Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 31


__ADS_3

Seperti pelangi datang dikala hujan telah pergi, seperti itu juga pagi ini Riko menikmati paginya. Setelah sebelumnya dia baru kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan kagumi.


Hawa-hawa suasana hati yang sedang jatuh cinta, dirasakan jua oleh keluarga itu, meskipun baru saja mereka kehilangan kepala keluarga. Mungkin juga Bu Eny, juga merasakannya, kala pagi itu tak seperti biasanya, dia ikut membantu Mira memasak untuk sarapan,


"Kamu mau masak apa?"


"Biar ibu bantu!"


Mira kaget sekaligus senang bu Eny sudah keluar dari kamar nya,


"Omelet saja kok bu!"


"Biar ibu saja ya yang masak!"


"Kamu mandi, hari ini kerja kan?"


"Iya bu, terima kasih bu!" Mira sumringah melihat bu Eny punya semangat lagi.


-----


Pagi ini mereka sarapan bersama di meja makan, masih dengan suasana hening. Rama menyelesaikan sarapannya dengan cepat,


"Kamu mau kemana kok buru-buru?"


"Mau nganter Izza daftar sekolah bu!" jawab Rama datar.


"Oh ma'af kan mama Izza!"


"Mama lupa!" Bu Eny mengusap lalu mencium rambut Izza.


"Iya ma, Izza tahu kok mama gak sengaja kan?"


"Lagian juga kan ada Om sama Kak Rama dan Kak Mira,"


"Mereka semua bantu Izza kok Ma."


Bu Eny memeluk Izza, dalam diam menitihkan air mata. Bagaimana pun karena keegoisannya, dia mengabaikan anak semata wayangnya.


"Ma'afkan mama!" berulang kali bu Eny mengucapkan kata itu.


"Mama jangan menangis!"


"Tahukah Mama, kalau Izza sekarang sudah remaja!"


"Izza harus belajar mandiri!"


Bu Eny mengangguk.


"Kalau begitu Izza pamit dulu ya Ma?"


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam." jawab semuanya.


Rama dan Izza berangkat bersama, Mira juga sudah berangkat, sedangkan Riko masih berkutat dengan laptopnya.


"Kak, Riko mau bicara sebentar!" Riko memutup laptop nya.


"Oh iya, mau ngomong apa?"


"Hmmm,"


"Ma'af seharusnya Riko gak ingin bicara sekarang kak!"


"Tapi ini juga demi perusahaan!"


"Oh gak pa pa kok, bicara sekarang saja!"


"Untuk sekarang, Riko akan mengurus perusahaan kita yang disini kak!"


"Dan untuk cabang yang di Jakarta,"


"Bagaimana kalau Riko usulin agar Rama pindah ke sana saja?"


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, kakak ikut saja!"


"Lagian kan Rama kerja di perusahaan juga sangat rajin sekali!"


"Tentu saja pilihan mu juga sudah kamu pertimbangkan dengan matang."


"Iya kak, memang sudah saya pertimbangkan."


"Tapi Riko ada permintaan untuk kakak!"


"Kamu minta apa?"


"Untuk sekarang, kakak meninjau keuangan perusahaan ya kak!"


"Ada sesuatu yang mengganjal di laporan keuangan tahun kemarin dengan tahun ini!"


"Baiklah, kakak akan berusaha membantu."


"Dan lagi, Jika kakak sudah siap untuk bekerja di kantor,"


"Tolong kakak beri tahu Riko ya?"


"Perusahaan kita sekarang sedang di fase kritis, padahal sebelum Riko kembali ke Jakarta Riko benar-benar mengecek sendiri kalau perusahaan kita baik-baik saja!"

__ADS_1


"Baiklah, untuk sekarang ini kakak bantu dari rumah saja dulu!"


"Ma'af ya Kakak ipar, bahkan pusara kakakku belum kering, Riko sudah minta bantuan kakak untuk masalah perusahaan."


"Sudahlah!"


"Kakak baik-baik saja, itu juga bisa jadi kesibukan kakak agar tidak melamun."


"Terima kasih kak!"


-----


Mira menunggu Riko di parkiran sepeda, tak lama Riko pun datang. Ada senyuman di wajah mereka. Mengingat masih dalam suasana berduka Mira dan Riko sepakat untuk tak memberitau keluarga tentang hubungan mereka,


"Ma'af!"


"Kenapa mas?"


"Mas lama."


"Gak kok mas, Mira juga baru sampai."


Riko sangat bahagia sekali, ada penyemangat hidup yang kini berada disampingnya.


-----


Mira meminta Riko agar menurunkannya di halte bis, Riko tak bisa menolak permintaan kekasih nya itu. karena memang kesepakatan mereka.


