
"Ya harus pakai weton jodoh!" ucap Kakek Mira.
"Apa kamu gak ingat dulu?"
"Gara-gara gak ngikuti weton jodoh, pernikahanmu sebelumnya gagal!" ucapnya lagi.
"Tapi Pak?"
"Bapaknya Indah sudah terlanjur sama pacarnya Mira kalau kita setuju gak pakai weton jodoh itu!" ucap Bu Siti dengan memohon.
"Ya tinggal di hubungi lagi, kalau saya sebagai kakek nya yang masih hidup gak ngijinin pernikahan tanpa melihat weton nya dulu!"
"Ya sudah pak biar nanti saya bicara sama Mira." ucap Pak Budi menenangkan mertuanya itu.
Mira yang berada di kamar, merasa was-was bawasannya kakek yang sudah sepuh itu menolak menerima lamaran, jika tak menggunakan weton jodoh mereka. Indah yang berada disampingnya itu pun berusaha menenangkan Mira yang sesekali mengusap pipinya.
"Sudah gak usah nangis!"
"Kakak dulu juga pakai weton jodoh kok!"
"Berdo'a saja semoga weton jodoh kalian baik!"
"Iya kak!"
"Bismillah, semoga weton jodoh kami baik!"
"Aamiin!"
"Jadi kapan kamu memberitahu Riko tentang hal ini?"
"Belum tahu kak!"
"Saya bingung cara memberitahu mas Riko!"
"Kamu telpon saja Riko nanti biar mas Dimas yang bicara sama dia!"
"Iya kak!"
"Semoga mas Riko mengerti!"
-----
Rinding ding… ding… ding… suara nada dering ponsel Riko.
Sebelum menerima telpon di seberang, Riko mengambil nafas panjang. Dia sudah dapat chat dari Mira bahwa kakeknya meminta untuk menggunakan weton jodoh mereka. Riko sebenarnya juga tak tahu wetonnya sendiri yang dia tahu tentu hari dan tanggal lahirnya saja. Kini Riko telah siap untuk menerima telpon yang dia yakini bahwa ada calon kakak iparnya yang akan menjelaskan perihal permintaan mereka.
"Hallo, Assallamualaikum!"
"..."
-----
"Gimana Mas?"
"Apa Riko mengerti?"
"Tadi mas sudah menjelaskannya sedetail mungkin!"
"Dari suara Riko, kemungkinan dia mengerti!"
"Tapi hatinya tentu saja masih mengganjal, dia merasa khawatir kalau ternyata weton jodoh mereka gak cocok." jawab Dimas dengan melihat Mira.
Mira tak menanggapi pernyataan Dimas, kakak iparnya. Karena dia sendiri pun tak tahu harus bagaimana. Indah dan Dimas masuk ke dalam rumah, sementara Mira masih menggenggam ponsel yang berada di tangannya dengan erat.
-----
Di kamar.
Riko sedang mencari weton lahirnya di google. Dia mengetik tanggal lahirnya di kolom pencari, tak lama kemudian muncul hari tanggal lahir beserta weton nya.
Tanggal lahir Riko adalah 1 Januari 1989 dengan weton minggu wage. Segera Riko membuka aplikasi chat nya untuk mengirim pesan padanya.
Dek√√
Wetonmu apa?√√
Senin pon mas!
Kenapa?
Riko tak membalas pesan dari Mira kini dia kembali membuka aplikasi pencarinya lagi untuk mencari tahu weton jodoh mereka. Muncul di mesin pencari weton jodoh mereka dan apa yang Riko khawatirkan ternyata tidak terjadi. Weton jodoh mereka jatuh pada jumlah 20, Minggu wage 5+4\= 9, senin pon 4+7\=11, weton jodoh mereka ketemu 'Ratu' yang bisa dikatakan mereka memang sudah jodohnya. Yang akan dihargai dan disegani oleh tetangga maupun lingkungan sekitar. Bahkan banyak orang yang iri akan keharmonisannya dalam membina rumah tangga. Riko senang bukan main, dengan cekatan dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Mira,
"Hallo, Assalamualaikum mas?" suara di sebarang.
"Waalaikumsalam dek!"
"Mas punya kabar baik dek!" ucap Riko antusias.
"Apa mas?"
"Jadi weton jodoh kita ketemu 'ratu' dek!"
"Kita memang ditakdirkan telah berjodoh!"
