
Pagi hari saat Mira akan mengendarai sepeda nya, Rama memanggil,
"Berangkat bareng mas ya!"
"Iya kak Mira!"
"Biar sekalian Kakak tahu sekolah Izza!"
"Hemmm, oke deh." Mira masuk kedalam mobil dan duduk kursi depan, karena Izza sudah masuk duluan di kursi belakang.
"Kakak apa gak capek?"
"Tiap hari berangkat naik sepeda?"
"Gak kok Za, kapan lagi kaka bisa olahraga!"
"Oh iya ya!"
"Kenapa aku gak berfikir kalau kamu sedang berolahrga?"
"Karena kak Rama cuma kasihan saja melihat kak Mira!"
"Oh gitu ya?"
"Iya lah!"
Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. 20 menit kemudian mereka telah sampai di sekolah Izza. Banyak anak SMP berlalu lalang memasuki gerbang sekolah itu, ada yang berjalan kaki, ada banyak juga yang naik sepeda, namun tak sedikit pula yang baru turun dari mobil.
Setelah berpamitan Izza berlari menuju teman-temannya yang sudah menunggu di depan gerbang, Izza melambaikan tangan ke Rama dan juga Mira, mereka pun membalasnya.
-----
"Kenapa mas mau nganter Mira?"
"Mas kan gak pernah nganterin kamu!"
"Sekalian mas mau bawa barang-barang mas di kantor!"
"Apa kamu merasa terganggu?"
"Gak kok mas, aku kan adek mas!"
"Mas Bismillah ya!"
"Iya, Bismillahirrohmanirrohim!"
"Kalau kamu ada sesuatu yang ingin ditanyain masalah kantor!"
"Kamu chat mas saja!"
"Mungkin mas bisa bantu!"
"Baik mas, makasih sudah menawarkan diri!"
Rama tersenyum dengan jawaban Mira.
-----
Di parkiran.
Mira keluar dari mobil Rama, setelah memastikan tak ada orang di sekitar parkiran. Rama pun bingung dengan tingkah Mira,
"Kamu ngapain?"
"Eh anu mas, biar gak ada gosip aja!"
"Oh, emangnya kenapa kalau ada gosip?"
"Kamu malu ya, turun dari mobil mas?"
"Ah, gak kok mas!"
"Mira cuma gak mau jadi bahan gosip saja!"
"Beneran?"
"Iya mas!"
"Bukannya kamu takut kalau pacar mu mergokin kamu?"
Mira terkejut dengan kata Rama, pipinya pun menjadi semerah tomat.
"Tuhkan malu!"
"Hahaha!"
"Apaan sih mas!"
"Ya sudah Mira masuk duluan!"
"Iya!"
Mira berlari menuju lobi kantor, meninggalkan Rama di parkiran sendirian.
"Hadeh, ada-ada saja bocah itu!"
Rama terkekeh dengan tingkah Mira.
Rama kaget saat pintu mobilnya di buka seseorang,
"Bagaimana sudah kamu fikirkan?"
"Dan saya juga tahu kamu melindungi gadis itu!"
__ADS_1
Rama terdiam,
Flashback on
"Rama...!" teriak Riko di dalam ruangannya seraya mebuang kasar laporan Rama di meja.
"Sebagai senior seharusnya kamu lebih baik dari mereka!"
"Laporan macam apa ini?"
"Hah!" Riko mendengus kesal seraya melonggarkan dasinya kasar.
"Ma'afkan saya pak!"
"Akan saya perbaiki segera!" Rama menggukan kepalanya, kemudian mengambil laporannya.
Rama tak mengira kalau Riko akan memarahinya di depan para karyawan bawahannya. Diapun merasa malu.
Flashback off
"Aku akan menunggu kabar baik darimu!"
"Pikirkan baik-baik tentang harga dirimu!"
Orang itu meninggalkan Rama setelah menepuk-nepuk pundaknya.
-----
Ding... suara chat di ponsel Mira.
Nanti makan siang di ruangan mas!
Mas sudah pesen mie seafood kesukaanmu!
Iya mas®
Mira melanjutkan pekerjaan setelah memastikan bahwa chat balasan yang dia kirim di baca oleh Riko.
-----
"Makan yuk Mir!"
"Kalian duluan saja!"
"Ma'af aku sudah ada janji!"
"Baiklah!" jawab Faisal pasrah. Kemudian langsung pergi meninggalkan Rena dan Mira.
"Dia kenapa?"
"Ya sudah, bye!"
"Bye."
Setelah memastikan pekerjaanya sudah selesai Mira menuju lift.
-----
Saat Mira menuju ke ruangannya Riko, dia bersimpangan dengan Yunita,
"Mira, pak Riko masih ada urusan sebentar!"
"Tunggulah di dalam!"
"Baik bu,"
"Kalau begitu aku pergi dulu ya!"
Mira menjawabnya dengan anggukan.
Mira memasuki ruangn Riko dengan hati-hati, entah apa yang membuatnya gugup. Saat melihat ruangan itu, Mira nampak takjub, karena di jendela ruangan itu bukan langsung kaca namun ada balkon di depannya. Mira beranjak menuju jendela itu,
"Sudah lama?" tanya Riko seraya menenteng makanan ditangannya.
