Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 43


__ADS_3

Di rumah sakit.


Tanpa menunggu antrian, Mira di ajak Indra masuk ke dalam ruangan dokter umum.


"Dokter?"


"Bukannya anda sedang cuti?" tanya seorang perawat saat melihat Indra masuk ke dalam ruangan. Indra tak menjawabnya, sementara Mira merasa aneh,


Apakah yang di maksud oleh perawat tadi adalah Indra? Mira.


Indra masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Saat Mira melihat pintu itu ada papan bertuliskan dr. Indra Wibowo Sp.B,


Jadi Indra seorang dokter? makanya tadi dia mau memeriksa ku? Hadeh. Mira.


"Duduklah!" ucap Indra saat dia sendiri juga duduk di kursi.


Mira menurut lalu berkata,


"Kamu dokter Ndra?"


Indra hanya tersenyum lalu mengambil gagang telfon,


"Sus tolong antarkan alat hecting keruangan ku!" telfon ditutup.


"Apa aku tak terlihat seperti dokter?"


"Ah, bukan begitu!"


"Hanya saja aku baru tahu kalau kamu dokter Ndra!"


Tok... tok... tok... Kriettt...


"Ini dok alatnya!"


"Berbaringlah Mira!"


"Tapi Ndra!"


"Eh dokter Indra, ini kan bukan kamar perawatan!"


"Panggil saja Indra, seperti sebelumnya!"


"Ya gak pa pa!"


"Aku maunya disini saja!"


"Silahkan nona!" ucap perawat itu tersenyum.


Mira menurut. Indra sedang ke toilet, dia keluar dengan tangan yang basah lalu dengan sigap perawat itu mengambilkan handuk kecil untuk mengeringkan tangannya. Indra memakai sarung tangan dengan steril. Perawat itu membuka luka Mira dan melepas perban sebelumnya. Mira meringis saat Indra membersihkan lukanya lagi dengan antiseptik. Kini dia dapat melihat bahwa lukanya dalam dan lebar, padahal sebelumnya tidak terlihat seperti itu. Indra mengganti sarung tangannya lagi,


"Hmmm, kamu yakin mau melihat luka mu saat aku jahit?"


Mira menggeleng tidak yakin.


"Ya sudah kamu lihat saja keatas!"


"Ini gak akan sakit kok! kan aku yang jahit!"


Mira hanya diam, sedangkan Indra melotot saat melihat perawat disampingnya menahan tawa, karena dia dicuekin oleh Mira. Perawat itu pun diam dan melakukan apa yang diminta oleh Indra. Kini Indra melakukan prosedur menjahit luka. Mira di jahit dua lapis dan ada delapan jahitan karena lukanya memang dalam dan panjang.


"Selesai!" ucap Indra seraya menutup luka Mira dengan kasa steril dan memasang plester.


Mira melihat lukanya dan duduk dibantu oleh perawat itu,


"Tolong ambilkan resepnya ya Sus!" Indra memberikan secarik kertas pada perawat itu.


"Dan tagihannya atas nama saya!"


"Baik dok!"


"Tolong pakai ini saja Sus!" Mira mengeluarkan kartu Atmnya dari dompet.


Perawat itu memandang Indra bingung.


"Terima kasih dokter Indra! karena sudah merawat luka saya!"


"Dan biarkan saya membayar tagihannya!"

__ADS_1


"Baiklah!" ucap Indra pasrah.


"Permisi Nona!" perawat itu berlalu dan menutup pintu.


-----


Brukkk... mereka melempar Riko dan Johan tepat dibawah bos besar.


"Hahaha!"


"Akhirnya kamu tunduk dibawah kaki ku Riko!"


"Hahaha!" suara bos besar menggema diseluruh gedung itu.


"Pukuli mereka sampai *****!"


"Baik bos!"


Buk... buk... buk... orang yang bersama bos besar ada tiga dan juga yang datang dari mobil turut memukuli Riko dan Johan, namun dua orang yang berdiri yang melempar Johan dan Riko hanya berdiam diri. Karena Bos besar terlalu senang dengan apa yang dilihat dia tak memperhatikan dua orang itu, tapi tidak dengan 'orang tadi' dia mencurigai mereka,


"Hentikan!"


Semua orang yang memukuli berhenti dan mundur dua langkah saat 'orang tadi' menghentikan mereka. Bahkan bos besar pun berhenti tertawa. 'Orang tadi' melepas kantong kain yang menutupi wajah dua orang yang dipukuli, saat terbuka mereka kaget ternyata mereka bukan Riko dan Johan,


"Kalian?" kata Bos Besar saat melihat dua orang yang memakai masker dan topeng ternyata adalah Riko dan Johan.


Rama berlari menuju ke arah pintu untuk memblokir dengan mengambil sebuah balok.


Nging.... suara sirine peringatan dalam gedung itu untuk memperingatkan jika ada orang asing masuk. Mereka semua panik.


Cittt... cittt... suara rem tiga mobil yang berdatangan. Mereka semua keluar ada 12 orang polisi berseragam lengkap termasuk seorang polisi wanita yaitu Jihan. Orang-orang itu menodongkan pistol ke arah mereka, tanpa perlawanan karena untuk menghindar mereka harus melompat dari gedung itu. Jihan dengan dua orang yang melindunginya menghampiri bos besar,


"Pak Ari, Anda kami tangkap atas tindakan kriminal,"


"Anda bisa menggunakan hak anda untuk diam dengan menunggu pengacara anda atau kami yang akan menyediakan pengacara untuk anda!"