"Alhamdulillah mas!"
__ADS_1
"Benarkah itu?"
"Iya dek!"
"Mas juga gak nyangka ternyata kita benar-benar berjodoh dan apa yang mas khawatirkan tak terjadi!"
"Jadi weton mas apa?"
"Nanti biar aku yang memberitahu Bapak sama Kakek!"
"Minggu wage Dek!"
"Iya dek!"
"Mas seneng tahu gak?"
"Hahaha!" Riko tertawa membahana memenuhi kamarnya.
"Oh ya dek!"
"Apa mas?"
"Tadi mas gak sengaja nemu!"
"Ternyata kita itu memang berjodoh!"
"Bahkan sebelum melihat weton kita!"
"Maksud mas apa?"
"Mas kan lahir tanggal 1 Januari 1989 dan Adek kan tanggal 31 Agustus 1998!"
"Angka kalender dimulai dari tanggal 1 dan berakhir tanggal 31 dan tahun kelahiran kita Mas 89 dan Adek 98!"
"Benar kan Dek?"
"Wah mas gak nyangka ternyata kita gak menyadari nya ya, hahaha!" Riko senang bukan main dia menelfon seraya berjalan ke sana kemari.
"Ya Allah mas, aku juga gak menyangka!"
"Alhamdulillah mas, ternyata kita benar-benar berjodoh!"
"Aku sudah gak sabar memberitahu Bapak sama Kakek mas!"
"Ya sudah kalau begitu, sekarang Adek kasih tahu Bapak sama Kakek!"
"Iya Mas, Assalamualaikum mas!"
"Waalaikumsalam Dek!"
Ponsel dimatikan.
-----
"Bu… ibu!"
"Ada apa?" Bu Siti melihat Mira dengan wajah sumringah.
"Weton mas Riko Bu!"
"Iya weton mas mu apa?"
"Minggu wage Bu!"
"Dan kata mas weton jodoh kita 'Ratu'!"
"Benarkah?" sahut Indah saat mengulek jagung untuk dibuat perkedel.
"Iya mbak!"
"Tuh kan! Apa mbak bilang!"
"Iya mbak, Alhamdulillah ternyata kita berjodoh!" Mira benar-benar bahagia.
"Jangan terlalu bahagia gak baik!"
"Ya sudah sini bantuin mbak!"
"Eh iya mbak!" Mira membantu Indah mengupas duo bawang yang akan dibuat bumbu, sedangkan Bu Siti berlalu ke ruang tamu tempat Bapak dan suaminya berada.
-----
Di Rumah Riko.
Bu Eny baru pulang dari menjemput Izza, wajahnya pucat pasi. Izza juga terdiam lalu menuju ke kamarnya, sementara Bu Eny langsung menuju ke dapur untuk mengambil air dingin. Bu Eny tak pernah meminum air langsung dari botol nya, biasanya dia akan minum setelah menuangkan ke dalam gelas. Entah apa yang tadi terjadi di jalan sehingga membuatnya meminum air itu hingga habis dalam sekali minum.
Flashback on.
Brakkk… suara dashboard mobil belakang Bu Eny tertabrak oleh pengendara dari belakang. Bu Eny dan Izza kaget, kemudian dia keluar dari kursi kemudinya untuk melihat dashboard serta pengendara yang menabraknya,
"Wah, lampu sein nya copot!" seru Bu Eny saat melihat lampu sein kanan nya keluar dari tempatnya. Dia melihat pengendara yang menabraknya yang tak kunjung keluar dari mobil, ingin dia memaki-makinya namun dia tahan karena Izza memegang tangannya.
"Tunggu dulu Ma!"
"Kayaknya dia sedang menelpon seseorang!"
Memang benar dari tempat Bu Eny terlihat orang itu sedang marah-marah kepada seseorang yang di telponnya. Setelah mematikan ponselnya, dia segera turun dari mobil dan melihat dashboardnya sendiri dan juga yang di tabraknya.
__ADS_1
"Ma'af Bu!"
"Sekali lagi saya minta ma'af!" kata orang itu seraya melepas kacamata hitam yang di pakainya. Meskipun usianya sudah melewati setengah abad, namun orang itu terlihat sangat menawan, bagaimana tidak? Dia menggunakan setelan jas mewah berwarna navi dengan kacamata hitam juga jam tangan yang tak kalah mewah itu. Rambutnya yang hampir separuh berwarna putih itu mengisyaratkan bahwa dirinya memang sudah tua, meskipun jika dilihat dari wajahnya dia tak lebih dari seseorang yang berusia mendekati tahunan.
