Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 62


__ADS_3

Angga baru pulang dari sekolah. Dilihatnya juga adik-adiknya berada di gendonganan pelukan Ibu nya yang masih menangis. Setelah meletakkan tasnya di kursi sofa, dia mendekati Ibunya,


"Kenapa Ibu menangis?" tanya Angga seraya menarik tangan Riko yang bergelayut di tangan Mamanya.


"Ayah mu Ngga!"


"Hik.. hik.. hik..."


"Ayah kenapa Bu?" Angga bingung.


"Kata Tante yang tadi bersama Ayah!"


"Riko kan punya adik lagi kak!" jawab Riko kecil setelah naik ke pangkuan kakaknya.


"Apa?" Angga menatap Riko,


"Maksud Riko apa Bu?"


"Ayah mu!" Bu Senja menerawang jauh.


-----


Di Rumah sakit.


Pak Seto membawa amplop yang diberikan dokter padanya. Amplop berisi hasil dari tes DNA. Pak Seto menghampiri wanita yang telah selesai menyusui bayinya yang baru lahir 8 jam yang lalu.


"Bagaimana mas?"


"Cocok kan?" tanya Mery seraya tersenyum sumringah.


"Hmmm."


"Saya minta tolong ya mas!"


"Tolong jaga Aro kecil bersamamu dan Mbak Senja!" ucap Mery sebelum mencium pipi tembem putranya itu.


"Apa maksud mu?"


"Ku beri nama dia Aro Hendra Gunawan, agar almarhum Ayah nya selalu bersamanya!" ucap Mery haru.


"Dokter sudah memberi tahu mas kan, mengenai aku?" Mery melihat pak Seto dengan tatapan nanar.


Pak Seto diam. Tadi saat dokter memberikan amplop itu, dokter juga berkata bahwa Mery mengalami pendarahan, preeklamsia kondisi dimana ibu maupun bayi dalam kondisi kritis padahal sebelumnya baik-baik saja (maaf jika saya salah). Pak Seto yang mendengarnya tak bisa berkata apa-apa, saat Ia akan memberitahu kepada istrinya, Bu Senja sama sekali tak menerima panggilannya, bahkan chatnya pun diabaikan.


-----


Di Rumah.


Pak Seto yang baru pulang menuju ke dapur, Ia mengambil air minum. Saat mengetahui Ayahnya pulang, Angga menghampirinya,


"Ayah?"


"Iya Ngga ada apa?" tanya Pak Seto seraya meletakkan gelas kosongnya di meja.


"Ibu..." Angga tak meneruskan perkataannya tentu saja Ayahnya tahu apa yang akan di bicarakan oleh nya.


Pak Seto mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Pak Seto duduk di kursi meja makan dab Angga pun duduk di sebelahnya. Pak Seto menerawang jauh saat melihat putra sulungnya. Tentu saja dia harus menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya.


Flashback off.


-----


"Ok Yah!"


"Saya mengerti keadaan Ayah,"


"Tapi mengapa Ayah membawa Lisa juga?" Bu Eny menatap pria di depannya, seprang pria yang dia panggil dengan sebutan Ayah seperti Almarhum suaminya.


"Awalnya Ayah membawa Lisa agar Ibu mu bisa menerima penjelasan Ayah!"


"Tapi hasilnya nihil!"


"Jadi Eny, tolong bantu Ayah menjelaskan semuanya kepada Riko!"


"Iya,"


"Saya akan membantu Ayah!"


"Tapi bolehkah besok kita makan malam bersama?"


"Saya ingin sekali bertemu dengan Lisa, Ayah!"


"Tentu saja!"


----


Di Rumah.


Bu Eny pulang membawa sekotak pizza, di letakkannya di meja makan. Lalu dia pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian dia turun dan ada Izza bersamanya. Mak Idah dan Bi Lastri (Ibunya Hari) kebetulan juga ada di dapur.

__ADS_1


"Mak, Bi!"


"Ayo gabung, kita makan pizza bareng ya!" ajak Bu Eny.


Mak Idah dan Bi Lastri pun ikut makan bersama. Setelah hampir habis pizza Izza beranjak dari tempat duduknya, mengambil susu dalam lemari pendingin,


"Mak Idah?"


