
"Kamu mau makan apa?" tanya Riko seraya membuka daftar menu di restoran itu.
"Samain saja sama mas!"
"Ok."
"Pesan nasi keju tuna nya 2 ya mbak!"
"Sama minumnya jus jeruk 2!"
"Baik, silahkan menunggu!" pelayan meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan.
"Mas Riko kenapa ngajakin Mira makan disini? kan jauh dari kantor!"
"Sengaja kok, hehehe."
"Mas nanti langsung berangkat ke Jakarta, makanya sekalian pamit sama kamu!"
"Oh." jawab Mira datar.
Apaan cuma oh. Riko.
"Ini mbak, mas, pesanannya," kata pelayan dengan meletakkan piring di meja.
"Selamat menikmati!"
"Makasih mbak." jawab Mira seraya mengambil jus jeruk.
"Selamat makan!" ajak Riko setelah meminum jus pesanannya.
-----
Di kantor. Riko masuk ke dalam kantor kakaknya, setelah mengantar Mira. Riko berpapasan dengan seseorang yang tak asing, dia mengganggukkan kepalanya, orang itu pun membalas anggukan Riko,
"Kak, tadi siapa kok kayaknya Riko pernah ketemu dia?"
"Dia dulu detektif yang menyelidiki kecelakaan kamu dulu!"
"Oh, trus kenapa dia sekarang kemari?"
"Kakak punya petunjuk baru! tapi masih belum pasti juga!"
"Yang penting kamu hati-hati saja!"
"Kakak juga hati-hati dong!"
"Iya, gimana?"
"Sudah pamit sama Mira?"
Riko kaget dengan pertanyaan kakaknya, kok dia bisa tahu.
"Gak usah kaget, kakak sama kakak ipar mu sudah tahu!"
"Kami merestui mu! Semangat!"
Riko tersenyum mendengar hal itu.
"Makasih kak!" Riko merangkul disisi kanan, sehingga kakaknya oleng ke kanan.
"Titip kakak ipar sama keponakan mu ya!"
Riko mengerutkan dahi nya.
"Kakak mau kemana?"
"Gak kemana-kemana!"
"Mungkin 3 hari lagi kita punya kabar dari detektif itu!"
"Kakak akan kirim lewat email, kalau sudah ada perkembangannya!"
"Separah itu ya kak?"
"Sudah 2 tahun loh, baru ada celah lagi!"
"Iya, mungkin ini yang terparah, dia buat ulah lagi!"
"Mungkin juga, karena sekarang dia kurang perhitungan!"
"Riko boleh tahu gak kak siapa orang nya?"
Pak Angga memandangi Riko penuh dengan teka-teki.
-----
Mira berhenti sejenak dari aktifitas rutinnya setelah mendapat sebuah pesan. Tertera nama Mas Riko.
Aku berangkat, jaga diri baik-baik!
Jangan lupa makan!
Iya mas, Bismillah!®
Bismillahirrohmannirrohim.
"Huff." Mira memandangi sebentar ponselnya itu, lalu meletakkan kembali ke tempat semula.
-----
"Pulang yuk Ren!" ajak Mira serambi mendorong kursinya.
"Loe duluan saja sama Faisal!"
"Gue lagi tanggung nih!"
"Gue juga lagi tanggung!"
"Kamu duluan saja Mir!"
"Katanya mau mampir ke suatu tempat dulu!" kata Faisal tanpa menoleh dari layar komputer miliknya.
"Ya sudah, aku duluan ya!"
"Bye!" Mira berlalu meninggalkan kedua temannya.
__ADS_1
"Loe kenapa?" tanya Rena penasaran.
"Kenapa memangnya!"
"Gak biasanya loe nolak ajakan Mira!"
"Loe ditolak Mira ya?" tanya Rena dengan memincingkan matanya.
"Gak tuh, emang lagi tanggung gue nih!"
"Percaya deh!"
-----
Dua minggu berlalu.
