Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 42


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu akhirnya tiba. Riko dan Rama berangkat ke tempat yang telah dipilih oleh 'orang tadi' dengan mobilnya Rama,


"Dokumennya loe bawa kan?" tanya Rama yang sedang mengemudi.


Riko menjawab dengan menepuk-nepuk tas berwarna hitam yang ada dipangkuannya. Rama mengerti dan melanjutkan perjalanannya.


-----


Di gedung tempat perjanjian.


Riko berjalan duluan ditempat itu, Rama mengekori setelah memarkirkan mobilnya. Setelah sampai di tujuan Riko bingung karena Johan yang tak kunjung datang, sementara Rama mengambil balok kayu dan berjalan menuju ke tempat Riko berdiri,


Bukkk... Rama memukul kepala Riko hingga ambruk,


"Bro!"


"Loe ngapain?" tanya Riko lirih.


"Ma'af Ko!"


"Gue lebih memilih untuk berhianat!"


"Apa-apaan ini!" Riko memegang kepala yang di pukul Rama dan melihat darah.


"Mak Idah ada dirumah besar ya!"


"Loe gak ingat semua yang telah keluarga kami lakukan sama keluarga loe!"


"Karena gue ingat semuanya makanya gue lebih memilih untuk berhianat!"


"Gue gak tahu harus ngomong apa ke Mak Idah!"


"Semoga dia bisa menerima loe kembali sebagai anaknya!"


"GUE GAK TERIMA LOE DAN KELUARGA LOE! SELALU MENEKAN GUE SAMA IBU GUE!" teriak Rama seraya membuang balok yang dipakainya untuk memukul Riko. Riko pingsan dan orang-orang yang bersembunyi di gedung itupun keluar,


"Wah-wah!"


"Ternyata loe bisa dipercaya!" ucap ' 'orang tadi' seraya menepuk-nepuk pundak Rama.


"Sekarang loe ambil tas itu!"


"Dan ikut gue menemui bos besar!"


Rama menuruti perintah 'orang tadi'.


"Kalian urus dia!" ucap 'orang tadi kepada dua orang yang bersamanya.


"Ok Bos!" dua orang yang memakai masker wajah dan topi itu mengangkat tubuh Riko dan membawanya ke mobil.


Sementara Rama mengekori 'orang tadi' dengan membawa mobilnya. Rama masih gemetar karena perbuatannya, 'orang tadi' pun mengetahui hal itu,


"Takut?"


Rama menggeleng.


"Tenang saja! Loe akan aman dan mendapat semua yang loe inginkan terutama gadis itu!"


Rama hanya diam seraya memandangi gedung-gedung yang dilewatinya.


-----


Di tempat Johan mengintai.


Ternyata Johan juga dipukuli oleh orang suruhan karena diberitahu oleh Rama. Namun Johan tak separah Riko, dia hanya babak belur diwajah serta badannya, dia pun masih sadar meskipun tak berdaya.


Johan dimasukkan ke dalam mobil oleh mereka yang membawa Riko. Johan terkejut denagn keadaan Riko, namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia sendiri pun terikat.


-----


Mira merasa kurang enak badan dan dia merasa cemas. Mak Idah yang sedari tadi memperhatikannya pun berbicara,


"Kamu sakit?"


"Gak kok mak!"


"Wajah mu pucat loh Kak!" ucap Izza menimpali.


"Cuma pusing saja kok Za!"


"Kalau mau istirahat gak usah ikut Mir!"


"Nanti kalau tambah parah gimana!"


"Iya kak!"


"Kakak dirumah saja!"


"Gak pa pa ko Bu!"


"Tadi sudah minum obat juga!"


"Beneran nih!"


"Mau ikut!"


"Iya Bu!"


"Lagian di rumah juga paling rebahan, mending jalan-jalan!"


"Ya sudah!"


"Ayo berangkat!"


Bu Eny masuk kedalam mobil, Izza dan mak Idah pun mengikutinya. Mira masuk kedalam rumah lagi untuk mengambil minyak kayu putih dan mengunci pintu rumah serta pagar.


