
"Gimana sudah siap?" tanya Riko setelah melihat Mira keluar dari kamarnya.
"Sudah mas."
"Ayo!"
"Iya."
Mira dan Riko pergi setelah berpamitan dengan seluruh keluarga itu.
-----
"Pa?"
"Iya, ada apa Ma?" tanya balik pak Angga tanpa menoleh ke Istrinya itu.
"Papa tahu gak, kalau Riko suka sama Mira?"
"Tahu kok Ma!"
"Loh kapan Pa? Mama kok gak tahu?" tanya bu Eny penasaran.
"Dari dulu tuh, waktu Riko kecelakaan dan yang ngerawat kan Mira Ma." kata pak Angga yang masih fokus membaca koran ditangannya.
"Trus Pa?"
"Mira kok kayaknya gak ngrespon ya Pa?"
"Mama lihat Mira cuek sama Riko."
"Biarin saja Ma!"
"Mungkin Mira nya malu atau memang dia gak suka sama Riko." jawab pak Angga santai.
"Kalau mereka jadian, Papa setuju gak?"
"Papa sih setuju-setuju saja Ma,"
"Kan yang ngejalani hubungan juga mereka!"
"Papa gak mau ikut campur!"
"Kalau Mama juga setuju Pa."
"Pa gimana kalau Mira nolak Riko?"
"Gak tahu Ma!"
"Sudah ah, Papa mau tidur saja!" pak Angga berdiri setelah meletakkan koran di meja kemudian berjalan menuju kamarnya.
"Ah Papa, diajakn ngobrol, Mama malah ditinggal." kata bu Eny kesal.
"Mama..." teriak Izza dari ujung tangga atas.
"Iya sayang!"
"Hati-hati!" pinta bu Eny pada putrinya yang berlari menghampirinya.
"Sudah selesai, belajarnya?"
"Sudah Ma." jawab Izza dengan memeluk Mamanya itu.
"Eh Ma, tadi Izza dengar Mama sama papa lagi ngomongin Om Riko sama Kak Mira ya?"
"Nguping nih ye!" ledek bu Eny.
"Gak nguping aku tuh Ma!"
"Cuma gak sengaja denger."
"Ok deh Mama percaya!"
"Ma kemarin waktu Izza ke mall sama mereka, Izza curiga deh Ma!"
"Curiga kenapa sayang?"
"Izza dengar suara Om Riko lagi bicara gitu tapi di rekam, trus kan gak sengaja Izza dengar di mobil."
"Trus Ma, waktu Izza tanya, Om Riko sama Kak Mira panik gitu!"
"Oh ya?"
"Iya Ma!"
"Ya sudah, kalau begitu tidur siang yuk!"
ajak bu Eny setelah menguap karena ngantuk.
"Di Kamar Izza ya Ma?"
"Iya sayang!"
-----
Di mobil. Riko tersenyum-senyum sedari tadi, sesekali dia melihat Mira. Mira nampak cantik dengan Dress yang diberikan oleh Riko, Dress dari bahan brokat kombinasi sifon dengan model lengan pendek dan rok plisket dengan kesan simple namun tetap terlihat chic dan modern, apalagi Mira juga menata rambut nya dengan mengambil sedikit kedua sisi, lalu menyatukannya ditengah dan di ikat, dia memberi aksesori berupa pita kecil juga berwarna biru.
Mira menyadari jika Riko memperhatikannya,
__ADS_1
"Mas Riko, Mira lupa gak bawa hadiah nih!"
"Mas sudah beli, tuh di belakang!" tunjuk Riko menggunakan jempol, namun dia tak mengalihkan pandangannya dari Mira.
"Kamu tiduran saja dulu, masih lama kok perjalanannya!"
"Oh, iya mas." Mira pun berusaha memejamkan matanya, mengambil posisi kepala miring ke kanan, menghindari tatapan Riko.
Riko melajukan kendaraannya dengan cepat, agar mereka cepat sampai.
