Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 55


__ADS_3

Tak seperti pagi biasanya, dengan suara alarm ponsel Riko terbangun. Kali ini dia bangun karena suara ayam yang saling bersahutan dan juga suara adzan berkumandang. Bukan karena di perumahannya tidak terdengar suara adzan, tapi rumah Riko memang jauh dari masjid. 


Setelah menunaikan ibadah wajib nya di mushola dekat rumah Mira, kini Riko mengajak Adi untuk jogging keliling lapangan. Karena kemarin waktu dia datang ke desa, dia sempat melihat lapangan yang luas saat melewatinya. Dengan senang pun Adi mengiyakan ajakan calon pamannya itu.


-----


Di lapangan.


Terdapat arena untuk bermain sepak bola yang berada di tengah-tengah lapangan itu. Di belakang gawang sepak bola, kurang lebih sekitar lima meter, ada arena untuk bermain bola volly. Dikarenakan lapangan itu dekat Sekolah Dasar, Taman P.A.U.D., dan juga Taman Kanak-kanak, jadi di samping lapangan itu terdapat arena untuk bermain, seperti: perosotan, ayunan, halang rintang, dan juga jungkat-jungkit.


Riko memutari lapangan itu sebanyak lima kali, sedangkan Adi sudah berhenti di putaran pertama tadi. Selain karena capek, Adi memang tak pernah memutari lapangan itu kalau bukan karena pelajaran olahraga saat di sekolah.


"Itu orang-orang mau kemana Di?"


"Masih pagi sudah keluar dari rumah?" tanya Riko saat melihat orang-orang bersepeda dengan membawa karung di boncengan sepedanya.


"Oh, itu mereka mau mencari rumput paman!"


"Nah yang itu mau pergi menanam padi!" ucap Adi saat rombongan ibu-ibu yang membawa tali yang digulung dengan dua buah tongkat, bukan semua ibu-ibu itu melainkan satu orang yang dibelakang saat mereka berjalan melewati pematang sawah.


"Hmmm, apa mereka sudah memasak?"


"Sudah lah paman!"


"Bahkan Mbah putri pernah memasak jam tiga pagi, saat membawa bekal!"


"Nanti ketika berangkat di pagi buta, mereka sudah tak cemas lagi!"


"Cemas kenapa?"


"Cemas kalau yang di rumah kebingungan mau sarapan pakai apa? Begitu!"


"Oh, kan ada Ibumu?"


"Kalau Ibu, jarang bikin sarapan untuk kami Paman!"


"Ibu bagian bersih-bersih saja!"


"Kalau makan malam, baru Ibu!"


"Hmmm, begitu ya!"


"Kami sekolah kan?"


"Iya paman."


"Ayo pulang!"


"Nanti Paman antar ya?"


"Gak usah paman!"


"Saya bawa sepeda saja!"


"Baiklah, sudah jam setengah lima nih!"


"Kamu belum mandi kan?"


"Hehehe."


Mereka pulang bersama dengan berlari kecil, saat akan sampai di rumah, ternyata mereka bersimpangan dengan seseorang yang tak disukai oleh Riko. Siapa lagi kalau bukan Rudy, yang sampai kini masih dicurigai sebagai mantan pacar Mira.


"Hay mas Rudy." Adi menyapa nya.


"Oh, Adi?"


"Dari mana nih?" tanya Rudy seraya berhenti, dia juga sedang jogging.


"Dari lapangan mas."


"Ini sama Paman Riko!" ucap Adi tanpa ditanya dia bersama siapa.


Rudy melihat Riko sekilas, mereka pun saling melempar senyum. Riko tersenyum, sengaja dia menggulung lengan kaosnya untuk memperlihatkan otot lengan nya kepada Rudy, namun sayang Rudy tak menghiraukannya. Setelah Rudy pamit untuk melanjutkan lari paginya, Adi masuk duluan ke dalam rumah. Dia akan segera mandi dan juga sarapan. 


-----


Di rumah.


Riko celingukan mencari sesuatu.


"Cari apa paman?" tanya Adi saat mengatur jadwal pelajaran sekolahnya.


"Bibi sama Ibu mu mana?"


