
Rama ikut pulang ke Surabaya bersama Riko, Johan dan juga Jihan. Dan mereka berpisah saat di bandara Juanda.
-----
Bu Eny mondar-mandir karena baru dapat kabar tak mengenakan dari Bu Santi, kakaknya. Dia tak menyangka kalau Pak Ari melakukan semua itu dan juga dia tak habis pikir, kenapa Riko menyembunyikan semua itu darinya. Mira berusaha menenangkan Bu Eny, tapi Bu Eny tak menanggapinya sebab Mira diam tak memberitahukannya padahal dia tahu.
Riko dan Rama sudah sampai di rumah besar. Riko membayar taksi sedangkan Rama membuka pagar. Mendengar pintu pagar di buka, Mira membukakan pintu untuk mereka. Rama tersenyum saat melihat Mira, terlihat Mira sangat cemas sekali,
"Mas baik-baik saja kan?"
"Iya, mas baik-baik saja kok!"
"Loh tangan mu kenapa?"
"Ah gak pa pa kok mas!"
"Gak pa pa gimana?"
"Ini sampai di perban juga!"
Riko yang mendengar suara ribut segera menghampiri mereka,
"Ada apa sih?" Riko masuk ke dalam rumah dan menggeser Rama.
"Santuy bro, santuy!" ucap Rama kesal.
"Kamu kenapa dek?" Riko tak menghiraukan Rama.
Wuih, Adek... Rama.
"Anu mas, cuma ke gores kok!"
"Ke gores apa? sampai di perban kayak gitu?" tanya Rama menyela, Riko melihat Rama.
"Pisau mas!" sahut Mak Idah.
"Gimana cerita nya kamu bisa ke gores pisau di tangan kanan?" lagi-lagi Rama mendahului Riko bertanya.
"Gak tahu mas, tiba-tiba ada orang lewat terus menggores tangan Mira!"
"Kamu di copet?"
"Aneh nya sih nggak mas Rama!"
"Loh kok gitu?"
"Trus motif nya apa dong?"
"YA GAK TAHU LAH!" jawab Riko berteriak, dia sangat kesal sekali dengan Rama yang perhatian pada Mira.
"Hehehe, Sorry!"
"Gue kan penasaran, setidaknya gue sudah mewakili loe bertanya, jadi kan loe tinggal dengar jawabannya!"
"Bodo!"
"Sudah sana mandi!"
"Gue mau ngobrol sama Mira BERDUAAA!"
"Iya-iya gue tinggalin!" Rama berlalu ke kamarnya dengan diikuti oleh Ibunya.
Kini tinggal mereka berdua. Riko mengajak Mira untuk masuk ke kamarnya karena selain dia capek, dia juga butuh penjelasan musibah yang dialami Mira, bagaimana mungkin kekasihnya itu tak menceritakan apa yang dialaminya,
"Mas gak mandi dulu?" tanya Mira seraya duduk di sofa bed.
"Nanti saja!"
"Kamu kenapa gak cerita sama mas?"
tanya Riko seraya memegang tangan Mira.
"Ya gak mau mas khawatir saja!"
"Memangnya mas gak boleh khawatir sama kamu dek?"
Mira tak menjawab pertanyaan Riko, dia bingung.
"Sebenarnya kamu percaya gak sih sama mas?"
"Kenapa mas bertanya seperti itu?"
"Ya kamu gak mau cerita kalau sedang dalam masalah!"
"Apa lagi ini musibah!"
"Ma'af mas!"
"Mira gak bermaksud begitu, Mira percaya sama mas!"
"Kalau kamu percaya sama mas!"
"Tolong mulai sekarang cerita apapun yang sedang kamu alami, biarkan mas menjadi bagian dalam hidupmu!"
"Iya mas!"
Riko memeluk Mira, namun Mira mendorong tubuh Riko,
"Kenapa?"
"Mas bau ya?" tanya Riko seraya mencium bajunya.
"Riko kamu sudah pulang?" tanya Bu Eny tiba-tiba.
"Kakak dari mana?" tanya Riko seraya berdiri.
