
"Bagaimana jika Pak Rama dan Pak Riko terlihat tak akur dalam beberapa hari kedepan, sampai mereka bisa mengambil Pak Rama yang notabene orang kepercayaan Pak Riko, agar mereka bisa mengajak Pak Rama ikut dalam rencana mereka,"
"Istilahnya menghianati pak Riko!"
"Wah gimana itu!"
"Ya kalau itu loe cari cara agar gue bisa marah sama loe!"
"Oke lah, kapan-kapan gue pikir caranya!"
"Kalau bisa jangan lama-lama pak!"
"Gue punya ide!"
"Loe siapin saja mental buat besok!" ucap Riko menyeringai.
"Oke!"
"Gue tunggu!"
Flashback off.
Ting tong...
Rama berjalan menuju ke pintu, ternyata Jihan yang datang. Dia menginap di hotel dekat apartemen Rama, tentu saja karena dia sendiri yang cewek,
"Bawa apa nih?" tanya Rama yang menerima sekantong kresek dari Jihan.
"Snack sama soft drink saja kok!" jawab Jihan dengan senyum manisnya.
"Aku masuk ya!"
"Eh iya!"
"Makasih ya!"
Jihan masuk, lalu duduk di sebelah kakak nya. Sementara Rama mengambil beberapa buah di lemari pendingin untuk menemani snack dan soft drink yang di bawa Jihan.
"Bro!"
"Mana rekamannya?" tanya Riko seraya mengambil soft drink dari nampan yang di bawa Rama.
"Ikut gue!"
Riko mengikuti Rama masuk ke dalam kamarnya. Sementara Rama mengambil flashdisk itu, Riko melihat gelas naruto di dekat tempat tidur Rama,
"Dari mana nih?"
"Oh itu dari Mira!"
"Kenapa loe taruh disini?" tanya Riko seraya meletakkan kembali gelas itu di nakas.
"Suka saja!" jawab Rama mendekati Riko.
"Nih!" Rama memberikan flashdisk ke Riko.
"Pulpen?"
"Ini?" Riko mengingat-ingat sesuatu.
"Iya itu dari Almarhum Pak Angga!"
"Loe juga punya kan? Jam tangan kalau gak salah!"
"Iya, tapi jarang sekali gue pakai!"
"Setelah Pak Angga meninggalkan kita!"
"Gue sering bawa itu kemana-mana!"
"Biar punya semangat baru, seperti Pak Angga yang selalu nyemangatin gue!" ucap Rama lirih.
"Hmmm."
"Jadi loe pakai pulpen ini untuk merekam semuanya?"
"Iya dong!"
"Biar gak ribet juga!"
"Sudah-sudah gue mau mandi!" ucap Rama seraya meninggalkan Riko sendirian.
Kak, semoga dengan bukti ini! kita bisa mengungkap kebenaran semuanya. Meskipun akan banyak hati yang tersakiti! Riko.
-----
Di Kantor.
Sudah waktunya jam pulang kantor. Mira dan teman-temannya pun beberes,
"Loe pulang sama siapa Mir?" tanya Rena seraya merapikan dokumennya.
"Sama Bu Eny!"
"Kenapa?"
"Gak pa pa sih!"
"Gue kira sendiri!"
"Mau ngajakin kemana hayo?" tanya Faisal menimpali.
"Gue ada pesan dari no tak di kenal!"
"Apa isinya?"
Rena membuka ponselnya,
Gue tunggu loe di restoran X jalan A, ada sesuatu yang harus loe ketahui.
"Trus dia kirim Screenshot chat juga!"
"Apa isi chatnya?" tanya Mira dan Faisal bebarengan.
.,.Sayang aku kangen! kita ketemu di restoran X jalan A setelah pulang dari kantor.
"Itu isi chat nya!"
"Trus?" tanya Faisal dan Mira bebarengan lagi, mereka bingung.
"Hmmm,"
"Sebenarnya aku gak yakin sih!"
"Apa sih Ren?"
"Yang jelas dong!"
"Kayaknya ini chat dari pacar gue deh!"
"Buat orang yang ngajak gue ketemu di resto itu!"
__ADS_1
"Kamu yakin Ren?" tanya Mira seraya menepuk pundak temannya itu.