"Nenek sama Kakek juga gak ada?"


"Kalau Mbah Putri sama Mbah Kung, mereka sudah berangkat ke sawah paman!"


"Kalau Ibu sama Bibi, tadi pagi mereka bilang akan pergi ke pasar!"


"Oh, kamu sudah sarapan?"


"Belum paman." jawab Adi seraya mengecek buku nya.


"Ya ampun!" Adi menepuk jidatnya.


"Ada apa Di?"


"Ada PR paman!"


"Aku lupa belum mengerjakannya!"


"Mana sudah jam enam lagi, belum sarapan, belum naik sepedanya!" Adi sibuk mencari pensil dan juga penghapusnya. Nampak dia kesal sekali, saat dia tak kunjung menemukan penghapusnya, segera dia pergi ke dapur untuk mengambil karet gelang yang dikumpulkan ibunya.


"Itu buat apa?" tanya Riko saat melihat Adi mengikat karet gelang itu di ujung pensilnya.


"Pengganti penghapus paman!"


"Paman ku mau mengerjakan Pr dulu ya, jangan banyak tanya!" perintah Adi tanpa menoleh ke Riko.


"Gak mau Paman bantuin?" tanya Riko yang kini mendekati Adi.


"Paman mau bantu aku?" tanya Adi meyakinkan.


"Lha ini Paman nawarin bantuan ke kamu!"


"Makasih paman!"


"Kalau Ibu, boro-boro mau bantuin, malah ngomel melulu kalau aku ketahuan gak ngerjain PR!"


"Ini yang ini hitung ya paman!" Adi menunjuk angka 1, 2, 3, dan 5


"Yang nomer 4 biar aku saja!" ucap Adi licik. Bagaimana tidak licik hanya nomer 4 saja pertanyaannya yang cukup mudah sedangkan yang lainnya sedikit rumit. Tanpa menunggu lama Riko mengerjakan soal yang diberikan Adi kepadanya, dia mengerjakan di sebuah kertas kosong yang diberikan Adi, dan nanti dia akan menyalinnya.


Riko telah selesai mengerjakan PR Adi, dan kini dia meninggalkan Adi sendiri, sementara dia mendi. Setelah selesai menyalin Adi memasukkan semua mata pelajaran hari ini, kemudian dia mengambil dua piring untuk mereka sarapan.


Riko dan Adi sarapan bersama. Saat Riko menawarinya lagi  untuk mengantarkan ke sekolah, dikarenakan sudah hampir jam tujuh, Adi mengiyakan. Tak butuh waktu lama cuma sekitar sepuluh menit mereka telah sampai di sekolahan. Riko memberikan uang saku kepada Adi sebanyak dua puluh ribu, namun Adi menolaknya karena dia sudah punya uang yang diberikan Ibu nya tiap minggu. Indah setiap minggu sore, dia memberikan uang jajan kepada Adi sebanyak tiga puluh ribu, dia memang memberikan uang sebanyak itu, agar Adi bisa mengelola uang jajannya sendiri, dan dia harus bisa belajar mengaturnya agar pas untuk keperluan selama seminggu. Entah itu untuk beli mainan maupun jajan sekolah, bahkan peralatan menulis harus Adi beli sendiri dengan uang itu. Baru tahun ini, Indah mengajarinya mengelola keuangan, tapi berbeda untuk membeli buku dan juga LKS, Indah yang membayarnya, untuk SPP di sekolah Adi, SPP gratis.


-----


Di rumah.


Ada sebuah sepeda motor yang terparkir di teras rumah Mira. Riko baru mengetahuinya saat dia masuk kedalam rumah. Ternyata Dimas sudah pulang, dia sedang duduk di kursi seraya merokok.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum mas!"


"Waalaikumsalam!"


"Wah, kamu kapan kesini?" tanya Dimas seraya mengulurkan tangannya.


"Kemarin sore mas!" Riko menyalami Dimas.


"Mas baru pulang?"


"Iya nih!"


Riko bingung akan bertanya apalagi,


"Hmmm,"


"Mas sudah sarapan?"


"Belum, nanti kalau sudah mandi saja."


"Kalau begitu saya kamar duluan ya mas!"


