
"Sal, beneran kamu pesan ini semua?" tanya Rena kepada Faisal yang baru saja kembali dari toilet.
"Enggak!"
"Gue cuma pesan kopi yang kalian pesan sama beberapa wafle!"
"Lah trus, kue ini?" tanya Rena seraya menunjuk black florest.
"Ini?" temannya menunjuk macaron.
"Beneran bukan gue!" jawab Faisal terkejut.
"Eh, mbak!" teriak Faisal memanggil waiters.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?"
"Tadi kan saya pesan kopi sama wafle!"
"Trus ini semua yang pesen siapa?" tanya Faisal menunjuk kue-kue yang tak Ia pesan.
"Oh, itu yang pesan bapak yang di sana!" waiters itu menunjuk seorang pria yang duduk dengan seorang wanita di ujung coffee shop itu.
"Pak Riko?" teriak semuanya.
Riko yang mendengar pun tersenyum, dan melanjutkan obrolannya dengan wanita yang bersamanya.
"Wah pak Riko baik banget ya!"
"Udah ganteng, tajir, baik hati juga!"
"Pingin deh jadi istrinya!"
"Hahahaha..."
Mira yang baru kembali dari toilet pun heran karena meja penuh dengan kue, kemudian Ia duduk di sebelah Rena,
"Kamu dapet undian apa Sal, sampai pesen segini banyak?"
"Itu bukan Faisal semua yang pesan, tapi pak Riko!"
"Pak Riko?"
"Emang pak Riko kesini?"
"Tuh!" Rena menunjuk Riko dengan dagunya.
"Oh..." jawab Mira datar.
"Eh, kira-kira siapa ya yang bersama pak Riko?"
"Cantik banget deh dia!" ucap teman lainnya.
"Mungkin pacarnya!" jawab Rena seraya mencomot wafle dan memakannya.
"Bisa jadi!"
"Mereka pasangan yang serasi deh!"
"Iya, yang cowok ganteng, cool, badannya oke! paket lengkap deh!"
"Dan yang cewek, cantik dan juga sexy!"
"Hahahaha..."
"Iya kalian bener!"
Mira diam saja mendengarkan obrolan teman-temannya karena yang diucapkan mereka benar adanya.
"Mir? Mira? Woy!" tanya Rena melambaikan tangannya di depan wajah Mira.
Semua teman-temannya menatap Mira.
"Eh kenapa?" tanya Mira gugup.
"Menurut kamu, gimana tanggapan mu mengenai pak Riko dan pacarnya itu?" tanya Faisal dengan mengaduk coffee latte ice miliknya.
"Oh itu pacarnya pak Riko?"
"Bukan pacar!"
Semua orang menengok ke arah sumber suara itu,
"Tapi klien!" ucap Riko seraya menarik kursi untuk didudukinya.
"Oh..." jawab mereka bersamaan.
"Lalu apa pak Riko sudah punya pacar?" celetuk Rena.
"Sudah!" jawab Riko santai.
"Siapa pak?" tanya Rena lagi.
Riko memandangi Mira, lalu berucap,
"Kalian kenal dia kok, tapi dia gak mau kalian tahu!"
"Apa?"
__ADS_1
"Wah, kira-kira siapa ya?"
"Sudah-sudah! ayo dipotong kue nya!" ajak Riko seraya mengambil pisau.
Mira yang duduk di samping Riko, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah merona, dia takut kalau detak jantungnya didengar oleh rekan-rekannya.
-----
"Ok, kami pulang duluan ya! bye!" pamit teman-teman.
"Gue juga mau pulang nih, ayo Sal!" ajak Rena serambi menarik tangan Faisal.
"Ayo Mir!"
"Kalian duluan saja deh!"
"Aku mau mampir ke suatu tempat dulu!"
"Oh, kalau begitu kami duluan dan titip salam untuk pak Riko ya!"
"Oke, hati-hati ya!"
"Jangan lupa Bismillah!"
"Iya, Bismillahirrohmanirrohim."
Rena dan Faisal meninggalkan Mira sendirian di coffee shop itu, sementara Riko baru kembali dari toilet,
"Loh sudah pada pulang semuanya?"
"Iya mas! mereka titip salam buat mas, pamit duluan!"
"Oh, ayo pulang kalau begitu!"
"Apa kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?"
"Iya mas! Mira mau mampir ke restoran milik teman Mira!"
"Baiklah, mas antar!"
-----
"Mira!"
"Eh, iya mak!"
"Ada apa?" tanya Mira seraya mendekati mak Idah.
Mak Idah pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah paket kecil dan memberikannya ke Mira.
"Ini ada paket untuk mu!"
"Gak tahu, mak tadi nyapu garasi eh sudah ada kotak itu di depan pagar!"
"Ada nama mu di sini!" mak Idah menunjukkan nama Mira yang tertera di paket itu.
Mira membolak-balikkan paket itu untuk mencari pengirimnya.
"Oh, kalau begitu terima kasih mak!"
"Iya."
Mira masuk ke kamarnya dengan membawa paket itu,
Kalau bom gak mungkin! Bom kok empuk begini! Mira.
Paket itu lebih mirip seperti kado, tapi berbalut dengan kartas berwarna coklat. Setelah Mira membuka paket itu, Mira sangat gembira. Pasalnya paket itu berisi boneka doraemon, sengaja Mira merogoh kantong ajaibnya, barang kali memang keluar barang ajaib milik doraemon,
"Loh, eh..." Mira menarik tanannya dari kantong.
