
"Yunita, jadwal ku hari ini apa aja?"
"Nanti jam 9 ada penandatanganan kontrak dengan perusahaan Indorea pak di restoran K!"
"Dan Jam 1 acara makan siang dengan Pak Anwar untuk penanaman saham!"
"Oke, lanjutkan pekerjaan mu!"
"Permisi pak!" Yunita meninggalkan ruangan Riko dan menutup pintu.
-----
Di Restoran K.
"Terima kasih sudah percaya dengan perusahaan kami pak!"
"Kami akan bekerja sebaik mungkin!"
"Sama-sama pak!"
"Semoga kedepannya kita akan tetap saling menguntungkan!"
"Baik, kalau begitu kami permisi dulu!"
Mereka meninggalkan restoran itu setelah penanda tanganan.
"Yunita, kamu balik ke kantor naik taksi saja ya!"
"Bapak mau kemana?"
"Memangnya kenapa?"
"Bukan apa-apa Pak!"
"Nanti adakan Bapak harus bertemu dengan Pak Anwar jam 1!"
"Oh, kamu nanti datang duluan saja ke sana!"
"Tenang saja, aku pasti datang!"
"Baik pak!"
Riko meninggalkan Restoran itu dan pulang ke rumah, dia memang berencana akan mengantar Mira untuk mengontrol luka di tangannya. Saat akan memasuki mobilnya Riko tak sengaja berpapasan dengan Anggun, sebenarnya Riko pura-pura tak melihatnya namun Anggunlah yang menyapanya terlebih dahulu,
"Riko?"
"Riko... Riko... sebentar!" ucap nya saat Riko malah mengabaikannya dengan segera masuk ke dalam mobil.
"Apa?"
"Gue buru-buru!"
"Bagaimana keadaan Mira?"
Seketika Riko menutup mobilnya tak jadi masuk,
"Apa yang Loe ketahui tentang dia?"
"Gue gak tahu apa-apa?"
"Cuma..." sengaja Anggun menunda untuk mengatakannya.
Riko membuka kembali pintu mobilnya,
"Cepat katakan atau tidak sama sekali!" ucapnya saat Anggun menahan pintunya.
"Apa Loe gak penasaran siapa yang membuat gadismu terluka?" kata Anggun dengan memainkan rambutnya.
"Gue sama sekali gak ada waktu buat Loe!" kali ini Riko benar-benar masuk kedalam mobil.
"Tunggu!"
"Dia akan kembali lagi untuk melukai Mira!"
"Katakan dengan jelas!" ucap Riko setengah keras, dia bimbang haruskah dia mendengar apa yang di katakan oleh Anggun, mantan pacar nya.
"Baiklah, gue akan bicara apa yang gue ketahui!"
"Tapi sebagai gantinya!"
"Loe harus terima gue jadi Manager baru di perusahaan Loe!"
"Bukannya Loe harus cari Manager baru pengganti Pak Aldi?"
"Loe gak perlu repot-repot, gue sudah ada calon Manager baru pengganti Pak Aldi!"
"Dan tentang kecelakaan yang dialami Mira, Gue bisa cari tahu sendiri!"
"Gue berharap Loe gak ada kaitannya dengan kecelakaan itu!"
Riko menstarter mobilnya dan meninggalkan Anggun.
"Sial!" umpat Anggun.
Di sepanjang perjalanan Riko sangat mengkhawatirkan Mira. Dia takut kalau orang yang mencelakai Mira akan datang kembali. Riko berhenti saat lampu merah, terlihat seorang anak remaja mendekatinya,
"Coklatnya Tuan?"
"Cuma Dua Puluh Ribu perkotak!" kata anak itu menawarkan barang dagangannya.
"Kamu?"
"Mas Riko?"
"Kamu ngapain jualan di lampu merah?"
"Kamu gak sekolah?"
Din.. din... din... suara klakson mobil di belakang Riko, ternyata sudah lampu hijau,
"Sudah ayo masuk dulu!"
