
Riko masuk kedalam mobil dan melihat Mira,
"Kenapa mas?" ucap Mira saat Riko kambali seperti tadi waktu di bioskop.
"Mas boleh gak minta cium?"
Mira takut, karena Riko berkata dengan suara serak apalagi kali ini tatapan Riko seakan akan memakannya bulat-bulat.
Mira menggeleng sebagi jawabannya, sehingga Riko kembali kesal. Untuk menenangkan Riko, Mira berinisiatif untuk mencium pipinya karena menurutnya itu lebih aman daripada Riko yang menciumnya.
Riko tahu Mira akan mencium nya dilihat dari mata Mira yang sesekali meliriknya dan bahasa tubuhnya yang gemetar. Tentu saja Riko akan memberikan kejutan untuk Mira. Riko pura-pura tak melihatnya saat Mira mendekatkan bibirnya ke pipi dan saat sudah dekat Riko memutar kepalanya sehingga yang dicium Mira dalah bibir Riko.
Mira kaget dan bukan itu saja Riko juga memegang pundak Mira. Mira memejamkan matanya dan tak merespon ciuman dari Riko.
"Kenapa gak bernafas?" tanya Riko setelah melepaskan *******nya.
"Gak bisa mas!" jawab Mira dengan membulatkan matanya.
"Pelan-pelan bernafaslah!"
"Dan buka mulutmu!" Riko mendekatkan lagi bibirnya dan menciumnya lagi, jika tadi Mira tak meresponnya kini Mira membuka mulutnya dan ternyata ada sengatan listrik dari dalam otaknya, karena merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan dia mencoba memejamkan matanya dan berakhir dengan dia mendorong Riko, karena kehabisan nafas.
"Hah... hah... hah..."
"Ma'af mas!"
"Mas yang minta ma'af sudah memaksa mu!"
Mira menunduk dan mengambil bunga nya, diantara malu dan mau Mira menyembunyikan wajahnya lagi dengan mencium bunga di tangannya. Riko pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
-----
Di Warung Bakso.
Sebelum pulang ke rumah, Riko mengajak Mira makan bakso di warung dekat taman langganan mereka. Mira dan Riko memilih untuk makan di luar warung itu. Mira duduk sedangkan Riko yang memesan baksonya,
"Adek kapan rencana pulang ke desa?" tanya Riko seraya duduk di depan Mira.
"Mungkin bulan depan mas!"
"Kenapa?"
"Mas mau ikut adek pulang boleh?"
Mira membelalakan matanya seakan bertanya 'kenapa?'.
"Mas mau melamar Adek!"
"Apa Adek mau menikah sama Mas?" tanya Riko dengan menggenggam tangan Mira di atas meja.
Ini Mas Riko gak romantis banget! pertama kita pacaran di bawah pohon di taman eh ini kenapa acara melamar pun di warung bakso? Hadeh... tapi aku suka! setidak nya Mas memberi aku kepastian kemana arah hubungan kita. Mira.
"Gimana Dek? Adek mau kan?" tanya Riko kembali.
"Ma'af mas!" Mira melepas tangannya dari genggaman Riko.
"Bukannya Mira menolak, tapi Mira masih memikirkan keluarga kita nantinya!"
"Kehidupan ku yang dari desa!"
"Pendidikan ku!"
"Dan yang lebih penting restu dari keluarga kita!"
"Hmmm,"
"Mas tunggu jawaban mu ya Dek!"
"Pikirkan baik-baik!"
"Mas sepenuhnya menerima masa lalu mu dan keluarga mu!"
"Untuk keluarga mas yang kini tinggal Bu Eny dan juga Izza!"
"Mas yakin mereka merestui hubungan kita!"
"Iya mas!"
"Semoga saja keluarga Mira juga begitu!"
__ADS_1
"Ini mas mbak bakso sama es nya!"
"Eh iya makasih bang!"
"Iya mbak!" Abang bakso itu pun berlalu dan meladeni pembeli yang baru datang.
"Eh, kita makan dulu saja ya!" ajak Riko. Dia yakin sebenarnya Mira mau menjadi makmumnya apalagi dari tadi pipi Mira merah merona saat dia menanyakan perihal untuk memperistrinya.
-----
Pagi ini, tak ada yang berbeda dari pagi-pagi seperti biasanya. Mira yang sudah bisa memasak di bantu oleh Bu Eny dan Mak Idah yang bebersih rumah. Entah mengapa kali ini Bu Eny sering sekali melihat Mira sesekali tersenyum dan menggenggam tangannya.
Mira merasakan ada yang berbeda pada keluarga ini, apalagi saat mereka sarapan bersama,
"Kak Mira semangat ya!" ucap Izza seraya mengepalkan tangan kanannya.
"Kenapa Za?" tanya Mira bingung.
Riko dann Bu Eny melihat Izza.
"Kan sekarang hari pertama kakak kerja, setelah cuti!"
"Oh!"
"Iya maksih semangatnya ya dek!"
"Iya kak!"
"Tenang Om! Tenang!" ucap Izza pada Riko yang sedari tadi melihatnya.
Mira merasa heran, ada sesuatu yang tak beres pagi ini.
"Ehemmm!" Riko berdehem lumayan keras, mempringatkan Izza agar tak banyak bicara. Namun respon Izza malah sebalinlknya, dia malah tertawa dengan keras.
"Hahaha!"
