Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 49


__ADS_3

Di Kantor.


"Loe mau kemana Mir?" tanya Rena saat melihat Mira beranjak dari kursinya.


"Mau ke toilet!"


"Ikut?"


"Ikut...!"


"Hayuk!"


"Ikut dong!"


Mira dan Rena menoleh,


"Dasar mesum!"


"Apaan sih Ren!"


"Gue cuma mau ke toilet!"


"Ya kali gue ikut masuk ke toilet cewek!",


"Sudah-sudah hayuk!"


"Heran banget sama loe Sal!",


"Setiap gue sama Mira ke toilet, loe selalu ikutan!"


"Cuma kebelutan!"


"Eh maksud gue kebetulan!"


"Sudah sana!"


"Kenapa sih, hari ini loe sensian?"


"Lagi PMS ya!"


"Mau tahu aja!"


Mereka berpisah saat di depan toilet.


-----


Di Toilet Cewek.


"Yes, sepi!" ucap Rena saat masuk ke toilet itu.


Mereka pun masuk ke dalam toilet. Tak berapa lama kemudian ada suara langkah kaki memasuki toilet itu,


"Eh, Loe tahu yang namanya Mira gak?"


"Tahu, Kepala Divisi Marketing itu kan!"


"Iya, itu!"


"Tahu gak kalau ternyata dia cuma lulusan Paket C!"


"Oh ya?"


"Seneng dong! cuma lulusan Paket C bisa menjabat sebagai kepala Divisi!"


"Ah, Loe percaya kalau dia gak ada apa-apa sama Almarhum Pak Angga?"


"Kok bawa-bawa Almarhum Pak Angga sih?"


"Bukan gitu, kan aneh saja, belum lama kerja sudah menjabat sebagai ketua!"


"Bukannya dia menjabat atas saran dari Bu Jena ya! katanya presentasinya bagus!"


"Waktu gue ikut rapat, gue juga lihat dia!"


"Memang performa dia bagus banget tahu!"


"Heleh alasan!"


"Dan lagi, dia malah bertunangan sama Pak Riko!"


"Pasti dia punya guna-guna!"


"Halah! Iri bilang bos!"


"Mira itu cantik natural, gue lihat dia gak pernah dandan menor!"


"Dan lagi, dia itu juga sopan tahu, selalu menyapa dan tersenyum!"


"Beda sama Loe, kalau ada maunya baru begitu!"


"Gue heran sama Loe!"


"Sebenarnya Loe itu temen Mira apa temen Gue sih?"


"Ya karena Gue temen Loe, makanya Gue ngingetin Loe!"


"Kalau gak semua yang kita lihat kehidupannya baik-baik saja dan semulus jalan Tol itu mudah!"


"Bisa saja itu semua Mira peroleh dari hasil ketekunannya dia belajar dan lagi!"


"Gue pernah dengar kalau Mira itu ikut les saat sekolah paket C, jadi semua itu dia peroleh berkat ketekunannya dan juga kesabarannya."


"Iya.. iya..."


"Tapi Gue gak habis pikir!"


"Kenapa Pak Riko melamar Mira di kantor ini!"


"Heh! Gue kasih tahu!"


"Itu dia lakukan agar orang yang ngomongin Mira di belakangnya tahu, kalau dia sekarang gak boleh macam-macam sama Mira!"


"Kalau mau di pecat sih boleh!"


"Gimana mau daftar?"


"Gak ah! cari kerjaan susah tahu!"


"Ya makanya kalau tahu susah cari kerja!"


"Ya kerja saja di kantor jangan ghibah mulu!"


"Iya... iya... punya temen kayak loe gak enak banget!"


"Kenapa?"


"Di ajak ghibah malah nasehatin, gak ikut ghibahin dia!"


"Ya karena Gue temen Loe!"


"Makanya Gue nasehati!"


"Beda kalau Gue malah ngomporin Loe!"


"Itu tanda nya Gue bukan teman yang baik!"

__ADS_1


"Iya... iya...!"


"Bawel!"


"Eh kok tetiba Gue laper ya!"


"Ya laper lah, dari tadi nyrocos mulu!"


"Hahaha, gak pa pa lah!"


"Kan nyrocosnya buat nasehatin Loe!"


"Eh, ngomong-ngomong Loe hari ini cantik banget!"


"Heleh, sudah Gue mau balik dulu!"


