
Beberapa saat kemudian Mira membawa dua gelas es blewah dan singkong rebus. Mira memanggil Riko dan Rama,
"Mas minum es nya dulu, mbak yang buat!" Mira sengaja memberitahu karena dia tahu mungkin Riko dan Rama tak menyukai minuman yang diberi perisa manis.
"Iya mbak." Rama menoleh saat sedang membuka laptop nya, sedangkan Riko sibuk bermain dengan anak-anak yang telah kembali.
Mira kembali ke dapur.
"Mir, bos mu suka pepes ikan gak?"
"Kebetulan mbak bawa pepes ikan dari rumah."
"Suka kok mbak, kadang mas Riko juga makan pepes ikan,"
"Tapi kalo mas Rama gak tahu mbak, baru tadi pagi ketemu mas Rama."
"Ya udah goreng tahu tempe aja buat lauknya,"
"Sudah ada sambal teri dan tumis bunga pepaya di meja."
"Iya mbak,"
"Mbak kapan kesini? kok Adi sama mas Dimas gak ikut?
"Tadi pagi, mas mu sama Adi lagi mancing sama pak dhe Teguh."
"Ou, makanya Mira belum lihat." Mira manggut-manggut.
"Ibu punya telur gak ya mbak?"
"Gak tau, biar mbak lihat dikandang ayam!"
"Ada Mir."
Mbak Indah membawa telur itu untuk dicuci.
"Biar Mira rebus mbak, mas Riko sering makan telur rebus soalnya."
Mira menggoreng tahu dan tempe serta 5 biji telur itu. Tak lama kemudian Bu Siti dan Pak Budi pulang mereka mandi bergantian, Disaat Pak Budi mandi, mbak Indah membicarakan tentang sekolah Mira, dia ingin memberi pengertian pada ibunya dulu.
"Kamu mau sekolah lagi Nduk?"
"Iya bu, majikan Mira yang biayain, tempat nya juga gak jauh kok bu."
"Kalo Ibu terserah kamu Nduk."
Mira tersenyum mendengar jawaban ibunya.
Sementara di depan rumah. Anak-anak terliat bersuka ria dengan kedatangan tamu dari kota, akan ada cerita menarik besok di sekolah. Suasana semakin ramai karena Riko membawa 1 tas plastik besar penuh dengan makanan ringan,
"Jangan rebutan ya!"
"Iya mas."
Agus yang terlihat lebih besar dari anak-anak membagikan makanan ringan itu.
"Mas ayo makan dulu!" ajak Mira. Dijawab anggukan ileh Rama.
Riko dan Rama pun masuk kedalam rumah, setelah berkenalan keluarga Mira, mereka menikmati makan siang. Tak seperti biasa saat Adi berkunjung ke rumah nenek nya, jika biasanya dia selalu aktif ke sana kemari, kali ini dia diam saja.
"Hai ganteng, namanya siapa?" tanya Rama dengan memegang tangan Adi sembari duduk.
"Adi."
"Adi umur berapa?"
"5 tahun." Adi mengangkat jemarinya.
"Adi sudah sekolah berarti ya?" sahut Riko.
"Sudah." jawab Adi malu-malu.
Mbak Indah membisik i Dimas, kemudian Dimas mengajak Adi pergi. Meskipun dia menantu keluarga tersebut untuk masalah ini Dimas tidak bisa ikut campur. Dimas pun berpamitan.
"Ma'af pak kedatangan kami merepotkan keluarga bapak."
__ADS_1
"Kami gak merasa direpotkan kok Le, malah kami sekeluarga mengucapkan terima kasih karena keluarga mas sudah menganggap Mira sebagai anak sendiri."
"Iya makasih loh mas, kemarin waktu pulang lebaran saja Mira sudah diberi pesangon yang banyak, jadi kami bisa beli kambing." kata bu Siti ikut nimbrung.
"Iya Bu sama-sama,"
"Sebenernya Saya dan teman saya kesini mau minta ijin sam Ibu dan bapak." Riko mengucapkan dengan hati-hati.
"Ijin apa to Le?" tanya pak Budi bingung, dia memang belum diberitahu oleh Mira, Indah, maupun bu Siti istrinya.
"Jadi gini pak, mbak Mira kan masih muda, rencana nya," Riko menghirup nafas dalam-dalam.
"Rencana nya, mbak Mira mau di daftarkan sekolah lagi, tapi mbak Mira menolak karena belum mendapat restu ibu sama bapak."
Mendengar penuturan Riko, pak Budi hanya terdiam, dia masih mencerna perkataan pemuda tampan itu.
"Kalo ibu sih terserah Mira mas, tapi kami sekeluarga kok merasa merepotkan," kata bu Siti yang tengah duduk di dingklik (bangku pendek untuk duduk).
"Kami sekeluarga gak merasa direpotkan kok bu, kami bahkan merasa senang,"
"Karena bisa menyekolahkan mbak Mira."
"Iya bu, mumpung mbak Mira masih muda,"
"Masa mau bekerja jadi babysitter saja,"
"Saya bu, juga di sekolahkan sama keluarga bpk Gunawan, sekarang saya juga bekerja di perusahaan beliau."