"Mau ambil laptop!"


"Oh iya, silahkan!"


Riko masuk ke dalam kamar Adi dan mengambil laptopnya, dia tak ingin masuk ke dalam kamar itu nanti, saat Dimas sedang tidur. Setelah mengambil laptopnya kini Riko duduk di teras seraya mengecek pekerjaannya lagi. Sedangkan Dimas entah kemana dia pergi, dia sudah tak ada saat Riko keluar dari kamar, mungkin dia sedang mandi seperti katanya tadi.


Mira dan Indah sampai dirumah, mereka membawa tas besar, entah apa yang mereka beli. Riko membantu mereka dengan membawa tas itu, dan meletakkannya di dapur.


"Mas mau ikut gak?" tanya Mira yang kini sudah membawa dua buah caping, tas dan juga sabit di tangannya.


"Adek mau kemana?" tanya Riko seraya menutup laptopnya.


"Mau ambil jagung sama singkong." jawab Mira singkat.


"Kalau begitu mas ikut!" jawab Riko dengan semangat.


Riko memakai caping itu dan pergi mengekori Mira. Jalan yang kemarin sore dia lalui kini juga dilaluinya lagi. Mereka akan pergi ke sawah yang kemarin mereka datangi.


-----


Di sawah.


"Mas yang cabut singkongnya ya!"


"Biar aku yang ambil jagungnya!" ucap Mira seraya mengambil sabit dari tasnya.


"Adek bisa pakai sabit itu?"


"Kan bahaya!"


"Aku bisa kok mas!"


"Beneran?" tanya Riko memastikan.


"Iya mas."


"Mas nanti ambil berapa singkongnya?"


"Itu mas cabut tiga batang saja!" Mira menunjuk pohon singkong yang akan dicabut Riko.


"Oke!" Riko mulai mengambil posisi yang pas untuk mencabut singkongnya. Semetara Mira sudah masuk diantara batang-batang jagung.


Setidaknya Mira mengambil sebanyak dua puluh lima jagung yang masih muda, dan batangnya Ia kumpulkan di pojokkan sawah, karena nanti Ibu nya yang akan mengambilnya. Sedangkan Riko, dengan mencabut tiga batang pohon singkong, dia mendapatkan sebanyak dua belas singkon, lima diantaranya nya berukuran besar dan lainnya berukuran sedang. Mira memasukkan jagung dan singkong ke dalam tas yang Ia bawa tadi.


"Dek?" tanya Riko manja. Dia memperlihatkan tangannya yang lecet, hasil dari mencabut singkong.


"Wah, hebat sekali calon istri ku!" puji Riko dengan membelai rambut Mira.


"Tentu dong." ucap Mira bangga.


"Ayo pulang mas!"


"Sudah siang nih!" ucap Mira seraya berdiri. 


Mereka pun pulang dengan berjalan beriringan.


-----


Di rumah.


Mira langsung masuk ke dalam dapur, dia kan membantu Indah memasak. Sedangkan Riko mandi lagi, karena badannya sudah gatal semua.


"Dek mas mau ke sekolahannya Adi ya!"


"Memangnya tadi pagi Adi gak bawa sepeda ya?" tanya Indah saat mendengar Riko pamit.


"Gak mbak, tadi aku anterin dia!"


"Pasti dia lupa mengerjakan PR lagi!"


"Sudah berkali-kali aku bilangin untuk bertanggung jawab, tapi susahnya minta ampun!"


Riko tersenyum saat mendengar Indah mengeluh, kemudian dia bergegas pergi menjemput Adi.


-----


Di Sekolah.


Tak banyak orang tua yang menjemput anaknya di sekolahan itu. Tak lebih dari sepuluh orang yang terlihat sedang menunggu anak mereka pulang. Saat Riko menunggu dibawah pohon mangga dekat dengan sekolahan itu, ada seorang Bapak-bapak yang mendekatinya. Riko melempar senyum kepada bapak itu.


"Jemput siapa Nak?"


"Jemput Adi pak dhe."


"Oh Adi anaknya Dimas?"


"Iya pak dhe."


"Kalau pak dhe?"


