Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 63


__ADS_3

Di kamar Riko.


Riko mengambil ponselnya, dia menekan aplikasi berwarna hijau dan menekan chat teratas di aplikasi itu. Riko merapikan rambut dengan menyisir menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya Ia gunakan untuk memegang ponsel mengarah pada nya. Hanya butuh waktu sebentar, terlihat di layar ponsel Riko ada seorang gadis berhijab dengar warna kuning disana,


Hallo, Assalamu'alaikum mas!" terdengar suara dari ponsel Riko.


"Waalaikumsalam Dek!"


"Adek lagi apa?" tanya Riko dengan wajah bahagia.


"Lagi di tempat jahit mas!"


"Mas sendiri lagi apa?" tanya Mira dengan senyum-senyum.


"Mas lagi mikirin kamu dek!" kata Rjko jujur.


"Masa sih mas?"


"Kayaknya mas lagi ada sesuatu deh!" tebak Mira saat melihat wajah Riko terlihat gelisah.


"Adek tahu aja!"


"Mas mau cerita dek!"


"Kapan adek pulang?"


"Bentar lagi mas!"


"Ini lagi nungguin mbak Indah nyoba bajunya!"


"*Eh, ini paman Riko ya?"


"Apa kabar paman?" celetuk Adi tiba-tiba.


"Adi, sopan sedikit dong!"


"Maaf Bibi, soalnya sudah kangen sama paman!"


"Hehehe!"


"Heleh kamu itu!"


"Maafin Adi ya mas*!"


"Iya gak pa pa Dek!"


"Mas santuy kok!"


"Adi kangen ya sama Paman?"


"Iya paman!"


"Ade mau ajak paman mancing lagi!"


"Ok, besok sabtu paman kesana!"


"Minggunya kita bisa mancing!"


"Ok paman, Adi tunggu loh!" Adi membuat tanda 'Ok' dengan jari tangannya.


"Ok, sip!" Riko memberikan jempolnya ke Adi. Adi berlalu.


"Dek!"


"Nanti chat mas, kalau sudah pulang!"


"Mas mau ngoming penting."


"Iya mas!"


"Ya sudah, Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Ponsel di matikan.


-----


Setelah menceritakan perihal Papa nya yang tiba-tiba datang menemui dirinya. Kini Riko bertekat untuk datang ke apartemen Papa nya.


Di Apartemen.


Riko menekan bel di apartemen itu. Dia sangat was-was, sesekali dia memutar-mutar keranjang buah yang dibawanya agar mengurangi rasa gelisahnya. Tak butuh waktu lama, pintu apartemen dibuka oleh seorang laki-laki yang sangat Ia rindukan,

__ADS_1


"Riko?" ucapnya tak percaya.


"Ayo masuk!" terdengar suara haru disana.


Riko mengikuti ajakan pria parubaya itu. Dia memakai melepas sepatunya dan memakai sendal yang telah tersedia disana.


"Lisa...? Aro...?"


"Lihat siapa yang datang?" teriak Pak Seto yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu.


"Ini Pa!" Riko memberikan keranjang yang dibawanya.


"Terima kasih Ko," Pak Seto menerimanya.


"Ayo duduk dulu!"


"Papa akan memanggil adik-adik mu!" Pak Seto berlalu.


Riko duduk di sofa empuk yang berwarna putih dengan kombinasi berwarna ungu itu. Tak lama kemudian dia bangun, pandangannya teralihkan dengan foto yang terpasang di dinding rumah yang membentuk ranting pohon. Fotoengan bentuk pohon keluarga yang digambar atau dibuat dari bahan dekoratif dengan foto-foto yang terletak di setiap cabang. Tak banyak foto yang ada di dinding pohon itu, meskipun banyak foto yang kosong di sana.


Riko melihat beberapa foto di sana. Dia merasa ada foto-foro tak asing, salah satu nya adalah foto masa kecil mereka. Foto saat dia dan kakaknya berada di samping Ibu dan Lisa kecil yang berada di gendongannya, sementara Papa nya berada di samping Ibunya, seperti Foto yang ada di buku catatan Almarhum Pak Angga. Foto lainnya adalah foto Almarhum Pak Angga yang sama persis dengan yang terpasang di kamarnya Riko. Foto lainnya adalah foto Riko, hal ini membuat Riko bingung, pasalnya foto ini adalah foto yang hilang, foto saat dia sedang berlibur ke Candi Prambanan, Jogja. Dan foto lainnya yang terpasang di dinding pihon itu adalah seorang gadis cantik berrambut coklat dengan senyum lebar. Lain lagi foto yang terlihat asing olehnya, foto seorang remaja laki-laki, dengan memakai kaca mata hitam dia juga tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.


Tilulit... suara pintu apartemen terbuka. Riko kembali duduk, tampak seorang remaja laki-laki yang sama persis dengan foto yang Riko lihat. Dia membawa sekantong kresek berwarna putih. Riko bangun dari tempat duduk nya saat Remaja itu berada tak jauh dari kursi yang Ia duduki. Mereka saling beradu mata, Riko tersenyum sebelum menyapanya,


"Apakah kamu Aro?" Riko mengulurkan tangannya.


"Ah iya, saya Aro," Aro menyambut tangan Riko.


"Anda siapa?" tanya Aro bingung.


"Dia kak Riko, Aro!" sahut Pak Seto.


"Benarkah?" tanya Aro terharu, dia mendengar beberapa hal mengenai dirinya dan juga Riko.


"Kak Riko?" Aro mengahmbur kepelukan Riko.


"Benarkah kamu kak Riko?" Aro menatapnya sekali lagi.