"Eh iya Non! ada apa?"


"Mak Idah ikutkan bersama kami besok sabtu?"


"Kemana Non?"


"Mak Idah lupa?"


"Kan besok sabtu pertunangannya Riko!" Bu Eny menjawab.


"Kok Mak ikut juga Bu?"


"Kalau mak gak ikut, kita gimana?"


"Kan mak Idah tetua di rumah ini!"


Mak Idah terharu, meskipun ia hanya seorang asisten rumah tangga, namun seluruh keluarga menganggapnya lebih dari itu,


"Rumahnya gimana Bu?"


"Kan sudah ada Bi Lastri mak!"


"Nanti Biar pak Mun (satpam komplex) yang temenin Bibi, ajak Hari juga ya Bi!"


"Iya Bu,"


"Mak Idah ikut saja, urusan rumah biar saya dan Hari yang jaga!" Meskipun baru sepekan Bi Lastri bekerja di rumah ini, namun Bu Eny sepenuhnya percaya dengannya apalagi yang mengajak Bi Lastri bekerja di rumah ini adalah Riko sendiri.


"Kalu begitu Mak Idah nurut saja. Mira juga sudah Mak anggap sebgai anak sendiri di rumah ini!"


"Nah gitu dong Mak!" sahut Izza seraya meletakkan gelas kosongnya di wastafel.


-----


Di kamar Riko.


Riko membuka koper yang di berikan oleh Almarhum pak Angga, kakaknya. Saat dibuka ternyata koper itu berisi barang kenangan bersama saat dia masih kecil dulu. Foto-foto saat keluarganya masih utuh. Beberapa kali Riko membuka album yang telah usang itu dan tersenyum mengenang masa kecilnya yang hampir tak pernah Ia ingat lagi.


Setelah meletakkan albumnya kembali, Riko mengambil sebuah buku catatan berwarna coklat yang cukup tebal. Riko membuka lembaran pertama dan tertulis kata 'Ayah' di sana. Tentu hal itu membuat Riko membuang kasar buku catatan itu. Saat akan menutup kembali koper itu, Riko melihat lagi buku catatan itu. akhirnya dengan menimbang cukup lama, Riko mengambilnya kembali.


Flashback on,


Ada hal lucu yang Ia ingat, saat Riko menangis karena Angga mengejeknya. Ada moment dimana Angga berkata bahwa Riko tak mempunyai Ayah, dia hanya ikut-ikutan memanggil Ayah. Tentu saja perdebatan yang telah di nanti Angga berhasil, Riko kalah telak membuktikan bahwa dia hanya ikut-ikutan memanggil Ayah kepada Ayahnya. Riko mengadu kepada Pak Seto,


"Ayah, benarkah Riko hanya ikut-ikutan memanggil Ayah dengan sebutan Ayah?"


"Tentu tidak, semua irang memanggil Ayah mereka dengan sebutan Ayah!"


"Apa mereka hanya ikut-ikutan?" tanya Pak Seto dengan meletakkan kembali koran yang Ia baca.


"Tapi kata kakak, Riko hanya ikut-ikutan!"


"Apa itu adalah kelebihan menjadi anak sulung Ayah?"


"Hmmm." Pak Seto bingung juga menjawab pertanyaan Riko kecil, dilihatnya Angga yang tertawa cekikikan mendengar obrolan mereka. Rencana nya berhasil membuat adik laki-lakinya menangis.


"Lalu apa yang Riko mau sekarang?" Pak Seto mengangkat tubuh Riko dan meletakkan di kursi sebelahnya.


"Bisakah Riko menjadi anak sulung Ayah?"


"Maksud Riko?"


"Riko mau nanti saat adik lahir, dia bisa meniru Riko Ayah!"


"Riko janji tak akan mengejeknya saat dia meniru Riko nanti!"


"Ma'af Riko, Ayah sudah tua!"


"Maksud Riko menjadi anak sulung Ayah bagaimana?"


"Kan sudah kak Angga yang jadi anak sulung Ayah!"


"Hmmm,"


"Ayah benar-benar sudah tua!"