"Jemput cucu nak!"


"Kalau boleh tahu, kamu apanya Adi?"


"Saya pacarnya Mira pak dhe!"


"Mira anaknya Pak Budi?"


"Iya pak dhe."


"Oh…"


Banyak sekali obrolan mereka, seperti layaknya narasumber dan wartawan saja. Maklum orang baru, meskipun begitu Riko menjawab nya dengan ramah. Obrolan mereka dibubarkan berkat kepulangan Adi dan juga cucu dari bapak itu. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


-----


Di rumah.


Adi, Indah, Mira, Indah dan juga Dimas, makan siang bersama. Setelah menyelesaikannya Riko mengikuti Adi ke belakang rumahnya. Seperti janjinya waktu berangkat sekolah tadi. Adi mengajaknya untuk pergi memancing sepulang sekolah.


Di belakang rumah, Adi membawa seember air dan juga gayung. Terlihat dia menyiram tanah yang ada gundukan kotoran dari cacing, tampa butuh waktu lama, para penghuni tanah itu pun bermunculan. Dari yang berukuran kecil sampai yang besar. Namun Adi hanya mengambil cacing yang berukuran sedang, dan memasukkannya ke dalam gelas plastik.

__ADS_1


"Di?"


"Yang ini cacingnya diapain?" tanya Riko yang melihat cacing-cacing itu menggeliat kepanasan.


"Siram pakai air itu Paman!" jawab Adi santai.


Riko pun menyiram cacing tadi dengan semua air di dalam ember itu. Sebagian cacing nya masuk lagi ke dalam tanah dan yang lainnya di makan ayam yang berada disitu. Riko menunggu Adi di bawah pohon jambu biji yang sudah berbuah, kemarin malam dia sempat memakannya. Dan kini dia mengambilnya lagi dua buah.


Adi keluar dari dapur dengan membawa sebuah joran pancing. Riko mengikutinya dari belakang.


-----


Di waduk kecil.


Jika kalian membayangkan Adi mengajak Riko pergi ke kolam pemancingan? Kalian salah besar. Adi mengajak Riko ke sebuah waduk kecil. Sebuah waduk memanjang, kata Adi waduk itu terbuat karena warhlga yang punya tanah itu menggali tanah nya dan menjadikannya tanah urug, di sekitar rumah mereka.


Setelah sampai di tempat tujuan kini Adi mengaitkan cacing yang telah di potongnya ke pengait pancing. Riko penasaran, apa yang ditaburkan ke cacing itu.


"Di?"


"Itu apa?" Riko menunjuk gelas plastik yang berada di samping Adi.


"Oh, ini abu paman." jawab Adi singkat.


"Buat?"


"Ya biar cacingnya cepet mati paman!"


"Oh."


"Joran mu unik ya!" akhirnya Riko menanyakan hal itu, karena sedari tadi dia penasaran dengan joran milik Adi. Terbuat dari bambu dan kurang dari lima belas senti meter ada semacam potongan bantalan sandal yang mengikatnya.


"Ini yang buat aku sendiri loh paman!"


"Dari bambu pilihan dan juga aku beli pancingnya tepat di siang hari pada hari jum'at legi!" tutur Adi.


"Kenapa harus hari jum'at legi?" tanya Riko penasaran.


"Kalau jum'at legi, bisa dapat banyak ikan!" jawab Adi menjelaskan.


Adi melempar jorannya ke dalam waduk itu, dan mereka menunggunya dalam keheningan. Berkali-kali Riko menepuk-nepuk tangan dan juga lehernya akibat dari digigit nyamuk, melihat hal itu akhirnya Adi menancapkan joran nya ke dalam tanah.


"Loh kok di tinggal Di?" tanya Riko yang melihat Adi meninggalkan dia.


"Bosen paman!"


"Hmmm,"


"Bukannya memancing memang butuh kesabaran ya gumam Riko yang kini mengikuti kemana Adi pergi.


Ternyata Adi memanjat pohon kersen dan memasukkan ke plastik yang dibawanya, entah dari mana asal plastik itu. Setelah memastikan cukup banyak kersen yang Ia ambil, Adi turun dari pohon itu.


