
Pagi ini seperti biasa Mira yang menyiapkan sarapan, sementara Mak Idah bersih-bersih. Setelah selesai memasak Mira mandi dan berganti pakaian formal.
Mira masuk ke kamar Izza setelah mengetuk pintu nya, ternyata gadis itu sudah dewasa sekarang, tak seperti dulu yang selalu meminta bantuan Mira untuk mengepang rambut nya.
"Wah... Adek sudah siap ternyata?"
"Sudah dong kak!"
"Kamu kapan Ujian Kelulusan dek?"
tanya Mira setelah melihat beberapa lembar materi contoh ujian di tas nya Izza.
"Senin besok kak!"
"Oh, sudah belajar kan?"
"Ma'af akhir-akhir ini kakak jarang nemeni kamu belajar!"
"Gak pa pa kak, Izza tahu kok kalau kakak sibuk, capek juga,"
"Kan kalau kakak gak capek, sibuk pasti kakak sudah menemani Izza."
"Hemmm, makasih ya dek! Sudah mengerti kakak!"
"Iya kak!" Izza memeluk Mira, agar Mira tak merasa bersalah.
"Yang semangat kalau Ujian ya!"
"Pasti kak!" Kata Izza sembari mengedipkan mata kanan nya dan membuat tanda OK di tangannya.
-----
Di kantor. Sudah hampir jam makan siang, Mira masih berkutat dengan layar komputer, ingin segera menyelesaikan pekerjaannya,
Brukkk... suara beberapa dokumen dibanting di depan Mira, sehingga Mira menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan kepalanya,
"Ini dokumen buat bu Jena!"
"Loe ini gak suka ya sama gue? masa kalau mau menyerahkan dokumen sama bu Jena, harus lewat loe dulu!" kata wanita itu geram.
"Heh Ike yang centil, seharusnya loe berterima kasih sama Mira, karena kalau langsung loe serahin dokumen loe sama bu Jena, yang ada dokumen loe langsung disobek! tau gak?" jawab Rena geram, dia gak suka teman nya di maki-maki, apalagi sama cewe kecentilan itu.
Ike malu dengan jawaban yang diterimanya, karena yang dikatakan Rena benar adanya. Bu Jena termasuk orang yang perfeksionis, semua harus rapi, gak ada yang boleh salah walaupun kadang lupa spasiataupun tanda baca. Dia melotot ke Rena dan juga Mira yang sedari cuma diam saja, dia merasa bahwa Mira diam karena menyepelekannya. Dia pun pergi tanpa pamit.
"Dasar cewe centil!" sengaja Rena mengeraskan suara nya agar didengar Ike.
"Kamu Mir, digituin terus sama dia, diem melulu!"
"Gemes gue sama loe!" Rena mencengkeram tangannya didepan wajah Mira.
"Hehehe, biarin saja! kan sudah ada kamu sama Faisal yang mewakili perasaan aku!" jawab Mira terkekeh.
"Iya kalau ada gue sama Faisal, kalau gak gimana?" Rena kesal dengan tingkah Mira yang selalu diam kalau ada yang menggunjingnya, meskipun didepan Mira sendiri.
"Sudah dong marah nya? ya!" bujuk Mira dengan mengedipkan mata nya beberapa kali.
"Tau ah, kesel banget gue sama loe!"
"Ini Faisal kemana? Loe tau gak?"
"Keruangan pak Aldi kalau gak salah tadi!"
"Nah itu tuh, pak Aldi kan pacarnya Ike!" Rena mulai menggosip.
Ketika Rena mulai menggosip, Mira hanya akan mendengarkan saja, kadang kala Mira hanya menanggapi biasa saja, dia tahu kalau temannya itu, gak bisa dikalahkan dalam hal menggosip, entah dari mana dia dapat gosip itu,
"Masa sih? Pak Aldi kan sudah punya istri!" jawab Mira datar, tanpa menoleh.
"Sugar daddy dia, loe gak tau kalau Ike masuk ke perusahaan ini juga melalui pak Aldi?"
"Gak tau aku tuh!"
"Ah loe Mir, apa yang loe tahu tentang kantor ini, beruntung ada gue sama Faisal yang jadi temen loe di kantor ini!"
"Kalau gak, mungkin loe gak bakalan betah!" kata Rena dengan PD nya.
__ADS_1
"Iya, makasih ya sudah mau jadi temen aku!" kata Mira dengan senyum manis nya.
"Heist! lagi ngomongin gue ya?" tanya Faisal yang tiba-tiba datang.
"Tau aja loe kalau lagi diomongin!" jawab Eena sekenanya.
"Eh, Ike loe apain Ren? dia ngadu loh sama pak Aldi!" tanya Faisal seraya duduk di kursinya.
"Tuh kan Mir, apa kata gue, pak Aldi itu sugar daddy nya Ike!"
Mira hanya menanggapi senyuman atas penyataan temannya itu.
"Jadi beneran apa yang gue denger dari temen gue?" tanya Faisal kepo.
"Temen loe yang mana?
"Temen gue satu kost sama Ike!"
"Emang temen loe ngomong apa? cerita dong!" kali ini Rena yang kepo, dia memutar kursinya menghadap ke Faisal.
"Gue pernah tuh makan bareng sama temen-temen gue, kebetulan waktu itu, Ike nyapa gue, jadi ya gitu!"
