Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 37


__ADS_3

"Apakah penculik itu sudah menghubungi Ibu? tanya Johan serius.


"Tidak pak!"


"Tapi..." Bu Ima mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah pesan.


[Ma, aku mau liburan ke Jogja dengan teman-teman. Jadi Mama gak usah khawatir. Jangan telfon dulu ya Ma! Batre habis.]


"Ini pesan dari putri ku pak?"


"Loh Ibu tahu dari mana, kalau dia di culik hanya dengan sebuah pesan?"


"Putri ku memanggil saya 'Ibu', bukan 'Mama'!"


"Hik... hik.. hik..." Bu Mia menangis berkali-kali dia mengutuk mengapa keluarga nya bisa berurusan dengan orang seperti itu.


Johan, Jihan, dan Riko tak memberitahukan kalau mereka sudah tahu tentang penculikan. Mereka ingin menggali informasi lebih akurat lagi.


"Baiklah, kalau begitu kami akan segera mencari keberadaan putri Ibu!"


"Terima kasih Pak! terima kasih!" ucap Bu Ima dengan sungguh-sungguh.


Johan dan Jihan sepakat tak akan mengubah rencana pembebasan putri bu Mia, tapi Riko akan ikut dalam penggerebekan itu, meskipun dia hanya akan berada di dalam mobil. Mira dan bu Mia akan tetap berada di apartemen Johan demi keselamatan mereka. Mira menghubungi mak Idah kalau dia akan menginap di rumah temannya, agar mak Idah tidak khawatir. Sementara itu Riko berpesan agar Mira tak membukakan pintu untuk siapapun kecuali Dia.


"Mas, Bismillah!"


"Iya, Bismillahirrohmannirrohim!"


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam."


Bu Mia mendekati Mira, dan menggemgam tangannya,


"Ma'af kan keluarga Ibu Nak!"


"Ibu gak usah khawatir mereka adalah orang-orang yang terlatih!"


"Wanita cantik tadi adalah seorang Polisi Bu,


"Sedangkan pria yang bersamanya adalah seorang pengacara!"


"Jadi putri Ibu akan baik-baik saja!"


"Terima kasih Nak! terima kasih!"


"Sudah membuat kalian dalam kesulitan!"


"Kita berdoa ya Bu! semoga mereka semua kembali dengan keadaan baik-baik saja!"


"Aamiin!"


"Iya Aamiin!"


-----


Di gudang kosong.


Johan membawa dua rekannya yang juga berprofesi sebagai detektif, Jihan ikut bersamanya. Mereka menunggu burung merpati yang Johan terbangkan untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam gudang itu, sengaja Johan menggunakan burung merpati, karena jika menggunakan drone itu akan mencurigakan tak lupa dia memasang kamera di kaki burung itu, agar bisa melihat di dalam gudang.


Johan melepas burung itu. Terlihat di layar laptop yang di pegang oleh Riko, burung merpati hinggap di dalam gudang itu, terlihat ada 2 penjaga tanpa ada senjata tajam di tangan mereka. dan 2 lagi ada di depan pintu gudang dan ada 1 orang yang sedang duduk dengan tangan terikat dengan penutup kepala. Saat akan melakukan aksinya, tiba-tiba dari jauh terlihat ada mobil berhenti tepat di gudang itu.


"Wah pak Riko, sepertinya kita akan menangkap ikan yang lebih besar!"


Riko menatap layar laptop itu dengan tajam. Saat tamu penculik itu memasuki gudang, Riko melihat orang yang dia kenal,


"Ternyata memang benar!"


Pak Aldi datang sendiri ke gudang, jadi ada 6 orang yang ada di sana. Johan sebagai pemimpin dalam penyergapan itu memulai aksinya. Tak perlu makan waktu lama, dua orang penjaga berhasil mereka lumpuhkan. Johan mendobrak pintu gudang dan di ikuti oleh rekan nya sementara Jihan mengacungkan pistol nya untuk mereka. Semua orang terlihat panik, mereka sama sekali tak ada persiapan.


Orang yang di samping putri bu Ima sama sekali tak gelisah, bahkan saat Jihan menembakan pistolnya ke udara sebagai tanda peringatan. Berbeda dengan Pak Aldi yang berusaha kabur lewat jendela, Jihan pun menembakan pistolnya tepat di jendela sehingga Pak Aldi kaget dan jatuh tersungkur.


Tak ada perlawanan sengit seperti yang di bayangkan oleh Riko dan Johan, seperti ada yang janggal. Johan dan rekan-rekannya membawa pak Aldi dan para penculik itu ke dalam mobil yang di bawa oleh teman Johan.


Jihan membebaskan putri Bu Ima, melepaskan ikatan tangan dan kaki nya serta penutup kepalanya, saat membuka mata gadis itu menangis dan berteriak. Jihan mendekapnya dan menuntunnya keluar dari gudang itu. Sementara orang yang mencurigakan tadi mengalihkan perhatian Johan saat akan membawanya masuk ke dalam mobil, dengan membenturkan kepalanya ke belakang tepat di kepala Johan, hingga membuat Johan mundur beberapa langkah. Meskipun tangannya terborgol namun dia cukup lihai menggunakan tubuhnya untuk menghindari serangan dari rekan Johan, dia berhasil kabur.


Riko yang masih ada di dalam mobil pun segera mengejarnya, namun seperti sudah di rencanakan, orang tadi sudah di jemput oleh motor yang menunggunya di sebuah gang sempit. Riko pun tak bisa membuntutinya.


