Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 48


__ADS_3

Hadeh gak tau juga style nya Riko, masa mau nglamar di kasih baju kantoran, hmmm... Bu Eny.


"Bu! Memangnya acara apa? sampai saya harus dandan begini?"


"Bukan apa-apa!"


"Nanti kamu juga tahu sendiri!"


"Sudah ayo berangkat!"


Mobil berjalan. Mira tak berbicara lagi dan memilih diam.


-----


Di Kantor.


Saat memasuki Kantor. Security yang pertama kali di temui mereka, memberikan sebuah bunga mawar putih untuk Mira,


"Eh ini apa pak!"


Bukannya menjawab Security itu hanya tersenyum dengan Mira. Kemudian kedua reseptionis juga memberikan Mira bunga mawar putih. Dan semua yang Mira temui memberikan mawar putih, sampai Mira mendekap semua bunga mawar pemberian mereka. Mira bingung namun mereka yang memberikan mawar itu tak menjawabnya.


Bu Eny dan Mira menuju ke lantai atas, ruangan rapat terluas. Mira semakin risau, kenapa rapat kali ini dia tak membawa dokumen apapun? begitu pikirnya.


Sampai di ruangan itu, Faisal dan Rena menunggu mereka di pintu, tak lupa juga membawa mawar putih di tangannya,


"Kalian juga!"


"Ehem, ini minum dulu!" Faisal memberikan sebotol air mineral untuk Mira.


"Aku gak haus!"


"Biar gue saja yang bawa!" Rena mengambil air mineral di tangan Faisal.


"Ayo masuk!" ucap Bu Eny.


"Ayo!" Rena menggandeng Mira dan Faisal membukakan pintu untuk mereka.


Di ujung pintu Mira melihat ada Riko tepat di ujung ruangan itu dia terlihat sangat tampan dengan jas berwarna coklat susu seperti yang dikenakan oleh Mira. Terdengar gemuruh suara tepuk tangan untuk mereka berdua. Kini Bu Eny, Rena dan juga Faisal ikut bergabung dengan karyawan lainnya, menyaksikan Mira yang berjalan menghampiri Riko.


Kurang dari lima langkah Mira berhenti dan tersenyum malu, Riko menghampirinya dengan senyum yang mengembang sedari tadi,


Deg... deg... deg... deg... suara jantung mereka yang saling bersahutan.


"Apa Adek malu?"


"Iya mas!"


Riko tersenyum. Kini semuanya berhenti bertepuk tangan dan tak berbicara, mereka akan menyaksikan apa yang akan Bosnya katakan kepada karyawan yang spesial itu. Riko memberikan bunga mawar merah untuk Mira dan setelah menerimanya Mira mencium mawar merah itu dengan senyum bahagianya.


Yunita memutar sebuah deretan foto yang dibingkai dalam bentuk film, saat film itu di putar ada lagu didalamnya yaitu sebuah lagu Nine ball-Hingga Akhir Waktu (Entah lagu ini masuk apa gak untuk lamaran, tapi Author sangat suka lagu ini, jadi ya dimasukin saja hehehe).


Foto di kedai Es krim, saat Riko menyatakan cinta nya.


"Di tempat ini, aku mengatakan bahwa aku menyukaimu!"


"Kalau diingat-ingat! benar juga ya kalau kamu tak.menjawabnya!"


"Aku kan gak bertanya 'maukah kamu menjadi kekasihku?'"


Mira dan lainnya tertawa dengan ucapan Riko.


Foto saat mereka duduk berdua di taman, tepatnya saat mereka resmi pacaran,


"Saat aku berada di masa sulit, engkau mau menjadi sandaran ku!"


"Itu sungguh sangat berarti bagiku!"


Foto saat mereka makan bersama di ruangan Riko,


"Sungguh aku sangat bahagia sekali saat makan bersamamu!".


Foto saat manghadiri pesta pernikahan di Malang.


"Temani aku selalu, agar aku bisa terus melihat mu!"


Foto saat makan di restoran bersama karyawan yang lainnya.


