
Ting tong...
Jihan yang masih setia dengan sofanya beranjak menuju pintu apartemen,
"Thank's ya Bro!"
"Sip! apa sih yang gak buat Loe!"
"Next order lagi yang banyak!"
"Oke!"
"Gak mampir dulu!"
"Gak ah! sudah malem!"
"Oke! hati-hati ya!"
Mas pengantar yang notabene teman Jihan pun pergi dengan melambaikan tangannya. Jihan masuk dengan membawa 2 kresek besar di tangannya. Jihan meletakkan 1 kresek yang berisi 3 nasi kotak di meja, sedangkan 1 kresek lagi yang berisi 2 kotak di berikan Bu Ima dan putrinya.
-----
Mira baru saja selesai mandi. Sebuah baju sudah ada di kasur itu, segera dia mengambil. Setelah dipakai ternyata itu kegedean buat Mira, tentu saja karena perbedaan postur tubuhnya dengan Jihan yang sangat besar. Mira kecil dan tinggi badannya 155cm sedangkan Jihan sedikit berisi dan tingginya seimbang 167 cm. Mira keluar setelah memakai bajunya.
Riko dan Jihan sudah berada di meja makan, mereka menunggu Mira untuk makan bersama,
"Jadi pak Riko juga akan ke Jakarta?"
"Iya mungkin lusa!"
"Kamu sama kakak mu harus ikut, karena disana adalah tempat orang itu berada!"
"Baiklah!" Jihan melihat ke arah kamarnya yang tak kunjung terbuka,
"Kebesaran ya?" tanyanya setelah melihat Mira.
Riko menengok ke arah Jihan melihat,
"Puftt..." Riko menahan tawa.
"Hehehe, iya kak!"
"Tapi hangat kok!"
"Itu sudah aku pilihin yang paling kecil loh!"
"Sudahlah kak!"
"Memang akunya yang kecil!"
"Hihihi."
"Sudah ayo makan aku lapar!" ajak Riko seraya mengalihkan pandangannya ke meja.
-----
Keesokan paginya.
Jihan dan Mira berangkat ke kantor bersama, sedangkan Riko akan mampir ke tempat Johan berada. Bu Ima dan putrinya akan tetap tinggal di apartemen Johan demi keselamatan mereka.
Jihan mengajak Mira untuk mampir ke butik dulu sebelum dia mengantar Mira. Mira turun mengikuti Jihan yang berjalan duluan. Terlihat Jihan membuka pintu toko butik itu dan segera membukanya lebar-lebar,
"Ayo masuk!" ajaknya.
Mira masuk dan mengikuti Jihan yang sedang memilih baju, setelah memilih baju yang di rasa pas, Jihan meminta Mira untuk memakainya,
"Mira kak yang pakai?
"Iya dong, masa kamu mau pakai baju kemarin!"
"Sudah sana cepat ganti, nanti telat masuk kerja loh!"
"Makasih ya kak!"
Jihan tersenyum melihat Mira yang sumringah. Mira keluar dari ruang pas dan menghampiri Jihan,
"Sudah kak!"
"Cantik!"
"Ayo!"
Melihat Jihan yang langsung menuju mobil, Mira pun bertanya,
"Loh, Kak Jihan gak nutup butiknya?"
"Enggak, nanti yang jaga dateng!"
"Oh!"
"Nah tuh dia!" Jihan mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis yang baru turun dari taksi.
"Hai kak!"
"Yesi?" seru Mira.
"Mira?"
"Kalian saling kenal?"
Yesi mengahampiri Mira,
"Iya kak!"
"Apa kabar Mir?"
"Alhamdulillah baik Yes!"
"Kamu sendiri gimana?"
"Aku juga baik!"
"Mau berangkat kerja ya?"
"Iya nih!"
"Duluan ya!" pamit Mira seraya melambaikan tangannya.
"Iya hati-hati!"
__ADS_1
"Kakak duluan ya!" ucap Jihan seraya menyalakan mobilnya.