Bu Eny tak memperdulikan kalau Mira ada di kamar Riko karena dia sendiri juga marah kepada Mira,
"Kakak dari rumah Kak Santi!"
__ADS_1
"Kamu kenapa kok tega banget sama kakak Riko?"
"Apa kamu gak percaya sama kakak?"
"Huhuhu...." Bu Eny duduk di samping Mira sambil menangis bersandar di bahu Mira.
"Ma'afkan Riko kak!"
"Riko cuma gak mau membuat kakak khawatir!"
Kok gue kayak devaju ya? Riko.
"Kamu tega banget sama kakak!"
"Huhuhu...." Mira memegang tangan Bu Eny untuk menenangkan, terlihat Bu Eny sangat syok. Tak disangka ternyata suaminya dibunuh dan pembunuhnya adalah saudara dari kakak iparnya.
Mendengar suara tangisan Rama pergi ke kamar Riko. Dia pun membantu Riko untuk menjelaskan situasi dan perihal kenapa mereka sampai menyembunyikan kejadian ini. Setelah Bu Eny mengerti dia kembali ke kamarnya di bantu oleh Mira.
-----
Riko mengurungkan niat nya untuk pergi ke kamar Mira, disebabkan Mira sudah ada di sofa ruang tamu. Saat Riko mendekatinya ternyata Mira sedang mengganti perbannya.
"Nah kan!" ucap Riko seraya mengambil paksa perban di tangan Mira.
"Masih saja gak nganggap mas!" ucap Riko kesal.
"Mira lupa kalau mas sudah di rumah!" kata Mira membuat alasan, sebenarnya Mira tak ingin mengganggu Riko mungkin saja Riko sedang istirahat.
"Hmmm, ya sudah,"
"Sini tangannya! biar mas perban!"
Mira menurut, dia masih tak terbiasa dengan perhatiannya Riko. Tiba-tiba perut Riko berbunyi,
Kruk... kruk...
"Mas lapar?"
"Hehehe."
"Mira masakin ya?"
"Hmmm, gimana cara mu masak dek?"
"Lah, Mira lupa mas." jawab Mira sedih.
"Adek temenin Mas makan ya!"
"Biar Mas yang masak!"
"Memangnya Mas bisa masak?"
"Bisa lah, Mas masakin ya!
"Boleh, Mas mau masak apa?"
"Boleh!" Mira berjalan menuju dapur untuk membuka lemari pendingin, sementara Riko mengekori nya.
"Lah mas!" ucap Mira saat melihat isi nya
"Kenapa?" Riko ikut melihat.
"Gak ada daging sapi nya!"
"Lah gak jadi masakin aku dong!"
"Kita belanja dulu gimana?"
"Boleh!"
"Adek siap-siap aja dulu!"
"Mas mau ambil dompet!"
Mira masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya, tadi dia hanya memakai daster remaja. Dengan hati-hati kini dia bisa memakai kaos oblong dan juga rok panjang, untuk rambutnya dia kesulitan untuk mengkuncirnya jadi dia biarkan seperti tadi, namun agar lebih rapi dia ikat dengan menggunakan jepit rambut di belakang rambutnya.
Riko sudah menunggu di depan mobil, dia melihat Mira berkali-kali merapikan rambutnya,
"Lucu sekali!"
"Hehehe!"
"Ada apa dengan rambutmu?" tanya Riko saat Mira sudah di depannya.
"Mau Mira kuncir mas!"
"Tapi gak bisa!" jawab Mira kesal.
"Ini sudah Mira jepit pakai rambut, tapi masih terbang-terbang saja rambutnya!"
"Sini mana ikat rambut mu!"
"Biar mas iketin!"
Mira memberikan ikat rambutnya, kemudian dia membelakangi Riko. Saat Riko mengambil rambutnya Mira, Mira sedikit merinding, Riko pun merasakan hal yang sama,
Lehernya putih, rambutnya hitam, ini kenapa daun telinganya bikin gemes juga! Hedeh... kenapa jadi sesak begini celana ku? Riko membatin dengan menelan salivanya.
Mas Riko kenapa kok lama sekali? kenapa juga aku jadi merinding hore begini! Hadeh. Mira.