"Melihat mu tertawa, aku ingin selalu membuat mu bahagia!".


Foto makan di warung bakso langganan dekat kompleks. Foto makan jagung bakar. Foto di balkon saat ulang tahun Mira. Foto mengganti perban Mira. Dan terakhir foto saat Mira tertidur di mobil. Mira menutup mulutnya dan hampir menangis terharu, tak disangkanya Riko mengambil fotonya diam-diam.


Riko memegang tangan Mira dan berkata,


"Ku Ingat dulu engkau datang pertama kali saat aku melihatmu, engkau begitu manis! masih seperti sekarang,"


"Ku ingat dulu saat aku sering membuat mu takut dan menggoda mu, itu membuat ku senang,"


"Entah kapan rasa ini mulai datang! saat aku menunggu mu dua tahun yang lalu dan baru delapan bulan yang lalu kamu menerima ku itu sudah cukup untuk ku memantapkan hati untuk mempersunting mu!"


"Tak perlu risau akan semua yang engkau khawatirkan selama ini saat bersama ku!"


"Aku minta berbagilah rasa suka, duka, risau, bingung, dan apapun itu kepada ku!"


"Agar aku bisa merasakan apa yang engkau rasakan!"


"Engkau adalah alasan ku berdiri tegak disini dan semangat ku selama ini!"

__ADS_1


"Dengan Bismillah!"


"Mau kah engkau menjadi makmum ku?" ucap Riko dengan menekuk kaki kirinya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya.


"Terima!" Bu Eny berucap.


"Terima... terima... terima...!" suara gemuruh seluruh karyawan yang ada di ruangan itu.


Mira menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan mengulurkan tangan kanan nya. Riko memasangkan cincin di jari manisnya.


Plok... plok... plok... suara gemuruh tepuk tangan di ruangan itu.


Riko berdiri dan langsung memeluk Mira. Semua orang memberi selamat untuk Mira dan Riko. Dan hari ini mereka semua makan bersama di ruangan itu dengan makanan yang di masak oleh mereka sendiri tapi tentunya bahannya disiapkan oleh Riko. (Hahaha, Riko gak mau menyewa koki terkenal karena dia harus ngumpulin duit untuk pernikahan mereka nantinya).


-----


Di Mobil.


"Suka?" tanya Riko saat Mira memutar cincin darinya.


"Bukan suka lagi mas!"


"Tapi seneng banget!"


"Makasih ya mas!" ucap Mira seraya memeluk tangan Riko.


"Seneng sama orang nya apa sama cincinnya?" tanya Riko dengan membelai rambut tunangannya.


"Dua-duanya!"


"Lha kok?"


"Iya dong mas!"


"Kalau cuma sama mas Riko gak ada cincin tanda pengikatnya kan masih belum ada kepastian!"


"Kearah mana hubungan ini!" Mira tersenyum dengan menegadahkan dagunya melihat Riko.


"Begitu?" Riko mencubit hidung Mira.


"Aw, sakit mas!" Mira melepas pelukannya dan memegang hidungnya yang merah.


Cup... Riko mencium bibir Mira,


"Sudah?"


Mira menutup wajahnya, malu. Riko memeluk Mira tanpa berkata.


Deg... deg... deg... hanya jantung mereka berdua yang terdengar.


"Ikut mas ya!"


"Bertemu dengan Ibu mas!"


Mira mengangguk sebagai jawabannya. Riko melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


-----


Di Pemakaman.


Riko menggandeng Mira menuju ke tempat peristirahatan ke Ibunya Riko dan Kakaknya. Riko memperkenal Mira secara resmi, memang Mira tahu kalau Ibu nya Riko telah meninggal, tapi dia tak pernah diperkenalkan kepada Almarhumah secara resmi, meskipun berkali-kali dia berziarah ke tempat pemakaman itu.


"Assalamu'alaikum Bu!" ucap Riko lirih.


"Bagaimana kabar Ibu?"


"Tentu Ibu sudah tak asing dengan wanita yang bersama Riko kan?" Riko memegang tangan Mira.


"Assalamu'alaikum Bu, saya Mira!"