Bos Besar alias Pak Ari mengangkat tangannya, dia adalah adik dari pak Bagus suami Bu Santi kakak Bu Eny.


"Cepat bawa mereka!"


"Ayo!" Para polisi itu membawa mereka ke mobil polisi yang datang terlambat.


Pa Ari mengerutkan dahinya dan menyempitkan bibirnya saat melewati Rama dan Riko. Setelah mobil polisi dan 2 mobil lainnya pergi Rama berlari mendekati Riko,


"Gimana luka loe?" Rama melihat leher belakang Riko.


"Aw... aw... aw... sakit!" Riko memegang lehernya seraya menggandeng Johan.


"Kenapa malah datang kesini!"


"Gak ke rumah sakit?" tanya Rama cemas.


Johan dan Jihan menahan tawa, karena Riko berhasil membodohi Rama. Rama melihat mereka sekilas, lalu menepuk-nepuk pundak Riko keras,


"Biar gue pijit!" kata Rama saat melihat Riko melotot.


"Sudah-sudah, gue mau pulang!"


"Pusing." Riko memegang kepalanya.


"Kalau begitu kami akan ke kantor polisi pak!"


"Permisi!" Johan pamit dengan Jihan.


"Loe mau mampir ke rumah sakit dulu gak?" tanya Rama memastikan, mungkin saja tadi dia meleset saat memukul plastik untuk membungkus campuran mirip darah sehingga kepala Riko pusing.


"Gak, gue mau pulang!"


"Loe order makanan! ntar biar tiba bebarengan!"


"Oke!" Rama duduk di kursi kemudi.


Mobil berjalan.


-----


Mira pulang diantar oleh Indra, dia tak bisa menolaknya karena mereka searah. Indra pulang setelah berpamitan dengan Mira. Mira tak mengundangnya untuk masuk ke rumah, dia merasa aneh jika berdekatan dengan Indra apa lagi hanya ada mak Idah di rumah.

__ADS_1


Mira masuk ke dalam rumah dengan membawa sekanting kresek berisi obat dan perban, tiga hari lagi dia harus ke rumah sakit untuk mengontrol lukanya.


"Bagaimana Mir?" tanya mak Idah.


"Gak pa pa kok Mak!"


"Cuma sedikit kok jahitannya!"


"Oh, ya sudah!"


"Kamu istirahat saja, biar nanti mak yang masak!"


"Iya mak!"


"Mira pamit ya!"


Mira masuk ke dalam kamarnya, dia ingin mandi bdannya sudah lengket. Tapi dia sedikit kesulitan untuk melepas bajunya, karena tangan kanannya yang terluka.


-----


Johan dan Jihan datang ke apartemen Rama,


"Masuklah!" ucap Riko saat membuka pintunya.


Jihan terlihat celingkukan terlihat mencari sesuatu, Riko yang menyadari pun nyeletuk,


"Rama lagi mandi!"


Jihan tak menjawabnya dia terlihat malu ketahuan oleh Riko. Johan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah adiknya. Mereka duduk,


"Apakah Om Ari mengaku kalau dia yang memerintahkan pembunuhan berencana kakak ku?"


"Tidak pak!"


"Karena tidak ada bukti kalau dia pelakunya, hanya bodyguardnya saja yang terjerat oleh kecelakaan itu!"


"Sial!"


"Lalu dengan rekaman dari mobilnya Rama?"


"Itu tak membuktikan apa-apa pak!"


"Hanya memperlihatkan bahwa dia dalang dari bocornya dokumen penting perusahaan!"


"Jadi tuntutan apa yang kamu ajukan untuk dia?"


"Tuntutan kami tentang pencurian data perusahaan sebelunya pak, dengan ancaman hukuman maksimal 8 tahun penjara atau denda maksimal 2 miliar!"


"Apakah keluarga Om Ari sudah tahu tentang ini?" Riko menghawatirkan hubungan Bu Eny dan Bu Santi karena kasus ini. Sebenarnya Pak Ari adalah wakil direktur perusahaan itu. Alasan dia mencelakai Riko karena Riko pernah memergoki dia mencampurkan obat bius ke minuman Pak Angga, dan tahu rencana tentang pembunuhan yang akan dia lakukan. Pak Ari cemburu karena pemilik saham sebagian besar mendukung Pak Angga untuk naik jabatan sebagai direktur utama daripada dia yang kala itu sudah menjabat sebagi wakil direktur. Sedangkan direktur sebelumnya meninggal karena menderita sakit jantung.


"Menurut info yang kami dapat pak Bagus masih dalam perjalanan menuju ke Jakarta pak!"


"Baik, terima kasih untuk semuanya!"


"Kalian belum makan malam kan?"


"Ayo saya traktir ke restoran depan!"


"Terima kasih pak!"


Rama sudah selesai mandi dan dia ikut duduk bersama mereka,


"Ayo makan gue laper!" ucap Riko dengan menarik tangan Rama.


"Baru juga gue duduk!" ucap Rama kesal.


"Nanti di sana juga duduk!"


"Sudah ayo!" ajak Riko pada mereka. Mereka semua pun pergi ke restoran depan apartemen itu.


.


.


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.

__ADS_1


__ADS_2