
Mak Idah bangun seperti biasanya, melihat kamar Mira yang masih terbuka, dia tak membangunkan Mira.
Mungkin Mira lupa menutup pintunya, karena sudah ngantuk berat. Mak Idah.
Dia tak berusaha membangunkan Mira, karena dia tahu Mira tidur larut malam.
Kali ini, mak Idah membuat nasi goreng untuk sarapan, karena tadi malam Izza request menu itu. Mencium aroma nasi goreng Mira bangun dari tidur nya, berlari menuju ke dapur, melihat mak Idah sudah selesai memasak Mira merasa bersalah.
"Ma'af mak baru bangun."
"Mak, kenapa gak bangunin Mira?"
"Mak tahu kamu tidur larut malam, makanya mak gak bangunin."
"Kalau gini kan, Mak jadi bersih-bersih sendiri,"
"Masak juga sendiri." ucap Mira merasa bersalah.
"Sebelum ada kamu kan, apa-apa juga mak sendiri." kata mak Idah yang masih menggoreng nasinya.
"Ma'afin Mira mak, udah bangun siang."
"Apanya yang siang, baru juga jam 5."
mak Idah berusaha menenangkan Mira, dia tahu Mira akan gugup lagi.
"Ya sudah, tolong ambilkan piring nya!"
"Berapa mak?"
"4, gak tahu nanti mas Riko sama bu Eny sarapan pake apa!"
"Baik mak."
Mira menata piring berisi nasi goreng itu di meja, melihat nasi goreng itu Mira jadi ingin sarapan pagi. Karena memang nasi goreng nya banyak sekali "penduduknya" ada yang bulat-bulat hijau, Mira belum tahu kalau itu kacang polong, ada juga sosis, irisan daging ayam, ada udang juga.
Mira ke lantai atas untuk melihat Izza.
Tok... tok... tok... Mira mengetuk pintu kamar Izza.
"Masuk mbak!"
"Mbak baru bangun ya?"
"Eh iya non ma'af."
"Non sudah mandi ya?"
"Iya mbak,"
"Tadi mak Idah yang ngambilin air nya."
"Haduh... ma'af ya non!"
"Gak pa pa mbak, tadi mak Idah sudah ngomong kok, kalau tadi malam mbak nungguin Om Riko."
"Eh, Iya ma'af ya non."
"Udah dong mbak jangan minta ma'af melulu!"
"Sekarang Izza mau dikepang rambutnya lagi, tapi..."
Izza menyalakan hp Android miliknya dan membuka galeri.
"Tapi apa non?"
"Tapi ngepangnya kayak gini mbak, kepangannya dibuat kayak bando gitu!"
Izza menunjukkan foto di hp miliknya dan menunjukkkan ke Mira.
"Oh kayak gini non,"
"Mbak pernah bikin sih, tapi gak terlalu rapi non, gimana?"
"Gak papa mbak, dicoba aja dulu."
Mira mengambil sisir yang ujungnya lancip dan mulai mengepang rambut Izza setelah merapikannya. Mira membuat batas rambut yang akan dikepang nya, mulai membagi tiga dan mengepang. Izza tak sabar melihat hasil dari kepangan rambutnya, karena sebelumnya rambut Izza belum pernah dikepang berbentuk bando.
"Udah selesai ya mbak?" Izza meraba rambut yang dikepang Mira.
"Bentar lagi non!"
"Tinggal mengikat dengan karet ini."
"Duh mbak gak sabar liat hasilnya!" kata Izza histeris, dia mengambil kaca untuk melihat nya.
"Nah udah diikat, gimana non?"
"Mau pake pita apa jepit rambut aja?"
"Wah mbak, Izza suka sekali,"
"Rapi ini mbak, makasih ya mbak!" Izza masih histeris, dia tak sabar ingin memamerkan pada temannya di sekolah nanti.
"Mbak juga gak percaya non, bisa rapi,"
"Mungkin karena tambut non lembut sekali mudah diatur non."
"Ini jadi pake yang mana non?"
Mira memegang pita dan jepit rambut berbentuk pita yang berkilauan jika terkena cahaya.
__ADS_1
"Jepit rambut aja mbak!" jawab Izza yang masih meraba rambutnya sambil bercermin.
Mira mengaplikasikan jepit kerambut nya Izza, Izza semakin terpesona melihat rambutnya.
"Cantik ya mbak aku?"
"Iya cantik... Non izza kan selalu cantik."
Izza mengajak Mira turun kebawah, gadis itu tak sabar memamerkan rambut ke Mama nya.
Di meja makan. Izza menyapa Mama Dan Papanya. Tak lupa juga dia memamerkan rambutnya yang dikepang. Bu Eny memuji putri kecilnya itu, sementara Pak Angga masih fokus dengan hp nya. Jam berdentang 6 kali. pak Angga memanggil Mira.
"Mbak Mira... tolong panggilkan Riko mbak!"
"Iya pak."
Mira naik ke lantai atas, dan mengetuk pintu kamar Riko.
Tok... tok.. tok...
"Mas Riko... mas?"
"Iya mbak bentar... ada apa?" jawab Riko dari dalam kamar.
"Ditungguin pak Angga mas."
"Iya mbak!"
Riko membuka pintu, dia kaget melihat Mira masih menunggu nya.
"Nih mbak bawain, mau masang dasi."
Riko menyerahkan tas kerjanya dan memasang dasi seraya berjalan.
Mira mengangguk.