"Ayah?" seru Bu Eny pelan. Dia hampir saja menangis saat melihat orang itu.
"Ha? Apa?" ucap orang yang di panggil 'Ayah' oleh Bu Eny.
Bu Eny yang pias saat melihat orang itu, segera menarik tangan Izza agar masuk ke dalam mobil. Izza bingung namun dia tak ingin bertanya dengan Mamanya yang sedang risau.
"Bu? Ibu?"
"Ini bagaimana? Lampu sein mobil mu rusak!"
"Saya harus bertanggung jawab!" ucap orang itu seraya mengetuk-ngetuk kaca mobil Bu Eny.
Namun Bu Eny tak menghiraukannya, dia malah memutar kunci mobilnya bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
"Bu?"
"Tolong beritahu nomor rekening Ibu biar saya mentrasfer biaya kerusakan mobilnya!" tak ada sahutan dari Bu Eny, dia malah menekan gas mobilnya.
"Bu…!" teriak orang itu saat mobil pengendara yang ditabraknya melaju.
Flashback off.
"Kak!" teriak Riko dengan melambaikan tangannya ke wajah Bu Eny.
"Eh!"
"Ada apa Ko?" tanya Bu Eny kaget.
"Kakak yang kenapa?"
"Dari tadi aku panggil-panggil gak denger!"
"Eh ma'af Ko!"
"Kakak capek!"
"Hmmm, istirahat dong kak!"
"Kan sebentar lagi kita akan melamar Mira di desa!"
"Kalau kakak sakit gimana!"
"Tenanglah!"
"Kakak gak akan sakit kok!"
"Tunggu sebentar!" Riko beranjak dari dapur menuju ke kamarnya, sementara Bu Eny juga beranjak dari dapur ke kamarnya.
-----
Di kamar Bu Eny.
Bu Eny membuka laci paling bawah lemari bajunya dan mengambil sebuah foto lama. Terlihat seorang pria memeluk wanita di sebelahnya yang sedang menggendong seorang bayi dan dua anak laki-laki, salah satu laki-laki itu diperkirakan sudah memasuki usia 12 tahun dan satunya masih kecil sedang duduk di kursi, terlihat ketiga anak itu sangat lucu. Ada yang aneh dari foto itu, seorang pria yang menggandeng wanita itu terlihat sangat mirip dengan orang yang tadi Bu Eny temui.
Riko masuk ke dalam kamar Bu Eny yang terbuka, suaranya langkah kaki nya tak terdengar oleh Bu Eny,
"Kak!" suara Riko mengagetkan Bu Eny kemudian secepat kilat dia menyembunyikan foto yang dipegangnya dengan memasukkan kembali ke dalam laci.
"Eh!"
"Ada apa?"
"Kakak gak pa pa kan?" Riko khawatir.
"Kakak gak pa pa!" suara Bu Eny sedikit takut.
"Ada apa?"
"Ini vitamin untuk kakak!" Riko memberikan satu kaplet vitamin untuk kakak iparnya itu.
"Oh!"
"Terima kasih!" Bu Eny menerima nya.
"Kakak bener-bener baik-baik saja kan?"
"Iya kakak gak pa pa kok Ko!"
"Kakak cuma butuh istirahat!"
"Ya sudah!"
"Kakak istirahat saja!" Riko beranjak keluar dari kamar Bu Eny dan menutup pintunya. Riko khawatir apa yang sedang terjadi, tak biasanya kakak iparnya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
Sedangkan Bu Eny masih syok dengan apa yang dia lihat. Dia duduk di ranjang dan mengambil minumnya dan meminum vitamin yang diberikan oleh Riko.
.
.
.
**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.
__ADS_1
Maaf karena jam up nya gak teratur, saya benar-benar sibuk! Saya usahakan agar setiap dua hari up, meskipun jadwalnya tak teratur. Untuk weton jodoh Riko dan Mira mungkin ada perbedaan mengenai perhitungannya, kalau di tempat saja sebenarnya ada 5 tapi setelah saya search di google ternyata ada 8, jadi saya menggunakan yang 8. Joak da perbedaan mohon di maklumi. Terima kasih**.