Suara langkah kaki keluar dari toilet. Rena dan Mira keluar dari toilet, dan saling memandang.


"Sudah jangan dipikirin!"


"Positif saja! semua karyawan di kantor ini memang banyak yang gak suka sama Loe!"


"Apalagi saat mereka tahu Pak Riko melamar Loe!"


"Tapi gak sedikit juga yang membela Loe!"


"Iya Ren! makasih!"


"Yuk balik!" ajak Rena seraya menggandeng tangan Mira.


-----


Di Kantor Riko.


Mira datang untuk makan siang bersama nya. Ada dua kotak makanan yang Riko pesan dan setelah Mira datang, Riko berdiri dan membawa kotak makanan itu bersamanya,


"Yuk ikut mas!"


"Kemana mas?"


"Tuh!" Riko menunjuk ke depan jendela kantornya.


Ternyata disana sudah ada tenda payung beserta meja dan kursinya. Entah kapan Riko membelinya.


"Kapan mas bikin ini?" tanya Mira histeris saat melewati pintu penghubung antara kantor Riko dan balkon itu.


"Kemarin,"


"Adek suka?"


"Suka banget!"


"Makasih ya mas!"


"Iya!"


"Tapi kayak ada yang aneh?"


"Apanya yang aneh?" Riko duduk di kursi itu seraya meletakkan kotak makanan di meja.


"Mas buat ini untuk mu Dek!"


"Masa di bilang aneh!"


"Maksud Mira ya itu mas!" Mira ikut duduk.


"Mas buat ini untuk Mira!"


"Biar apa coba?"


"Tapi bukannya malah buang-buang duit ya mas?"


"Enggak!"


"Asal Adek seneng mas rela buang-buang duit!" ucap Riko seraya mencubit hidung Mira.


"Sudah-sudah!"


"Kayaknya Adek gak suka kalau mas buat Adek seneng!"


"Bukan gak suka mas!"


"Tapi Aku khawatir kalau mas terlalu memanjakan Aku!"


"Aku nantinya malah bikin uang mas cepet habis!"


"Mas yakin Adek gak bakalan bikin uang mas habis!"


"Malah bikin rejeki Mas mengalir deras!"


"Kenapa?"


"Ya karena Mas mau menikahi Adek!"


"Menikah itu Ibadah dan bisa memperlancar rejeki!"


"Apalagi kalau suami nyenengin hati Istri pasti lebih lancar lagi rejekinya!"


"Sudah-sudah ayo makan!"


"Mas suapin ya!"


"He'em!"


Mira dan Riko makan siang di tenda payung seraya menikmati pemandangan kota Surabaya, untung saja hari ini cuma mendung. Mungkin kalau panas ataupun hujan Mira dan Riko tak akan duduk berdua di bawah tenda payung itu.


-----


Di Rumah.


Bu Eny sedang memasak untuk makan malam di bantu oleh Mak Idah. Izza dan Mira sedang belajar di kamarnya karena hari ini Izza tidak les,


"Non makan malamnya sudah siap!" ucap Mak Idah dari depan pintu.


"Oh, iya mak bentar lagi saya turun sama Kakak!"


"Mak tunggu di bawah ya Non!"


"Iya mak!"


Mak Idah berlalu.


"Eh kak Mira kok lama banget sih!"


"Kemana ya kira-kira!"


"Kak! Kak Mira?" teriak Izza seraya berjalan. Karena tadi Mira ijin keluar dari kamarnya sebentar setelah membaca sebuah pesan.


"Makan malamnya sudah siap, Izza turun duluan ya!


Sementara itu.


Di Kamar Riko.


Riko membekap mulut Mira, saat akan menjawab teriakan Izza. Ternyata sebenarnya Riko menculik Mira waktu Mira keluar dari kamar Izza,

__ADS_1


"Hah... hah... hah...!" nafas Mira memburu.


"Mas apaan sih?"


"Pakai acara membekap mulut Mira!"


"Adek mau kalau nanti Izza cerita sama semuanya kalau Adek ada di kamar Mas?"


"Ya gak juga sih!"


"Lha itu makanya mas membekap mulutmu!"


"Tapi ngomong-ngomong!"


"Mas masih kangen sama Adek!" ucap Riko berjalan mendekati Mira.