Hari pun menurut, tentu saja dia tak menyangka akan bertemu dengan pembelinya saat berjualan jagung bakar tempo hari, dimana Riko memborong semua dagangannya saat itu.
"Kamu kenapa gak sekolah?" tanya Riko seraya mengemudi mobilnya.
"Saya gak punya uang untuk membayar uang gedung dan spp mas!" jawab Hari sedih.
"Memangnya berapa uang yang harus kamu bayar?"
__ADS_1
" Satu Juta Tiga Ratus Ribu mas!"
"Kalau saya tidak bisa membayarnya, saya tidak boleh ikut semester bulan depan!" jawab Hari pilu.
"Hmmm, kamu sudah makan?"
Hari menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Ikut mas ya!"
"Nanti mas beli semua dagangan mu!"
"Terima kasih mas... terima kasih!" ucap Hari dengan mata yang berbinar-binar.
-----
Riko mengajak Hari pulang ke rumahnya. Hari ikut turun dari mobil, dia sangat senang bisa bertemu dengan Mira. Saat melihat Mira dia teringat kepada kakaknya yang kini sudah tak ada kabarnya lagi,
"Mbak Mira apa kabar?"
"Kamu?"
"Iya mbak ini Hari!"
"Bagaimana kabar mu?"
"Alhamdulillah baik mbak!"
"Mbak kenapa tangannya!"
"Gak pa pa kok!"
"Mbak senang sekali bisa bertemu dengan mu lagi!"
"Hari juga senang kok mbak!"
"Sudah siap?"
"Ayo!" ajak Riko setelah mengambil dokumen dari kamarnya.
"Kamu ikut ya!"
"Kemana mbak?"
"Ke rumah sakit, kontrol lukanya mbak!"
"Iya mbak, saya ikut!"
"Sudah ayo!" ajak Riko yang mendahului keluar dari rumah.
"Ini jus nya gak di minum dulu nak?" tanya Mak Idah yang sudah membawa nampan berisi jus jeruk.
"Minum dulu jus nya!" pinta Mira.
"Terima kasih Bi!" ucap Hari setelah menghabiskan jus nya.
"Sama-sama Nak!"
"Kalu begitu kita berangkat ya Mak!"
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam!"
-----
Di Rumah Sakit.
Riko ke meja pendaftaran untuk mengambil nomer antrian. Mira menanyakan kepada Hari yang sudah sedari tadi ingin dia tanyakan, Hari pun bercerita seperti yang dia ceritakan kepad Riko. Terlihat Riko sedang memainkan ponselnya, dia akan mengirim sebuah pesan kepada Yunita, sekretaris nya bahwa dia akan datang terlambat.
"Bu Mira, silahkan ikut saya ke ruangan dokter Indra!"
Mira dan suster berjalan menuju ke ruangan Indra, sedangkan Hari dan Riko mengekorinya,
"Dek, kenapa gak ke poliklinik?"
"Mira gak tahu mas!"
Tok... tok... tok...
Suster itu membuka pintu setelah mendapat jawaban dari dalam ruangan.
"Dokter Indra, ini ada nona Mira!"
"Permisi!" suster itu meninggalkan ruangan Indra setelah mengantar Mira.
"Silahkan duduk!" pinta Indra tanpa menoleh ke Mira, dia masih berkutat dengan dokumen di mejanya.
Mira duduk setelah Riko menarik kursi untuknya dan saat dia menarik kursi untuknya sengaja dia menggeser dengan keras, sehingga kursi itu berdecit,
"Oh ada Riko?"
"Iya kenapa kaget?"
"Gak juga!"
"Apakah ada keluhan dengan tangan mu Mir?"
"Oh gak ada kok Dok!"
"Indra saja!"
"Syukurlah, kemari biar saya periksa!"
Mira berdiri dan menarik kursinya agar lebih dekat dengan Indra. Terlihat Riko tak suka saat Indra menyentuh tangan Mira,
"Tunggu!"