"Oh, Mira baru sampai kok mas!" Mira berjalan mendekati Riko yang sudah duduk.
"Aaa, makanlah!" Riko menyuapi Mira.
Mira menggelangkan kepalanya,
"Aku bisa makan sendiri mas!" Mira mengambil sumpit dari tangan Riko.
"Tapi mas mau suapin kamu!"
"Mira malu, kalau ada yang tiba-tiba masuk!" kata Mira seraya meletakkan sumpitnya ke kotak mie.
"Gak bakalan ada yang masuk!"
"Sudah ya! Aaa..."
Karena Riko keukeuh dengan posisi untuk menyuapi Mira, ankhirnya Mira membuka mulutnya dengan malu-malu,
"Nah gitu dong, dari tadi!"
Mira membuka kotak nasi milik Riko, dia ingin menyuapi Riko juga,
"Mas? Aaaa..."
Riko terkekeh karena tingkah Mira, meskipun Mira menyuruhnya membuka mulut, namun wajah Mira menghindari Riko, melengos ke kiri. Riko pun memakannya.
__ADS_1
"Sudah ya mas!"
"Mira mau makan sendiri!" Mira mengambil kotak mie nya ditangan Riko.
Namun Riko memakan mie nya Mira.
"Loh mas!"
"Kok di makan, bekas Mira?"
"Pingin aja, kayaknya lebih enak yang ini!"
"Memangnya beli nya beda tempat?"
"Sama kok tempatnya."
"Oh." Mira pun terpaksa memakan mie nya Riko.
Drindingding... ponsel Riko berbunyi.
"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"..."
"Akan ku periksa."
Ponsel dimatikan. Riko meletakkan sumpitnya di atas kotak mie,
"Makanlah dulu!"kata Riko kemudian beranjak ke meja kerja nya.
Ntah apa yang dikatakan orang yang menelfonya, sehingga dia harus menunda makan siangnya.
Wah, begitu ya kalau mas Riko sedang bekerja, ganteng banget. Mira mengembangkan senyumnya ketika melihat Riko bekerja dengan wajah yang serius. Dia tak menyangka kalau Riko bisa membuat eajah seperti itu, karena Mira hanya melihat Riko dengan wajah kekonyolan ketika sedang menggoda nya.
Mira sudah menghabiskan mie nya, sementara Riko masih asyik dengan laptopnya,
"Mas?"
"Mira yang ke situ ya?" tanya Mira dengan membawa mie di tangannya.
"Ma'af ya!"
"Kamu jadi makan sendiri!"
"Gak pa pa kok mas!"
"Mira suapin ya!"
Riko membuka mulutnya ketika Mira memberikan mie. Sebenarnya ketika Mira datang ke meja Riko, dia telah selesai dengan pekerjaannya. Namun dia tak mengatakan yang sebenarnya kepada Mira, dikarenakan Mira menawarinya untuk menyuapi makanan.
-----
Di kamar Mira.
"Hah..." keluh Mira.
"Capek sekali,"
"Kanapa ya akhir-akhir ini bu Jena memberi banyak sekali pekerjaan?"
Mira bangun dari kasur empuknya beranjak ke meja rias untuk membersihkan wajahnya dengan cleanser. Kemudian sebelum mengambil wudhu dia tak lupa untuk mencuci mukanya dengan sabun.
Setelah menunaikan ibadah wajibnya, Mira melanjutkan nya dengan memberikan toner ke wajahnya mentap-tap, mengolesinya dengan pelembab dan terakhir dengan sunscreen. Begitulah rutinitas Mira di malam hari, dia akhir-akhir ini rajin sekali merawat wajahnya berkat saran dari bu Jena. Meskipun bu Jena sangat tegas sekali, dia juga sering memberi saran untuk Mira. Mira tak mengeluh karena saran dari bu Jena sangat baik untuknya.
"Wah baru juga seminggu, nyobain CTPM dari bu Jena!"
"Tapi melihat kulit ku yang semakin bersih, aku senang sekali!"
"Meskipun agak ribet!"
"Pantas saja bu Jena masih segar, di usia yang hampir kepala empat, dia masih seperti wanita berusia seperempat abad!"
"Butuh berapa tahun ya bu Jena merawat kulitnya itu?"
"Ah sudah lah, tidur dulu!"
"Besokkan harus menyelesaikan berkas untuk meeting!"
Mira mematikan lampu kamarnya dan menutupi badannya dengan selimut sebatas lehernya.
-----
"Dekati dia perlahan dan dapatkan kepercayaannya!"
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukankan?"
"..."
"Baik, aku serahkan dia padamu!"
Ponsel dimatikan.
Riko beranjak dari jendelanya kemudian beralih membuka laptopnya. Membuka email yang dikirimkan oleh orang yang di telfonnya.
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.
Hai readers, apakah kalian juga melakukan CTPM seperti Mira? meskipun sekarang era new normal, kita harus tetap merawat kulit kita ya! Semangat untuk semuanya. Ma'af Author gak balas komen readers, tapi Author baca kok! Semacam penyemangat. Fighting!
__ADS_1