"Yakin banget Mir!"
"Pacar gue, kalau chat di awal chat nya itu selalu ada tanda 'Titik Koma Titik'!"
"Dan ini ada di screen shotnya!"
"Trus kamu mau dateng ke resto itu?"
"Gue bingung Sal!"
"Maunya sih datang!
"Aku temenin ya Ren!"
"Katamu tadi mau pulang sama Bu Eny!"
"Gak enak gue sama Bu Eny!"
"Gak pa pa Ren!"
"Bu Eny orangnya santuy kok!"
"Loe yakin?"
"Iya, aku duluan kalau gitu!"
"Mau ijin sama Bu Eny!"
"Tunggu di Lobby ya!"
"Beneran gak pa pa?" tanya Rena setengah teriak karena Mira sudah pergi menjauh.
Mira menjawab dengan memberikan jempol dan senyum manisnya.
"Loe mau gue temenin juga gak?"
"Loe bawa motor apa naik bis?"
"Naik bis!"
Kalau gitu temenin gue ya Sal!"
"Hehehe! gue takut!"
"Iya!"
-----
Di Lobby.
"Sudah?"
"Sudah kok!"
"Ya sudah ayo!" ajak Faisal seraya menggandeng dia antara mereka berdua.
-----
Di Restoran.
Rena, Faisal serta Mira memesan Pizza dan juga Lemon tea seraya menunggu pengirim pesan itu.
"Loe yakin pacar loe selingkuh?"
"Yakin gak yakin sih!"
"Ya gue pikir, dia berubah karena gue nya sibuk!"
"Eh, ternyata malah dapat kabar kayak gini!" jabar Rena seraya mengaduk minumannya.
"Tuh pacar loe bukan?" tanya Faisal ketika melihat seorang pria menggandeng wanita cantik dan sexy.
"Kok dia sama Ike?"
Mira dan Rena melihat ke arah mata Faisal,
"Alvin?" secepat kilat Rena menyambar daftar menu untuk menutupi wajahnya.
"Dia pacar mu Ren?"
Rena menjawab dengan anggukan.
"Bener-bener ya!" Faisal berdiri, namun dicegah oleh Rena.
"Kenapa?"
"Mungkin Ike saudara jauhnya!"
"Hmmm,"
"Ok kita tunggu!" Faisal berusaha meredam emosinya.
Mira menyambar pizza di depannya, memakannya an mengambilnya lagi untuk Rena. Untungnya Rena dan Mira duduk membelakangi Alvin, meskipun tadi Alvin sempat diam sesaat melihat Rena, namun teralihkan ketika teman wanitanya bertanya,
"Gimana kamu sudah putusin pacar mu?"
"Belum!"
"Tapi aku sudah menjauh kok!"
"Kenapa gak di putusin juga sih?" tanya wanita itu dengan nada kesal.
"Lumayan, aku kan sering dapat kado!"
"Tahu deh!"
"Aku kan jarang ngasih kamu kado!"
"Bukan gitu sayang!"
"Kan lumayan kalau aku dapat duit dari dia juga!"
"Kamu bisa belanja lagi!"
Rena menangis tanpa suara dan menyembunyikan wajahnya, Mira tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa memeluk temannya itu. Faisal yang mendengar perkataan Alvin langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Eh Ike?"
"Faisal?"
Faisal melihat kearah Alvin,
"Pacar mu ya Ke?"
"Eh iya nih!"
"Kenalin dia Alvin!"
"Alvin."
__ADS_1
"Faisal."
"Loe sama siapa Sal?"
"Siapa lagi kalau bukan sama mereka!"
Rena dan Mira berdiri dibelakang Alvin. Alvin menengok ke belakangnya,
"Rena?"
Rena menampar keras pipi Alvin, melihat Alvin yang ditampar oleh Rena, Ike pun berdiri,
"Loe ngapain pacar gue?" katanya dengan bola mata hampir keluar.
Rena tak menjawab pertanyaan Ike,
"Kita putus!"
"Sayang... sayang... sebentar!"
"Aku bisa jelasin!" ucap Alvin seraya memegang tangan Rena.
"Kamu apa-apaan Vin?" tanya Ike yang tak terima dengan sikap Alvin kepada Rena.