"Iya ini kakak!" jawab Riko haru.


Aro memeluk erat Riko. Meskipun dia tahu bahwa Riko bukan kakak kandung nya tapi sejak Pak Seto menceritakan semuanya, dia sangat senang mempunyai seorang kakak laki-laki.


"Kak Riko..." teriak suara gadis dari jauh, dia adalah Lisa, adik kandung Riko.


Lisa menarik tangan Aro hingga terlepas, lalu dia yang akhirnya memeluk Riko. Riko kaget dengan kelakuan Lisa, pasalnya dia baru pertama kali bertemu secara resmi dengan adik nya itu, tapi apa? Lisa tampak tak malu atau canggung sedikit pun.


"Tak seperti di foto itu, jelek!" Lisa menunjuk foto di dinding pohon.


"Pa?"


"Benarkah ini Lisa?" goda Riko.


Pak Seto tersenyum melihat anak-anak nya bersama dengan bahagia, walaupun tak seutuhnya dengan tak adanya almarhum istrinya dan juga almarhum putra sulung nya.


"Ah, kakak jahat!" buru-buru Lisa melepaskan pelukkannya dan membelakangi Riko.


"Hahaha, maaf kan kakak Dek!"


"Biarin saja kak!"


"Kayak bayi saja, main nambek-nambekkan!" cibir Aro.


"Papa... lihat tuh Aro!" Lisa mengadu, manja sekali dia.


"Hahaha, sudah lah!"


"Aro tadi kamu beli apa?" Pak Seto membuka tas kresek yang di letakkan Aro di meja tadi.


"Aro mau makan spaghetti Pa!"


"Jadi Aro beli daging!"


"Oh, baiklah!"


"Papa akan masak buat kalian!" Pak Seto beranjak ke dapur.


Dan mereka yang sedang duduk bersama pun bercerita banyak hal, terlihat sesekali Lisa memeluk tangan kiri Riko sedangkan Aro memluk tangan kanan nya. Seperti anak kecil saja, mungkin kalau Mira melihat Lisa,dia akan cemburu tentunya.


-----


Di Rumah besar.


Hari ini adalah hari istimewa untuk keluarga Gunawan. Bagaimana tidak, hari ini Pak Seto, Lisa dan Aro akan makan bersama di rumah itu. Dari tadi pagi Bu Eny yang di bantu oleh Mak Idah dan juga Bi Lastri menyiapkan semua makanan yang akan Ia sajikan nantinya. Izza juga sudah tak sabar akan bertemu dengan Eyang nya untuk pertama kali secara resmi. Dia sungguh antusias menanti hadirnya keluarga yang telah lama Ia ingin kan.

__ADS_1


Sementara Mamanya mempersiapkan makanannya, Izza malah antusias dengan warna gaun yang akan dia pakai nanti. Izza sampai mengeluarkan hampir semua gaun yang ada di dalam lemarinya. Setelah mempertimbangkan cukup lama, akhirnya gaun yang akan di pakainya jatuh ke gaun berwarna merah. Gaun dengan kerah berbentuk V, tak lupa pita berukuran kecil berwarna merah di bagian dada sebelah kiri nya. Izza bercermin, kini Ia siap untuk bertemu dengan Eyang nya lagi.


-----


Di kampung Mira.


Adi sedang mencari rumput blembem untuk ikan yang akan dia pancing nantinya. Tumbuhan dengan daun berwarna hijau tua , bentuk ujung meruncing seperti daun bambu, tumbuh memanjang dan menjulur-julur, biasa Ia temukan di pinggir sungai atau sawah yang banyak airnya. Setelah mendapatkan rumput blembem, Adi pergi ke sungai yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumahnya itu.


Tampak dari jauh ternyata tempat yang sering Adi tempati untuk memancing telah di tempati oleh orang. Adi mendekati orang itu,


"Mas Rudi?"


"Eh, Adi,"


"Kok baru datang? sudah sore nih!"


"Hehehe... iya mas!"


"Tumben mas mancing disini?" tanya Adi seraya meletakkan joran pancing nya ke tanah.


"Lagi pengen aja!"


"Oh!" Adi membagi rumput blembem menjadi kecil-kecil lalu Ia kaitkan dengan pancing nya.


Rudi menengkk ke arah Adi,


"Di?"


"Iya, ada apa mas?" tanya Adi tanpa menoleh ke arah Rudi, dia fokus melempar jorannya ke sungai.


"Emmm,"


"Lek mu mau lamaran ya?"


Adi menengok ke sumber suara itu,


"Oh, Bibi?"


"Bibi?"


"Iya, Bi Mira!"


"Iya, dia mau lamaran ya?"


"Iya mas, Bibi mau lamaran."


"Sama yang kemarin itu ya?"


Melihat Adi yag mengerutkan dahi nya, Rudi memperjelas perkataannya,


"Itu loh, yang kemarin sama kamu jogging!"


"Oh, iya mas,"


"Paman Riko namanya!"


"Oh, Riko?"


"Iya mas!"


"Kenapa?"


"Mas naksir ya? sama Bi Mira?" tebak Adi seraya tersenyum lebar, tak.lupa matanya seakan mengejek Rudi.


"Iya mas dulu naksir dama dia!"


"Tapi dia nya gak peka!"


"Salah mas sih!"


"Loh kok salah mas?"


"Coba saja dulu mas baik-baikin aku!"


"Aku bakal mak comblangin mas sama Bi Mira!"


"Halah, kamu itu bisa saja!" Rudi menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa.


.


.


.

__ADS_1


**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


Terima kasih untuk yang sudah mengunjungi saya di facebook ya! salam kenal semua nya**.


__ADS_2