Riko kembali dan membawa Jihan serta putri Bu Ima,


"Kamu gak pa pa Jo!"


"Gak pa pa pak!"

__ADS_1


"Ma'af!"


"Dia memang terlihat berbeda!"


"Beruntung kamu tidak terluka!"


Riko menjalankan mobil di ikuti dengan mobil yang membawa para penculik itu.


-----


Di apartemen.


Mira sangat gelisah, dia menunggu Riko di ruang tamu, entah berapa kali dia mondar mandir dengan mengecek ponselnya, mungkin saja akan ada pesan dari Riko untuknya.


Tininit... pintu apartemen nya terbuka.


Mira berjalan kearah pintu diikuti oleh bu Mia. Terlihat Jihan masuk dengan menutun gadis kecil dalam pelukannya,


"Intan?" teriak Bu Mia lantang dan langsung menghampiri putrinya.


"Ibu..." Intan memeluk Ibunya.


"Huhuhuhu..." mereka menangis sesenggukan,


"Ibu, Intan takut!"


"Huhuhu..."


"Tenang sayang!"


"Kamu terluka?" tanya Bu Mia seraya menggerayangi tubuh putrinya.


"Intan gak pa pa Bu!"


"Huhuhuhu..."


"Tenang sayang, kita sudah aman!" ucap Bu Mia seraya memeluk putrinya, lalu menengok Jihan,


"Terima kasih Bu Polwan!"


"Terima kasih!"


"Sama-sama Bu, sekarang kalian istirahat lah!"


"Ayo sayang kita obati luka di tanganmu!"


Intan menurut mengikuti Ibunya dalam dekapan yang sangat hangat.


"Kak Jihan gak pa pa?" tanya Mira khawatir.


"Gak pa pa kok dek!"


"Alhamdulillah, lalu Pak Johan dimana?" tanya Mira yang tak melihat batang hidung Johan.


"Oh, kak Johan sedang mengintrogasi mereka!"


"Mungkin besok baru pulang, sekarang kamu tidurlah!"


"Iya kak, kakak duluan saja!"


"Oke!" jawab Jihan berlalu.


"Ehem..."


"Aku gak di tanyain nih!"


Mira menghampiri Riko dengan memasang senyum senang namun matanya tak bisa berbohong, ada guratan kesedihan memancar. Mira memeluk Riko, perasaan tak karuan, antara senang karena Riko baik-baik saja dengan khawatir jika Riko terluka. Mira masih diam saja di dekapan dada bidang Riko, meskipun begitu Riko tahu, bahwa kekasihnya itu sedang menagis.


Riko menerima pelukan Mira, dia tahu kalau Mira tak ingin memperlihatkan wajahnya sekarang. Setelah puas dengan dunianya, Mira mengusap air matanya yang mengalir di pipi serta hidungnya,


"Sudah?" tanya Riko dengan mengelus rambut Mira.


"Sudah!" Mira melepas pelukannya dan tersenyum kembali namun tak melihat Riko dia mengalihkan pandangannya ke tanaman di pojok ruang tamu.


Riko merapikan rambut Mira dan menyelipkannya ke telinga. Mira yang merasa geli pun tertawa lepas, namun na'as. Karena Mira baru saja menangis air bening keluar dari hidung Mira, karena malu, Mira berlari ke toilet untuk menghindari Riko,


"Loh kok lari?"


"Ha...!" jawab Mira manja seraya menutup wajahnya.


"Ada-ada saja!"


Riko melepas jas hitamnya dan meletakkan di sofa empuk lalu menggulung kemeja putihnya. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Mira yang melihat Riko minum di dapur, segera memalingkan wajahnya lagi. Malu tentunya.

__ADS_1


Riko meletakkan gelas nya di meja lalu menghampiri Mira yang duduk di sofa,


"Kamu sudah makan?"


"Gak bisa makan mas!"


"Kenapa?" tanya Riko bingung.


"Sarisiang?"


"Bukan mas!" jawab Mira menahan tawanya seraya memukul bahu Riko.


"Aduh!"


Seketika wajah Mira pucat,


"Mas kenapa?" tanyanya khawatir.


"Laper!"


"Hehehe!" Riko terkekeh.


Jihan yang melihat mereka cekikikan pun mendekat,


"Ehem..."


"Di kulkas kakak gak ada isinya!"


"Aku pesanin makanan ya!" tanya Jihan seraya mengambil ponselnya dari kantong baju tidurnya.


"Iya kak!"


"Kamu mau apa?"


"Apa aja deh kak, yang penting kenyang!"


"Oke!"


"Kalau begitu aku mandi dulu!" pamit Riko seraya berdiri.


"Iya mas!"


"Pak Riko, bawa baju ganti?"


"Bawa kok!"


"Oh, aku kira enggak!"


"Tadi aku bawa dari mobil!"


"Ya sudah aku mandi dulu!" Riko berlalu meninggalkan mereka.


"Mira, kamu sudah mandi?"


"Belum kak!"


"Hehehe!"


"Mandi dulu kalau gitu!"


"Nanti aku ambilin baju!"


"Makasih ya kak!" reflek Mira memeluk Jihan, seperti kakak nya dia sangat kangen sama Indah, sudah hampir satu tahun dia belum pulang kampung.


Mira tersadar lalu buru-buru melepas pelukannya,


"Ma'af kak!"


"Ma'af kenapa?"


"Kakak seneng kok!"


"Buruan, mandi sana!"


"Oke!" jawab Mira senang, kemudian berjalan menuju kamar Jihan.


"Lucu sekali dia!" ucap Jihan dengan menggelengkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2