"Maksud Riko bisakah Riko memanggil Ayah dengan sebutan lain?"


"Agar adik nanti bisa memanggil Ayah dengan sebutan yang sama?"


"Oh, maksud Riko dengan anak sulung itu seperti itu?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh dong!"


"Riko mau memanggil Ayah dengan sebutan apa?"


"Bolehkah Riko memanggil Ayah dengan sebutan "Papa'?" tanya Riko dengan mata berbinar-binar.


"Tentu saja boleh!"


"Mulai sekarang Riko memanggil Ayah dengan sebutan Papa ya!"


Riko mengangguk semangat, akhirnya dia bisa menjadi anak sulung versi dirinya. Tentu saja hal itu membuat Riko kecil senang bukan main.


Flashback off.


Riko membuka beberapa halaman terakhir di buku catatan itu. Tertulis bahwa ada kesalah pahaman mereka selama ini terhadap Ayahnya, dimana Bu Senja yang tak ingin mendengarkan penjelasan saat Pak Seto membawa pulang Aro kecil bersamanya.


Tak terasa mata Riko sembab menbaca halaman itu. Akhirnya dia tahu kenapa Ayahnya tak menemui dirinya dulu, semuanya karena permintaan Ibunya. Riko tak habis pikir, bagaimana dia sama sekali tak mau mendengar penjelasan dari Ayahnya, bukannya dia sudah sanagt dewasa menerima penjelasan Ayahnya.


-----


Di Balkon.


Bu Eny menghampiri Riko yang menatap langit yang mulai bermunculan bintangnya,


"Apa Mira disana?" Bu Eny menatap langit dengan heran.


"Kakak, maaf Riko gak tahu kehadiran kakak!"


"Hmmm,"


"Yang mau lamaran, kok melamun terus sih!"


"Lagi mikirin apa?" Bu Eny menaikkan kedua alisnya.


"Riko baru membaca ini kak!" Riko memperlihatkan buku catatan yang Ia baca tadi.


"Itu apa?" Bu Eny menegerutkan dahinya.


"Ini buku catatan milik kak Angga!"


"Sebelum kejadian itu, kak Angga memberikannya kepada ku!"


"Jadi apa isinya samapi membuatmu melamun begitu?"


"Isinya tentang Papa kak!" Riko kembali menatap langit.


"Ternyata Papa selama ini tak seperti yang Riko bayangkan!"


"Hmmm,"


"Maaf Riko, sebenarnya kakak bertemu dengan Ayah tadi pagi!"


Riko menatap Kakak iparnya bingung,


"Ada apa dengan Papa kak?"


"Kak bingung mau mulai dari mana,"


"Tapi Ayah meminta untuk menjelaskan ke kamu dan ayah juga ingin bertemu dengan mu!"


"Apa aku masih berhak bertemu dengan Papa kak?"


"Setelah apa yang selama ini Riko lakukan terhadap Papa?"


"Kenapa tidak Riko, Ayah akan enang sekali jika kamu mau menemui Ayah!"


"Benarkah?"


Bu Eny mengangguk.


-----


Di Apartemen.


Riko menekan bel di apartemen itu. Dia sangat was-was, sesekali dia memutar-mutar keranjang buah yang dibawanya agar mengurangi rasa gelisahnya. Tak butuh waktu lama, pintu apartemen dibuka oleh seorang laki-laki yang sangat Ia rindukan,


"Riko?" ucapnya tak percaya.


"Ayo masuk!" terdengar suara haru disana.


Riko mengikuti ajakan pria parubaya itu.


.


.


.


**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.

__ADS_1


Mungkin setelah ini saya akan up di fb, di karenakan takut kalau sewaktu-waktu tulisanku hilang lagi, bahkan berubah seperti episode 61 dan 62, padahal saya benar-benar yakin kalau itu episode ke 62. Tapi saya takut kalau di copy tulisan saya. jadi ada yang bisa bantu bagaimana saya harus menyimpan file nya, padahal sudah tak bintangi, tapi masih berubah. Mungkin Apk nya yang error. Terima kasih buat semangatnya. luv readers. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜**


__ADS_2