"Mbak nanti tolong bikinin susu yang aku minum kemarin ya?"
"Iya mas."
"Takarannya sudah ada dikemasan!"
"Iya mas."
Riko dan Mira setengah berlari menuju lantai bawah. Riko duduk, Mira segera ke dapur membuat susu untuk Riko.
"Om liat deh cantik kan?" ucap Izza memamerkan kepangan rambutnya.
"Ih jelek tau, siapa yang ngepang?"
"Apaan sih, mbak Mira tau yang ngepang." jawab Izza cemberut.
"Udah ayo sarapan, Izza cantik kok!" kata pak Angga memuji putrinya.
"Apaan sih!"
"Tambah jelek tuh." balas Riko tak kalah sengit.
"Sudah... sudah masih pagi juga, sudah pada ribut."
"Om tuh ma." Izza melotot ke Riko.
"Apaan ih anak kecil ini."
"Udah dong Riko, kamu tuh gak mau ngalah."
"Hehehe." Riko cuma terkekeh.
"Pasti Om iri kan, rambutnya gak bisa di kepang.. wekkk." Izza mengejek lagi.
"Apaan sih."
"Udah aku gak mau berdebat lagi,"
"Udah laper."
"Hufh..." Izza menghela nafas.
Riko mengambil roti gandum dan telur rebus untuk sarapan. Sementara bu Eny mengaduk salad buahnya. Pak Angga dan putrinya sarapan dengan nasi goreng.
Setelah menikmati sarapannya. Riko minum susu yang telah dibuat Mira untuknya. Izza juga minum susu untuknya, sementara pak Angga dengan kopi hitam kesukaannya.
"Ayo pa, berangkat!" ajak bu Eny menyerahkan kunci mobil ke suaminya.
"Ayo... mbak, Izza berangkat ya!"
"Da da mbak."
"Da non..." Mira membalas dengan melambaikan tangan nya.
Mira menutup pagar, dan masuk ke dalam rumah. Mak Idah mengajak Mira sarapan, agar segera melakukan tugas rutinitas di rumah itu.
------
Siang ini Mira yang menyetrika semua baju, dia merasa bersalah karena telat bangun pagi. Mira ke dapur setelah di panggil mak Idah.
"Ada apa mak?"
"Nih mak baru beli bakso tadi."
Mak Idah memberikan mangkok berisi bakso ke Mira.
__ADS_1
"Mak malas masak nasi, nanggung,"
"Nanti sore mak masak nasi lagi."
"Eh iya mak, gak pa pa."
Mira dan Mak Idah menikmati bakso nya.
"Kamu dah selesai menyetrika Mir?"
"Sudah kok Mak, tinggal naruh dilemari." jawab Mira singkat, dia masih fokus mengiris bakso dengan sendok, bakso jumbo soalnya, gak muat kalau sekali hap.
"Ya udah, biar Mak nanti yang naruhnya!"
Selesai menikmati baksonya Mira dan mak Idah kembali ke tugas masing-masing. Mak Idah masuk ke kamarnya untuk menonton sinetron ikan terbang kesayangannya, sementara Mira tidur siang dan memasang alarm tepat jam 2. Dia tidak ingin terlambat seperti kemarin.
Mira bangun sebelum alarm berbunyi, dia melihat jam, ternyata jam 2 kurang 8 menit. Mira mematikan alarm nya, dan segera ke depan rumah menunggu Izza. Selagi menunggu Izza, Mira menyapu garasi.
Tiba-tiba ada seorang gadis menyapanya.
"Hai mbak!"
"Eh hai juga mbak." Mira gelagapan menjawab karena kaget. Mira segera membuka pagar.
"Mbak baru ya?"
"Eh ya mbak."
"Mbak namanya siapa?"
"Nama saya Mira mbak,"
"Nama mbak siapa?"
"Namaku Desi mbak."
"Mbak tinggal dimana?"
"Tuh mbak, rumah pak Adi."
Desi menunjuk rumah itu.
"Depan rumah ini dong mbak?"
"Hehehe iya mbak,"
"Salam kenal ya mbak."
Desi menyerahkan sebuah plastik berisi kotak.
"Salam kenal juga mbak,"
"Ini apa mbak?"
"Itu oleh-oleh mbak, dari Bu Adi."
" Beliau sekeluarga baru pulang dari Banyuwangi."
"Oh makasih ya mbak?"
"Iya mbak sama-sama,"
"Kalo gitu aku pulang dulu ya mbak!"
"Iya mbak, makasih loh ya."
"Iya mbak."
Mira masuk ke dalam rumah dan meletakkan oleh-oleh itu di meja. Bel berbunyi, Mira segera membuka pintu dan pagar.
"Siang non!"
"Siang juga mbak."
Mira membawakan tas milik Izza.
"Non Izza pulang sama siapa?"
"Sama supir kantor Papa mbak."
Izza melemparkan tubuhnya di sofa.
"Oh... non Izza capek ya?"
"Iya nih mbak."
"Mbak buatin jus jambu ya non?"
"Jus alpukat aja mbak!"
"Ok non."
Tak lama Mira membawa jus alpukat, Izza segera meminumnya. Izza ke lantai atas, Mira mengekori nya.
"Mbak, Izza mau mandi dulu,"
"Nanti kita main ya mbak!"
"Iya non."
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama Author. Mohon kritik dan sarannya. Ma'af jika ada tanda baca. ataupun typo. Mohon bimbingannya