"Iya kak!"
Jihan melajukan mobilnya setelah Mira masuk.
-----
Di kantor polisi.
"Bagaimana Jo?"
"Dia memotong ekornya!"
"Hmmm,"
"Jalan satu-satu nya memang kita harus ke Jakarta!"
"Lalu, apa tuntutan untuk pak Aldi?"
"Penculikan dan penyekapan!"
"Paling lama 20 tahun."
"Yang lainnya?"
"Masih sebagai saksi!"
"Ya sudah!"
"Besok kamu sama Jihan ikut Aku ke Jakarta!"
-----
Pada malam hari saat di rumah.
Tok... tok... tok... Riko mengetuk pintu kamar Bu Eny,
"Masuk!"
Riko masuk.
"Ada apa Ko?"
"Ini kak, mau nanya perihat dat keuangan yang kemarin Riko minta untuk kakak cek!"
"Oh, bentar!" Bu Eny mengambil sebuah dokumen bersampul biru diantara tumpukan dokumen yang berserakan di meja,
"Ini!" ucap Bu Eny setelah mengecek isi nya.
Riko menerimanya,
"Gimana kak?"
"Ada data transfer ke nomer rekening yang lumayan sih,"
"Tapi setelah kakak cek, ternyata itu bukan nomor rekening dari salah satu karyawan kita!"
"Mungkin besok kakak akan ke Bank untuk meminta data dari nomor rekening tersebut!"
"Kebetulan datanya dari Bank tempat kakak kerja dahulu!"
"Kakak hati-hati ya!"
"Riko sekalian mau pamit sekarang!"
"Kamu mau kemana?"
"Mau ke Jakarta kak besok!"
"Kakak doain ya, semoga kita bisa bangkit seperti dulu dan juga bisa menemukan kebenaran atas semuanya!"
Bu Eny mengerutkan dahinya,
"Maksud kamu apa sih?"
Riko hanya tersenyum dengan pertanyaan kakak iparnya,
"Selamat tidur kak!"
"Hmmm,"
"Iya!"
Riko menutup pintu kakak iparnya, kemudian kembali ke kamarnya. Wajar saja Bu Eny tidak tahu yang di maksud oleh Riko, sebab Riko memang tidak menceritakan apapun perihal kecelakaan suaminya maupun dirinya 3 tahun silam.
-----
Riko keluar dari kamarnya, dengan membawa setangkai bunga mawar. Dia berjalan menuju ke kamar Mira,
Tok... tok... tok... Riko mengetuk pintu Mira, namun sama sekali tak ada sahutan. Karena terlalu lama, takutnya malah mak Idah yang bangun karena kamar Mak Idah ada di sebelah kamar Mira, Riko berinisiatif menelfon Mira,
Drinding ding... rinding ding...
Riko sudah menelfon Mira 5 kali, namun belum juga di jawab. Wajar saja sudah hampir jam 12,
"Hufff,"
"Baiklah aku ketuk lagi, kalau sampia aku ketuk Mira gak keluar juga,
"Aku akan masuk kamarnya!"
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
"Ma'afin mas!" Riko ingin memegang handle pintu, namun,
Cekrek... pintu terbuka, Riko kaget di buatnya.
Mira mengucek-ucek matanya seraya membungkam mulutnya karena menguap, setengah sadar dia membuka matanya, bersandar di daun pintu,
"Hmmm,"
"Mas Riko?" Mira menggaruk-garuk rambutnya.
"Ma'af mas ganggu kamu ya!"
"Hmmm,"
__ADS_1
"Ada apa mas?"
"Sudah malam loh! mas gak tidur?"
"Ini untuk mu!" Riko memberikan setangkai bunga mawar ditangannya.
"Hmmm," Mira membuka matanya lebar-lebar.
"Mawar?" Mira mencium bunga itu.
"Ikut mas ya!"
"Kemana?" tanya Mira penasaran.
"Ke balkon atas!"
"Bentar mas!"
