Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 30


__ADS_3

Pengajian tujuh hari memperingati kematian Alm. pak Angga baru saja selesai. Karangan bunga ucapan duka cita yang berjejer di pagar rumah itu pun sudah mulai mengering. Suasana malam itu sunyi setelah para tetangga yang hadir satu persatu undur diri.


Sepeninggalan Alm. Pak Angga Rama menginap di rumah besar, malam ini dia duduk bersama dengan Riko dan para tetangga.


Hujan rintik-rintik memaksa para tetangga untuk segera pulang, takutnya akan semakin deras seperti di hari pemakaman Alm. Pak Angga.


Mira dan mak Idah beberes piring makanan yang telah kosong, mengambilnya untuk segera di cuci. Riko dan Rama membantu mereka. Riko menghampiri Mira,


"Nanti temenin mas ke taman ya!"


"Kan hujan mas!"


"Bentar lagi juga berhenti hujannya!"


"Oh, baiklah."


Setelah Mira mencuci piring, dia pergi ke kamar Bu Eny, memberikan makan malam untuknya. Sepeninggalan Alm. suaminya Buu Eny jarang turun ke bawah, sehingga mak Idah dan juga Mira mengantarkan makanan untuknya.


Tok.. tok.. tok... Mira mengetuk pintu.


Seperti biasa tak ada jawaban dari dalam kamar, Mira masuk tanpa di minta oleh pemilik kamar itu.


"Makan dulu bu!" Mira menyerahkan nampan berisi makanan dan minuman yang dibawanya.


Tak ada jawaban dari bu Eny, dia enggan berpaling dari album yang di lihatnya.


"Tampan ya!" kata bu Eny parau, dengan meraba sebuah foto di album itu.


Mira menengok album itu, lalu tersenyum.


"Ibu mau cerita?"


"Mira, ibu sama bapak tahu kalau Riko mencintaimu!"


Mira kaget, tertegun.


Loh kenapa Ibu malah cerita tentang ku? Mira.


"Ibu dan bapak sempat membahasnya kemarin." bu Eny menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


"Tahu kah kamu kalau dulu ibu ada diposisi mu?" Bu Eny menatap Mira dalam.


"Maksud ibu?"


"Seperti kamu, ibu juga meminta bapak untuk menunggu!" Bu Eny meneteskan air mata nya dan menunduk.


"Dulu ibu sangat ingin sekali punya rumah sendiri, kendaraan sendiri! makanya ibu meminta bapak untuk menunggu, ibu ingin sukses dulu!"


"Tapi... tahukah kamu kalau berjalan bersama semua terasa lebih mudah?"


Mira mencerna kata-kata wanita paru baya di depannya.


"Ketika berjalan bersama dengan seseorang yang membuat kita nyaman, itu akan menciptakan sesuatu yang sangat indah,"


"Berjalan bersama, berbagi kebahagiaan maupun saat keterpurukan datang,"


"Itu akan menjadi hal yang sangat berharga!" Bu Eny menatap dalam Mira.


"Mira ma'af jika ibu egois meminta kamu untuk menerima Riko,"


Bu Eny menarik nafas panjang lalu membuang perlahan.


"Ibu sudah menganggap kamu sebagai adik ibu sendiri, ma'af jika ada sesuatu yang mungkin secara tak sengaja ibu lakukan ke kamu!"


"Ibu hanya ingin kamu bersama ibu, menemani ibu, ibu tak ingin kamu mening...galkan i...bu seperti bapakkkk yang meninggalkan ibu." tangis bu Eny pecah kala mengingat waktu bersam suaminya dulu.


Mira mengusap pipi bu Eny.


"Ibu yang sabar, semampu Mira, Mira akan bersama Ibu." Mira memeluk bu Eny.


"Huhuhuhu...huhuhu..." tangisan mereka terdengar oleh Rama yang melewati pintu kamar bu Eny, diapun menutup pintu itu perlahan.

__ADS_1


-----


Mira keluar dan menutup pintu kamar bu Eny,


"Kakak sudah makan?"


"Sudah mas, tadi disuapi Izza!"


"Oh, kalau kamu sudah makan?"


"Sudah mas tadi bareng sama Izza dan mas Rama,"


"Mas belum makan kan?"


Riko menggeleng.


"Mas mau makan apa?"


"Biar aku masakin!"


"Mas mau makan mie ayam di dekat taman,"


"Kamu temenin ya?"


"Iya, Mira temenin."


Tanpa berganti pakaian, Mira berpamitan kepada mak Idah, lalu menuju teras,


"Oh hujannya sudah berhenti,"


"Mungkin kalau disiang hari pasti akan ada pelangi, sayang sekarang gak bisa melihat pelangi itu." Mira bergumam.