"Kamu mau ngomong apa lagi?"
"Aku sudah dengar semuanya!"
Alvin gelagapan dengan pertanyaan Rena, namun hal berbeda dilakukan oleh Ike. Dia berjalan memutar melewati Faisal dan juga Mira seraya mengacungkan tangannya. Melihat Ike akan menjambak Rena, Mira menarik lengan Ike sampai baju yang di pakainya sobek,
"Eh ma'af!"
"Loe juga!" tak jadi menjambak rambut Rena, kini Ike malah menjambak rambut Rena.
"Aduh sakit!"
"Dasar wanita sok suci!"
"Rasain nih!" Ike tak.melepas tangannya dari rambut Mira. Mira masih memegang tangan Ike agar bisa terlepas dari rambutnya.
Melihat rambut Mira di jambak oleh Ike, Rena langsung menjambak rambut Ike,
"Aduh!" teriak Ike keras.
"Rasain nih!"
"Dasar pelakor!"
"Ah apa loe bilang, aduh... aduh..."
"Loe aja yang b***!"
"Apa loe bilang?" Rena semakin keras menjambak rambut Ike setelah di katai b***.
Faisal menarik jari tangan Ike agar melepas tangannya dari rambut Mira, sementar Alvin juga melaukan hal yang sama, melihat Alvin lebih memihak Rena, Ike melapas tangannya. Lalu beralih ke meja untuk mengambil minuman, dia akan menyiram Rena. Melihat Ike mengambil minuman Alvin menjadi tameng Rena, akhirnya dia yang terkena minuman itu, semakin kesal karena sikap Alvin dia memberikan sebuah tamparan manis untuk pria itu,
"Kamu?" katanya seraya menunjuk wajah Alvin.
"Huh!" Ike mengambil tasnya kasar dan berlalu dengan kecewa.
Sementara Mira merapikan rambutnya dibantu oleh Faisal. Rena sendiri membiarkan rambutnya berantakan,
"Sayang, ma'afkan aku!" bujuk Alvin.
"Sudah lepaskan tanganku!" ucap Rena seraya melenggang sendirian.
Melihat Rena berlalu Alvin berjalan mengekorinya, namun dicegah oleh Faisal,
"Kalian sudah putus!"
"Jangan ganggu dia lagi!"
"Loe siapa?"
"Gak usah ikut campur! ucap Alvin seraya menarik kerah Faisal.
Melihat Alvin berulah, Rena kembali seraya menampar Alvin lagi,
Plakkk...
"Loe siapa?"
"Ayo Sal, Mir!" ajak Rena seraya menggandeng mereka.
"Sial!" Alvin menggebrak mejanya.
-----
Di Rumah.
Rupanya Bu Eny mendapat tamu, dia adalah temannya yang dulu bekerja di kantor bank yang sama dengannya.
"Ini data yang kamu minta!" kata wanita itu seraya memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"Thank's ya Ra!" Bu Eny membuka amplop itu.
"Iya sama-sama!" kata Bu Ira seraya meminum tehnya.
Bu Eny membuka kertas itu dan membaca nya,
"Apa Ike Fatmawati?"
"Ada apa say?"
"Ada yang salah?"
"Ah gak kok Ra!"
"Bentar ya aku tinggal sebentar!"
"Mau ambil laptop!"
"Ok!" jawab Bu Ira bingung dengan ekspresi temannya setelah membaca isi amplop itu.
Bu Eny kembali dengan membawa laptop,
"Ike Fatmawati!" gumam Bu Eny seraya mencari data karyawan di perusahaannya.
"Nah ketemu!"
Bu Eny melihat dan mencocokkan kedua data tersebut.
"Ada apa say?" tanya Bu Ira terkejut melihat temannya menutup mulutnya.
"Dia salah satu karyawan ku Ra!"
"Dia mengambil uang perusahaan Ra!" katanya tak percaya.
.
.
__ADS_1
Bersambung. Terima kasih, mohon krisannya. Karya ku ini meminta para readers untuk bersabar. Kalau menurutku bukan karena aku bertele-tele, karena memang semua cerita nya ada sangkut pautnya. Mohon bersabar ๐๐๐