Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 29


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Pak Angga masih dalam keadaan koma, belum ada perkembangan sama sekali setelah dioperasi.


Hari ini ada Rapat Umum Tahunan untuk mengafirmasi laporan keuntungan dan juga kerugian tahun lalu.


Berkali-kali Mira menelfon Riko perihal Pak Angga yang semakin kritis, namun ponsel Riko tidak aktif. Beruntung ponsel Rama aktif,


"Hallo Assalamu'alaikum, Mir,"


"Ada apa?"


"Waalaikumsalam mas,"


"Pak Angga sedang kritis mas, dokter meminta semua keluarga berkumpul."


"Oh iya, kami akan segera kesana!"


"Ya sudah,"


"Wassalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam."


Ponsel dimatikan.


Mira tidak ikut masuk kedalam ruang ICU bersama Bu Eny dan juga Izza, dia memilih untuk menunggu Riko dan juga Rama.


-----


Beruntung rapat itu selesai tak lama kemudian, saat Riko beberes dokumen dan laporan, Rama segera menghampirinya dan berbisik,


"Mira telfon, Pak Angga sedang kritis."


"Apa?"


"Jangan keras-keras!" Rama mengingatkan Riko, karena orang yang masih belum meninggalkan ruangan itu melihat mereka.


Riko berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, dan Rama mengikutinya.


Ketika sampai di lift, ternyata pak Aldi sudah berada di dalam lift itu duluan.


Ting... suara pintu lift tertutup.


"Oh kalian mau kemana?"


"Kok buru-buru?"


"Kami mau kerumah sakit pak." jawab Rama datar.


"Pak Angga belum bangun dari koma?"


Mereka mengacuhkan pertanyaan pertanyaan pak Aldi.


"Yah, semoga cepat bangun deh!"


"Kasihan nanti perusahaan ini sudah semakin kacau, eh sekarang dia juga belum bangun juga!"


"Ehem!" Rama berdehem.


"Kalau sempat, mungkin nanti sore saya akan menjenguk beliau."


Riko memilih untuk memeriksa ponselnya, mungkin saja dia mendapat kabar dari detektif.


"Terima kasih pak, atas perhatiannya." jawab Rama datar.


Sempat sekilas Rama melihat pak Aldi mengatupkan bibirnya dan menarik bibirnya keatas dengan senyum separuh.


Ting... pintu lift terbuka.


"Kami duluan pak! permisi." ucap Rama seraya mengikuti Riko yang berjalan duluan.


-----


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Gimana sudah ada kabar dari detektif itu?" tanya Rama yang duduk dikursi kemudi.


"Sudah ada, dia meminta bertemu di rumahnya."


"Jadi kapan kamu berencana kerumahnya?


"Mungkin nanti malam,"


"Kamu ikut kan!"


Rama mengangguk sebagai jawabannya.


-----


"Mas Riko..." Mira berlari menghampiri Riko dan juga Rama.


"Kamu tenang saja!" Riko memegang kedua pundak Mira.

__ADS_1


"Aku masuk dulu ya!"


"Kamu gak ikut?"


"Gak mas, Mira takut!"


"Baiklah, Rama titip Mira ya!"


"Iya, masuklah!"


"Pak Angga sudah menunggu mu!"


Riko masuk ke dalam ruangan ICU dan Izza keluar dari sana dikarenakan yang boleh masuk dalam ruang itu hanya dua orang.


"Kakak..." Izza menangis dan memeluk Mira.


"Papa mu akan baik-baik saja!" Mira mengusap pipi Izza yang basah karena air mata.


"Huhuhuhu...."


"Duduklah!" ajak Rama pada Mira dan juga Izza.


"Ada yang bisa kakak bantu?"


Izza menggeleng dan menyembunyikan wajahnya dengan membenamkan di pelukan Mira.


-----


Di dalam ruang ICU. Dokter sedang memeriksa mata pak Angga, sedangkan bu Eny menangis di ujung ranjang,


"Kakak..." teriak Riko mendekati ranjang.


Nafas pak Angga memburu dan berat, semua panik, Dokter memberi pertolongan pertama pada pak Angga.


"Ma'af, kalian harus keluar dulu!" perintah suster.


Riko dan bu Eny kekeh untuk melihat pak Angga apalagi Riko baru masuk keruangan itu.


"Bapak dan Ibu hanya akan mengganggu dokter dan pasien!"


Bu Eny menangis histeris, dalam dekapan Riko mereka meninggalkan ruangan.


Di ruang tunggu, melihat bu Eny menangis, Izza menghampiri mamanya. Mira kembali terisak, Riko menghampirinya dan mendekap Mira.


"Aku sangat takut mas!" ucap Mira masih dalam dekapan Riko.


Riko tertegun dengan ucapan Mira, didalam lubuk hatinya dia merasakan hal yang sama. Dia juga takut kalau kakaknya tak bisa di selamatkan.


-----


"Bagaimana kondisi kakak saya dokter?"


"Pak Angga harus menjalani operasi kedua sekarang!"


"Tapi malam ini akan menjadi malam yang kritis!"


Mendengar penjelasan dokter bu Eny syok dan limbung, Mira mendekap Izza. Rama dan Riko membopong bu Eny ke kursi.