"Aku cuci muka dulu!" Mira segera menuju ke kamar mandinya dengan masih membawa mawar tadi.
-----
Di kamar mandi.
Mira meletakkan bunganya di dekat wastafel , lalu mencuci muka berkali-kali untuk menghilangkan kantuknya,
"Mas Riko ada-ada saja, tengah malam bangunin orang!"
"Hmmm."
Mira mengambil mawar dan keluar dari kamar nya. Riko masih menunggunya dan mereka pun berjalan bersama, Riko menggandeng Mira,
"Ma'af mas! nyawa ku belum berkumpul semua!" ucap Mira yang masih menguap.
"Ya sudah, mas kumpulin nyawamu sekarang!" kata Riko seraya berhenti tepat di belakang pintu balkon.
Muuaahh... Riko memberikan ciuman ke pipi Mira. Refleks nyawa Mira terkumpul semua, antara suka, berdebar dan pusing.
"Sudah?"
"Hehehe!" jawab Mira dengan pipi merona. Dia berjalan mengikuti Riko dengan memegang pipinya, sennag sekali.
Riko membuka pintu, gelap ternyata. Lampu balkon dimatikan hanya bercahayakan bulan dan teman setianya bintang bisa membuat suasana romantis di balkon itu. Riko mengambil korek api di meja lalu menyalakan lilin yang sudah Ia siapkan.
Mira duduk di kursi yang di tarik Riko, dan kini juga ada sebuah cake blackforest mini yang Riko ambil di bawah meja. Riko menyalakan lilinnya, terlihat tulisan yang terukir ' Selamat ulang tahun Dek' dan juga ada sebuah kartu ucapan kecil. Mira membukanya,
"Sebelum hari spesial ini terlewatkan, izinkan aku menggenggam tanganmu, memandang matamu dengan penuh kasih serta memelukmu hangat,"
"Tak hanya mengingatmu, tak ada lagi yang lebih penting buatku. Detik ini aku hanya ingin menyapamu dengan sebuah do’a, semoga Tuhan senantiasa melimpahkan cinta-Nya di hatimu." ucap Riko dengan menggenggam tangan Mira. Mira tersipu malu dan bahagia.
Riko menghampiri Mira dan ber bisik,
"Selamat ulang tahun Dek, calon makmum ku!"
Mira hanya menutup mulutnya tak percaya kalau Riko tahu tanggal lahirnya, bahkan Mira sendiri lupa. Mira memeluk Riko dan mengucapkan terima kasih,
"Tiup lilinnya dek!"
"Bolehkan Mas panggil Adek!
"Iya mas!" Mira memberikan senyum termanisnya.
Fiuh...
Plok.. plok... plok...
"Ma'af mas gak bisa merayakan ulang tahunmu dengan meriah!"
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dan gak beli cake besar!"
"Hmmm,"
"Mas, Aku sudah sangat bahagia sekarang karena kejutan mas!"
"Ini sudah sangat lebih untuk Aku dapatkan!"
"Makasih sudah mau bersama mas!"
Mira menganggukkan kepalanya.
"Ayo potong kue nya!"
"Iya!"
Mira memotong kue nya, dan memberikannya ke Riko. Riko menerimanya dengan senyum simpul,
"Mas yang potong ya!"
"Iya mas!"
Riko memotong kue nya untuk Mira,
"Ini!"
"Makasih mas!"
"Dek, takut kembang api gak?"
"Gak mas, Aku suka lihat kembang api!"
"Mas nyalain ya!"
"Sambil makan kuenya!"
"Iya mas!"
Riko mengambil sebungkus kembang api kecil, lalu memegang gagang kawat dan meletakkannya di pot bunga. Setelah itu di nyalakan. Riko sangat senang sekali melihat Mira yang sangat bahagia walaupun ulang tahunnya di rayakan dengan cara yang sederhana,
Mas akan selalu menjaga mu, sebisa mungkin mas gak akan membuat mu menangis! Riko.
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.
__ADS_1