Mira berjalan setelah Riko berlalu, tak lama kemudian bis Faisal datang, Faisal turun. Ketika melihat Mira tak jauh di depannya, Faisal berteriak memanggilnya,


"Mira.... tunggu!" Faisal lari terengah-engah.


Mira menunggu Faisal.


"Kenapa lari?"


"Ntar kamu tinggalin aku!"


"Gak lah, kan kamu tadi manggil!"


Faisal tersenyum cerah, mereka pun jalan bersama menuju kantor.


"Gimana kabar bu Eny?"


"Alhamdulillah bu Eny sudah mendingan, tadi pagi bahkan beliau membuat sarapan untuk kami."


"Oh syukur deh!"


"Kamu tadi malam kenapa gak balas chat ku?"


"Oh, ma'af dari semalam aku gak buka hp."


"Gak penting sih!"


"Oh..."


Mereka berjalan berbarengan menuju lobi, ada sepasang mata mengintai, tanpa mereka sadari.


-----


Di ruang Riko.


"Ada apa pak?" tanya Rama seraya mendekati Riko yang masih sibuk dengan laporan yang di bawa sekretaris Yunita, sekretaris Alm. Pak Angga dulu.


Ketika berada di perusahaan Rama memanggil Riko dengan hormat, karena memang dia atasannya, beda lagi kalau sudah diluar.


"Hmmm..." Riko beranjak dari kursinya.


-----


Jam makan siang tiba. Rama membawa nampan berisi makan siangnya, dia celingukan sedang mencari seseorang. Nampak dari jauh terlihat Mira dan teman-temannya sedang menikmati makan siang bersama. Rama mendekat,


"Permisi!"


Mereka semua menoleh kearah sumber suara,


"Boleh gabung gak?"


"Pak Rama?" seru mereka.


"Oh boleh pak!"


"Sal geser dong!" perintah Rena dengan mengibaskan tangannya di meja.


Faisal menggeser badannya dan kini dia berada di depan Rena.


"Santuy Ren... santuy!"


"Ah terima kasih!"


"Ma'af mengganggu!"


"Gak kok pak, sama sekali gak mengganggu." kata Rena senang.


"Tumben pak Rama makan siang bareng kami?" selidik Faisal.


"Haist!" Rena kesal.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa kok, cuma mau gabung saja!"


"Oh kirain!"


"Sudah!"


"Ayo makan! sudah laper aku tuh!" seru Mira yang sedari tadi diam saja.


"Iya aku juga sudah laper!" kata Rena menimpali.


-----


"Hmmmm, ada apa mas?" tanya Mira karena sekarang cuma ada mereka berdua di meja itu.


"Mas mau pamit!"


"Mas mau kemana?"


"Mas di mutasi ke Jakarta menggantikan Riko, kan sekarang Riko yang kerja disini!"


"Mas pamit disini ya, karena kalau di rumah kita gak ada waktu untuk mengobrol."


"Oh... Mas hati-hati ya di sana!"


"Bismillah!"


"Iya,"


"Kamu juga baik-baik di sini!"


"Mas cuma khawatir sebagai seorang kakak!"


"Iya mas, Mira mengerti."


-----


"Mir, Loe ada acara gak? setelah pulang dari sini?" tanya Rena seraya memutar kursinya.


"Gak ada, memangnya kenapa?"


"Gue mau beli dompet, buat pacar ku!"


"Oh baiklah, nanti aku temeni!"


"Loe ikut gak Sal?"


"Traktir es krim, gue ikut!"


"Gak usah ikut deh kalau begitu!" jawab Rena kesal.


"Aku yang traktir nantiiiii!" ucap Mira seraya merenggangkan ototnya masih dengan posisi duduk.


"Huhhhhh... lega..."


"Ok, gue ikut kalau gitu! hehehe."


"Cowok apaan minta di traktir cewek, gak kelas banget!" cibir Rena.


"Biarin wekkkk..." jawab Faisal dengan menjulurkan lidahnya.


"Sudah-sudah, nanti ditegur bu Jena loh, kalau ngobrol terus!"


"Hehehehe, ma'af."


Mira mengambil ponselnya, dia akan mengirim pesan ke Riko,


Mas ma,af. Mira gak bisa pulang bareng! ®


Mira mau nemenin temen Mira®


Hmmmm, cewek apa cowok?


Cewek mas®


Oh, hati-hati!


Iya mas®


Mira meletakkan kembali ponselnya ke meja.


-----


Riko membaca pesan Mira, lalu menghubungi seseorang,


"..."


"Bisa ketemu hari ini?"


"..."


Ponsel dimatikan. Riko memperhatikan ponselnya, seakan menerawang sesuatu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Teria kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2