"Sudah-sudah gak usah di kuncir, biar mas rapikan saja dengan jepitmu yang tadi!" ucap Riko seraya mengembalikan ikat rambut Mira.
"Loh kenapa mas?"
"Gak usah banyak tanya!"
"Mana jepit mu?"
Enak saja nanti kalau ada orang lewat pada lihatin leher mu. Riko.
__ADS_1
Mira mengambil jepit rambutnya kembali dan memasukkan ikat rambut yang tak jadi dipakaikan oleh Riko. Meskipun kali ini Riko tak melihat leher Mira namun dengan sengaja Riko membelai daun telinga Mira, Mira pun begidik kegelian namun dia masih menahannya.
"Sudah! ayo masuk!"
"Nanti kemalaman!"
Mira masuk ke dalam mobil setelah di bukakan pintu oleh Riko, mobil pun berjalan.
-----
Di Supermarket.
Riko mendorong troli karena Mira sering sekali tersenggol oleh pengunjung lain Riko jadi khawatir jika tangan Mira tersenggol,
"Adek masuk ke naik ke sini!" ucap Riko seraya menunjuk dalam troli.
"Malu mas! kan Mira dah dewasa!"
"Gak pa pa!"
"Adek kan kecil!"
"Gak ah mas!"
"Nanti kalau jebol gimana?"
"Kalau jebol mas beli!"
"Bolehkan mbak? di naikin sama adek ku?" tanya Riko kepada salah satu karyawan supermarket saat lewat.
Karyawan itu melihat Mira dari ujung rambut sampai kaki,
"Ma'af ya mbak ganggu!"
"Sudah ayo mas, aku malu!" ucap Mira menarik troli dan meninggalkan karyawan tadi.
"Riko?" sapa seorang pria dewasa.
"Rian?"
"Wah, sukses ya Loe sekarang?" ucap Riko seraya memeluk temannya itu.
"Alhamdulillah!"
"Eh ini siapa?"
"Kenalin ini pacar gue!"
"Mira." Mira mengulurkan tangannya.
"Rian,"
"Eh ini kenapa tangan nya bro?"
"Sakit tuh, makanya tadi sempat debat!"
"Aku minta naik ke troli gak mau!"
"Apaan sih mas?" bisik Mira saat mencubit tangan Riko.
"Gak pa pa ini!"
"Daripada nanti ke senggol pengunjung lain, lebih baik naik troli!"
"Ya kan!"
"Tuh, gak pa pa Dek!"
"Ayo naik!"
"Nanti jebol mas!"
"Gak bakalan jebol, itu muat sampai 70 kg loh!" ucap Rian menyela.
"Tuh kan, berat badan mu aja cuma 10 kg!"
"Eh, terima kasih saran nya,"
"Kami duluan ya!"
"Duluan Ian!" teriak Riko.
"Iya,"
"Ada-ada saja mereka."
Saat Mira akan mengambil sekotak susu, benar saja tangannya tersenggol pengunjung lain, untungnya gak menyebabkan terluka lagi. Menyadari hal itu, tanpa meminta ijin Riko menggendong Mira dan memasukkannya ke dalam troli,
"Aduh mas!"
"Turunin Mira!"
"Sudah jangan ngomel, nanti banyak yang lihat!"
"Katanya gak mau dilihat orang!"
Hadeh, benar kata Mas Riko, kalau aku teriak-teriak malah makin banyak orang yang lihat. Mira.
Riko mendorong troli dan mengambil barang belanjaan yang diminta oleh Mira, sedangkan Mira menutup wajahnya dengan lembaran promo di supermarket itu, sesekali dia mengintip untuk melihat barang yang akan mereka beli.
.
.
.
**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohin krisannya.
Terima kasih semua yang sudah like, Komen, dan Vote. Terima kasih juga untuk para readers yang sudah memberi saya semangat dari awal membuat cerita sampai sekarang ini. Meskipun dari awal cerita sangat membosannkan bagaikan membaca diary, sebe itu yang aku rasakan. Ma'af karena memang saya baru menulis untuk pertama kalinya jadi agak bingung untuk memulai cerita. Sekali lagi terima kasih**.
__ADS_1