"Iya Om! Iya!"
"Santuy!" ucap nya dengan membuat tanda 'V' dengan tangan yang dia letakkan di bibir mungilnya.
"Hadeh!" Riko menyerah.
-----
Izza yang biasanya diantar oleh Mamanya pagi ini dia berangkat dengan menggunakan taksi. Riko yang selalu berangkat dengan Mira walaupun kadang turun di halte bis, kini sudah berangkat setelah sarapan tanpa pamitan dengan Mira. Dan Mira sedang menunggu Bu Eny yang entah dari tadi berbuat apa di kamarnya, padahal tadi pagi sudah mandi dan sudah memakai seragam kantor.
"Mira!"
"Bantu Ibu pilih baju sebentar!" tariak Bu Eny dari dalam kamarnya. Mira pun datang.
"Kenapa pilih baju Bu?"
"Bukannya tadi sudah memakai seragam?" tanya Mira yang kini melihat Bu Eny hanya memakai daster.
"Ibu baru di kasih tahu tadi pagi kalau nanti ada acara penting!"
"Oh!"
"Ibu mau pakai baju seperti apa?" tanya Mira yang tak ingin menanyakan acara penting apakah sampai Bu Eny mengganti bajunya tadi pagi.
"Yang biasa aja sih. tapi tak terlalu biasa!"
"Bisa dibilang elegan tapi gak mau terlalu elegan!"
"Kamu paham kan?"
Mira memutar bola matanya,
"Hmmm, ya sudah Mira bantu!"
"Ibu maunya pakai baju warna apa?" tanya Mira seraya memilih baju di lemari yang sudah terbuka.
"Navi aja tolong pilihkan ya!"
"Maksud Ibu blazer navi!
Mira mengerutkan dahinya.
Bukannya Ibu gak suka warna navi, yang katanya bisa membuat kulitnya serasa berwarna gelap. Mira.
__ADS_1
Mira mencari-cari blazer yang di maksud Bu Eny, namun tak kunjung menemukannya. Dia kemudian melihat Bu Eny yang ternyata tak ikut mencari blazer yang dia maksud, malah semakin asyik dengan ponselnya.
"Ibu bukannya gak punya blazer waena navi ya!" tanya Izza yang mesih mencari-cari blazer itu.
"Oh, Ibu gak punya ya!"
"Ibu kira, Ibu punya, hehehe!"
Mira menghentikan aktifitasnya, kini dia memilih blazer yang sering dipakai oleh majikannya itu yang sudah menganggapnya sebagai Adik.
"Bagaimana kalau warna Orange ini Bu?"
"Ah itu terlalu sering Ibu pakai!" Bu Eny melihatnya sekilas dan kini melihat ponselnya lagi.
"Coba carikan yang lain!"
Mira kembali mencari-cari blazer yang pas untuk Bu Eny, mungkin benar hati ini adalah hari yang penting, sehingga Bu Eny harus terlihat 'lebih' daripada biasanya. Kini mata Mira tertuju pada paperbag berukuran besar bermotif batik di ujung lemari. Dia mengambil paperbag itu dan melihat isinya,
"Ini apa Bu?" tanya Mira dengan menenteng paperbag itu.
"Oh itu?" Bu Eny gelagapan.
"Itu ya itu adalah blazer navi milik Ibu!"
"Ibu lupa kalau masih ada di paperbag!"
jawab Bu Eny dengan mengambil paperbag dari tangan Mira.
"Dan ini untuk mu!" ucap Bu Eny mengambilkan kotak dari dalam paperbag itu.
"Ini apa Bu?" Mira menerimanya.
"Sudah gak usah nanya!"
"Kamu pakai sekarang ya!"
"Dandan lagi yang cantik, Ibu tunggu di mobil!"
Nah loh! kenapa malah saya yang sekarang di tunggu! Mira.
"Ayo cepetan ganti!"
"Ibu juga mau ganti baju!"
"Oh iya... Bu...!" Mira keluar dari kamar Bu Eny. Dia bingung kenapa dia juga harus berganti baju.
-----
Di kamar Mira.
Dia sudah memakai baju yang di berikan oleh Bu Eny. Balzer dengan warna coklat susu dan celana bahan dengan warna senada, Mira memakai kemeja warna putih sebelumnya karena saat akan memakai kaos dia agak kurang 'sreg'. Untuk make up nya Mira hanya merapikan alisnya dan memakai lipbalm nya lagi dan rambutnya di biarkan tergerai seperti tadi, tak ada perubahan untuk make upnya.
Bu Eny menunggu Mira di mobil. Setelah dia berpamitan dengan mak Idah, Mira keluar dan masuk ke dalam mobil. Dari luar Bu Eny menggelang-gelengkan kepalanya, entah apa yang membuatnya begitu.
"Ayo Bu!" ucap Mira setelah memasang sabuk pengamannya.
"Apa nya yang ayo!"
"Kamu masih kucel begitu!"
"Kucel Bu?" Mira mengerutkan dahinya.
"Lepaskan sabuk pengaman mu!"
"Dan hadap sini!" perintah Bu Eny.
Mira menurut. Bu Eny mengambil alat make up nya di tas kecil berwarna merah jambu di console box.
"Oke!"
"Kita mulai!" ucap Bu Eny mantap.
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya. Dan untuk semua yang memberi semangat Luv-luv untuk kalian.
__ADS_1