Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 23


__ADS_3

Disepanjang perjalanan Mira masih memikirkan nasihat yang diberikan bu Jena padanya.


Flashback on


"Masuk!" kata bu Jena setelah mendengar ketukan dari pintu nya.


"Sudah selesai?"


"Sudah bu,"


"Ini!" Mira memberikan dokumen itu.


Bu Jena memeriksa dokumen dari Mira,


"Seperti biasa nya, bagus sekali kamu Mir!"


"Pertahankan pekerjaan mu!"


"Dan tingkatkan lagi ide-ide baru, oke!"


"Iya bu."


"Ibu ada waktu sebentar gak nanti!" tanya Mira hati-hati.


"Sekarang Ibu lagi senggang, ada apa?"


"Gak pa pa ini bu, kan masih jam kerja!"


"Gak pa pa, lagian kan juga sudah jam setengah 4!"


"Duduk dulu!"


Mira pun duduk.


"Ayo cerita!" pinta bu Jena serambi menutup dokumennya.


"Begini bu,"


"Mira sebenernya suka sama seseorang, tapi Mira merasa tak cukup pantas dengan orang itu." Mira menghela nafas.


"Dia dan keluarga nya terlalu baik, dari segi visual, ekonomi, bahkan sifat nya juga, dia terlalu sempurna untuk Mira."


"Trus yang membuat mu bimbang apa?" tanya bu Jena serius.


"Mira sebenarnya ingin menolak dia bu, ketika dia mengatakan suka."


"Tapi ya itu tadi, Mira tak percaya diri berada disampingnya bu!"


"Oh jadi kamu mau nolak dia, tapi kamu suka?"


"Mau nerima dia tapi kamu merasa tak pantas buat dia?"


"Iya begitu lah bu."


"Karena kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri,


"Ibu mau kasih kamu saran!"


Mira mendengarkan dengan antusias.


"Buatlah kamu merasa pantas untuk dia!"


Mira bingung dengan kalimat perempuan parubaya didepannya.


"Kamu kurang cantik? belajarlah menjadi cantik!"


"Merasa kurang di ekonomi? perbaiki lah ekonomi mu!"


"Kamu bisa lebih giat bekerja agar kamu bisa memperbaiki ekonomi mu!"


"Sifat mu kurang baik? pertimbangkan apa yang akan kamu lakukan ataupun perkataan yang sekiranya kurang baik!"


"Sekarang lebih baik kamu tolak saja dia, buatlah keputusan jangan ngegantung begitu!"


"Jika dia memang jodoh mu, pasti akan datang kembali pada mu!" kata bu Jena panjang lebar agar Mira mengerti.


"Terima kasih nasihatnya bu!"


"Mira sangat kebingungan beberapa hari ini!" kata Mira dengan mata berbinar-binar.


"Riko kah dia?" tanya bu Jena penasaran.


Mira kaget bu Jena tahu kalau yang dimaksudnya adalah Riko.


"Jangan dijawab kalau merasa tidak nyaman, ibu sangat senang kamu bisa berbagi hati sama ibu!"


"Jika ada sesuatu yang sekiranya mengganggu kamu soal pekerjaan ataupun masalah pribadimu, ibu dengan tangan terbuka akan mendengar keluh kesah mu!"


"Yang terpenting, naikkan prestasi kerja mu, jangan mudah terpengaruh dengan siapapun jika itu tidak baik menurut mu!"


"Kemarilah!" bu Jena membuka tangannya, agar Mira memeluknya.


Mira pun beranjak dari kursinya dan memeluk bu Jena.


Mira sangat senang sekali karena bu Jena sangat baik padanya!


Flashback off


"Mira? hai... Mira?" tangan Riko sampai di lambaikan di wajah Mira karena dia tak meresponnya.


Mira terbelalak karena terkejut,


"Eh ada apa mas?"


"Lagi mikirin apa sih?"

__ADS_1


"Dipanggil dari tadi gak ada respon sama sekali!"


"Anu mas!"