Riko keluar dari rumah dengan mengenakan jaket bomber. Dan berganti dengan celana training dan juga kaos berwarna ungu, sebelumnya dia memakai sarung dan juga baju koko waktu pengajian tadi.


Riko membukakan pintu untuk Mira, lalu dia memutar dan duduk di kursi kemudi. Mobil pun berjalan.


-----


'Suara Radio'


'Uuuunnnnncccchhhh sabar sekali bukan sebuah penantian itu!'


'Untuk yang sedang dalam penantian mari kita dengarkan lagu spesial buat kalian,


'Melly goeslaw fear Ari lasso: Jika'


Ketika Mira akan mengganti chanel, Riko melarangnya dengan memegang tangan Mira. Mira mengerti dan melepaskan tangannya, karena menurut Mira lagu itu hanya akan mengingatkan Riko kepada kakak nya. Mereka pun menikmati lagu itu di sepanjang perjalanan.


-----


Setelah mereka menikmati mie ayam di warung, mereka berjalan kaki menuju taman dengan tetap memarkirkan mobilnya di warung itu.


Riko berjalan tepat di samping Mira dan mencari bangku yang kering di bawah pohon yang besar.


Mira dan Riko duduk bersamaan, Riko membukakan kaleng soft drink yang dia belinya tadi dan memberikan ke Mira, dia juga membuka untuknya sendiri,


Mereka hanya diam menikmati indahnya malam,bintang sudah kembali bersinar lagi setelah hujan tadi. Mira bingung bagaimana dia harus menghibur Riko. Mira hanya diam saja ketika Riko menyandarkan kepalanya di bahunya,


"Biarkan mas begini! sebentar saja!"


Riko memejamkan matanya.


Riko merasa sangat nyaman bersandar di bahu Mira, merasa lebih nyaman dari sebuah bantal.


Terdengar nafas Riko perlahan seperti sedang tidur,


Mas Riko tidurkah? Mira melirik,


Bulu matanya lentik sekali. Mira tersenyum, ingin sekali dia mengusap rambut Riko namun dia urungkan.


"Hmmmm, Mas gak tidur!" kata Riko tanpa membuka mata dan mengubah posisinya.

__ADS_1


"Mas denger aku membatin?"


"Iya mas denger! mas juga dengar kalau kamu mengagumi bulu mata mas!" Riko menggumam pelan.


"Apa?" Mira kaget lalu berdiri.


Riko yang tak siap merubah posisnya ambruk dengan kepala menatap bangku,


Jedug...


"Aduh..." Riko menusap keningnya yang terbentur bangku.


"Eh ma'af mas!" Mira kembali duduk dan melihat kening Riko, dia mengusapnya dan meniup pelan.


Riko pura-pura kesakitan,


"Masih sakit?"


"Masih tapi ganti disini!" Riko menunjuk pipinya.


"Halah!" Mira menepis halus pipi Riko dengan tangannya.


"Mira, mas bisakah kamu membuka hati untuk mas sekarang?" Riko menggenggam tangan Mira.


"Mas butuh sandaran untuk sekarang!"


"Hemmm."


Mira mengangguk pelan,


"Hah?" Riko tak percaya.


"Iya mas, Mira akan membuka hati Mira sekarang!"


"Ma'af Mira tak konsisten, setelah sebelumnya Mira minta mas menunggu!"


"Mas sungguh senang kamu mau menerima mas sekarang,"


"Terima kasih!" Riko mencium tangan Mira.


Mira tersipu malu, tiba-tiba gerimis datang lagi. Riko melepas jaketnya dan mengajak Mira berlari menuju mobil berpayungkan jaketnya.


Di parkiran mobil, Mira masuk kedalm mobil setelah Riko membukakan pintunya, Riko memutar dan masuk setelah mengibaskan jaketnya.


"Kamu kedinginan?"


"Gak kok mas, kan Mira pakai kaos panjang."


"Tapi rok mu basah." Riko melihat Mira mengibaskan rok panjangnya.


"Sedikit kok mas."


"Pakai ini!" Riko memberikan jaketnya,


"Taruh di dalam rok mu, biar gak kedinginan!"


"Gak usah mas, sudah kering kok!"


"Ya sudah, kita langsung pulang saja ya!"


"Iya mas."


Riko menjalankan mobilnya, di sepanjang jalan Riko menggenggam tangan Mira dengan senang hati. Mira pun tersipu malu.


.


.


.


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, Mohon krisannya.

__ADS_1


__ADS_2