Mira yang berjalan mundur sampai di tembok samping pintu,


"Mas, sudah Mira gak bisa nafas nih!" ucap Mira dengan memalingkan wajahnya saat wajah Riko ada di depannya.


Riko mencium bibir Mira dan *******nya. Mira yang kini sudah bisa merasakan bisa menikmati ciuman yang diberikan Riko. Sampai saat yang tak terduga,


Tok... tok... tok...


"Om Riko?"


"Om?"


Mira dan Riko kaget, mereka merasa seperti di grebeg saja. Riko menarik tangan Mira dan membawanya ke toilet dan langsung membuka keran air.


"Om, Izza buka ya!" Izza masih teriak dengan keras.


"Om lagi ngapain sih?"


"Haduh ini gimana mas!" ucap Mira dengan suara pelan.


"Kalau Aku ketahuan di kamar Mas, bisa di nikahin sama pak Rt nih nanti!" ucap Mira panik.


"Kalau soal menikah, mas maunya ya secepatnya!"


"Tapi ya gak gini juga!"


"Lha iya itu maksud Mira!"


"Om?" suara Izza kini sudah di dalam kamar Riko.


"Izza masuk nih!"


"Om lagi mandi ya?"


"Adek ngumpet di sini ya, nanti kalau mas sudah keluar dari kamar!" suara Riko sangat pelan takut kalau Ixza mendengar percakapan mereka.


"Adek baru nyusul!"


"Tapi Mira takut mas!"


"Jangan takut!"


"Nanti mas bawa Izza keluar juga!"


"Jadi Adek gak akan ketahuan!"


"Mas keluar dulu ya!"


"Nanti keburu Izza masuk!"


"Iya mas!


"Hati-hati!"


"Om?" teriakan Izza semakin dekat saja.


"Apa sih?" ucap Riko saat membuka pintu toilet, pas sekali saat Izza ada di depan pintu itu.


"Om dari mana saja?"


"Izza panggil dari tadi kok gak ada jawaban!"


"Om dari toilet makanya gak denger!" Riko berjalan menuju pintu kamar dan Izza mengekorinya.


"Oh!"


Jedug... suara dari toilet. Izza menoleh, sementara Riko pura-pura tak mendengar,


"Om denger gak?"


"Apaan?"


"Di dalam toilet Om!"


"Mira denger sesuatu seperti suara terbentur!"


"Sura apaan Om gak denger apa-apa!"


"Sudah Ayo!"


"Om lapar!"


Izza sangat yakin kalau dia mendengar sura dari toilet Riko, namun dia mengurungkan untuk masuk ke dalam toilet itu, lagipula sang pemilik tak mendengar apapun. Dia pun keluar dari kamar setelah Riko keluar.


Mira mengelus-elus tangannya, ternyata dia membentur lemari handuk yang ada di dalam toilet Riko. Benar saja tangannya sampai biru. Dengan mengendap-endap dan membuka pintu toilet memastikan kalau Riko dan Izza sudah keluar dari kamar. Dia merasa lega sekali, kemudian Mira juga membuka pintu kamar Riko setelah mendengarkan dari dalam bahwa tak ada orang di luar kamar Riko. Mira berhasil keluar dari kamar Riko dan segera ikut bergabung untuk makan malam.


"Kakak dari mana saja!"


"Izza dari tadi nyariin loh!"


"Oh kakak dari balkon tadi!" ucap Mira tanpa melihat Izza. Saat meletakkan air minumnya tangan Mira yang terbentur terlihat oleh Bu Eny,


"Eh, itu kenapa tangan mu Mir?"


"Oh ini gak pa pa Bu!" Mira melihat Izza dan Riko takut kalau ketahuan.


"Gak pa pa gimana?"


"Sampai biru begitu?"


"Cepat kasih es batu nanti tambah bengkak loh!"


"Eh iya Bu!"


Mira beranjak dari kursinya, Riko juga berdiri dari kursinya,


"Sudah Adek duduk saja!"


"Biar mas yang ambilkan!"


Mira menurut sementara Izza curiga kalau yang dia dengar tadi dari toilet Riko adalah suara Mira yang terbentur. Berkali-kali Izza melihat Mira dengan tatapan menyelidik, namun Mira sengaja menghindari tatapan dari Izza, tentu saja dia takut kalau sampai Izza tahu.


.


.


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.

__ADS_1


__ADS_2