" mereka tertawa renyah.


"Riko tong jaga Mira baik-baik!"


"Dan harus langsung menuju ke rumah Mira, jangan mampir-mampir!" Bu Santi memperingatkan mereka. Dia wanti-wanti jikalau Riko dan Mira berbuat tak senonoh sebelum hari pernikahan mereka.


"Siap Tante!"


"Tante tenang saja!"


"Kata Mira dia akan menjaga kadonya untuk Riko!" kali ini Riko berbisik dengan Bu Santi, namun mereka masih mendengarnya. Mereka pun tertawa lagi, sedangkan Mira menahan malu atas tingkah Riko.


"Sudah-sudah!"


"Hati-hati ya jangan ngebut!"


"Kalau sudah sampai, cepat kabari Kakak!"


"Iya Kak!" jawab Mira seraya tersenyum simpul.


"Kalau begitu kami pamit dulu!" Riko dan Mira bersalaman dan mencium punggung masing-masing semua yang ada di sana. Memohin doa agar perjalanan mereka berjalan dengan lancar.


Riko dan Mira memasuki mobil dan melambaikan untuk mereka semua. Riko menjalan kan mobinya setelah berucap Bismillah.


-----


"Mas masih inget jalannya gak?"


"Masih inget kok!"


"Adek tidur saja!"


"Nanti mas bangunin kalau sudah sampai!"


"Iya mas!"


"Aku capek sekali tadi!"


"Ma'af ya mas, Mira mau tidur dulu!"


"Iya sayang!" Riko membelai rambut Mira.


Riko menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan benar saja Mira tertidur setelah berucap tadi.


-----


"Hoooaaammm!" Mira menguap dan melihat di sampingnya, ternyata Riko tak ada dan mobilnya berhenti. Mira melihat sekeliling, bukan di rumahnya. Mereka berhenti di Alun-alun kota Tuban. Mira turun dari mobil dan mengeluarkan ponsel dari tasnya.


Saat akan membuat panggilan untuk Riko, terlihat dari jauh Riko melambaikan tangannya kepada Mira.


Riko datang denga membawa sebuah tas plastik besar berisi aneka makanan dan juga camilan. Mira menerima dan membantu membawa nya,


"Kenapa mas beli semua ini?"


Riko membuka bagasi mobil,


"Pingin beli aja!" jawab Riko santai.


"Hmmm."


"Ayo masuk, keburu sore nanti!"


Mira masuk ke. mobil dan memasang sabuk pengamannya kembali. Perjalanan pun berlanjut.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohin krisannya.


__ADS_2