"Bismillahirrohmanirrohim!" mereka berdoa bersama. Mobil pun berjalan.


-----

__ADS_1


Di toko buku.


Mira membaca novel di dalam toko itu, sekalian dia juga ingin duduk. Izza dan Mamanya memilih buku yang akan dibeli Izza, sementara Mak Idah juga memilih buku resep masak, mungkin saja dia bisa memasak menu baru untuk dipraktekan nantinya. Mira merasa cemas entah apa yang mengganggu pikirannya, dia sesekali melihat ponselnya, mungkin saja Riko mengirim pesan untuknya namun nihil.


"Mira?"


Mira menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Indra?"


"Kamu sama siapa?" Indra duduk didepan Mira.


"Sama Izza."


"Oh,"


"Aku bolehkan duduk disini!"


"Boleh, kan ini juga tempat duduk umum!"


"Mungkin saja kamu gak mau diganggu!"


"Kamu sakit?" tanya Indra saat melihat wajah Mira sedikit pucat.


"Gak kok Ndra!"


"Cuma pusing saja tadi!"


"Oh!"


"Mau aku periksa?"


"Terima kasih, sudah perhatian!"


"Hehehe,"


"Kamu..." Belum sempat Indra meneruskan ucapannya Bu Eny datang bertanya.


"Mira kamu sama siapa?"


"Eh, tante!" Indra berdiri lalu mencium tangan Bu Eny.


"Kamu?" Bu Eny mengerutkan dahi, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu.


"Saya Indra tante! putranya Bu Ajeng."


"Indra?" Bu Eny membelalakan matanya tak percaya.


Indra membalasnya dengan tersenyum simpul.


"Kamu tambah ganteng saja ya!"


"Tante sampai gak ngenali kamu!"


"Tante bisa saja!"


"Ini Izza?" seru Indra saat Izza menempel kepada mamanya.


"Sudah besar ya!"


"Cantik lagi!"


Izza hanya tersenyum malu, saat dipuji oleh Indra.


"Bu, Ibu!"


"Saya minta buku resep ini ya?" seru Mak Idah tiba-tiba.


"Iya Mak!"


"Ayo kita ke kasir!"


"Kita duluan ya Ndra!"


"Iya tante!"


Bu Eny berjalan menuju kasir, sementara yang lainnya keluar dari toko buku itu. Tanpa mereka sadari ada dua pasang bola mata yang sedang mengintai mereka. Mira berjalan menuju ke bagasi mobil, saat dia membukanya, ada sebuah motor besar sedang berkendara melewatinya dengan kecepatan tinggi dengan sebuah pisau ditangannya. Seseorang yang dibonceng menyabetkan pisau ditangannya ke tangan Mira.


Sreeettt...


"Aw..." pekik Mira.


Whest... suara motor itu berlari kencang. Melihat Mira berteriak, Izza dan Mak Idah menghampiri Mira,


"KAKAK..." teriak Izza yang membuat sebagian pengunjung toko buku itu melihat mereka.


"Aw sakit Mak!" ucap Mira saat Mak Idah memegang tangannya yang terluka.


"Aduh... ini gimana Mir?" Mak Idah panik karena darah Mira mengalir. Mak Idah mencoba untuk menyobek roknya untuk membalut luka Mira namun roknya sangat susah untuk disobek.


"Pakai ini saja!" seorang pengunjung yang melihat mereka memberikan syalnya untuk membalut luka Mira.


"Tolong angkat tangan mu!" perintahnya setelah membalut luka Mira.


"Jika posisi luka lebih tinggi dari jantung dan kepala, itu akan memperlambat aliran darahnya yang keluar pada luka!"


Mira mengerti dan melakukannya, Izza berlari dan membawakan minum untuk Mira,


"Kakak!"


"Mereka siapa?"


"Gak tahu dek!"


Bu Eny dan Indra keluar dari toko itu dan melihat Mira sedang duduk dikelilingi oleh orang-orang.