-----


Sudah tiga jam, tapi operasi masih belum selesai, semua keluarga sudah berkumpul, menunggu dalam diam seperti kata dokter jika malam ini bisa dilewati dengan baik, maka semua akan baik-baik saja. Tapi mereka juga harus mempersiapkan diri untuk kondisi yang terburuk.


Bu Santi memeluk adiknya, sementara pak Bagus berbicara dengan Rama. Tak lama kemudian Izza, Mira, dan Riko datang bersamaan, mereka baru balik dari mushola rumah sakit itu.


-----


Dokter keluar dari ruang operasi,


"Bagaimana operasi nya dok?"


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar!" meskipun berkata seperti itu ada guratan kesedihan yang terlihat di wajah dokter.


"Alhamdulillah." ucap syukur semua orang.


"Apa ada sesuatu dok?" tanya Riko cemas.


"Ini adalah malam yang kritis, semoga besok pagi pak Angga baik-baik saja!"


"Apa maksud dokter?"


"Bukankah dokter berkata kalau operasinya berjalan lancar?" tanya Riko dengan mengerutkan keningnya.


"Memang benar, tapi kondisi pasien saat ini masih dalam keadaan kritis."


"Kami permisi dulu!" kata dokter seraya meninggalkan mereka.


-----


Pak Angga dipindahkan keruang ICU lagi, dan sekarang tak perlu memakai baju steril jika menjenguk seperti sebelumnya.


"Kakak tidurlah!" ucap Riko.

__ADS_1


Bu Eny menggeleng dalam tatapan kosong.


"Aku ingin menemani kakak mu!" bu Eny menggenggam tangan suaminya.


Riko tak membatah lalu meninggalkan mereka.


-----


Riko menghampiri Rama, Mira dan juga Izza,


"Pak Bagus dan istrinya sudah pulang." kata Rama.


"Oh, kamu juga pulanglah!"


"Antar Mira dan Izza, biar aku yang menemani kakak dan juga kakak ipar!"


"Tapi Om, Izza ingin menemani Papa dan juga Mama!"


"Sayang, ikut kakak pulang ya!"


"Semua akan baik-baik saja!"


"Besok pagi kita akan berangkat lebih pagi!"


"Baiklah kak,"


"Om, Izza pulang!"


"Izza titip Papa sama Mama!"


"Iya, Om akan jaga Papa sama Mama mu!"


"Rama kamu tidur saja di kamar ku, agar besok kamu tak kerepotan datang kesini!"


"Ok, kami pamit dulu!"


"Wassalamu'alaikum!" pamit mereka.


"Waalaikumsalam." jawab Riko.


-----


Di perjalanan pulang mereka semua diam membisu. Saat sampai rumah pun masih sama, sepi. Mira menuju ke kamar Izza, sementara Rama masih berbicara dengan mak Idah, ibu nya.


-----


Keesokan paginya, Mira bangun lebih pagi, kali ini dia memasak dibantu Rama dan juga mak Idah. Izza pun bangun lebih pagi dari kemarin.


Setelah sarapan walaupun tak semangat seperti dulu, mereka harus menjaga kesehatan mereka, bagaimana kalau menjaga orang sakit jika tubuh kita juga sakit.


Mira mempersiapkan bekal makanan yang akan dia bawa ke rumah sakit, setelah berpamitan dengan mak Idah, mereka segera berangkat.


-----


Dirumah sakit.


Mira, Izza dan Rama menemui Riko dan juga bu Eny, mereka memaksanya agar mau sarapan meskipun tak ada niatan untuk makan atau minum, akhurnya Riko dan bu Eny luluh juga ketika Izza yang meminta untuk sarapan, demi kesehatan mereka,


"Papa sudah sakit!"


"Apakah Mama dan Om juga mau sakit?"


"Lalu Izza sama siapa?"


itulah yang dikatan Izza membuat semua orang menitihkan airmata.


Meskipun masih dalam keadaan koma mungkin pak Angga mendengar percakapan mereka bahwa Mira dan juga Rama sangat mencintai keluarga mereka, dia menitihkan air mata, namun tak ada yang melihatnya.


Bep... bep... bep... suara monitor cepat.


Riko berlari menghampiri kakaknya dan segera menekan tombol darurat.


Semua orang panik, bu Eny dan juga Izza berteriak histeris, Mira memeluk mereka,smentara Rama berlari dan berteriak memanggil dokter, karena dokter tak kunjung datang.


Dokter datang dengan tergesa-gesa, mengecek denyut jantung, dokter menekan-nekan dada pak Angga namun monitor itu tak kunjung berubah dari angka nol, dan bergaris lurus.


Beeeppppp.....


Izza dan bu Eny berteriak menangis histeris, Mira diam air mata mengalir dipipinya.


"Ma'af kami semua telah melakukan yang terbaik!" kata dokter sedih.


"Waktu kematian 08.40 pagi."


Izza dan bu Eny berteriak, Mira berusaha menenangkan mereka. Riko menangis kakak satu-satunya juga meninggalkan dia, Rama menempatkan tangan kanan nya ke pundak Riko.


Dokter meninggalkan ruangan itu, suster mencabut semua alat yang menempel di tubuh pak Angga, dan menutup wajahnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2