"Soal biaya akan ditanggung kami bu, lagi pula, mbak Mira disana juga sering membantu kami, tanpa disuruh." kata Riko pelan-pelan.
"Kamu mau sekolah lagi Nduk?"
"Iya pak." jawab Mira menunduk.
"Ya sudah Bapak ijinkan, tapi jangan sekolah yang bener, jangan sampai bikin keluarga mas Riko dan keluarga kita malu."
"Iya pak, Mira janji, makasih ya pak bu." jawab Mira senang, dia tak mengira akan diijinkan oleh bapak nya. Riko dan Rama pun bisa bernafas dengan lega.
"Dimakan mas singkong rebus nya, disini memang ya itu saja cemilannya." kata Indah mempersilahkan.
Moo... Moo... Moo... Suara sapi.
Indah segera pergi ke kandang.
"Wah bapak juga punya sapi?" tanya Riko.
"Bukan milik bapak Le, itu milik pak RT sini, dititipkan sama bapak, nanti untungnya dibagi."
"Ou." jawab Riko manggut manggut.
Disaat Riko menikmati singkong rebusnya, gawai nya berdering. Riko meminta ijin untuk mengangkatnya, dia pun keluar rumah.
"Singkong nya enak pak, bapak nanem sendiri?" tanya Rama dengan singkong ditangannya.
"Iya Le, bapak nanem sendiri, selain itu bapak juga nanem jagung sama kacang hijau, kacang tanah juga ada,"
"Tapi jagungnya kecil, baru sebulan nanemnya." pak Budi pun ikut menikmati singkong rebus itu.
"Enak ya pak, kalau di desa bisa makan hasil tanamannya sendiri,"
"Kalau di kota sih boro-boro nanem, nemu di pasar aja sudah Alhamdulillah,"
"Hahahah." tertawa bebarengan.
Mendengar suara tawa, Riko masuk, kemudian memberi kode Rama,
"Ma'af pak kami mau langsung pergi dulu,"
"Loh kemana Le?" tanya pak Budi bingung.
"Sebenernya kami kesini juga mau kunjungan kerja pak, kebetulan juga di kotanya mbak Mira, jadi sekalian mampir."
"Oalah ya sudah Le, hati-hati ya!"
"Iya pak,"
__ADS_1
"Mbak besok Aku jemput jam 8 ya!"
"Iya mas."
"Jangan lupa bawa persyaratannya!"
"Iya mas."
"Assalamu'alaikum pak bu." pamit Riko dan Rama.
"Waalaikumsalam." jawab mereka bersamaan.
"Bismillah mas, jalan didesa memang begini."
"Iya bu, Bismillahirrohmanirrohim." jawab Riko.
Riko dan Rama menganggukkan kepala tanda permisi, setelah memutar mobil. Setelah mobil mereka tak terlihat, pak Budi diikuti Mira, Indah, dan juga bu Siti kembali masuk kedalam rumah. Tak berapa lama kemudian Dimas dan Adi sudah pulang, Mira memberikan selembar uang 50 ribuan ke Adi,
"Bilang apa kalau dikasih?" tanya Dimas pada Adi.
"Makasih lek Mira."
"Iya sama-sama."
"Mas denger dari mbak mu, kamu mau sekolah lagi ya Mir?"
"Iya mas, bos Mira yang ngebiayaain."
"Baik banget ya bos mu itu."
"Iya mas, mereka baik banget sama Mira, mereka juga gak pelit loh mas."
"Beruntung kamu bisa dapetin bos seperti mereka."
"Iya mas, Mira beruntung sekali,"
"Oh ya, mas Dimas gak kerja?"
"Kemarin malem mas lembur, jadi sekarang libur, makanya bisa kesini,"
"Lagian juga, sudah lama banget mas gak kesini."
"Mas kalau libur, sering-sering main lah, Ibu sama Bapak gak ada temen ngobrol."
"Iya, mas sekarang juga lebih sering kesini, kadang kalau mas kerja terus mbak mu saja yang mas minta kesini,"
"Biar nginep juga, mbak mu biar gak terlalu khawatir sama ibu dan bapak."
"Makasih ya mas, sudah pengertian." Mira tersenyum.
"Sama siapa kok bilang gitu, kita emua kan sudah menjadi keluarga ya udah kewajiban."
"Hayo, lagi ngomongin mbak ya?" Tiba-tiba Mbak Indah muncul.
"Wah mbak ke PD an,"
"Hahaha." Mira dan mas Dimas tertawa bersamaan.
"Lha tadi lih aku denger nyebut-nyebut nama mbak." kata mbak Indah membela.
"Ini tadi Mira khawatir kalau kita jarang jengukin ibu sama bapak."
"Gak usah khawatir Mir! sekarang mbak sama mas mu sudah sering main kesini kok."
"Syukur deh kalau begitu mbak, Mira jadi lega."
Mereka pun bercengkerama, membicarakan banyak hal.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama Author. Mohon kritik dan sarannya. Ma'af jika ada tanda baca ataupun typo. Mohon bimbingannya.