Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 21


__ADS_3

Namun saat menuju lubang keluar, boneka nya jatuh, Riko kesal bercampur malu, dia memandang Mira, namun Mira masih tak bergeming,


"Tenang-tenag baru pemanasan!"


"Ingat Om cuma 5 saja! hehehe." Izza sengaja menekan kata 5.


"Iya Om gak lupa!" Riko mulai mengarahkan mesin itu lagi mencapit boneka lalu menariknya, namun masih gagal lagi.


"Tuh kan Za, Om mu gak bisa!" kata Mira meremehkan Riko.


"Masih pemanasan tahu!" Riko kesal karena diremehkan Mira.


"Semangat Om!" Izza memberi semangat Om nya itu, karena dia menginginkan boneka gratis.


Riko memainkan game itu lagi kali ini berhasil, 1 boneka keluar dari box itu.


"Nih bisa kan!" Riko bangga telah berhasil mendapat boneka itu.


"Hore!" Izza senang sekali karena Om nya mendapat boneka beruang.


"Lagi Om baru 1!"


"Iya."


Riko memainkan game itu lagi dan 3 boneka telah didapatkan nya, dia melihat Mira memperhatikan boneka jerapah, kali ini Riko mengarahkan boneka itu, namun gagal berulang kali masih gagal.


Izza melihat Riko masih gagal untuk mendapatkan boneka terakhirnya, meminta Mira untuk memainkan game itu,


"Kakak saja ya, yang main, kelamaan nunggu Om!" bujuk Izza.


"Om mu handal tahu Za!" Mira menekan kata handal.


"Sudah kamu saja yang main!"


"Hitung-hitung tangan ku istirahat!"


"Ok." Mira mengambil alih tuas yang dipegang Riko, dan memainkan game itu. Ternyata game itu lebih sayang sama Mira, sekali capit saja Mira sudah mendapat boneka ditangannya, boneka kodok. Riko melongo. Izza senang sekali melihat Mira mendapat boneka itu.


"Yeah, kakak hebat sekali main langsung dapat, gak kayak Om pemanasan dulu, hehehe."


Mira tersenyum. Namun Riko tak terima Izza lebih mendukung Mira daripada dirinya.


"Cuma beruntung, lihat Nih!" Riko mengambil alih game itu, dan mengarahkan tuasnya, ternyata Riko mendapat 2 boneka sekaligus boneka **** dan jerapah.


"Lihat tuh, dapat 2 sekaligus!" kata Riko dengan PD nya.


Mira tersenyum, lalu meminta boneka jerapah itu pada Izza.


"Za, kakak minta jerapahnya ya?"


"Boleh, ini kak! Izza memberikan boneka jerapah itu.


"Om minta kodok nya kalau gitu!" Riko mengambil boneka dari tangan Izza dengan paksa.


Mira dan Izza melongo, karena Riko tersenyum-senyum melihat boneka itu.


"Om boleh kok kalau mau ambil nemo juga!" Izza menyodorkan boneka ikan itu, dia masih tak percaya dengan senyum Om nya ketika melihat boneka kodok itu.


"Gak usah Za, Om suka boneka kodok nya saja." Riko tak bergeming dari pandangannya.


"Ya sudah kalau begitu,"


"Kak, Om kita foto bareng di photobox yuk!"


Mira dan Riko berjalan mengekori Izza. Setelah masuk dan menggesek kartu game itu Izza memilih frame dan menekan tombol.


Mira dan Izza mengambil pose lucu, sedangkan Riko hanya berpose batu.


cekrek... cekrek... melihat om nya hanya berpose batu, Izza kesal.


"Om ditengah saja deh!"


"Senyum dong Om senyum!" pinta Izza.


"Om gak bisa senyum Za!"


"Mas Riko laper?" tiba-tiba mood Mira senang.


Melihat Mira mulai bertanya Riko tersenyum,

__ADS_1


"Laper banget!"


"Ya sudah, habis ini kita makan Om!"


"Tapi Om senyum dong!"


"Ok."


Izza memilih frame dan menekan tombol nya, kali ini Riko tersenyum lebar, karena Mira sudah tak lagi cuek kepadanya. Pose Riko pun lucu ke Mira dia hanya memandang Mira, dan mengabaikan Izza.


-----


Setelah menikmati makan malam, mereka pun pulang, karena sudah larut malam. Di tengah perjalanan, Riko menghentikan mobil nya, lalu menghampiri penjual jagung bakar. Mira pun menyusul, sedangkan Izza sudah bergelut dengan mimpi indah nya.


"4 ya dek, original saja!"


"Iya mas." jawab pedangan itu


Sekilas Mira memperhatikan pedagang itu, usia nya masih sangat muda, mungkin masih 15 tahun.


"Hayo, ngelamun saja!" Riko menabrakkan bahu nya ke Mira.


Sontak Mira kaget,


"Apaan sih mas!" jawab Mira kesal.


"Kamu sih, ngelamun mulu!"


"Lagi mikirin apa sih?" Riko duduk di karpet lalu mengkode Mira agar duduk bersamanya.


Mira pun duduk disebelah Riko.


"Itu mas, masih kecil sudah berani berdagang tengah malam,"


"Apa dia gak takut ya?" Mira masih melihat pedagang cilik itu.


"Ntar mas tanyain, hehehe!"


Mira memincingkan mata nya.


"Kamu kenapa tadi nyuekin mas?"


"Kamu lah, jutek banget sama mas!"


"Gak tuh, biasa saja!" jawab Mira datar.


"Kamu sudah punya jawaban untuk mas belum?" akhirnya ada kesempatan Riko untuk menanyakan hal ini.


