Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 58


__ADS_3

Semua penghuni rumah berkumpul, kecuali Adi yang sudah tidur duluan. Riko dan Mira telah menanti saat-saat yang menegangkan ini. Pada akhirnya Riko harus meminta ijin kepada orang tua nya untuk meminang anak bungsu mereka. Di ruang tamu dengan kursi membentuk huruf 'L' yang terbuat dari kayu mereka duduk bersama. Mira dan Riko duduk di kursi panjang yang terpisah hanya muat untuk mereka berdua. Otak dan jantung Riko berlari kesana kemari karena deg-degan, tentu hal sama juga dirasakan oleh Mira.


Dimas akan membantu Riko untuk memperlancar permintaan ijin ke mertuanya, karena dia juga pernah merasakan hal yang sama. Dimas dan Indah sudah merencanakan semuanya saat sore tadi.


"Ehem,"


"Apa hubungan kalian sudah benar-benar matang?"


"Iya mas!" jawab Riko dengan menatap mereka semua.


"Saya sudah melamar Mira disana Pak, Bu!"


"Jadi sabtu depan keluarga saya secara resmi akan melamar Mira lagi disini!" Riko menggenggam tangan Mira erat, sementara Mira dari tadi hanya menunduk.


Riko mengambil nafas dalam-dalam, berusaha menata katackata yang akan dia sampaikan.


"Jadi apakah boleh Pak? saya meminta kepada Bapak dan Ibu untuk mengambil Mira sebagai calon istri saya?" 


Semua terdiam, Bu Siti memang sudah tahu bahwa disana Mira sudah dilamar. Ibu mana yang tak bahagia mendengar bahwa anaknya dilamar oleh bosnya sendiri, apalagi dia baik dan juga mapan. Tapi hal berbeda yang terlihat oleh Pak Budi saat dia mendengar berita itu dari putri sulungnya, dia hanya diam tanpa menanggapi apapun.


"Kami sudah dengar kalau kamu sudah melamar Mira disana!"


"Bapak sangat bahagia, pada akhirnya Mira telah memilih kamu yang sudah sangat dia kenal sebagi calon suaminya,"


"Sebagai seseorang yang telah lama melindunginya, Bapak akan menyerahkan tanggung jawab ini untuk mu!"


"Bapak minta lindungi dia dan jaga dia, jika di berbuat salah, beritahu dia!"


"Bimbinglah dia! Bapak yakin kamu bisa mendidiknya!"


"Bapak rasa kamu sudah mengerti kemauan Bapak!"


"Iya Pak!"


"Saya akan menjaga dan melindungi putri Bapak!"


"Sampai kapan pun!"


"Jadi apakah Bapak dan Ibu merestui kita?"


"Ibu merestui kalian!"


"Bagaimanapun juga Ibu sangat bahagia, pada akhirnya kamu Nak jodoh putri Ibu!"


"Terima kasih Bu!" ucap Riko sepenuh hati, kini pandangannya beralih ke Pak Budi.


"Bapak merestui kalian!"


"Tolong penuhi permintaan Bapak tadi!"


"Iya Pak!"


"Saya berjanji akan memenuhi permintaan Bapak!"


Riko melihat Dimas dan Indah, dia juga membutuhkan restu dari mereka.


Indah mengangguk sambil tersenyum, sementara Dimas seperti memikirkan sesuatu.


"Hmmm,"


"Jadi begini perasaan seorang Kakak yang akan melepaskan adiknya kepada calon suaminya?"


"Aku memang bukan kakak kandung Mira!"


"Tapi saya sudah menganggap Mira seperti adik kandung saya!"


"Ingatlah Riko, jangan pernah menyakiti Mira, apalagi memukulnya!"


"Aku akan segera menghajarmu saat mendengar jika kamu melukai nya!"


"Iya Mas, saya tak akan melukai Mira."


"Jadi?"


"Kapan keluarga mu akan kesini?"


"Sabtu depan mas!"


"Ma'af, bolehkah saya meminta suatu hal?" Mira menoleh saat mendengar Riko mengucapkannya, pasalnya Riko tak bercerita bahwa dia akan meminta sesuatu dari orang tua nya.


"Kamu minta apa Nak?"


