Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 36


__ADS_3

"Ma'afkan almarhum suami tante!"


"Tante juga baru tahu, kalau ternyata suami tante itu merencanakan semuanya!"


"Hik.. hik.. hik.." wanita itu juga menangis.


"Tante baru tahu sebelum suami tante bunuh diri!"


"Kenapa suami tante bunuh diri?"


"Apakah dia berusaha lari dari hukuman?"


"Bukan seperti itu nak!"


"Itu permintaan orang yang menyuruhnya!"


"Apa?"


"Iya, dan ini barang yang di tinggalkan suami tante, untuk di serahkan ke keluarga pak Angga!" wanita itu memberikan flasdish.


Mira menerimanya,


"Kenapa tante dan suami memberikan kepada kita?"


"Hmmm,"


"Ma'af tante gak punya adab, dengan meminta bantuan ke keluarga kalian!"


"Anak tante di culik, dan tante gak tahu harus bagaimana!"


"Kenapa tante gak lapor ke polisi?"


"Sudah, tapi masih belum ada kabar kelanjutannya, dan..."


"Dan apa tante?"


"Dan suami tante sudah memperkirakan anak tante akan di culik!"


"Hik... hik.. hik..."


Wanita itu menceritakan awal perkenalan orang yang menyuruh untuk menabrak pak Angga. Berawal dari keputusasaan suaminya yang kala itu tak dapat meminjam uang dari bos nya, ketika dia membutuhkan untuk operasi sang putri.


Dengan dana 150 juta bagaimana bosnya meminjamkan uang segitu banyak tanpa ada nya jaminan, meskipun jaminannya sertifikat tanah beserta isi nya, itu pun tak membuat bos nya untuk memberinya pinjaman.


Di karenakan sudah ada dokter yang mau mengoperasi mata sang putrinya, setelah menunggu selama 6 bulan, suaminya pun ingin kembali melihat senyum sang putri yang bisa melihat seperti sedia kala. Tak kalah akal, suaminya pun, berencana untuk menjambret tas pengunjung bank.


Saat melakukan aksinya, supir itu di kerjar oleh segerombolan orang yang berada di lokasi. Sontak saja hal itu, membuat panik dirinya, dia berlari dengan sangat kencang namun akhirnya dia kepergok oleh seorang pria paruh baya. Anehnya orang itu malah menyembunyikan suaminya di mobil setelah mengambil tas yang di jambretnya. Setelah gerombolan orang yang mengejarnya tepat di samping mobil yang di tumpanginya, orang yang menolongnya memberikan tas kepada salah satu gerombolan itu, dan mengatakan kalau dirinya sudah lari entah kemana.


Rasa paniknya kembali berapi-api mana kala orang yang menyelamatkannya membuka pintu mobil dan masuk, setelah memastikan orang-orang yang mengejarnya telah bubar. Dia pun mempunyai firasat yang sangat tidak enak, tentu saja akan ada imbalan jika orang itu menyelamatkannya,


"Kenapa Tuan menyelamatkan saya?"


"Kamu butuh uang?"


"Saya akan memberikan uang yang banyak, tanpa kamu harus di hakimi oleh mereka!"


Suaminya tak bergeming dengan penawaran orang itu.


"Saya ada uang 100 juta jika kamu mau menolong saya!"


Mendengar kata 100 juta, itu membuat suaminya melihat orang yang menolong nya, tetapi...


"Kamu harus membunuh seseorang!"


"Apa?"


"Ma'af Tuan, saya menolak!" supir itu membuka pintu mobil, namun di cegah oleh pria itu.


"Baiklah, 200 juta!"


"Saya pastikan kamu tak akan di keroyok oleh orang!"


"Ini kartu nama saya, hubungi jika kamu sudah memikirkan matang-matang,


"Saya yakin tak akan ada orang yang akan memberikan bantuan ke kamu sebanyak ini, pikirkan baik-baik!"


Karena ingin melihat putrinya kembali tersenyum, tak perlu waktu lama dia akhirnya menghubungi orang tadi. Setelah memikirkan matang-matang, dengan modal nekat dia menyetujui permintaannya. Karena tahu bahwa orang yang meminta bantuan itu bukan orang sembarangan, dia membawa ponsel untuk merekam pertrmuan mereka.


"Kamu sudah pikirkan baik-baik?"


"Kamu hanya perlu mengendarai truk tronton yang telah kami siapkan!"

__ADS_1


"Dan juga kami memilih tute yang sering dia lewati!"


"Disana juga ada orang yang akan melindungi mu dari amukan masa!"


Dia hanya mendengarkan tanpa berbicara sepatah kata pun, karena memang dia hanya menjalankan tugasnya saja.


"Ini cek 150 juta, ambillah!"


"dan 50 juta nya lagi akan saya berikan setelah kamu menyelesaikan tugas mu!"


Mereka salaman untuk tanda kesepakatan. Setelah orang itu pergi, supir itu masih menerawang cek di tangannya. Meskipun dia harus membunuh orang, tak akan dia sesali demi kembali nya penglihatan sang putri.


Sesampai di rumah, terlihat wajah suaminya sangat senang meskipun ada guratan kesedihan,


"Bapak sudah ada uang bu!"


"Untuk operasi putri kita!"


"Benarkah pak?"


"Darimana, bapak mendapat uang itu?"


"Apakah bapak?"


"Dari bos bapak bu!"


"Sudah ibu jangan tanya macam-macam yang penting putri kita sudah ada biaya untuk operasi!"


Kedua orang itu pun tersenyum bahagia, dan mengajak putri mereka pergi ke Rumah sakit. Setelah membayar semua biaya, suaminya berpamitan agar dia dan putrinya menjaga diri dengan baik.