"Nanti Mira mau bicara sesuatu sama mas!"


"Mau bicara apa?"


"Kalau Mira bicara sekarang, Mira belum siap!"


"Oh ya sudah, kalau itu mau mu!"


Mobil Riko berhenti di sebuah restorang yang sangat mahal. Dia lalu membuka pintu mobilnya dan memutar untuk membuka pintu mobil untuk Mira. Mereka berjalan menuju restoran itu,


"Ada yang bisa kami bantu mas?" tanya pelayan itu.


"Reservasi atas nama bapak Santoso."


"Oh silahkan ikut saya! beliau sudah menunggu!"


Riko dan Mira mengikuti pelayan. Di restoran itu, setelah melewati beberapa bilik, akhirnya mereka telah sampai. Memang benar restoran itu sangat tertutup hanya melayani pelanggan berduit saja karena nya restoran itu sangat menjaga privasi tamu nya.


"Selamat malam Om, Tante!" Sapa Riko.


"Selamat malam juga Riko." jawab pak Santoso dan istrinya serempak.


"Wah, ini toh! calon mu?" tanya istri pak Santoso setelah melihat Mira.


"Makanya kekeh gak mau dijodohkan sama keponakan tante! hehehe."


Mas Riko.menolak dijodohkan? Mira.


Mira pun menyalami pak Santoso dan istrinya.


"Mira... Tante, Om!"


"Cantik." kata bu Santoso setelah cipika cipiki dengan Mira.


"Terima kasih tante! Tante tak kalah cantik juga."


"Ah masa sih! tante jadi malu!"


"2 jam dandan, sia-sia dong kalau gak cantik!" ledek pak Santoso kepada istrinya.


"Apaan sih Papa ini! kan Mama jadi malu."


"Hahaha!" tawa mereka bersamaan.


Pak Santoso dari tadi tak mengalihkan pandangannya dari Mira, Mira pun merasa sedikit risih.


"Umur kamu berapa Nak?"


"Wajah mu masih remaja, tapi kelihatannya kok sudah dewasa." tanya bu Santoso setelah melihat suaminya dan Mira.


"Nah kan! ternyata masih remaja." kata pak Santoso nyeletuk.


"Masih kuliah apa sudah bekerja kamu Mir?"


"Alhamdulillah sudah kerja Om!"


"Oh, Om kira masih kuliah!"


"Makan dulu yuk!"


"Ngobrolnya dilanjutkan nanti saja!" kata bu Santoso setelah melihat pelayan datang dengan membawa makanan.


"Iya tante." jawab Mira.


-----


"Kapan-kapan makan bareng lagi ya sayang!" pinta bu Santoso seraya memeluk Mira.


"Iya tante."


"Kalau begitu, kita pamit dulu ya Om Tante!" pamit Riko.


"Assalamu'alaikum." kata Mira dan Riko bersamaan.


"Waalaikumsalam." jawab pak Santoso dan istrinya.


Riko dan Mira berjalan menuju parkiran mobil.


"Masih sore nih!"


"Kamu mau nonton dulu gak?" tanya Riko setelah melihat jam tangannya.


"Gak usah mas terima kasih,"


"Bolehkah Mira minta sesuatu?"


"Boleh, kamu mau minta apa?" tanya Riko antusias.


"Nanti mampir ke taman komplex ya mas!"


"Mira mau bicara sesuatu disana!"


"Oh iya, berarti sekarang langsung kesana! gak mampir kemana dulu gitu?"


"Kalau Mira sih sebenarnya pingin langsung kesana!"


"Tapi kalau mas mau mampir kemana gitu, Mira nurut saja!"


"Ya sudah, kita langsung kesana saja!" kata Riko seraya mengemudikan mobil nya.


Disepanjang perjalanan Mira dan Riko hanya diam saja, sesekali Riko melirik Mira, namun ketika dia ingin bicara sesuatu dia urungkan lagi.

__ADS_1


-----


Di taman. Mira duduk ayunan taman itu melihat pancuran air yang indah dimalam hari, air itu berhiaskan lampu warna-warni menciptakan nuansa yang romantis.