"Kami tak mempunyai apa-apa yang layak kami berikan kepada keluarga mu?" tanya Bu Siti khawatir.

__ADS_1


"Bukan Bu!"


"Bukan seperti itu!"


"Mungkin ini akan sedikit mengganggu kalian!" kini mereka semua bingung apa yang diingin kan Riko, ketika semua melihat Mira, tak ada kode dari Mira, bahkan Mira sendiri terlihat pias.


Riko mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Di usia saya yang sudah 31 tahun, saya sudah sangat lama ingin segera menikah!"


"Apalagi sudah lama saya mengenal Mira," mereka menatap Riko dalam, entah apa yang mereka pikirkan.


"Saya hanya ingin segera membentuk rumah tangga yang harmonis dan tak ingin berlama-lama menyandang status sebagai 'tunangannya'!" Riko tahu mereka masih belum bisa mengerti kemana arah pembicaraan Riko. Riko kembali menata kata-kata yang akan dia ucapkan.


Bismillah. Riko.


"Saya minta ma'af Pak, Bu!"


"Bukan karena saya dan keluarga tidak menghargai yang namanya adat jawa!"


"Tapi saya dan Mira benar-benar sangat saling mencintai, saya benar-benar tak ingin melepaskan ikatan ini jika dikarenakan 'Weton Jodoh' (neptu hari dan pasaran kedua mempelai dijumlahkan kemudian diurutkan sesuai tabel, nanti akan ketemu pada kategori yang akan menentukan keadaan rumah tangga kedua mempelai, untuk memperjelas bisa mencari di google)"!


"Ma'af bukan karena saya tak menghargai adat jawa!"


"Tapi saya benar-benar tak ingin melepas Mira karena hitungan jawa!"


Semua orang kaget karena permintaan Riko, pasalnya sangat tabu di keluarga mereka jika tetap mengadakan pernikahan tanpa menghitung weton jodoh. Pak Budi diam, dia memikirkan kata-kata Riko. Baik Bu Siti maupun Dimas tak mengeluarkan kata-kata apapun, mereka menunggu Pak Budi untuk mengambil sebuah keputusan.


"Bapak terima permintaanmu!"


Ada perasaan lega tersirat di wajah mereka, namun mereka masih menunggu kelanjutan dari ucapan Pak Budi.


"Sebagai gantinya Bapak masih akan mencari tanggal baik untuk pernikahan kalian, itu juga akan kita bahas nantinya saat keluarga mu datang!"


"Iya Pak!"


"Terima kasih telah memenuhi permintaan saya!" ucap Riko semangat.


Pak Budi menyetujui permintaan Riko karena tak ingin jika putrinya tak jadi menikah seperti kata Riko, dia tak ingin melihat putrinya bersedih. Bukan tak menghormati, tapi demi kebahagiaan mereka berdua. Takut kalau suatu saat Riko dan Mira nekat, pasalnya mereka sudah sama-sama dewasa.


Riko pulang setelah menyampaikan maksud dan tujuannya. Meskipun mereka memintanya untuk menginap sekali lagi Riko menolaknya dengan halus. Pekerjaan di kantornya tak bisa Ia tinggalkan lama-lama.


----


"Ndah, kamu saja ya yang pakai ini!"


"Mungkin ini akan pas jika kamu yang memakainya!" ujar Bu Siti saat melepas setelan yang dipakainya.


"Loh bagus itu Bu!"


"Kan tinggal di kecilin bagian badannya sama Mbak Ana!"


"Besok pagi akan saya bawa ke rumahnya!"


"Bukan begitu Ndah, tapi Ibu merasa terlalu tua untuk memakai baju yang beginian!"


"Bu?"


"Itu Bu Eny yang memberikannya!"


"Katanya beliau akan samaan baju nya nanti!" 


"Tuh Bu!"


"Itu artinya kalian akan couplean, masa nanti saya yang jadi besannya?"


"Ya Ibu merasa gak pantas saja pakai baju ini!"


"Bu, tolong hargai lah pemberian Bu Eny!" Mira memohon.


"Iya itu Bu!"


"Ibu bagus pakai baju itu, besok pagi Indah akan bawa ke rumah Mbak Ana untuk di kecilkan!"