-----


"Saat aku tanya kenapa dia masih bersedih?"


"Dia tak menjawab apa-apa."


"Ma'af kan suami ibu Nak!"


Mira tak menjawabnya dia hanya akan mendengarkan.


"Setelah operasi nya berjalan lancar, suami saya sering mendapat telfon misterius, dan seperti biasa dia tak menceritakan pada ibu."


"Saat dokter membuka perban mata putri kami, wajah cemas yang terlihat semua telah berganti dengan senyum bahagia,"


"Seharian suami ibu, menemani putri kami di kamarnya, bercerita banyak hal, dan berkali-kali minta ma'af."


"Meminta kami untuk menjaga diri kami berdua, seakan-akan dia akan pergi.


"Dua hati setelah nya, ibu dan putri ibu mendapat kabar, kalau suami ibu menabrak seseorang!"


"Dan itu membuat kami syok!"


"Hik... hik.. hik..."


"Ma'afkan suami ibu!" air mata berderai dari pipinya.


"Silahkan ibu lanjutkan ceritanya!" kata Mira datar, dia ingin penjelasan yang masuk akal agar bisa menerima alasan wanita itu meminta bantuannya.


"Saat terakhir ibu menjenguk suami ibu,"


"Dia mengatakan semuanya! dan juga memberi tahu rekaman tentang pertemuan mereka,"


"Dan hal yang menyakitkan adalah, dia harus bunuh diri, agar tak akan menimbulkan masalah untuk kedepannya,"


"Jika dia menolak maka putrinya yang akan menjadi taruhan."


"Lalu sekarang apa?"


"Seperti kata ibu tadibahwa anak ibu telah di culik!"


"Namun ibu tak bisa berbuat apa-apa!"


"Hanya kamu dan keluarga yang bisa membantu!"


"Dan Ibu punya rekaman yang akan membantu menangkap siapa dalang dari pembunuhan pak Angga."


"Tolonglah ibu! hanya putri ibu yang kini ibu miliki, setidaknya Ibu tak akan menghianati kamu!"


"Haruskah saya percaya?"


"Bukankah sekarang ibu telah menghianati orang itu?"

__ADS_1


"Ibu melakukan semua itu karena Ibu telah kehilangan suami ibu, ibu tak ingin sekali lagi kehilangan putri ibu!"


"Jadi ibu mohon bantu ibu!"


"Baiklah,"


"Tapi dengan satu syarat, ibu harus menjadi saksi, dan untuk sekarang ibu harus ikut dengan saya!"


"Ibu setuju, setidaknya itu akan menjaga keselamatan ibu."


"Memang itu yang saya mau,"


"Silahkan, di minum dulu bu!"


"Saya pesankan makanan ya!"


"Gak usah terima kasih."


Mira mengambil ponselnya, dia akan menghubungi seseorang,


"Hallo Assalamu'alaikum mas!"


"Hallo, waalaikumsalam, ada apa Mir!"


"Bisakah mas jemput Mira!"


"Mira ada di cafe X"


"Oke, mas kesana sekarang!"


Ponsel ditutup.


-----


Riko datang menemui Mira, namun dia kaget saat melihat wanita yang satu meja dengan kekasihnya itu,


"Mira."


"Oh mas Riko sudah datang?"


"Kenalkan ini bu Mia!"


Bu Mia mengulurkan tangannya.


"Mira, kamu tahu dia siapa?"


"Mas duduk dulu!"


"Mira tahu siapa ibu ini, dan Mira minta mas dengerin ceritanya!"


Riko tak tahu harus bagaimana, di satu sisi dia memang sedang mencari wanita itu, di sisi lain sebenarnya dia tak ingin melibatkan Mira dalam masalah ini. Riko mendengarkan semua cerita bu Mia, meskipun dia kesal namun dia berusaha mengesampingkan egoisnya.


"Ma'afkan suami Ibu!" berkali-kali bu Mia meminta ma'af.


"Ibu sekarang ikut saya, saya janji akan membebaskan putri ibu dan menjaganya, asalkan ibu mau menuruti semua perintah saya!"


"Terima kasih pak!"


"Tolong selamatkan putri saya!"


Riko merogok ponsel di saku nya, dia sedang menelfon seseorang. Lalu dia mengajak Mira dan juga bu Mia ikut bersamanya, Mira bingung karena Riko tampak tidak terkejut dengan apa yang di bicarakan oleh bu Mia. Ingin sekali dia bertanya namun tak dia lakukan, bukan saatnya untuk dia bertanya sekarang.


Mobil berhenti di sebuah kawasan Apartement mewah, Mira dan bu Mia turun mengikuti Riko yang berjalan duluan. Riko memencel bel, dan keluarlah seorang wanita yang membukakan pintu, dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Jadi pak Riko ingin kami menjaga Ibu ini!"


"Iya, aku akan merasa tenang jika dia bersama mu, tentu saja itu juga demi keselamatannya."


"Baiklah, dan untuk rencana nanti malam?"


"Kalian lanjutkan saja, itu akan sangat membuat dia memihak kita."


"Baiklah."


Jihan membawa Bu Mia ke kamar untuk beristirahat, sementara Mira bingung, karena memang dia tak tahu menahu tentang hal-hal itu. Di Apartement itu dia mendapat penjelasan dari Riko, Johan, dan Jihan. Tentu saja mereka juga mengatakan tentang Rama, tak ada lagi yang Riko rahasiakan dari Mira. Mira pun mengerti mengapa Riko merahasiakan semuanya, karena itu semua demi keselamatan Mira dan juga Mira bukan anggota dari keluarga pak Angga.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2