Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 24


__ADS_3

"Mana yang sakit mas?" Mira meraba tangan dan dada nya Riko.


Riko gelagapan karena terkejut dengan tingkah Mira. Mira tak sadar bahwa dirinya dan Riko semakin dekat. Riko menyadari itu,


"Ini yang sakit!" Riko menempelkan bibirnya dengan jari telunjuk Mira.


Mira kaget, baru sadar bahwa dirinya dan Riko sudah dekat. Riko menarik tangan Mira, dan memandang bibir Mira.


Jantung Mira melompat-lompat karena Riko semakin mendekat saja, refleks Mira menutup mata nya.


Cup... ada secercah rasa lembut nan hangat menyentuh pipi Mira yang sudah seperti tomat itu.


Buru-buru Riko menjauh dari Mira. Menyadari Riko menjauh Mira membuka mata nya dan bangun dari posisi semula. Mereka berdua tampak kikuk dengan suasana canggung malam itu, dengan sigap Riko berkata,


"Sudah malam, langsung pulang saja yuk!"


"Eh iya mas." jawab Mira tak kalah canggung, Mira membersihkan pasir-pasir yang menempel pada rok nya itu, sekalian menghindari tatapan Riko.


Riko berjalan menuju mobil nya, membuka pintu mobil untuk Mira, dan berjalan memutar setelah Mira masuk mobil. Mobil pun berjalan.


Untuk menghindari suasana yang penuh dengan kecanggungan itu, Mira berinisiatif membuka obrolan,


"Mas balik ke Jakarta kapan?" tanya Mira hati-hati.


"Eh anu, senin sore." jawab Riko gelagapan dengan suara parau nya itu. Melihat Mira terdiam, kini Riko yang kembali bertanya,


"Besok jadi kan nemeni mas?"


"Iya mas jadi!"


Kesunyian kembali menyelimuti mobil mereka, hanya ada suara derau halus mobil yang terdengar.


Suasana konyol macam apa ini? Riko.


Sesampai dirumah, Mira pamit ke Riko, masih dengan gaya kaku mereka berdua. Untung sudah malam jadi tak ada penghuni rumah lainnya yang tahu dengan gerak-gerik mereka.


-----


Di kamar Mira. Dia masih membayangkan kecupan dari Riko dipipinya. Berkali-kali dia mengelus-elus pipinya itu, seraya berguling-guling memutari ranjangnya yang berukuran sedang itu,


"Begini kah rasa nya dicium?"


"Baru juga dipipi! gimana kalau...?"


Mira tak melanjutkan kalimatnya karena terlalu malu membayangkan yang tidak-tidak, sesekali dia memainkan bibir nya.


"Ah sudah lah..."


"Bisakah aku tidur malam ini?" Mira masih menutup wajah nya dengan boneka jerapah itu.


-----


Di kamar Riko. Dia juga membayangkan yang terjadi di taman komplex,


"Huff... hampir saja aku mencium bibirnya yang mungil itu!"


"Ahhhhh...." Riko mengacak-acak rambutnya.


Riko mengambil ponselnya,


"Chat dia gak ya?" gumam Riko seraya mengutak-atik ponselnya.


"Ahhhhh..." Riko membanting ponselnya di bantal.


"Gak pernah chat juga, masa tiba-tiba chat?"


"Aish... kenapa aku jadi bucin begini?"


Riko membuka baju yang dipakainya tadi dan berganti dengan celana pendek saja tanpa kaos.


-----


"Hah..."


"Ini jam berapa?" Mira mengambil ponselnya yang dia letakkan di nakas.


"Sudah jam 11, tapi kenapa belum ngantuk juga!"


"Haaaaa!" keluh Mira.


"Hadeh, kenapa sampai lupa!" Mira memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Tadi kan mau ngomong sama mas Riko!"


"Aish!"


"Trus gimana ini?"


"Masa mau ngegantung mas Riko?"


"Kasihan dia dong!" kata Mira serambi memegang boneka jerapahnya.


"Mas Riko sih!" kata Mira mentowel-towel boneka itu.


"Kenapa aku jadi nyalahin mas Riko?"


Mora membuang boneka itu di bantal.


Mira keluar dari kamarnya, dia berpikir untuk meminum susu hangat agar segera tidur. Saat membuat susu, Mira mendengar suara pagar berjalan ternyata juga ada sekilas bayangan dari depan rumah nya.


Mira meletakkan sendok yang dia gunakan untuk mengaduk susu itu. Dia berjalan menuju teras rumah dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara.


Apa maling ya? Mungkinkah tadi mas Riko lupa mengunci pagarnya? Mira.


Tak takut Mira mencoba mengintip dari jendela, setelah memutar matanya ternyata dia tak menemukan siapa pun.


"Aneh, kok gak ada siapa-siapa?" Mira beranjak dari jendela itu dan akan membuka pintu, namun sebelum dia memegang gagang pintu itu, ternyata pintunya sudah terbuka,

__ADS_1


"Astaghfirullah." Mira kaget, hampir saja dia menumpahkan segelas susu yang berada ditangannya.


"Mira?" kata Riko tak kalah kaget.


"Mas Riko?"


"Ngapain mas diluar malam-malam?" tanya Mira sambil menenangkan jantung nya yang melompat-lompat.


"Mas tadi jogging sebentar!"


"Kamu kok belum tidur?" tanya Riko heran.


"Anu mas, Mira lagi buat susu!"


"Mas mau?" tanya Mira dengan menyodorkan susu ditangannya.


"Terima kasih, buat kamu saja!


"Mas mau mandi dulu, gerah!"


"Iya mas, Mira mau minum susu dulu!" kata Mira sambil menunjuk susi ditangannya.


Riko tersenyum lalu meninggalkan Mira di ruang tamu sendirian.


-----


"Wah harus cepat-cepat mandi ini!"


"Keburu Mira kembali ke kamarnya!" secepat kilat Riko mandi, dia ingin mengobrol lagi dengan Mira.


-----


"Apaan tadi mas Riko, gak pakai kaos begitu!" kata Mira menepuk-nepuk pipinya.


Dia teringat Riko tadi yang tak memakai kaos, badannya penuh dengan keringat yang mengkilap karena terkena secercah cahaya lampu, dan ketika Riko melewati nya, tercium aroma laki-laki berkeringat, namun wangi sekali.


Tak terasa Mira masih memejamkan matanya dan sesekali menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tak menyadari ternyata Riko sudah ada di depannya dengan memegang segelas air.


"Hayo, lagi ngebayangin apa nih?" tanya Riko,


"Apaan sih mas ngagetin aja?" jawab Mira kesal.


Riko menghampiri Mira dan duduk disebelahnya,


"Tadi kamu mau ngomong apa waktu di taman?"


Mira melotot, Riko masih ingat kalau dia akan berbicara sesuatu di taman,


"Anu mas itu, anu...."


"Hmmmm... gak jadi." jawab Mira selepas menahan nafas nya karena gelagapan.


"Kenapa?" Riko mendekatkan wajah nya ke Mira, sehingga Mira condong di ujung sofa.


"Mas bisa geser sedikit?" kata Mira menahan nafas nya.


"Huh..." Mira menghela nafas, melihat jakun Riko naik turun, karena dia sedang minum.


"Sebenernya Mira mau jujur sama mas!"


Riko kembali menatap Mira setelah dia meletakkan gelas kosong di meja,


"Ngomong sekarang saja ya!"


Mira mengambil nafas panjang, dia tak ingin menunda lagi,


"Mas beneran suka sama Mira?" tanya Mira menahan malu.


"Sebenarnya mas bukan suka kamu!" Riko membuang muka,sementara Mira mengerenyitkan dahinya.


"Mas cinta sama kamu Mir!" Riko kembali menatap Mira tanpa berkedip.


"Mas ingin kamu menjadi pendamping hidup mas!" kata Riko sembari memegang tangan Mira.


Mira berusaha melepas tangannya dari Riko,


"Mira gak pantas buat mas!"


"Mira gak secantik Anggun! Mira gak sekaya mas! Mas terlalu sempurna untuk Mira mas!" kata Mira dengan menundukkan kepalanya.


"Kesempurnaan hanya milik Allah semata."


"Jadi jangan pernah ngomong mas itu sempurna,"


"Mira, mas cuma butuh kamu sebagai pendamping hidup mas!"


Riko memegang pundak Mira.


"Kamu sudah sangat cantik buat mas, kamu sudah sangat baik buat mas,"


"Dan yang terpenting, jangan pernah ngomong kalau kamu mau menolak mas karena mas kaya!"


"Lihat mas!" pinta Riko karena sedari tadi Mira masih menundukkan kepalanya.


Mira pun menegakkan kepalanya, ternyata dia menitihkan air mata.


"Maa mau tanya?" Riko mengusap air mata yang meleleh dipipi Mira.


"Kamu ada rasa gak sama mas?"


"Jawab jujur, tanpa menimbang apapun!"


Mira menjawab dengan anggukan, Riko pun mendekatkan kepala Mira ke dadanya, sambil mengelus-elus rambut Mira.


"Itu sudah cukup untuk mas, terima kasih!


"Tapi mas, Mira boleh gak minta sesuatu?" tanya Mira yang masih menempel di dada Riko.

__ADS_1


"Minta apa?"


Mira melepas dari pelukan nya Riko,


"Mas percaya jodoh tak akan kemana?"


Riko mengeritkan dahinya lagi,


"Kenapa?"


"Jawab dulu!"


"Iya mas percaya!"


"Kalau begitu, Mira akan berusaha agar Mira pantas untuk mas!"


"Jujur aku tuh!"


"Iya mas tahu kamu jujur!"


"Tapi menurut mas, kamu sudah pantas untuk mas!"


"Apa jangan-jangan mas yang gak pantas buat kamu?" tanya Riko kesal.


"Kok mas ngomong begitu?"


"Lha kamu juga gitu!"


"Begini mas!"


"Dengerin!"


"Iya!" Riko bersiap mendengarkan kalimat Mira.


"Sampai sekarang Mira masih merasa ada batas dinding kaca yang memisahkan kita?"


Lagi-lagi Riko mengerenyitkan dahinya.


"Batas Mira dan Mas!"


"Mira akan memecahkan dinding kaca itu untuk mas!"


Riko tersenyum dengan kata Mira, namun dia masih tidak mengerti yang di maksud Mira.


"Mira akan berusaha cantik, lebih baik lagi, dan yang terpenting Mira akan memperbaiki ekonomi Mira dulu!"


"Eist... jangan protes!" kata Mira setelah melihat Riko akan protes dengan permintaannya.


"Itu permintaan Mira dan kalau mas gak ngijinin, ya mulai dari sekarang Mira akan mempertebal dinding pembatas kita!"


"Kamu ngancam mas?" kata Riko melotot.


"Mira gak mengancam mas kok. itu permintaan Mira mas, jadi jika semuanya berjalan lancar, Mira tak akan merasa kurang untuk mas!" kata Mira sungguh-sungguh.


"Dan untuk sekarang kita gak ada ikatan apapun!"


"Mas bisa mencari pacar lagi seperti dulu!"


"Pacar apa?" Riko kesal.


"Jadi sampai berapa lama, mas harus menunggu mu?"


"Mira gak minta mas menunggu kok!"


"Jalani semuanya saja seperti dulu mas, saat mas belum ada rasa sama Mira!"


"Jika mas menunggu Mira,"


"Mira hanya akan semakin bersalah!" kata Mira sedih.


"Oh... makanya tadi kamu nanya jodoh tak akan kemana itu, maksud kamu ini?" Riko kembali mengelus-elus rambut Mira.


Mira menganggukan kepala sebagai jawabannya.


"Baiklah kalau itu permintaan mu, sebisa mungkin mas akan seperti dulu, mencari pacar, dan..."


"Dan apa mas?" tanya Mira bingung.


"Dan menjahili mu lagi!" kata Riko sembari mencubit hidung Mira.


"Au, sakit mas!" Mira mengelus-elus hidungnya.


Riko gemas dengan bibir Mira, kali ini dia tak akan melewatkan kesempatan mencium bibir Mira yang mungil itu.


Melihat Mira yang masih mengelus-elus hidungnya, Riko berucap,


"Selamat malam, cepatan tidur!"


Riko mencium bibir Mira yang mungil itu.


Karena tiba-tiba Mira kaget, pipinya terasa ada hawa panas menyelimuti. Dia hanya terdiam menahan nafas, merasakan bibir Riko yang lembut, jentung nya melompat kesana kemari lebih cepat dari rasa kagetnya tadi. Riko melepas kecupannya.


"Ma'af mas tidak bisa menahannya!"


"Terima kasih!"


"Ayo cepat tidur!" Riko menarik tangan Mira agar berdiri, dia mengantar Mira sampai di depan kamarnya.


"Mas mencintai mu Mira!" pamit Riko, dia berjalan menuju kamarnya, dan meninggalkan Mira yang masih termenung di depan kamar nya.


.


.


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.

__ADS_1


__ADS_2