
Sore ini Adi yang memberi petunjuk kemana mereka akan pergi. Dia hanya mengajak ke sebuah jembatan yang baru dibuat. Jembatan yang dibuat untuk menghubungkan antar Kecamatan, karena Kecamatan itu terpisah karena sungai Bengawan Solo. Meski hanya sebuah jembatan itu sangat Adi senang, di sekitar jembatan itu banyak sekali para penjual makanan, meskipun lidah Riko hampir tak pernah makan makanan itu tapi demi Adi dia rela mencoba makanan itu.
"Paman beli itu ya?" Adi menunjuk sebuah gerobak warna hijau bertuliskan 'SEMPOL' yang hampir memenuhi besar gerobak itu.
"Itu kan gak sehat Di!"
"Tapi…!" Adi tak menuruskan kalimatnya.
Melihat Adi sangat menginginkan jajan itu Riko akhirnya mengalah,
"Ya sudah ini beli!" Riko memberikan uang selembar dua puluh ribuan.
"Boleh paman?"
"Iya boleh!"
"Tapi jangan sering-sering makan gorengan ya?"
"Iya Paman!" Adi berlari menghampiri penjual itu.
Dari awal turun sampai kini Riko menghampirinya, Mira sibuk berfoto ria dengan pandangan sungai dibawahnya dan Mira berfoto dari ujung jembatan sehingga bagian tengah jembatan terlihat dan sungainya juga terlihat. Memang terlihat norak, tapi memang itu yang sering Mira lakukan jika pulang ke rumah.
"Sibuk amat Dek!" ucap Riko setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Hehehe…" Mira menghentikan kegiatannya.
"Mas kayaknya kita gak pernah selfie berdua deh!"
"Ya sudah, mana ponselmu?" Mira memberikan ponselnya.
"Sini, jangan jauh-jauh!" Riko merangkul Mira dengan lengan kirinya dan kini Mira tepat dibawah ketiak Riko.
Mira memang pendek, kecil lagi. Sedangkan Riko badannya tinggi dan dia juga berbadan atletis, sangat mempesona sekali, apalagi Riko mengenakan kaos pas di badannya, sangat terlihat mempesona. Mira yang memakai rok jumpsuit jeans dan juga kaos dalam nya yang panjang berwarna biru, membuat Mira terlihat pendek jika Mira di samping tunangannya itu.
"Ah mas tinggi banget!" ucap Mira dengan mengangkat tangannya untuk menggapai rambut Riko.
Riko tak menyia-nyiakan pose itu, dia pun mengambil foto mereka berdua. Mira yang tak menyadarinya menjinjitkan kakinya, karena memang dia tak memakai sandal hak tinggi, dia hanya memakai sandal biasa dengan bulu pompom di bagian depan sandal itu.
"Ayo mau selfie yang gimana?" tanya Riko yang pura-pura belum mengambil foto mereka.
Mira menutup matanya dan menempatkan sebelah matanya dengan tangan yang membentuk huruf 'V', tak lupa dia berusaha tersenyum manis walaupun dia tak melihat kamera ponselnya. Riko juga sama, dia tak melihat kamera nya, justru dia melihat Mira. Foto pun diambil.
"Bi… Paman!" Adi datang dengan membawa sebungkus plastik berisi sempol beserta saus pedas di dalamnya.
"Eh itu sempol Di?" tanya Mira yang kini sudah melepas tangan Riko dari pundaknya kemudian menghampiri Adi.
Riko melihatnya dengan membuka mulutnya.
"Minta ya Di?"
"Iya Bi."
"Kamu beli berapa sih?"
"Kok cuma sedikit?"
"Lima ribu Bi?"
"Oh iya ini Paman kembaliannya!" Adi memberikan kembaliannya.
"Buat kamu saja!"
"Uang paman banyak!"
"Yeee, makasih paman!"
"Iya!"
"Tapi jangan sering-sering makan makanan gorengan ya Di!"
"Hehehe, iya paman!"
Mira mengambil dua tusuk sempol, yang satu dia makan yang satunya lagi dia berikan ke Riko.
"Ini mas!"
Riko sebenarnya ingin menolak, tapi Adi sedari tadi melihatnya dengan mengunyah jajan itu di dalam mulutnya. Riko mengambilnya dan memakannya.
"Hemmm,"
__ADS_1
"Ini kayak bakso?"
"Ya memang memang bakso mas!"
"Cuma ini setelah di rebus lalu di goreng dengan telur!"
"Oh…"
"Enak gak Paman?"
"Lumayan!"
"Apa Paman gak pernah makan sempol?"
"Gak pernah Di,"
"Tapi kalau bakso sering banget, soalnya favorit paman!"
"Oh, apa memang di Surabaya gak ada yang jualan sempol?" tanya Adi sebelum memakan sempol dari tangannya.