Seperti biasa Mira hari ini berangkat ke kantor dengan naik bis. Saat di persimpangan jalan, bis yang ditumpangi Mira berhenti mendadak. Ternyata ada sebuah kecelakaan. Awalnya Mira turun hendak mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan karena takut kalau berlama-lama di lokasi kecelakaan itu, tapi secara tak sengaja dia melihat plat mobil yang terguling. Iya, itu nomor plat yang di kenal Mira, nomor plat mobil milik pak Angga. Segera Mira ikut berdesakan dengan orang-orang yang berkerumun.
"Pak Angga?" teriak Mira histeris, semua orang memandangi Mira.
"Tolong siapa saja! tolong panggilkan ambulans!"
"Pak bangun pak!" Mira duduk tersimpuh di dekat mobil yang telah ringsek tak berbentuk karena di tubruk truk tronton dari arah berlawanan.
-----
Di rumah sakit. Mira dan para tenaga medis berlari menuju IGD. Salah seorang perawat meminta Mira untuk mengisi pendaftaran serta tanda tangan persetujuan operasi. Setelah menyelesaikan prosedur rumah sakit itu Mira buru-buru mengambil ponselnya,
"Hallo Assalamu'alaikum, ada apa Mir?"
"Waalaikumsalam bu. Pak Angga bu, pak Angga." Mira menangis tanpa bisa meneruskan kata-katanya.
"Bapak kenapa Mir?"
"Huhuhuhu..."
"Kamu dimana?" tanya suara disebrang telfon itu khawatir.
"Mira di rumah sakit Healty bu! huhuhuhu..."
"Baik ibu kesana!"
Ponsel dimatikan. Mira terus menangis, dia khawatir dan syok melihat pak Angga orang yang dia anggap sebagai bapak nya sendiri, didepan matanya kecelakaan banyak darah bercucuran bahkan tadi pak Angga juga mengalami kejang saat di mobil ambulans tadi.
-----
Bu Eny datang langsung menuju ke ruang IGD, memeluk Mira dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Bu Eny jatuh tersungkur setelah mendengar penjelasan Mira. Tak sanggup menerima kenyataan itu, bu Eny jatuh pingsan.
------
"Papa..." teriak bu Eny bangun dari pingsannya.
"Ibu sudah bangun?" tanya perawat yang sedang ada disampingnya.
"Suami saya bagaimana sus?"
"Suami ibu masih di operasi bu, mohon bersabar!" kata perawat itu menenangkan.
"Gadis yang bersama saya tadi kemana sus?"
"Oh, dia ada di ruang transfusi darah bu. Suami ibu mengalami pendarahan, butuh banyak darah, kebetulan di rumah sakit ini hanya tersedia 1 kantong!"
"Huhuhuhu!" bu Eny menangis tanpa henti.
Jeglek.. suara pintu dibuka,
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Rama khawatir.
"Bapak Ram bapak, huhuhu..."
"Bismillah bu, ibu berdoa saja!" Rama memeluk bu Eny untuk menenangkannya.
-----
Mira mendekati Rama yang tengah duduk di kursi tunggu,
"Bu Eny sudah siuman mas?" tanya Mira seraya duduk disampingnya.
"Sebenarnya tadi sudah siuman tapi,"
"Karena masih syok ibu pingsan lagi, sekarang dokter lagi memeriksanya!"
"Mas bagaimana ini?" Mira terisak-isak membayangkan hal yang terburuk.
"Sudah tenang saja! pak Angga orang baik, pasti beliau akan baik-baik saja!" Rama menyandarkan kepala Mira ke bahunya.
Mira dan Rama berdiri setelah dokter yang memeriksa bu Eny keluar dari ruangan,
"Gimana keadaan pasien dok?" tanya Rama cemas.
"Pasien masih syok, sebentar lagi bangun,"
"Tolong jangan bercerita yang akan membuat pasien syok lagi!"
"Baik dok!"
"Kalau begitu saya permisi dulu!"
Mira masuk kedalam ruangan dimana bu Eny dirawat, sementara Rama menunggu pak Angga yang masih dioperasi.
Mira memegang tangan bu Eny, sesekali dia mengecek ponselnya jikalau Rama mengirim sebuah pesan.
Tangan bu Eny bergerak,
"Bu... ibu dengar suara Mira?"