"Mira?" Melihat Mira yang terluka Indra segera menuju ke mobilnya an mengambil sebuah kotak.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


Mira hanya menjawab Bu Eny dengan sebuah senyuman kecil, dia masih menahan sakit ditangannya.


"Permisi!" ucap Indra.


"Biar ku lihat luka mu!" Indra membuka kotak yang dibawanya dan mengeluarkan antiseptik dan kain kasa juga perban. Indra membuka balutan syal sebelumnya, saat melihat luka Mira dia terlihat mengerutkan dahinya. Terlihat Indra memberikan antiseptik pada luka Mira lalu menutupinya dengan kain kasa kemudian membalutnya dengan perban,


"Ini cukup dalam!"


"Kita ke rumah sakit ya!"


"Biar bisa dijahit!"


"Apa dijahit?"


"Iya Tante!"


"Bolehkah saya mengajak Mira untuk ke rumah sakit?"


"Ma'af Ndra!"


"Apa tidak bisa kalau tidak dijahit?"


"Ini lukanya terlalu dalam Mir!"


"Jadi ikut saya ya!"


"Menurut saya tidak terlalu dalam, saya masih bisa menahannya."


"KAMU MAU LUKA MU JADI TAMBAH PARAH?"


"KAMU MAU PUNYA BEKAS LUKA?"


"HAH?" tanpa sadar Indra berteriak karena Mira ngeyel gak mau dibawa ke rumah sakit.


"Oh, ma'af saya tidak bermaksud...!" ucap Indra saat melihat Mira ketakutan.


"Kakak mau ya!" Izza mengangkat tubuh Mira dibantu oleh mak Idah. Tubuh Mira lungai entah karena lukanya atau karena teriakan Indra.


"Tolong kamu antar Mira ke rumah sakit ya Ndra!"


"Ma'af Mir, Ibu gak ikut!"


"Ibu mau mengantar Izza les!"


"Ah, gak pa pa kok Bu!" ucap Mira kecewa. Sebenarnya Mira kecewa bukan karena Bu Eny menolak untuk mengantarnya, tetapi karena hanya dia dan Indra yang berada dalam satu mobil.


"Ma'af ya kak!"


"Gak pa pa dek!"


"Kakak baik-baik saja kok!"


"Ayo!" ajak Indra.


"Kami duluan tante!"


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam."


Indra berjalan menuju ke mobilnya dan Mira mengekorinya. Indra membukakan pintu untuk Mira, kemudian berjalan memutar untuk duduk dikursi kemudi. Mobil pun berjalan.


Saat didalam mobil.


"Ma'af soal tadi!"


"Iya." jawab Mira datar.


"Bagaimana kamu bisa terluka?"


"Gak tahu!"


"Tadi ada orang berboncengan saat melewati ku salah satu dari mereka mengoreskan pisau ke tangan ku!"


"Kamu tahu ciri-ciri mereka?"


"Siapa tahu mereka salah satu dari orang yang kamu kenal!"


Mira menggelang sebagai jawaban atas pertanyaan Indra. Indra tak bertanya lagi karena Mira terlihat tak nyaman saat bersamanya.


-----


Di gedung.


Rama dan 'orang tadi' menemui bos besar. Rama memberikan tas yang dibawanya dan memberikannya pada bos besar (bos besar adalan 'orang itu' orang yang sama saat Rama akan berangkat ke Jakarta yang dia temui saat diparkiran). Bos besar mengecek isi tas itu,


"Bagus! ternyata kamu memang orang yang bisa diandalkan!"


"Hahaha."


Rama diam tanpa menjawab apapun. 'Orang tadi' menghampiri bos besar dan membisikan sesuatu,


"Hahahaha..."


"Kerja bagus Rama!"


"Kerja bagus! Aku tak salah menilaimu!"


Cittt.... suara rem mobil.


Mobil yang membawa Riko dan Johan datang. Orang-orang yang bersamanya mengeluarkan Riko dan Johan yang kepalanya tertutup oleh kantong kain.


Brukkk... mereka melempar Riko dan Johan tepat dibawah bos besar.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2