"Banyak yang jual, tapi paman yang gak beli!"
"Oh!"
"Di?"
"Apa paman?"
"Mbah Kung sama Mbah Putri suka makan sate gak?" tanya Riko saat melihat gerobak sate.
"Suka paman!"
"Kalau gitu beli Di!"
"Lima puluh ribu ya!" Riko memberikan Adi selembar uang berwarna merah.
"Dan pesan tiga porsi untuk kita, jadi nanti kita gak usah makan di rumah!"
"Ini beneran paman lima puluh ribu di bungkus?" tanya Adi dengan tatapan tak percaya.
"Iya apa kurang banyak?"
"Bukan itu paman!"
"Ah gak pa pa!"
"Jangan lupa setelah memesan ke sini lagi!"
"Kenapa gak kita saja yang kesana mas?" tanya Mira.
"Disana rame, nanti kita kesana kalau sudah jadi satenya!"
"Oh!"
"Paman?"
"Apa Di?"
"Paman mau sate kambing apa ayam?"
"Kambing saja!"
"Kalau Bibi?"
"A…"jawaban Mira terpotong oleh Riko.
"Bibi juga kambing!" ucap Riko cepat.
"Di, nanti yang di bungkus tiga puluh ribu sate kambing ya! Dan sisanya ayam!"
"Oke!" Adi berlari lagi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa sate kambing nya banyak?"
"Bapak suka sate kambing mas!"
"Itu kan kolestrol gak baik untuk orang tua!"
"Itu kan buat orang yang sering mengkonsumsi mas!"
__ADS_1
"Ini bapak jarang makan daging kambing!"
"Lha memang bapak jarang makan daging kambing ya?"
"Jarang mas!"
"Kan di pasar gak ada yang jualan!"
"Kenapa?"
"Soalnya daging sapi sama kambing harga nya hampir sama!"
"Jadi lebih banyak yang jual daging sapi!"
"Oh…"
Hah… hah… hah… nafas Adi memburu, dia menghampiri Riko dan Mira dengan berlari.
"Kenapa lari-lari?"
"Biar cepet kurus paman!"
"Hah… hah… hah…."
"Mau cepat kurus?"
"Kayak paman?" Riko membuka kaos bagian bawah sehingga menampilkan perutnya yang sudah mirip roti sobek saja. Mira memalingkan wajahnya sesaat setelah melihat 'roti sobek' Riko sekilas.
"Mau?" wajah Adi sumringah.
"Sering olahraga dan jangan makan gorengan!"
"Halah…" Adi lesu setelah mendengar kalimat dari Riko.
"Katanya m
"Baru dengar syaratnya saja sudah menyerah!"
"Itu Paman yang sulit!"
"Gak ada cara yang cepet gitu paman?"
"Gak ada!"
"Huff…"
"Di?"
"Apa paman?"
"Fotoin kita dong!"
"Mana ponselnya?"
"Ini!" Riko memberikan ponsel Mira kepada Adi. Adi menerima nya.
"Ayo Dek!"
Mira ada di depan Riko, Mira membentangkan tangannya seperti adegan Titanic sementara Riko menutup mata Mira, dia tak ingin memeluknya di depan banyak orang. Sebenarnya Riko malu karena ulah mereka, namun ketika dia melihat banyak orang yang melakukannya dia pun mengikuti kemauan Mira. Kini Mira dan Riko membelakangi Adi dan saling menoleh, Riko memberi abacaba ke Adi agar memotret mereka. Selanjutnya Rikk bersandarkan pagar dari jembatan itu, sementara Mira diminta Riko untuk duduk diatas pagar dengan salah satu tangannya memegang tangan Riko, Riko juga memintanya agar kaki Mira diluruskan sebelah dan satunya dibengkokkan sedikit, seperti sedang berjalan. Meskipun sedikit kesulitan tapi Mira senang karena Riko memegang tangannya. Foto diambil.
"Sudah belum paman?"
"Sebentar!" Riko mengatur pose yang akan dia ambil bersama Mira. Sangat ribet sekali.
"Hadeh!"
"Jadi ini alasan mengapa aku harus ikut ikut mereka dan paman mengiyakan ajakan ku untuk jalan-jalan?"
"Ternyata untuk dijadikan fotografer dadakan!" gerutu Adi pelan.
"Sudah Di!" Riko dan Mira duduk saling membelakangi, dengan kaki menekuk mereka melihat Adi seraya tersenyum lebar.
Adi pun memotretnya. Akhirnya menjadi seorang fotografer dadakan telah usai, setelah Kang sate memanggil Adi karena pesanannya telah disiap. Mereka pun datang ke meja Kang sate itu.
.
.
.
__ADS_1
**Bersambung. Terima kasih sudah Mampir mohon krisannya.
Selamat Hari Raya Idul Adha, mohon ma'af lahir dan bathin**.