
Mira terlihat cantik dengan tunik berwarna hitam, di area leher yang berbentuk V ada bunga-bunga kecil berwarna senada, sedangkan panjang lengan tunik itu hanya ¾ saja di ujung lengannya berbentuk tali, terlihat sempurna tunik itu dengan bentuk rempel di ujung bawah nya serta tali di pinggang tunik itu. Mira memadu padankan tunik itu dengan celana jeans dan kerudungnya berwarna navi. Mira memakai kerudung jika sedang bepergian misalnya ke Mall, liburan bersama majikannya, ataupun pulang kampung seperti sekarang.
"Mbak Mira?" tanya Riko kaget melihat penampilan Mira.
"Apaan sih mas?" jawab Mira malu. Refleks Mira menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Mbak dandan kan? hayo ngaku?" Riko menunjuk Mira.
"Hihihi." Riko menutup mulutnya.
"Gak ah mas." jawab Mira malu, dia berlari ke depan rumah menghindari Riko.
Apaan sih mas Riko, cuma make lip balm aja dia dah tau. Mira.
"Bu, Rama pamit ya! Assalamu'alaikum!" pamit Rama seraya mencium punggung tangan Ibunya.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya nak!"
"Da, mak!" pamit Riko dibelakang kemudi mobil.
"Hati-hati mas!"
Riko menjawab jengan jempolan tangannya saja. Sedangkan Mira balik ke teras rumah untuk berpamitan sama mak Idah,
"Assalamu'alaikum mak, Mira pamit."
"Waalaikumsalam, Bismillah ya Mir, semoga kamu dibolehin sekolah sama keluarga mu!"
"Aamiin, Makasih doa nya mak."
"Iya."
Mira pun masuk dan duduk di jok tengah mobil itu, tak lupa dia memakai safe belt. Mobil pun berjalan.
----
Disepanjang perjalanan Riko dan Rama hanya membahas soal pekerjaan saja, mira tak menghiraukan obrolan mereka dia lebih fokus dengan buku ditangannya.
"Mbak taukan hotel X di kota mu?" tanya Riko sembari melihat Mira dari spion.
"Gak mas, hehehe."
"Loh kok gak tau, trus mbak nanti gimana pulangnya?" tanya Riko heran,
Heran banget sama makhluk ini, masa di kota nya sendiri gak tahu. Riko.
"Lah makanya itu mas, mbak gak mau dianterin mas, mbak kan gak tau jalannya." jawab Mira jujur.
"Trus waktu pulang lebaran kemarin gimana?"
"Waktu itu kan mbak sama mbak Ima, habis dari terminal ngojek."
"Hadeh mbak, trus gimana ini nanti belok kemana?"
"Gimana kalo mas nurunin mbak di terminal aja, nanti mbak ngojek dari sana!" kata Mira memberi solusi.
"Apaan sih mbak, kan Aku juga mau minta ijin sama keluarga mu, tentang sekolah!" ucap Riko jengkel.
"Oh ma'af mas, mbak lupa, hehehe." Mira pun bingung.
"Nanti loe turun aja dipos polisi Ko, biar gue yang nanya jalannya!"
"Tumben loe pinter, kenapa gue gak kepikiran ya?" kata Riko serasa mendapat sekilas cahaya dari surga.
"Ma'af mas Rama, mbak ngrepotin!"
"Gak pa pa kok mbak."
"Nama kampung mu apa mbak?"
"Desa A kecamatan B mas."
Rama tak menjawab dia cuma mengangguk-angguk.
Setelah sampai di pos polisi terdekat, Rama turun dari mobil dan bertanya. Tak terdengar apa yang Rama dan pak Pol bicarakan, Rama kembali kedalam mobil dengan membawa selembar kertas,
"Apaan yang loe bawa?"
"Peta."
"Hahaha, Gue jadi inget kartun Dora?"
"Mbak Mira Dora nya, hahaha."Tak henti-hentinya Riko meledek mbak Mira,
__ADS_1
"Mbak-mbak kamu itu lucu sekali, masa dikota sendiri gak tau jalan."
"Mbak kan gak pernah keluar rumah mas," jawab Mira jujur.
"Jadi ya gak tau jalan, pernah keluar juga gak nggeh, penting sampe tujuan."
lanjut Mira ketus, sebenarnya Mira juga malu karena tidak tahu jalan di kotanya sendiri, tapi mau gimana lagi, memang Mira tak tahu.
"Udah lah Riko, kan juga ada peta sekarang!" Rama berusaha menghentikan tawa Riko yang masih terdengar.
"Lucu bro, masa kota sendiri gak tahu jalan, hahaha." Ledek Riko sesekali mengintip Mira di kaca spion itu, dia tak ingin melewatkan moment indah itu.
Mira hanya cemberut saja, melihat tingkah Riko, dia melanjutkan membaca buku yang tertunda. Sedangkan Rama tak habis pikir, Riko akan meledek Mira sampai segitunya, karena saat bekerja Riko terlihat sangat serius. Dia juga menganggap aneh Mira, karena tak tahu jalan. di kotanya sendiri. Sesekali Rama melihat peta ditangannya,
Oh pantes, kampungnya jalannya berkelok-kelok gini, terpencil lagi, mungkin juga mbak Mira jarang ke Kota.Rama.
Riko menanyakan peta itu dan Rama memberitahu arahnya, sedangkan Mira masih membaca bukunya, saat melewati daerah yang dikenal Mira, Mira nyeletuk,
"Nah mbak dah inget mas jalannya, itu sekolah Mbak."
"Ini sekolah mbak yang dulu?" tanya Riko.
"Iya mas."
"Tanggung, liat peta aja."
"Terserah!" jawab Mira ketus.