Bruk… Adi melompat dari pohon itu, namun dia tak terjatuh, dia mendarat dengan sempurna.


Adi dan Riko kembali ke pemancingan untuk melihat joran nya. Apakah mereka sudah dapat ikan, ternyata nasib baik berada di tangan mereka. Joran Adi ditarik ikan dan setelah Adi menarik joran itu ke atas terlihat seekor ikan gabus berukuran sedang. Setelah mengambil ikan gabus itu, Adi mengaitkan lagi potongan cacing ke dalam pancingnya, kemudian melemparkan lagi. Tak butuh waktu lama, mereka mendapat seekor ikan nila berukuran sedang, dan itu akhir dari perburuan ikan mereka hari ini. Sebelum pulang, Adi memasukkan ikan nila itu bersama dengan ikan gabus tadi kedalam tas plastik tebal.


Di tengah perjalanan. Adi berhenti saat melihat buah mangga mengkal yang bergelantungan di pohonnya. Adi pun meletakkan joran yang dibawa nya. Dia memanjat pohon mangga itu dengan cepat, Riko pun kagum dengan keahlian Adi memanjat. Entah berapa buah mangga yang diambil oleh Adi, dia memasukkan buah mangga itu ke dalam tas plastik berwarna hitam dari dalam sakunya. Entah berapa tas plastik yang Adi bawa dari rumah. Seperti semuanya telah Ia siapkan.


Riko membawa buah mangga itu karena Adi yang memintanya. Mereka berjalan dengan santai sampai saatnya ada yang berteriak memanggil Adi.


"ADI…"


"HEY BOCAH NAKAL!"


Mendengar suara itu, Adi secepat kilat berlari meninggalkan Riko,


"Lari Paman!" katanya berteriak.


Mendapat perintah Adi, Riko pun ikut lari, tanpa tahu alasan kenapa dia harus lari mengikuti Adi.


"HEY KAU YANG PAKAI KAOS MERAH!" teriak orang itu.


Merasa bahwa orang itu memanggilnya Riko.pun berhenti.


-----


Di rumah.


Hah… hah… hah… suara nafas Adi memburu.


"Paman mana Di?" tanya Mira saat mendapati Adi sendirian tanpa ada Riko.


"Paman, ditangkap sama pak Handoko Bi!"


"Hah… hah… hah…!"


"Kok bisa?"


"Tadi kita nyolong mangganya Pak Handoko, terus ketahuan!"


"Padahal tadi aku sudah mengajak lari paman!"


"Entah kenapa malah tertinggal."


"Jemput pamanmu kalau begitu!"


"Kenapa Bi?"


"Ya kamu harus tanggung jawab dong!"


"kan kamu yang mengajak pamanmu, nyolong mangganya pak Handoko!" perintah Mira dengan kesal.


"Iya Bi, iya." jawab Adi malas.


"Loh kok malah masuk rumah?" tanya Mira saat Adi malah masuk ke dalam rumah.


"Haus Bi! mau minum dulu!"


"Cepetan kalau begitu, kayak gak tahu pak Handoko saja!"


"Dia kan galak!"


"Iya Bi!" jawab Adi setengah teriak dari dalam rumah.


Saat Adi akan berangkat menjemputnya. Mereka di kagetkan dengan ke pulangan Riko yang membawa dua buah tas plastikberukuran sedang. Padahal tadi saat Adi meninggalkan nya Riko hanya membawa sebuah tas plastik.


Dari kejauhan Riko sudah senyum-senyum. Hal itu pun membingungkan Adi dan juga Mira.


"Ini paa mas?" tanya Mira saat menerima tas plastik yang Riko berikan.


"Mangga dari Pak Handoko."


"Kok bisa?" tanya Adi dan Mira bersamaan. Mereka kaget karena pak Handoko memberikan buah mangga kepada Riko, padahal Pak Handoko dikenal sebagai orang yang galak, apalagi kalau ketahuan mencuri mangganya.


.


.


.


**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


Ini bonus karena saya telat up cerita, sekali lagi mohon ma'af. Terima kasih pengertiannya dan terima kasih semangat dan do'anya**.

__ADS_1


__ADS_2