
"Lari Paman!" kata Adi berteriak.
Mendapat perintah Adi, Riko pun ikut lari, tanpa tahu alasan kenapa dia harus lari mengikuti Adi.
"HEY KAU YANG PAKAI KAOS MERAH!" teriak orang itu.
Merasa bahwa orang itu memanggilnya Riko pun berhenti.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Pak Handoko dengan menunjuk tas plastik yang dibawa Riko.
"Oh, ini buah mangga pak!" jawab Riko santai.
Pak Handoko pun mengerutkan dahinya.
Santai banget jawabannya, seperti gak nyolong saja. Pak Handoko.
"Kamu dapat dari mana?"
"Oh, tadi ambil disitu Pak!" Riko menunjuk pohon mangga yang tadi dipanjat oleh Adi.
"Kamu tahu, pohon itu milik siapa?" Pak Handoko merasa kesal, karena dari tadi Riko tak merasa bersalah.
"Pohon itu milik saya!"
"Itu, itu, dan itu, semua pohon mangga yang di kebun ini milik saya!" Pak Handoko menunjuk semua pohon yang ada disitu.
"Enak saja, main ambil!"
"Ma'af Pak!"
"Saya benar-benar gak tahu!" ucap Riko dengan mengatupkan tangannya.
"Ini Pak!" Riko memberikan tas plastik yang dibawanya.
"Sudah buat kamu saja!"
"Lain kali, minta ijin dulu!"
"Terima kasih pak!"
"Iya Pak!"
"Sekali lagi saya minta ma'af!"
"Hmmm,"
"Kamu siapa?"
"Aku kok gak pernah lihat kamu?"
"Saya Riko pak!"
"Pacarnya Mira!"
"Mira anaknya Pak Budi?"
"Iya Pak!"
"Oh, makanya tadi aku lihat kamu sama Adi!"
"Ma'afkan sikap Adi pak!"
"Iya-iya,"
"Hmmm, kamu pacarnya Mira kan?"
Riko mengangguk.
"Jadi kamu tahu Tara?"
"Oh Tara?"
"Iya Tara, dia putri ku."
"Saya kenal sama Tara pak,"
"Saya dan Mira juga sering ke restorannya!"
"Ayo duduk sini!" Pak Handoko meminta Riko untuk duduk di bangku dibawah pohon mangga.
Riko menurut.
"Gimana kabarnya sekarang?"
"Saya lihat, dia baik kok pak!"
"Restorannya pun ramai!"
"Bagus-bagus!"
"Kamu sering-seringlah kesana sama Mira!"
"Kasihan dia, disana gak punya temen!"
"Iya pak, saya dan Mira akan sering mampir di restorannya."
"Hmmm,"
"Ngomong-ngomong, apakah buah yang kamu ambil itu sudah matang?"
Riko melihat ke dalam tas plastik yang ada di tangannya,
"Kayaknya mangganya mengkal ini pak!" jawab Riko mengira-ngira.
"Pasti Adi yang ngambil kan?"
"Iya pak! Mohon ma'afkan dia!"
"Iya, sebenarnya bapak ini gak marah!" Pak Handoko melirik Riko. Riko memandangnya tak percaya, kalau tak marah, mengapa tadi dia berteriak dengan sebuah ranting pohon di tangannya.
"Sebenarnya cuma kesal, karena Adi dan teman-temannya sering mengambil buah yang masih muda dan mengkal,"
"Kadang ada yang dibuang di bawah pohon!"
"Ya saya jadi kesal, kalau memang mau dimakan ya tak kasih yang matang kalau ada!"
"Kalau dibuang-buang kan sayang!" kata Pak Handoko menjelaskan.
Riko manggut-manggut mengerti.
"Sebentar!" Pak Handoko meninggalkan tempat duduknya dan pergi ke tempat tadi dia berteriak.
Tak lama kemudian dia datang dengan membawa sebuah tas plastik berukuran sedang, dengan isi didalamnya.