"Gitu gimana?" Rena kesal karena Faisal tak menceritakan dengan detail.
"Ya gitu, temen gue yang satu kost sama dia cerita, kalau ada Om-Om yang sering jemput dia di kost!"
"Pasti itu pak Aldi!" kata Rena yakin.
"Sudah-sudah ghibah nya! makan siang yuk! dah laper aku tuh!" kata Mira yang sudah berdiri di samping Rena.
"Hayuk!" jawab Faisal semangat.
"Sal, besok-besok kalau temen mu cerita lagi, kasih tahu gue ya!"
"Iya!"
"Ayo!" Faisal menarik tangan Rena agar berdiri.
Mereka pun ke kantin menikmati makan siang.
-----
Din... din... suara klakson dari mobil yang Mira kenal, ada lambaian tangan di dalam mobil itu.
"Hadeh, kenapa mas Riko kesini?" gumam Mira.
"Dia siapa? pacar mu ya?"
"Yang dulu ambil tas mu di kantor kan?"
"Satu-satu kalau nanya!" kata Faisal gemes.
"Eh jawab dulu!" kata Rena setengah berteriak karena Mira tak menjawab pertanyaannya tetapi malah pergi menemui pria di mobil itu.
"Siapa sih dia?"
Faisal menjawab dengan mengangkat bahunya saja.
"Mas kenapa ada disini?"
"Mau jemput kamu! hehehe." jawab Riko yang sudah disamping Mira.
"Mira kan bisa naik bis!"
"Sudah ayo masuk! mas mau minta tolong!" Riko membuka pintu mobil nya dan menarik tangan Mira agar masuk kedalam mobil itu.
"Tapi mas?"
Riko tak menghiraukan pertanyaan Mira, dia duduk di kursi kemudi, lalu memasang seatbelt nya, mobil pun berjalan. Saat melewati Rena dan Faisal, Mira melambaikan tangannya, mereka pun membalasnya.
"Mas kenapa maksa Mira?" tanya Mira kesal.
"Kalau gak mas paksa, kamu gak bakalan mau pulang sama mas!" jawab Riko datar.
"Hemmmm."
__ADS_1
"Mas mau minta tolong apa?"
"Nanti malam temeni mas dinner sama klien ya!"
"Kenapa harus Mira yang nemeni mas?"
"Karena klien mas, bawa istri!"
"Oh!"
"Dinner nya santai kok! cuma menandatangani dokumen saja!"
"Minta tolong lagi boleh!" tanya Riko memelas.
"Apalagi mas?"
"Besok ada resepsi temen ku, dan acara nya khusus temen-temennya saja! gak formal kok, temeni mas lagi ya! please!" kali ini Riko memohon dengan mengedipkan matanya.
"Kenapa gak sama mas Rama saja!"
"Lagian Mira kan juga gak kenal sama temen mas!"
"Kalau mas sendiri, nanti mas dibilang gak bisa move on dari Anggun!"
"Makanya mas ajak kamu!"
"Oh, jadi Mira mau mas jadiin tameng?"
"Hadeh, ya gak juga lah!"
"Mas masih nunggu jawaban mu, makanya mas ajak kamu!"
"Jadi jawaban mu apa?"
Seketika wajah Mira semerah tomat, dia gak tahu harus jawab apa, karena yang dipikirkan nya status dia sama Riko beda jauh, mau ditolak dia juga suka sama Riko.
"Tuh kan diem!"
"Mau ya, nemeni mas!"
Mira mengangguk sebagai jawabannya, dan menoleh ke kaca samping, melihat gedung-gedung menjulang tinggi, sebenarnya cuma mau menghindari kontak mata dengan Riko, tentu dia merasa malu.
-----
Sudah sampai di depan rumah, sebelum Mira turun dari mobil, cepat-cepat Riko mengambil paper bag di kursi belakang mobil dan menyerahkan ke Mira,
"Ini apa mas?" tanya Mira semabri melihat isi paper bag itu.
"Mas kan minta tolong, jadi ya itu!"
"Itu apa?" tanya Mira yang semakin bingung.
"Besok pakai itu ya!"
"Trus nanti malem berangkat jam 8, mas tunggu!"
Mira membawa paper bag itu dan menutup mobil, percuma saja jika dia menolak hadiah dari Riko, karena yang ada Riko memaksanya. Riko senang karena Mira tak menolak hadiah dari nya, lalu dia membuntuti Mira masuk kedalam rumah.
-----
Karena ini dinner sama klien, Mira memakai blouse bentuk kerah V sesikut dengan warna ungu muda mengombinasikan dengan rok lebar selutut berwarna ungu tua dengan bunga mawar putih sebagai motif nya, untuk sepatu nya dia menggunakan sneaker warna putih, dan rambutnya di biarkan tergerai. Setelah memakai riasan nude, Mira keluar dari kamarnya. Ternyata Riko sudah menunggunya di teras rumah, Mira semakin minder karena Riko terlihat sangat tampan sekali. Riko memakai kemeja berwarna navi plus celana khaki, untuk sepatunya dia juga memakai sneaker putih.
Melihat Mira sudah berjalan kearah nya, terlihat senyuman di wajah Riko,
Betapa cantiknya kamu malam ini. Riko.
Riko membuka pintu mobil, Mira masuk. Kemudian Riko pun duduk dikursi kemudi, mereka pun berangkat.
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, Mohon krisannya.
__ADS_1