-----
"Hooooaaaammmm..." Mira menguap dia lupa kalau di sebelah kanannya ada Riko yang sedang mengemudi.
Riko pun tersenyum dengan tingkah Mira, karena menyadari bahwa ada dia di sebelahnya.
"Kenapa ditutupin muka nya?"
"Mira malu!"
"Ileran tuh!"
Mira gercep mengusap bibirnya kemudian dia mengambil kaca di dalam tas nya, menyadari dia dikerjai Riko, dia menjadi kesal.
"Hahaha, ketipu!"
Mira cuma cemberut saja tanpa menjawab kata Riko.
"Cie nambek cie...."
"Apaan sih mas!" kata Mira dengan mengkerutkan kening.
"Hehehe."
"Ini kapan sampainya mas?"
"Lama banget!"
"Bentar lagi!"
"Ini di Malang ya mas?" tanya Mira setelah melihat papan Reklame.
"Iya."
"Lokasinya bagus deh kayaknya, gak bosen kamu nanti, outdoor juga soalnya,"
"Trus, katanya ntar bisa petik buah apel sendiri, dan..."
"Dan apa mas?"
"Ntar kamu tahu sendiri!" kata Riko tanpa meninggalkan senyumannya.
"Mas kan juga gak tahu!"
Lagi-lagi Mira nambek.
-----
Riko memasuki kawasan dengan pohon cemara yang tinggi menjulang. Mira takjub dengan pemandangan disekitar, karena banyak bunga-bunga yang bermekaran. Riko berhenti di sebuah Villa yang cukup besar. Sudah banyak deretan mobil yang telah terparkir. Riko pun keluar dari mobil lalu memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Mira,
"Terima kasih mas!"
"Ayo, sepertinya kita sudah ditunggu!" kata Riko setelah mengambil kado yang berukuran sedang di kursi belakang.
"Ini! Kamu yang bawa!"
"Iya mas."
Mira berjalan mengekori Riko, lalu mereka berhenti saat penjaga menanyakan undangan mereka, Riko pun memberikan undangan itu.
"Silahkan ikuti saya Tuan, Nyonya!"
Mereka pun mengikuti pelayan itu. Villa yang mereka masuki, seperti villa pada umum nya. Tetapi saat mereka sampai diujung villa itu, ternyata mereka menuju ke sebuah tempat dimana pesta itu diadakan. Pelayan itu kembali setelah mengantar mereka.
Ternyata tamu undangan memakai warna gaun yang sama yaitu Biru, mungkin memang karena permintaan mempelainya. Banyak tamu yang sudah duduk ditempat yang telah disediakan, hanya sedikit kursi yang tersisa, dan semua tamu undangan ternyata tak lebih dari 200 orang. Saat mereka berjalan untuk duduk di kursi yang masih kosong, Riko mengadeng tangan Mira, Mira kaget, namun dia hanya diam saja.
Mira malu karena banyak pasang mata memperhatikan mereka, namun berbeda dengan Riko, dia nampak percaya diri, karena ada wanita cantik yang ada disampingnya, tak lupa dengan senyumnya yang khas.
"Cuit... cuit..." teriak salah satu tamu undangan itu.
"Calon mempelai kedua nih!" sambung nya lagi.
Namun Riko tak memperdulikan mereka. Riko mengantar Mira untuk duduk, Mira pun menurut walaupun dia merasa asing, tak mungkin juga dia mengekori Riko,
"Nitip Mira ya Yes!" pinta Riko pada salah satu tamu yang masih asyik dengan ponselnya.
"Ah apa?" tanya gadis itu seraya medongkakan kepalanya.
"Kak Riko?" gadis itu tersenyum.
"Iya, ini kakak!"
"Kakak nitip dia ya! kasihan gak ada temannya, takutnya kesambet kalau gak ada temen ngobrol, hehehe!"
Mira mencubit pinggang Riko karena meledeknya.
"Aw... sakit tahu!" Riko mengelus pinggangnya.
__ADS_1
"Biarin."