Mira pun malu mendengar pertanyaan Riko itu, bagaimana pun Mira harus menjawab nya,


"Pertanyaan yang mana mas? Mira lupa tuh!"


"Heizt, kamu tuh, mau mas ingetin?" Riko mengambil ponsel nya bersiap memutar pernyataan tempo hari saat di kedai es krim.


Melihat hal itu, buru-buru Mira mengambil ponsel dari tangan Riko,


"Hehehe."


"Kata nya lupa?" ejek Riko.


"Sebenernya dulu mas juga, gak ngomong apa-apa sama kamu!"


Mira mulai bingung.


"Setelah mas dengering suara mas ini, mas gak ngomong,"


Riko mulai mengatur nafas nya karena jantung nya melompat kesana kemari.


"Mas gak ngomong kalau mas, suka sama kamu!"


Seketika muka Mira merah seperti tomat, dia tak menyangka Riko akan mengatakan hal itu, di depannya.


"Kamu mau gak, jadi pendamping mas?"


Mira masih diam membisu.


Status kita berbeda mas. Mira, dia ingin sekali berkata seperti itu, namun lidah nya kelu.


"Mas sudah gak mau pacaran lagi, karena menurut mas, mas sudah waktunya untuk menikah!"

__ADS_1


"Mas juga gak memperdulikan status kamu, yang penting buat mas, mas ingin membuatmu bahagia."


Mas tahu, apa yang aku pikirkan. Mira.


"Ini mas, mbak, jagung nya, silahkan menikmati!" kata pedagang itu, membuyarkan lamunan Mira.


"Makasih dek!"


"Eh adek umur berapa?" tanya Riko sesuai perkataannya tadi ke Mira.


"15 tahun mas!"


15 tahun beneran. Mira.


"Masih sekolah kan? Kelas berapa dek?" tanya Mira mendongkakkan kepala nya.


"Alhamdulillah masih mbak, sudah mau lulus SMP mbak!" Pedagang itu pun duduk setelah Mira memintanya untuk duduk.


"Hebat kamu ya, masih SMP sudah jadi pedagang! apa gak takut kalau malam?" tanya Riko penasaran.


"Takut sih iya mas, kadang ada saja mas-mas yang mabuk datang minta jagung, tapi untung nya gak minta hasil penjualan!" anak itu pun sedih mengingat apa yang dialami sewaktu berdagang dimalam hari.


"Namamu siapa? sampai lupa gak nanya namamu dek!" Mira pun menyalami anak itu.


"Panggil mbak, mbak Mira ya dan ini mas Riko." Riko mengulurkan tangannya.


"Nama saya Hari mbak, mas!"


"Hari gak malu, berdagang seperti ini!" tanya Riko lagi, dia sangat kasihan melihat anak itu.


Hari pun menceritakan kehidupan nya, Dari pertama berdagang saat dia masih duduk di kelas 2 SMP tepatnya 1 tahun yang lalu, dia menggantikan bapak nya yang sebelumnya berdagang. Dikarenakan bapak nya meninggal karena sakit paru-paru yang di derita nya, ibu nya bekerja di tempat loundry, tak mampu menutupi hutang yang mereka pinjam untuk berobat bapak nya dulu. Bahkan minggu-minggu ini ibunya sudah tak bekerja lagi di tempat itu, karena menurut bos nya, Ibu nya Hari sudah tak cekatan seperti dulu. Mendengar pernyatan Hari, Mira meneteskan air matanya, dia teringat dulu waktu pertam kali dia datang ke Surabaya, ternyata dia masih beruntung karena orang tuanya tidak terlilit hutang saat itu.


"Kamu yang sabar ya dek!" Mira mengelus-elus bahu pemuda itu.


"Iya mbak, Hari selalu sabar, yang penting Hari sama Ibu masih bisa makan setiap hari, itupun kami sudah sangat bersyukur!" jawab Hari mantap.


"Pernah di bully waktu sekolah gak? karena jadi pedagang jagung bakar?"


"Sering sih mbak! Tapi karena cuma sebatas ocehan saja, Hari gak terlalu peduli!"


"Akhirnya mereka capek sendiri."


"Kamu tinggal dimana dek?"


"Di jl. Pattimuara gang Durian mbak."


"Kamu tinggal sama Ibu mu saja?"


"Sebenarnya dulu, sebelum Bapak meninggal kami tinggal sama kakak saya!"


"Namun ketika kakak sudah kerja, dia gak pernah nengokin kami lagi, bahkan waktu bapak sakit, kakak saya juga gak pernah jenguk." mata Hari mulai berkacacl-kaca saat mengingat Almarhum bapak nya dulu.


"Tapi waktu Bapak meninggal, kakak pulang mas, jadi ibu dan saya memaafkan kakak."


Tega banget kakak nya, semoga Hari dan Ibu nya diberi kesehatan serta rejeki yang melimpah, Aamiin. Mira.


"Sekarang masih sering nengokin kamu sama ibu mu gak dek?"


"kadang 3 bulan sekali pasti pulang mas! Nengokin Ibu."


"Ma'af ya mbak, mas, Hari jadi curhat!" Hari menyeka mata nya yang mulai berair.


"Gak pa pa, kalau kamu curhat-curhat gini kan rasa nya pasti plong kan! serasa hilang sebentar beban mu!"


"Iya mbak, kadang juga mau curhat sama siapa gitu! mau curhat sama ibu takut jadi kepikiran, jadi ya Hari pendam sendiri!"


"Dek, jagung nya masih ada?" tanya seorang pembeli yang tak kami sadari.


"Oh masih mas!"


"Sebentar ya mbak mas, saya tinggal dulu!" Hari berdiri menemui pembeli itu.


"Iya." jawab Mira dan Riko bersamaan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir. Mohon krisan nya.


__ADS_2