"Ini kamu bawa pulang!" Pak Handoko memberikan tas plastik itu kepada Riko.
__ADS_1
"Kebetulan sudah matang!"
Riko menerimanya,
"Terima kasih pak!"
"Jadi merepotkan saja!"
"Gak merepotkan!"
"Tolong kamu bilangin sama Adi!"
"Kalau mau ambil mangga minta ijin sama saya dulu!"
"Biar saya ambilkan yang matang, kan sayang kalau masih muda gak dimakan malah dibuang!"
"Iya pak! Nanti saya kasih tahu ke dia!"
"Iya… iya!"
"Dan jangan lupa!"
"Sering-sering lah mampir ke tempat Tara!"
"Iya Pak!"
"Ya sudah, sekarang kamu pulanglah!"
"Mungkin kamu sedang dicari sama Mira!"
"Iya pak!"
"Sekali lagi saya dan Adi minta ma'af dan terima kasih pak!"
"Iya… iya!"
"Assalamu'alaikum Pak!"
"Waalaikumsalam!"
Riko meninggalkan kebun mangga itu.
-----
Di rumah.
"Loh kok malah masuk rumah?" tanya Mira saat Adi malah masuk ke dalam rumah.
"Haus Bi! mau minum dulu!"
"Cepetan kalau begitu, kayak gak tahu pak Handoko saja!"
"Dia kan galak!"
"Iya Bi!" jawab Adi setengah teriak dari dalam rumah.
Saat Adi akan berangkat menjemputnya. Mereka di kagetkan dengan kepulangan Riko yang membawa dua buah tas plastik berukuran sedang. Padahal tadi saat Adi meninggalkan nya Riko hanya membawa sebuah tas plastik.
Dari kejauhan Riko sudah senyum-senyum. Hal itu pun membingungkan Adi dan juga Mira.
"Ini apa mas?" tanya Mira saat menerima tas plastik yang Riko berikan.
"Mangga dari Pak Handoko."
"Kok bisa?" tanya Adi dan Mira bersamaan. Mereka kaget karena pak Handoko memberikan buah mangga kepada Riko, padahal Pak Handoko dikenal sebagai orang yang galak, apalagi kalau ketahuan mencuri mangganya.
"Heleh!" Mira menyebikkan bibirnya.
"Ye… gak percaya!"
"Adi…" panggil Riko seraya duduk disebelah Mira.
Mendengar Tunangannya memanggil Adi, Mira tahu bahwa Riko akan menasehati Keponakannya, jadi dia masuk kedalam rumah agar Adi tidak merasa canggung ataupun malu.
"Hehehe,"
"Iya paman, ada apa?" Adi pura-pura tak mengerti kesalahannya.
"Lain kali, kalau mau metik buah minta ijin dulu sama pemiliknya!"
"Hehehe,"
"Iya paman!"
"Kata Pak Handoko tadi,"
"Kamu dan temen-temenmu sering mengambil dan membuangnya ya?"
"Itu bukan saya paman!"
"Itu temen aku!"
"Siapa pun itu, seharusnya jangan begitu!"
"Paman tanya sekarang!"
"Kenapa kamu dan teman-temanmu main ambil buah mangga tanpa ijin dulu sama pemiliknya?"
"Habis Pak Handoko galak Paman." jawab Adi semangat.
"Ya pak Handoko gak galak, sebenarnya beliau cuma kesal buah mangganya dibuang-buang gak dimakan!"
"Oh." Adi manggut-manggut seperti mengerti.
"Dan paman mau tanya lagi!"
"Buah mangga itu enak yang masih muda, mengkal atau matang sih?"
"Masih muda paman!"
Kali ini Riko merasa bingung, sebenarnya jawaban yang ingin Ia dengar dari Adi adalah mangga matang, sebab dengan begitu dia punya alasan agar minta ijin ke Pak Handoko, karena Pak Handoko punya buah mangga yang matang.