"Kakak pasti juga sudah bercerita mengenai Mira kan?"


"Riko akan menikahinya Bu!"


"Riko minta do'anya ya! agar Riko bisa membahagiakannya!" Riko memegang nama Ibunya 'Dewi Senja Gunawan'.


Riko menegadahkan tangan nya dan berdo'a diikuti oleh Mira. Terakhir Mira dan Riko menaburkan bunga. Kini mereka beranjak ke makam Almarhum Pak Angga,


"Assalamu'alaikum Kak!"


"Assalamu'alaikum Pak!"


"Lihat Kak, akhirnya Aku bisakan melamar Mira!"


"Sayang sekali kakak tak bisa menyaksikannya!"


"Kami minta do'anya ya kak!"


"Do'akan yang terbaik untuk kami!"


"Oh ya kak! Izza sudah besar loh!"


"Kak Eny juga sudah mau keluar dari rumah dan dia bekerja di kantor kita kak!"


"Kak...!"


"Riko titip Ibu ya!"

__ADS_1


Riko menegadahkan tangannya untuk berdo'a dan diikuti oleh Mira, terakhir mereka menaburkan bunga dipusara Almarhum Pak Angga.


Mereka berdiri dan meninggalkan pemakaman itu. Mira tak berani menanyakan makam Ayah Tunangannya itu, karena memang dia pernah mendengar bahwa Ayah Riko juga sudah meninggal tapi sampai saat ini dia tak pernah berkunjung ke makamnya.


-----


Di Restoran milik Tara, Sahabatnya Mira.


"Wah-wah, tumben Pak Riko ikut!"


"Mau minta ijin ya ikut dong!" jawab Riko.


"Kamu apaan sih Ra!" Mira menyenggol bahu Tara.


"Mau pesan apa nih?"


"Menu favorit deh!"


"Oke, sebentar ya!" ucap Tara seraya berlalu.


Rinding... ding... ding... bunyi ponsel Riko tanda panggilan.


Riko membagmbul ponselnya dari saku dan melihat siapa yang menelfonnya, terlihat dia mengerutkan dahinya,


"Bentar mas angkat telfonnya dulu ya!" ucap Riko berdiri.


"Iya mas!"


"Aku juga mau ke toilet!"


Riko berjalan ke luar dari Restoran, sedangkan Mira ke toilet.


Mira keluar dari toilet langsung menuju ke dapur Restoran itu,


"Tara!" Mira memeluk sahabatnya itu dari belakang.


"Eh, lapasin dulu Mir!"


"Gak lihat aku lagi bawa nampan?"


Mira melepas pelukannya dan Tara menaruh nampannya di meja,


"Aku seneng banget!" ucapnya lagi dengan memeluk Tara dari depan.


"Kenapa?" Tara menepuk-nepuk punggung Mira karena Mira menenkannya terlalu keras.


"Aku di lamar Ra!"


"Yang benar?" ucap Tara memastikan.


"Iya Ra!"


"Lihat ini!" Mira memperlihatkan cincin tunangannya.


"Wah selamat ya Mir!" kali Tara yang memeluk Mira duluan.


"Iya, makasih ya Ra!"


"Iya, sama-sama!"


"Kamu sudah ngomong sama orang tua mu?"


"Belum Ra!"


"Mas Riko bilang, dia mau ikut saat aku pulang ke desa nantinya!"


"Oh, sekali lagi selamat ya Mir!" Tara menggenggam tangan Mira.


"Iya Ra!"


"Sudah-sudah, ayo aku antarkan pesananmu!"


"Tuh suamimu sudah menunggu mu!"


Riko melihat Mira dan tersenyum.


"Apaan sih Ra!"


"Calon suami!" Mira malu mengatakannya.


"Ya apa dong?"


"Kalau bukan calon suami?"


"Iya, hehehe!"


"Cie malu cie!" Tara menggoda Mira.


"Apaan sih Ra!"


"Sudah ayo sana!" Tara membawakan menu favorit yang Riko pesan ke meja dan Mira mengekorinya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2