"Dia pacar kakak ya?" tanya gadis itu kemudian berdiri dan menyalami Mira.
"Yesi."
"Mira." kata Mira tersenyum.
"Calon kakak!" kata Riko berbisik dan mengedipkan mata kanannya.
"Ok... Yesi pasti jaga dia, tenang saja kak!" kata Yesi seraya mengandeng tangan Mira.
Mira tak mendengar yang dikatakan oleh Riko pada Yesi, dia hanya tersenyum dengan perlakuan Yesi, gadis ceria yang baru di temuinya itu.
"Kakak mu mana?" tanya Riko setelah melihat tamu undangan, namun tak ada sosok yang dicarinya.
"Mungkin ke toilet kak!"
"Tuh!" Yesi menunjuk pria yang sedang berjalan kearah mereka.
Mira dan Riko menoleh,
"Baru datang loe?"
"Iya nih."
"Mira, kita ketemu lagi!"
Mira hanya menjawab anggukan dan senyum tipisnya.
"Kak Indra, kenal sama Mira?"
"Kenal dong, waktu Anniversary Mama Papa kan dia jadi tamu undangan."
"Kok Yesi gak tahu ya?"
"Apa jangan-jangan Mira yang pakai baju Yesi ya? yang buat kakak..." Yesi tak melanjukan kata-katanya karena tangan Indra sudah lebih cepat membekap mulut gadis itu.
"Hehehe." Indra hanya terkekeh karena kelakuannya sementara Riko dan Mira bingung.
Yesi menggigit tangan kakaknya, Indra pun mengaduh kesakitan.
"Syukurin!" olok Yesi pada kakaknya.
"Oh jadi baju yang saya pinjam milik Yesi ya Ndra?"
"Iya, hehehe." jawab Indra yang masih mengibaskan tangannya yang telah digigit adiknya.
"Sudah aku cuci baju nya Yes, tapi ma'af aku masih sibuk jadi belum sempat mengembalikan!" kata Mira dengan menggenggam tangan Yesi.
"Oh gak pa pa kok Mir,"
"Cuma aku penasaran saja siapa yang minjem baju ku, hehehe." kata Yesi dengan senyum menyeringai yang dia tunjukkan pada kakaknya.
"Sudah-sudah ayo duduk!"
"Tuh pengantinnya sudah dateng!" tunjuk Indra dengan dagunya itu.
Mira dan Yesi duduk berdampingan sementara Indra dan Riko duduk di sebrang mereka karena tamu undangn dipisahkan antara pria dan wanita.
Mempelai wanita sangat cantik dengan gaun berwarna ungu, tak kalah mengesankan mempelai pria pun terlihat gagah saat mengandeng istrinya itu.
-----
Acaranya berjalan dengan lancar. Tamu undangan sebagian berbaris menunggu bersalaman dengan kedua mempelai, sementara mereka berempat dan sebagian lainnya memilih untuk menikmati hidangan yang disajikan.
"Heist, kenalin pacar mu sama kita dong Ko!"
Riko tak menjawab mereka.
Mira menoleh kearah sumber suara itu, ternyata dia pria yang menyorakinya dengan Riko tadi.
"Kenalin, gue Dimas!"
"Gue Alvin."
Mereka berebut tangan untuk menyalami Mira, Mira pun bingung dibuatnya. Tak disangka ternyata Yesi yang menggantikan Mira untuk menyalami mereka,
"Dia Mira!" jawab Yesi enteng.
"Apaan sih loe Yes?"
"Iya nyebelin banget!"
Mira tak mau mengecewakan teman Riko dia pun menyalami Dimas dan Alvin secara bergantian,
"Mira."
"Mira."
"Sudah jangan lama-lama!" Indra menepis tangan Rizal yang masih menggenggam tangan Mira.
Mereka mengobrol dengan santai karena memang pesta itu bertemakan piknik, ada banyak tikar yang berjejer dan juga tenda-tenda kecil. Namun ada hal yang tak mereka sasari ada dua pasang mata yang mengintip mereka sedari tadi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.