"Ini!" Riko memberikan permen kapas yang di belinya tadi.


"Terima kasih mas."


"Kamu sering kesini! kalau malam hari?" tanya Riko serambi duduk di ayunan sebelah Mira.


"Kalau lagi suntuk, ya main kesini mas." jawab Mira sambil membuat gambar dengan kakinya.


"Sendiri?"


"Iya sendiri,"


"Tapi kadang disini sudah ada mbak-mbak kompleks, jadi ya rame-rame." kata Mira senyum-senyum.


"Ayo itu kenapa senyum-senyum?" tanya Riko penasaran.


"Pasti lagi ngomongin cowok-cowok itu kan?" tebak Riko seraya menunjuk para pria yang sedang main basket itu.


"Ah mas bisa saja." kata Mira menyanggah namun tak bisa menyembunyikan bahwa yang dikatakan Riko benar adanya.


"Apa lagi memangnya yang omongin cewek-cewek kalau lagi ngumpul?"


"Paling juga masalah cowok!" tanya Riko dan diapun menjawab sendiri.


"Sok tahu kamu mas!"


"Paling juga mas sama temen-temen mas kalau lagi ngumpul pasti masalah cewek."


"Ya iyalah, namanya juga cowok!"


"Hahaha."


Riko turun dari ayunannya, lalu dia menarik ayunan Mira,


"Pegang yang erat!" Riko melepaskan ayunannya.


Riko tersenyum senang melihat Mira tertawa,


Mas janjib gak akan buat kamu menangis ataupun sedih! Riko.


"Lagi mas! yang tinggi dong!" pinta Mira manja.


"Siap." kali ini Riko menarik ayunan itu lebih tinggi, Mira tertawa namun juga takut karena dia takut terjatuh.


"Hah... hah... hah..." nafas Mira memburu.


"Capek?" tanya Riko memastikan.


"Sekarang gantian mas ya!" Mira turun dari ayunan nya.


"Yakin kamu kuat? badan kecil gitu! hahahaha." ledek Riko.


"Kuat lah mas! biarpun Mira kecil namun stamina Mira gede tahu!"


"Pegang yang erat!" Mira menarik ayunan Riko, lalu melepas nya.


"Hahahaha, kuat juga kamu ya!"


"Lagi dong!" kata Riko, sekarang Riko memposisikan diri nya agar lebih berat,


Mira pun kesusahan untuk menarik Riko.


"Apaan nih mas, tadi gak gini!" kata Mira protes.


"Kata nya kuat?" jawab Riko senyum-senyum.


"Mas jangan gitu dong! Mira nambek nih!" kata Mira melepaskan ayunan Riko.


"Ya iya ma'af!"


"Ayo tarik lagi!"


"Beneran nih!" tanya Mira memastikan dirinya tak dikerjai oleh Riko lagi.


"Beneran, coba deh!"


Mira menarik ayunan Riko, benar Riko sudah tak mengarjai dirinya lagi. Kali ini giliran Mira yang akan mengerjai Riko, ditarik kuat-kuat ayunan itu lalu melepasnya. Riko pun mengayun tinggi namun setelah ayunan kedua Riko jatuh,


Brukkk... Riko jatuh tersungkur.


Mira panik seketika Mira menghampiri Riko,


"Mas gak pa pa?" tanya Mira khawatir.


"Sakit tahu!" Riko pura-pura kesakitan.


"Mana yang sakit mas?" Mira meraba tangan dan dada nya Riko.


Riko gelagapan karena terkejut dengan tingkah Mira. Mira tak sadar bahwa dirinya dan Riko semakin dekat. Riko menyadari itu,


"Ini yang sakit!" Riko menempelkan bibirnya dengan jari telunjuk Mira.


Mira kaget, baru sadar bahwa dirinya dan Riko sudah dekat. Riko menarik tangan Mira, dan memandang bibir Mira.


.


.


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.

__ADS_1


__ADS_2