Indra dan Mira menoleh,
"Biar gue saja yang buka perbannya!"
Riko mendekat ke Mira dan membuka perbannya saat Indra melepas tangannya.
"Riko, biar saya periksa lukanya!"
"Silahkan tapi gak usah pegang-pegang!"
"Gimana mau periksa kalau gak di pegang!"
__ADS_1
"Ya Loe lihat saja!"
"Biar gue yang pegang!"
"Hmmm!" Indra mendengus kesal.
Mira melihat Riko dengan tatapan seakan bertanya 'kenapa mas?' akhirnya Riko pun mengalah,
"Ya sudah silahkan!"
"Terima kasih mas!" ucap Mira dengan senyum manisnya, Riko pun berbunga-bunga saat melihatnya dan seketika dia melihat Indra yang ternuata juga menikmati senyumnya Mira.
"Loe mau lihat lukanya apa wajahnya?" pertanyaan Riko membuat Indra malu dan mengalihkan pandangannya, apalagi tadi dia sempat melihat Mira yang juga menatapnya.
"Wah, hebat kamu Mira, luka mu sudah kering!"
"Pintar sekali kamu merawat luka mu?"
"Mas Riko yang membantu merawat luka ku Dokter Indra!"
"Kamu bisa memanggil ku Indra, Mira!"
"Mungkin akan saya pertimbangkan jika diluar rumah sakit Dok!"
"Hmmm, baiklah!"
"Sudah selesai kan?"
"Iya!"
"Ini Loe plester dan perban dengan yang baru!" Indra memberikan nampan berisi plester dan perban baru.
"Hati-hati!" ucap Indra saat melihat Mira meringis.
"Ma'af dek!"
"Mas menekan terlalu kuat ya!"
"Gak kok mas!"
"Tadi cuma kesenggol tangannya mas!"
"Lain kali mas akan pelan-pelan biar adek gak kesakitan ya!"
"Iya mas!"
Percakapan macam apa ini. Indra.
"Sudah?"
"Ini resep untuk mu!" Indra memberikan reaep ke Mira namun di ambil paksa oleh Riko.
"Santuy bro... santuy!"
"Kan tadi gue sudah bilang!"
"Jangan pegang tangan Mira!" ucap Riko kesal.
"Siapa yang pegang tangan Mira!"
"Gue cuma memberikan resep!" jawab Indra tak kalah sengit.
"Sudah-sudah, ayo mas!"
"Terima kasih Dokter Indra!"
"Kami pulang!"
"Iya hati-hati!"
"Apa loe?"
"Dasar error!" umpat Indra saat Riko menutup pintunya.
"Ayo Hari!" ajak Mira kepada Hari yang tengah duduk di kursi tunggu.
"Iya mbak!"
Riko mengambil obat yang diresepkan ke Mira di apotik, sementara Mira menunggunya di mobil.
-----
Riko masuk ke dalam mobil.
"Mas kenapa setiap bertemu dengan Indra selalu begitu!"
"Begitu gimana?" tanya Riko pura-pura tak bingung.
"Ya begitu!"
"Ah, perasaan mu aja kali!"
"Mas biasa saja!"
Mira memincingkan matanya.
"Hari kamu mau makan apa?"
"Apa saja mas yang penting enak dan kenyang!"
"Kalau kamu dek?"
"Terserah mas!"
"Hmmm, ayo tebak mas mau ajak kalian kemana?" Riko sengaja bertanya untuk mengetahui apakah Mira marah kepadanya atau tidak.
"Kalau benar apa ada hadiahnya?"
"Tentu dong!"
Syukur deh, dia gak marah. Riko.
"Tapi gak sekarang , nanti malam hadiahnya!"
"Oke!"
"Restoran seafood di jalan B kan!"
"Pinter!"
__ADS_1
"Tunggu hadiahnya ntar malem ya!"
"Let's go!" Riko pun mengemudi dengan kecepatan sedang agar mereka segera sampai di restoran seafood langganannya.