"Kenapa paman?"
"Gak pa pa!"
"Pokoknya apapun itu yang bukan milikmu!"
"Jika kamu menginginkannya, sudah menjadi kewajibanmu untuk meminta ijin kepada pemiliknya!"
"Jika tidak boleh paman?"
"Jika tidak boleh ya jangan diambil!"
"Nah gak jadi makan dong paman?"
__ADS_1
"Ya minta sama orang lain saja kalau begitu, kalau enggak ya beli!"
"Kan enak kalau beli, gak akan merugikan siapapun!".
"Yahhh… gak seru dong paman!"
Riko mengerutkan dahinya,
"Gak seru gimana?"
"Ya gak seru saja!"
"Paman, ku beri satu rahasia!" ucap Adi dengan membisik.
Riko mendekatkan telinganya ke Adi,
"Apa?"
"Buah mangga lebih enak kalau hasil dari nyolong paman!"
"Husttt…"
"Kamu itu, jangan begitu lagi ya!"
"Gak baik itu!" kata Riko menasehati, padahal dulu waktu dia masih sekolah menengah sering sekali makan gorengan lima cuma bayar tiga.
"Hehehe iya paman!"
"Kamu pernah sakit perut gak, kalau makan buah mangga hasil dari nyolong?"
"Sering sih Paman, kenapa?"
"Ya itu, karena gak ridho pemiliknya!"
"Oh, begitu ya paman?"
"Iya lah!"
"Tapi kata ibu, karena buahnya masih muda paman!"
"Jadi menyebabkan asam lambung!"
"Emmm, itu juga benar!"
"Mas!"
"Ini buah mangga nya!" ucap Mira dari balik pintu.
"Waw!"
"Beneran matang ya?"
"Manis!" Riko memakan sepotong dengan menggunakan garpu.
"Dan wangi!"
"Wangi apa Paman?" Adi mencium potongan buah mangga di garpunya.
"Wangi mangga Di!"
"Masak wangi buah duren!"
"Hahaha!"
Mira ikutan tertawa karena pertanyaan Adi.
"Eh paman!" Adi mengunyah mangga dimulutnya.
"Apa Di?"
"Duren enak gak?" tanya Adi setelah menenelan mangga nya.
"Kamu belum pernah makan ya?" tanya Riko yang sudah menusuk potongan buah mangga lagi.
Adi menggeleng karena mulutnya penuh dengan buah mangga. Seperti ingat sesuatu Mira masuk ke dalam rumah lagi, tanpa ikut berbicara, mereka melihat Mira sebentar dan Riko pun melanjutkan perkataannya.
"Rasanya tuh manis Di!"
"Tapi baunya yang bikin pusing!"
"Tapi kata temen ku bau nya wangi paman!"
"Itu kalau yang suka!"
"Kalau yang biasa aja kayak Paman ya enek!"
"Oh begitu!" Adi manggut-manggut mengerti.
"Paman kapan pulang?" tanya Adi tiba-tiba.
"Kamu mau cepet-cepet Paman pulang ya?"
"Enggak lah Paman!"
"Terus?"
"Aku ingin main lagi sama paman!" jawab Adi menunduk.
"Ya sudah, Paman pulangnya ntar malem saja kalau begitu,"
"Sekarang kamu mau main apa lagi?"
"Sebenarnya gak main paman!"
"Ha?" ucap Riko, agar Adi mengulangi lagi katanya.
"Sebenarnya Aku gak ingin main!"
"Cuma ingin jalan-jalan saja!"
"Oh!"
"Kalu begitu kamu mandi dulu!"
"Nanti kita jalan-jalan sama Bibi!"
"Beneran Paman?"
"Iya Beneran!"
Adi yang mendengar Riko akan mengajaknya jalan-jalan pun senang bukan main, seperti permintaan Riko, dia berlari ke dalam rumah untuk segera mandi. Sedangkan Riko kini, menghabiskan sisa potongan mangga di piringnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.