Bu Siti mengangguk, dia sebenarnya sungguh tak nyaman memakai baju kebaya itu, di usia yang sudah memasuki 52 tahun rasanya terlalu tua untuk memakainya, apalagi dia juga tak pernah memakai baju mewah seperti itu. Pak Budi melepas kemeja nya dan memberikannya ke Indah untuk dilipat kembali dan Indah juga mengambil setelan Bu Siti, untuk di permak besok. Kini mereka semua membahas untuk persiapan acara lamaran esok, Mira pun menjelaskan kira-kira siapa saja yang akan datang.


-----


Di Perjalanan.


Riko senyum-senyum di sepanjang perjalanan. Bagaimana dia tidak bahagia, saat di jembatan tadi, ia beberapa kali mencuri ciuman dari Mira ketika berada di sebelah Adi. Mira kesal karena perbuatannya.


Flasback on,

__ADS_1


Adi berlari menuju ke warung Kang sate, di saat Riko dan Mira jalan bergandengan sesekali Riko mencium pipi Mira. Dia tak menghiraukan jika ada yang melihatnya, bahkan Riko juga mencium punggung tangan Mira di sepanjang perjalanan itu.


"Mas sudah dong!" protes Mira saat Adi pergi untuk membeli es puter.


"Gimana dong, mas kan besok dah gak disini lagi!"


"Kangen tahu!"


"Tapi kan gak gini juga mas!"


"Banyak yang lihat tuh!" Mira melihat semua orang memperhatikan mereka.


"Iya-iya bawel!" Riko mencubit hidung Mira gemas.


Flashback off.


Berulang kali Riko menepuk jidat nya, bagaimana mungkin dia melakukan hal yang memalukan di tempat umum seperti tadi. Tidak seperti dia yang dulu, dia pernah di posisi memperhatikan orang yang sedang bermesraan seperti yang di lakukannya sore tadi.


Flashback on,


Riko dan Rama sedang jalan di taman. Mereka melewati sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran, mereka terlihat seperti tak da orang disekitarnya,


"Kayak gak ada tempat lain saja!" gumam Riko.


"Tempat lain dimana?"


"Di kamar?" sahut Rama dengan tatapan mengejek.


"Ya gak di kamar juga!"


"Setidaknya jangan begitu dong!"


"Kan mengganggu mata!"


"Jangan begitu!"


"Mereka itu hanya tahu bahwa di dunia ini hanya ada mereka!"


"Loe gak tahu sih, yang namanya kasmaran!"


"Tahu lah, gue kan sudah punya Anggun!"


"Beda sama loe yang sudah jomblo dari lahir!"


"Yaelah gue juga pernah pacaran tahu!"


"Yakin loe gak akan pernah pacaran kayak gitu?"


"Yakin lah!"


"Gue gak akan pernha melakukan hal memalukan kayak gitu!"


"Gue gak yakin deh!"


"Ingat sampai gue melakukan hal memalukan di tempat umum kayak gitu, jidat gue nih," Riko menupuk jidatnya.


"Akan tumbuh tuh yang namanya jerawat, gak nanggung-nanggung bakal ada tiga yang kirim salam buet loe!"


"Bener ya!"


"Ingat loh!"


"Iya!"


Flashback off.


Riko melihat jidatnya di spion kali aja sumpahnya benar-benar terjadi. Dia tak ingin di hari nanti dia melamar Mira, akan ada jerawat yang kirim salam.


"Wah gak bener nih!"


"Bagaimana kalau memang mereka semua dengar apa yang gue ucapin dulu!"


"Jangan-jangan bukan cuma tiga? m***** gue!" Riko melihat berulang kali jidatnya.


"Ingat jangan stres! jerawat akan tumbuh bahagia jika stres dan pola makan tidak sehat!" gumam Riko, namun tentu saja Riko masih mengkhawatirkannya.


Riko berhenti di sebuah apotik, dia akan membeli sebuah suplement makanan dan vitamin untuk kesehatan dia nantinya, dia juga membeli salep jerawat jikalau jerawat itu benar-benar muncul. Riko masuk kembali ke mobil dengan menaruh vitamin yang Ia beli di jok depan, kemudian dia melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mamapir, mohon krisannya!


__ADS_2