Sedangkan Rama cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah mereka. Ketika melewati jalan bebatuan Riko mengeluh,
"Ini kenapa jalannya jelek banget, gak ada jalan yang mulus apa mbak?"
"Ada lah mas." jawab Mira antusias.
"Kenapa gak ngomong dari tadi!"
"Kata mas Riko, liat peta aja." sengaja Mira menekan kata peta.
"Ya udah ma'af," Riko menghentikan mobilnya.
"Jalan mana yang mulus mbak Mira yang cakep?"
Mira terkekeh, "Lewat sawah tapi jalan kaki, di jamin mulus, hihihi." refleks Menutup mulutnya.
"Kan mas nanya jalan mulus, tuh kan dipetanya juga cuma satu jalan poros desanya!" Mira menunjuk peta yang dipegang Rama.
"Iya nih, tadi sempet heran juga mbak Mira punya jalan lain."
Akhirnya Rama punya kesempatan bicara juga.
"Hehehe, ma'af mas."
Enak aja minta ma'af, lain kali harus gue balas nih orang. Riko.
Setelah melewati tugu desa mbak Mira, ada pemandangan takjub yang menentramkan Riko dan Rama, orang membajak sawah dengan menggunakan traktor, menanam padi, mencabut bibit padi, dan masih banyak lagi.
"Wah adem banget ya di desa."
"Gue juga pernah tinggal di desa, tapi gak seadem desa nya mbak Mira." Rama mengok mbak Mira.
"Mas dulu juga tinggal di kampung?"
"Iya mbak, kalo lebaran masih sering kesana."
"Ou."
"Mbak ini belok kemana?" tanya Riko saat melewati pertigaan.
Mira pun memandu jalan.
"Belok kanan mas."
"Sekarang belok kiri mas."
"Belok kiri mas, tapi itu bisa gak ya dilewati mobil?"
"Biar gue yang turun aja!" celetuk Rama kemudian membuka pintu mobil. Rama melihat-lihat jalan yang akan di lewati, kemudian kembali,
"Mbak, nanti ada tempat puter balik mobil gak?"
"Oh ada mas, halaman rumahku luas."
"Bisa lewat bro, ayo jalan!"
__ADS_1
Riko mengemudikan mobil itu dengan pelan, jalan yang tadi nya sepi, sekarang banyak anak kecil yang mengikuti mobil itu.
"Horeeee, mobil ku dah dateng, horeeee." teriak anak-anak kecil itu.
"Nah itu mas rumah tembok kayu cat putih itu rumahku!" Mira menunjuk rumahnya.
Riko menghentikan mobilnya, sementara Rama dan Mira keluar dari mobil itu. Mereka masuk rumah diiringi anak-anak yang mengikuti mereka dari tadi.
Terlihat rumah dengan tembok kayu, warna cat putih pun sudah mulai memudar, genteng yang sudah menghitam. Disekitar rumah Mira juga banyak sekali pohon rindang, ada bunga kenikir mengelilingi halaman rumahnya, juga ada bunga mawar merah menyala kebetulan sudah bermekaran.
"Mbak Mira pulang,,, mbak Mira pulang." serentak anak-anak itu berteriak. Mira pun malu melihat tingkah anak-anak itu.
Riko dan Rama terlihat biasa saja.
"Ayo masuk mas!" ajak Mira.
"Assalamu'alaikum." ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam." ada jawaban dari dalam rumah.
"Loh Mira, kamu sama siapa ini?" seraya menyalami Riko dan Rama.
"Sama majikan Mira mbak,"
"Ini mas Riko dan ini mas Rama."
"Ini mbakku mas."
Mira mengenalkan mereka.
"Salam kenal mbak."
"Salam kenal juga Dik."
"Bapak sama Ibu mana mbak?"
"Masih di sawah Mir,"
"Gus Agus, tolong pangil lek Siti,"
"Bilangin ada tamu!" Ucap mbak Indah pada seorang anak yang bermain disekitar mobil.
"Iya mbak, ayo..." anak kecil itu mengajak teman-temannya. Mereka meninggalkan mobil itu, suasana nya pun terasa sepi hanya mereka berempat.
"Ini mbak, saya kemari mau minta ijin!"
"Ijin apa mas?" tanya mbak Indah penasaran, menengok Mira.
"Bolehkan mbak Mira sekolah lagi mbak? kebetulan di kompleks sudah ada yayasannya." kata Riko hati-hati.
"Hemmm, kalo saya sebagai mbaknya Mira, setuju-setuju saja,"
"Kan juga demi masa depannya Mira." mbak Indah menggenggam tangan Mira.
"Tapi gak tahu halnya dengan Ibu sama Bapak, nanti saya bantu bicara!"
"Iya mbak, tolong dibantu! ini kan demi masa depan adik mbak sendiri."
"Iya, kalian sudah makan?"
"Belom mbak, tadi waktu berangkat cuma sarapan aja." jawab Mira.
"Gak usah repot-repot mbak!" kata Rama.
"Iya mbak, nanti kita makan di hotel saja." sambung Riko.
Krucuk... krucuk... suara perut Rama. mereka melihat Rama bersamaan. Rama pun malu dibuatnya.
"Tunggu sebentar ya Dik, biar mbak sama Mira siapkan!"
"Ma'af kita merepotkan mbak."
"Gak repot kok Dik, anggap saja rumah sendiri!"
"Iya mbak makasih."
Mbak Indah mengajak Mira menyiapkan makanan, sementara Riko dan Rama keluar menikmati udara desa yang indah nan sejuk.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama Author. Mohon kritik dan sarannya. Ma'af jika ada tanda baca ataupun typo. Mohon bimbingannya.