Perlahan-lahan bu Eny membuka matanya, lalu menangis,
"Bapak Mir... Bapak... huhuhuhu."
Mira memeluk bu Eny,
"Menangislah bu, itu bisa membuat ibu lega!"
"Huhuhuhu!" tangisan bu Eny, terdengar pilu sekali.
Mira menitihkan air matanya. Dia berusaha tegar, agar bu Eny tidak lebih terpuruk lagi.
"Apa yang bisa Mira bantu bu?"
__ADS_1
"Tetaplah bersama ibu! hik... hik.. hik.."
Mira mengangguk sebagai jawabannya.
"Ibu mau kemana?"
"Ibu mau nungguin bapak! hik... hik... hik..."
Saat bu Eny ingin melepas selang infus ditangannya, Mira mencegah,
"Jangan dicabut bu!"
"Kalau mau nungguin bapak, ibu harus kuat!"
"Biar Mira yang bawa!"
Bu Eny menurut, Mira membawa penyangga infus untuk mengikuti bu Eny menuju ruang tunggu operasi, menyusul Rama.
-----
Pas sekali pada saat Mira dan bu Eny sampai di ruang tunggu operasi, Dokter yang mengoperasi pak Angga keluar,
"Bagaimana keadaan suami saya dok?"
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, tinggal menunggu perkembangan selanjutnya!"
"Kini suami ibu akan kami pindahkan ke ruang ICU!"
"Untuk wali pasien silahkan menunggu di ruangan saya!"
"Saya akan menjelaskan mengenai operasi pasien!"
"Bolehkah saya melihat suami saya dok?"
Dokter itu memberi kode suster yang ikut dalam operasi itu,
"Boleh bu! silahkan ikut saya!"
Bu Eny melihat Rama,
"Biar saya yang menemui dokter bu!"
"Ibu sama Mira jenguk pak Angga dulu!"
Bu Eny dan Mira mengikuti suster tadi.
-----
Di ruang dokter.
"Bagaimana keadaan pasien dok?"
Dokter itu memutar komputer di depannya agar mengarah ke kursi duduk Rama, dan menjelaskan yang telah dialami pak Angga.
"Akibat benturan keras di kepala, pasien mengalami cendera aksonal difus, hal ini tidak menyebabkan perdarahan di kepala, tapi justru bisa merusak sel otak dan pembengkakan."
"Dan juga pasien mengalami patah tulang rusuk, dimana tulangnya menusuk paru-paru!"
Dokter juga memperlihatkan hasil rongent pak Angga.
"Kemungkinan sembuh total berapa persen dok?"
"Hmmm...," nafas dokter itu terdengar putus asa.
"Berdoa saja, meskipun kami menilai yang terburuk, hanya Tuhan yang bisa menentukan keadaan mahkluk ciptaan-Nya."
Rama termenung mendengar penjelasan dokter.
-----
Di ruang ICU. Bu Eny mengenakan baju steril yang diwajibkan jika menjenguk pasien ICU.
Bip... bip... bip.. (suara monitor)
"Pa... hik... hik... papa bangun dong!"
"Papa gak kangen sama Mama dan juga Izza?"
"Pa... Papa tahu gak? kalau tadi pagi Mama sudah mengajukan surat pengunduran diri?"
"Mama mau kasih surprice ke Papa!"
"Tapi apa ini Pa?"
"Hik... hik... hik... Papa kenapa harus ada disini?"
"Huhuhuhuhuhu."
-----
"Mas Riko? angkat dong!" Mira mondar-mandir dengan ponsel ditangannya.
"Gimana? sudah ada jawabankah dari Riko?"
"Belum mas."
"Kirim pesan saja!"
"Mungkin dia sedang rapat!"
Mira mengikuti saran dari Rama.
"Mas mau jemput Izza dulu ya!"
"Kamu disini sendiri gak pa pa kan?"
"Eh iya mas, Mira gak pa pa."
"Mas hati-hati! Bismillah!"
"Iya Bismillahirrohmannirrohim."
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya. Dan tolong kalau memberi krisan yang membangun ya, jangan menjatuhkan. Author gampang baper soalnya. Hehehe.
__ADS_1