"Ini USB apa?" ucap Mira heran.
USB itu berbentuk hati, untung nya Mira pernah melihat sebuah USB berbentuk seperti itu, Mira berdiri lalu mengambil laptop miliknya, kemudian mencolokkan USB dan membuka sebuah file, ternyata berisi sebuah video, saat Mira membuka video itu, seketika Mira kaget mendengar suara yang ada di dalam video itu, Mira menutup mulutnya tak percaya.
-----
Siang itu Mira telah sampai di cafe itu sebelum jam perjanjian. Ya pengirim paketan itu memintanya untuk menemuinya di cafe. Mira sangat gelisah sekali menunggu siapa sebenarnya pengirim itu, berkali-kali dia menatap setiap orang yang masuk ke cafe itu, menerka apakah dia orangnya.
-----
"Aku sudah di depan apartement mu!"
ucap Riko seraya menutup telfonnya, tak lama kemudian seorang pria membuka pintunya, Riko pun masuk,
"Kenalin ini adikku!"
"Dia seorang polisi yang dulu menangani kasus kecelakaan kakak mu!"
"Jihan!" ucap wanita itu mengulurkan tangannya.
"Riko!"
"Begini pak Riko, setelah istri dari supir itu hilang, kami memeriksa beberapa cctv di daerah ini, dari di jalan raya sampai area transportasi kami cek,"
"Ternyata kami melihat dia masih ada di kota ini,"
"Ini buktinya!" Jihan memberikan rekaman cctv di laptopnya kepada Riko,
__ADS_1
Terlihat seorang wanita paru baya, sedang berbelanja di toko, dan tak lama kemudian membawa sebuah paperbag besar.
"Lalu, bagaimana dengan putrinya?"
"Untuk saat ini, kami belum tahu keberadaannya pak!"
Ding... nada chat masuk dari ponsel Johan, sang detektif. Dia membukanya.
Johan mengambil alih laptop di tangan adik nya, lalu dia membuka sebuah email, ternyata berisi sebuah video. Langsung saja dia memutar video itu.
Terlihat seorang gadis, berjalan keluar dari klinik dokter mata, tak berselang lama, datang sebuah mobil berhenti di samping gadis itu, dan segera menarik gadis itu ke dalam mobil.
"Bukankah dia?" Riko tak meneruskan kalimatnya tapi langsung melihat Johan.
"Iya, anda benar pak, dia putri dari supir itu!"
"Jadi dia di culik?"
"Sial!" Riko menggeretakkan giginya.
"Apakah cuma ini?"
"Sebentar pak, saya cek dulu!"
Johan menyelusuri email nya, mungkin saja ada video lain yang masuk.
"Oh, ini pak!"
"Nomor plat dan mobil nya sama seperti yang membawa gadis tadi!"
Riko melihat, ternyata benar, dan kelurlah gadis tadi dengan di bopong oleh dua orang, memasuki sebuah gudang kosong.
"Pak Riko tenang saja!"
"Gadis itu gak akan di bunuh!"
"Kami akan segera membuat rencana kejutan untuk mereka, pak Riko hanya harus fokus saja dengan keluarga.
"Takutnya mereka tahu bahwa pak Riko telah mengetahui semuanya."
Riko tak menjawab pernyataan dari detektif sekaligus pengacara keluarganya. Memang benar yang di katakan Johan, dia harus fokus dengan keselamatan keluarganya.
-----
Mira terlihat gelisah setelah melihat jam tangannya telah melewati angka dua, pengirim USB itu terlambat. Tak lama kemudian, ada seorang wanita paru baya yang mendekati mejanya,
"Mira?"
"Eh iya, silahkan duduk Tante!" ucap Mira setelah bangun dari kursi yang terasa panas sedari tadi, setelah wanita itu duduk, Mira memanggil waiters untuk memesan,
"Tante mau pesan apa?"
"Green tea latte saja!"
"Oke mas, Green tea latte nya dua ya!"
"Baik." Waiters itu meninggalkan mereka.
Mira tak tahu harus mulai dari mana untuk menanyakan perihal video yang dikirimkan kepadanya. Namun ternyata wanita itu menangkap kegusaran Mira,
"Ma'af tante membuatmu bingung dengan mengirimkan kamu USB melalui boneka itu!"
"Saya hanya ingin tahu kebenarannya tante!"
"Tante minta ma'af untuk kejadian yang telah berlalu itu!" ucap wanita itu sereya menyeka air mata yang jatuh ke pipi nya.
"Saya gak tahu harus ngomong apa tante!"
"Karena saya tak menyangka kalau ternyata yang saya kira..." Mira menyeka air mata nya dengan kasar.
"Yang saya kira suami tante karena keteledorannya dalam keadaan mengantuk menabrak bos saya, ternyata semua itu bohong!" air mata Mira mengalir dengan deras.
Wanita itu menggenggam tangan Mira berusaha menenangkan dan meminta ma'af.
"Ma'afkan almarhum suami tante!"
"Tante juga baru tahu, kalau ternyata suami tante itu merencanakan semuanya!"
"Hik.. hik.. hik.." wanita itu juga menangis.
"Tante baru tahu sebelum suami tante bunuh diri!"
"Kenapa suami tante bunuh diri?"
"Apakah dia berusaha lari dari hukuman?"
"Bukan seperti itu nak!"
"Itu permintaan orang yang menyuruhnya!"
"Apa?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya!