Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 52


__ADS_3

"Wah jalannya sudah bagus ya!" ucap Riko dengan mengurangi kecepatannya.


"Iya mas sudah setahun di bangun!"


"Ini juga pemandangannya gak berubah!" ucap Rjko yang melihat sekelilingnya lagi musim tanam padi dan jagung.


"Mas mau ikut nanam?" tanya Mira saat melihat Riko yang kagum akan pemandangan di desanya.


"Apa boleh?" tanya Riko antusias.


"Boleh dong!"


"Nanti Aku minta ijin sama pemilik sawah!"


"Lha sawah Adek lagi musim apa?"


"Gak tahu mas!"


"Jauh dari sini soalnya!"


"Ou."


"Dek, Mas mau ngomong boleh?" tanya Riko.dengan melihat Mira.


"Tanya apa Mas?"


"Mas mau menginap boleh?" tanya Riko ragu-ragu.


Mira terkejut dengan pernyataan Riko,


"Apa Mas harus menginap?" tanya Mira dengan mengerenyitkan dahinya.


"Mas ingi jalan-jalan di desa!" jawab Riko memberi alasan.


"Hmmm,"


"Nanti Aku minta ijin Bapak Mas!"


"Apa Mas yang mau minta ijin sendiri?"


"Nanti Mas ijin sendiri sama Bapak!"


"Tapi kalau sampai boleh menginap, besok Adek harus janji temani Mas seharian ya?"


"Iya mas!"


"Tenang saja, mas mau kemana saja Aku anterin!"


"Janji loh!"


"Iya janji!"


Riko senang karena Mira berjanji akan menemaninya seharian besok jika dirinya diijinkan menginap,


"Ini benar kan belok sini?" tanya Riko sebelum berbelok ke arah rumah Tunangannya.


"Iya mas!"


"Tuh rumah ku yang di ujung sana!" Mira menunjuk sebuah rumah dengan cat berwarna coklat tua yang di kombinasikan dengan coklat susu.


"Rumah baru?"


"Di renovasi tahun lalu mas!"


"Oh, Alhamdulillah kalau begitu!" Riko memberhentikan mobilnya tepat dirumah Mira.


Seperti saat pertama kali masuk ke desa Tunangannya. Anak-anak yang tadi di gang rumah Mira mengikuti mobilnya, namun tak sebanyak saat pertama kali dia kesini. Riko turun dari mobil dan di ikuti oleh Mira. Kemudian dia membuka bagasi mobil untuk mengambil barang-barang Mira dan juga oleh-oleh yang tadi dibelinya.


"Lek Mira?" seru anak laki-laki berbadan tambun yang memakai kaos berwarna merah.


Mira dan Riko melihat kearah sumber suara itu,


"Adi?"


"Ayo bantu sini!"


Adi mendekat kemudian memberi salam dan juga mencium tangan Mira dan juga Riko.


"Tolong bawa ini ke kamar ku ya!" Mira memberikan kopernya ke Adi.


"Baik lek!"


"Eh ini Adi yang dulu itu ya?" tanya Riko seraya menenteng tas plastik.


Adi tak menjawabnya dia malu untuk berkata iya, karena tubuhnya kini yang sudah membengkak.


"Iya mas, itu Adi anaknya mbak Indah!"


Adi berjalan duluan sementara Mira dan Riko baru mengikuti setelah menutup bagasi mobilnya.


"Bu... Ibu...?"


"Lek Mira pulang!" ucap Adi berteriak.


Terlihat Indah keluar dari belakang rumah dengan hanya memakai celana polos pendek, melihat Mira tak sendiri, Indah masuk ke dalam kamarnya. Mira meminta Riko untuk duduk di kursi dan dia sendiri masuk ke dalam kamarnya.


"Jadi bener nih, dia yang dulu kemarikan?" tanaya Indah seraya memakai rok panjang yang Ia sambar tadi.


"Iya mbak!" ucap Mira yang tak berhenti tersenyum.


Indah yang menaruh curiga segera menyelidikinya,


"Benar dia melamarmu disana?" lanjutnya dengan mengerenyitkan dahi.


"Iya mbak!"

__ADS_1


"Ibu sama Bapak mana mbak?" tanya Mira seraya mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Kemana lagi kalau bukan di sawah!"


"Oh!" Mira menekan sebuah nomer di ponselnya, terlihat dia akan membuat sebuah panggilan.


Tut... tut... tut... suara di sebrang telfon.


"Hallo Assamu'alaikum Mak."


"..."


"Iya mak, Alhamdulullah baru saja masuk rumah!"


"..."


"Iya mak, tolong sampaikan ke Kakak ya mak!"


"..."


"Iya, Assalamu'alaikum."


"..."


Ponsel dimatikan. Mira keluar mengikuti kakaknya yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamarnya. Tampak dia sudah berbasa-basi dengan calon suaminya itu. Riko juga memberikan oleh-oleh yang dia beli tadi.


"Wah, kenapa harus repot-repot beli semua ini Dik?" tanya Indah saat menerima barang dari Riko.


"Gak repot kok Mbak!"


"Saya malah senang kalau bisa berkunjung ke sini!" jawab Riko ramah.


"Kalau Adik selalu kemari membawa oleh-oleh seperti ini jadi bahaya loh Dik!"


"Bahaya kenapa Mbak?"


"Bahaya kalau mbak jadi tuman selalu berharap kamu datang kemari membawa oleh-oleh!"


"Hahaha!"


"Hahaha."


"Apaan sih mbak ini!" ucap Mira nyeletuk.


"Hehehe ma'af!"


"Ini Ibu sama Bapak kemana mbak?" tanya Riko celingukan.


"Biasa ke sawah Dik!"


"Ma'af mbak tinggal dulu ya!" ucap Indah seraya berdiri.


"Mbak mau kemana?" tanya Riko dan Mira bersamaan.


"Mbak mau memanggil Ibu sama Bapak!" jawab Indah menjelaskan.


"Eh iya mbak!"


"Biar kami saja yang memanggil!"


"Oh ya sudah!"


"Kalau begitu Mbak ke dapur dulu!"


"Iya mbak!" Riko keluar dari rumah, namun Mira menarik jaketnya.


"Kenapa?".


"Mas lepas jaketnya, nanti kotor!"


Riko menurut dan melepas jaketnya kemudian memberikannya ke Mira. Sementara menunggu Mira yang menaruh jaketnya di kamar, Riko berjalan menuju ke depan rumah Mira. Kebetulan di depan rumah Mira adalah sawah, disana ada orang yang sedang membuat jalan penyekat antar sawah,


"Pak dhe, rokok dulu!" Riko memanggil orang itu.


Orang itu pun mendekat dan Riko menawarkan sebuah rokok padanya. Orang itu menerimanya dan Riko menyalakan sebuah korek api untuk membakar rokok itu,


"Kamu siapa?" tanyanya seraya mengepul-ngepulkan asap rokok.


"Mas?" teriak Mira dari sebrang.


"Loh Mira?" ucap orang itu saat melihat Mira datang.


"Pak dhe Teguh lagi apa?"


"Ini lagi macul!"


"Dia siapa toh?"


"Pacar mu itu ya?"


"Iya pak dhe, saya pacarnya Mira!" Riko mengulurkan tangannya.


"Kotor ini!" Pak dhe Teguh memperlihatkan tangannya.


"Gak pa pa pak dhe!"


"Sudah lama?" tanyanya seraya menerima uluran tangan Riko.


"Baru saja datang pak dhe!"


"Oh."


"Pak dhe, kami mau ke sawah dulu ya!"


"Loh ngapain ke sawah!" tanya Pak dhe Teguh heran.

__ADS_1


"Mau ketemu Bapak sama Ibu, pak dhe!"


"Oh hati-hati jalannya licin!"


"Iya Pak dhe, kami duluannya!" pamit Riko.


"Lha ini rokok mu?"


"Buat pak dhe saja!"


"Oh, makasih ya Nak!"


Riko mengangguk dan pergi mengekori Mira yang berjalan duluan. Setengah berlari agar berada di samping calin istrinya itu,


"Lewat sini?" tanya Riko saaylt melihat Mira turun ke sawah dan berjalan melewati sekat antar sawah.


"Iya mas!"


"Sebentar!" Riko menggulung celananya dan mengikuti Mira.


Karena ini pertama kalinya Riko terjun ke sawah dengan melewati jalan kecil itu, dia sedikit kesulitan untuk menyeimbangkan tubuh nya. Akhirnya dia merentangkan tangannya agar tubuhnya seimbang. Di sekeliling nya banyak orang yang sudah mulai pulang dari sawah. Tentu saja pakaian mereka penuh dengan lumpur, dengan memakai caping dan juga cangkul di tangannya. Sedangkan untuk para ibucibu mereka membawa sebuah tali dan juga patahan bambu karena merka baru saja selesai menanam padi.


"Mira itu pacar mu?" tanya salah satu ibu-ibu yang sedang melihat Riko di belakang Mira.


"Iya Bu dhe!"


"Loh ngapain kok di ajak ke sawah?"


"Nanti kotor sama gatal-gatal loh!" ucap yang lainnya.


"Dia yang mau ke sawah Bu dhe!"


Riko tersenyum melihat mereka dia juga mengatupkan tangannya memberi salam, mereka yang berada disana pun mengagumi kesopanan dan kegantengan Riko,


"Kami duluan ya Bu-Ibu!" Riko pamit.


"Hati-hati ganteng!"


"Di sawah banyak kelabang (lipan)!"


"Iya Bu dhe." tak lupa Riko tersenyum saat menjawabnya.


"Sudah ayo pulang!"


"Badan ku gatal semua nih!" ucap Ibu-ibu dari ujung belakang karena rombongan mereka berhenti saat bersimpangan denga Mira dan Riko.


"Da... ganteng!" seluruh rombongan itu melambaikan tangannya untuk Riko, sementara Mira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ramah ya Ibu-ibu di sini!" ucap Riko yang kini sudah menggandeng Mira.


"Tentu mas!"


"Silaturahmi di desa itu yang nomer satu!"


"Wah jadi mau tinggal disini!"


"Heleh maunya!"


"Hehehe."


"Itu mereka lagi ngapain?" tanya Riko saat melihat rombingan laki-laki yang sedang berkubang di sawah.


"Itu lagi mengambil mengambil bibit padi mas!"


"Nanti setelah di ambil, ibu-ibu yang tadi akan menanamnya di sawah!"


"Oh!"


"Tapi mereka burkubang begitu apa tidak gatal 'anu' nya?" tanya Riko penasaran.


"Mana Aku tahu mas!"


"Mas mau coba?" tanya Mira dengan senyum menantang.


"Gak mau, nanti gatal!"


"Namanya di desa mas!"


"Kalau sudah masuk sawah ya harus siap gatal!"


"Apa lagi saat seperti ini!"


"Belum nanti waktu memberi pupuk cair dan urea!"


"Mereka harus berada ditengah-tengah sawah agar penmberian pupuk nya merata!"


"Oh!" ucap Riko manggut-mangut.


"Ini masih jauh gak?" tanay Riko seraya menggeliatkan tubuhnya.


"Mas capek?"


"Capek sih iya!"


"Tapi melihat pemandangannya seperti ini, seperti obat saja!"


"Kalau begitu ayo!"


"Nanti keburu sore!"


"Ayo!" ucap Riko semangat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2